Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sebatas Angan-Angan Malah Menjadi Kenyataan



Rabu , 08 Oktober 2025



Telah dibaca :  501

Lupa sudah berapa minggu, saya pernah minta sama Muhammad Ilham -Doktor Muda- yang belum lama Ujian Terbuka Disertasi di UIN Sumatera Utara. Isinya agar bisa memfasilitasi pertemuan dengan pihak STAIN Sultan Abdurrahman Kepri untuk MoU dengan IAIN Datuk Laksemana Bengkalis.  Tetangga dekat. Ia pun mengirim nomor HP pembesar STAIN Sultan Abdurrahman Kepri, dan ia pun sanggup mengantar ku kampus tersebut. Selain MoU, ngiras-ngirus jalan-jalan di kota Tanjung Pinang yang terkenal udaranya masih sangat bersih.

Keinginan ada, eksen belum. Apalagi pasca perubahan alih status dari STAIN menjadi IAIN. Suasana seperti pindahan Rumah. Masih menata perabotan, beli lemari untuk wadah baju, beli kompor dan sebagainya. Sana-sini masih serba kekurangan. Terlihat tapi terkadang tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya numpuk dalam pikiran. Akhirnya mana yang bisa dikerjakan, dikerjakan dulu. Angsur-angsur dulu yang terlihat di depan mata, yaitu kegiatan ormawa.


Beberapa waktu lalu saya lagi duduk leyeh-leyeh, Mas Chanif menemuiku. Katanya para pembesar STAIN Kepri akan silaturahim ke IAIN Datuk Laksemana. Tidak tanggung-tanggung: Ketua STAIN dan Waket 2. Anda khan pasti tahu, silaturahim mendatangkan pintu-pintu rezeki. Saya mendengarnya senang. Apalagi tradisi ku memang sering menerima tamu. Orang tua dulu telah mengajarkan kepada ku bahwa tamu selalu mendatangkan keberkahan. Bukan hanya mengajarkan, tapi juga mempraktekan. Orang tua ku dulu sudah biasa menerima tamu dari pagi hingga malam. Seingatkan tidak pernah boleh pulang tamu nya sebelum makan. Setelah makan baru diperbolehkan pulang.

Saya ingin meniru orang tua ku, meskipun hanya sebatas air putih. Tak apa-apa, kata para ahli sufi jika menghormati tamu sesuai kadar kebiasaan yang kita makan. Di Bengkalis makan biasanya di warung, menghormati juga di warung. Di Selatpanjang biasa air putih, ada tamu pun dikasih air putih.

Benar. Satu hari sebelum datang, saya bilang ke mas chanif: “Mas, sekalian buat MoU, agar ada manfaatnya. Selain tridarma, mungkin lebih teknis juga persoalan penulisan jurnal”. Dan keinginan ku pun terwujud. Hari ini sudah MoU dengan tetangga dekat. Ini bisa jadi bagian dari manfaat silaturahim. Sungguh benar firman Allah, hadist Nabi, dan petuah para ulama tentang silaturahim.

Silaturahim harus dibangun dengan siapa saja. Tidak boleh milih milih. Ini yang dilakukan oleh Nabi. Terlihat ringat, tapi kadang-kadang terasa berat.


Dulu nabi pernah mencoba memilih silaturahim dengan kaum aristokrasi atau kaum bangsawan. Ia  berharap mendapatkan kenikmatan dakwah yang lebih besar, Allah menegurnya. Asbab nya ia kurang mersepon kehadiran Abdullah bin Umi Maktum orang biasa, dan pandangan mata nya bermasalah. Ia rakyat jelata. Seolah-olah tidak ada pengaruh signifikan terhadap dakwah Islamiyah. Nabi ingin membuat strategi dakwah dengan menyambut para bangsawan. Allah kurang berkenan. Ini diwujudkan dengan turun nya surat ‘abasa.

Silaturahim terlihat mudah, tapi kadang susah juga. Sebab silaturahim bukan hanya menghadirkan jasad, tapi juga rasa dan ketulusan hati. Jika silaturahim hanya bermodal jasad dan tidak disertai dengan ketulusan hati, maka silaturahim menjadi hambar.

Pernah dulu ketika saya masih punya jiwa muda dan saat itu masih dalam pendidikan pesantren, hampir satu minggu sekali berkelahi dengan santri senior. Kebetulan rambutnya panjang. Seperti artis Ahmad Dani muda. Rambut nya sering menjadi sasaran ku untuk menarik kuat-kuat kepala nya. jambak-jambakan. Kami sering berkelahi. Kadang saya menang, tapi lebih sering kalah.

Ayah mengetahui kelakukan ku. Suka berkelahi. Dalam pikiran ku, semua orang tidak benar, Semua salah. Ayah ku memberi pesan kepada ku. Masih ingat betul pesan ayah ku (semoga Allah senantiasa mengampuni nya dan menempatkannya di tempat yang indah disisi-Nya). Ayah ku berkata: “Mam, belajar lah melihat diri sendiri, sebab persoalan terbesar sebenarnya bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri”.

Ayah ku tahu bahwa nasehat tersebut belum mampu diterapkan dalam kehidupan ku sehari-hari. Saya pun dipanggil lagi.  Ia memberi nasehat sangat singkat tapi makjleb: “Mam, kelihatnnya kamu jarang berdzikir !”.

Nasehat-nasehat orang tua dulu terkadang terlihat biasa-biasa saja. Kadang saya berfikir: “Bagaimana bisa saya yang bersalah? Sudah jelas-jelas orang lain yang bersalah kok”. Itu kadang terlintas dalam pikiran dan tidak menerima nasehat dari orang tua. Proses mencari sebuah kebenaran. Kadang saya berhenti pada prinsip tersebut cukup lama.

Ketika saya mulai berkumpul dengan para guru ngaji di kampung, dengan dosen-dosen, para guru besar di berbagai perguruan tinggi baik dalam dan luar negeri sertia pengalaman-pengalaman hidup yang beragam, mulai ada bisikan suci dalam hati: “Kehidupan di dunia sebenarnya berisi cinta kasih dalam bentuk yang berbeda. Seperti marah nya seorang ayah karena melihat anak nya main pisau atau petasan. Orang tua berbicara panjang lebar seolah-olah kita salah atau ia terkesan menggurui, padahal sebenarnya ia sedang memberikan makna kebenaran dan cinta dalam wujud yang beragam. Ia hadir seperti bertawali yang sangat pahit sekali. sulit untuk minum atau menelannya. Padahal tujuannya sangat mulia, yaitu agar imun tubuh kita meningkat, kulit menjadi halus dan tidak digigit nyamuk.”

Namun ketika bertemu lagi dengan orang-orang biasa, maka perilaku ku kadang kembali error. Muncul lagi penyakit amarah tidak ketulungan. Saya kira itu normal. Sifat manusia memang demikian. Naik turun. Kadang baik, kadang kurang baik bahkan kadang berperilaku tidak pantas. Salah satu bentuk kenormalan juga, ketika kita melakukan suatu hal yang kurang baik, kita masih punya “rem” yang “pakem” untuk segera kembali ke jalur yang benar. Saya dan anda kemungkinan sama pada persoalan human error nya. Tapi itulah jalan yang sangat bijak dari Tuhan agar kita semakin mengenal diri dalam upaya untuk selalu berbuat baik kepada sesama manusia.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872