
Lupa sudah berapa minggu, saya pernah minta
sama Muhammad Ilham -Doktor Muda- yang belum lama Ujian Terbuka Disertasi di
UIN Sumatera Utara. Isinya agar bisa memfasilitasi pertemuan dengan pihak STAIN
Sultan Abdurrahman Kepri untuk MoU dengan IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Tetangga dekat. Ia pun mengirim nomor HP
pembesar STAIN Sultan Abdurrahman Kepri, dan ia pun sanggup mengantar ku kampus
tersebut. Selain MoU, ngiras-ngirus jalan-jalan di kota Tanjung Pinang yang
terkenal udaranya masih sangat bersih.
Keinginan ada, eksen belum. Apalagi pasca perubahan alih status dari STAIN menjadi IAIN. Suasana seperti pindahan Rumah. Masih menata perabotan, beli lemari untuk wadah baju, beli kompor dan sebagainya. Sana-sini masih serba kekurangan. Terlihat tapi terkadang tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya numpuk dalam pikiran. Akhirnya mana yang bisa dikerjakan, dikerjakan dulu. Angsur-angsur dulu yang terlihat di depan mata, yaitu kegiatan ormawa.

Beberapa waktu lalu saya lagi duduk leyeh-leyeh,
Mas Chanif menemuiku. Katanya para pembesar STAIN Kepri akan silaturahim ke IAIN
Datuk Laksemana. Tidak tanggung-tanggung: Ketua STAIN dan Waket 2. Anda khan
pasti tahu, silaturahim mendatangkan pintu-pintu rezeki. Saya mendengarnya senang.
Apalagi tradisi ku memang sering menerima tamu. Orang tua dulu telah
mengajarkan kepada ku bahwa tamu selalu mendatangkan keberkahan. Bukan hanya
mengajarkan, tapi juga mempraktekan. Orang tua ku dulu sudah biasa menerima
tamu dari pagi hingga malam. Seingatkan tidak pernah boleh pulang tamu nya sebelum
makan. Setelah makan baru diperbolehkan pulang.
Saya ingin meniru orang tua ku, meskipun
hanya sebatas air putih. Tak apa-apa, kata para ahli sufi jika menghormati tamu
sesuai kadar kebiasaan yang kita makan. Di Bengkalis makan biasanya di warung,
menghormati juga di warung. Di Selatpanjang biasa air putih, ada tamu pun
dikasih air putih.
Benar. Satu hari sebelum datang, saya
bilang ke mas chanif: “Mas, sekalian buat MoU, agar ada manfaatnya. Selain
tridarma, mungkin lebih teknis juga persoalan penulisan jurnal”. Dan
keinginan ku pun terwujud. Hari ini sudah MoU dengan tetangga dekat. Ini bisa
jadi bagian dari manfaat silaturahim. Sungguh benar firman Allah, hadist Nabi,
dan petuah para ulama tentang silaturahim.
Silaturahim harus dibangun dengan siapa saja. Tidak boleh milih milih. Ini yang dilakukan oleh Nabi. Terlihat ringat, tapi kadang-kadang terasa berat.

Dulu nabi pernah mencoba memilih
silaturahim dengan kaum aristokrasi atau kaum bangsawan. Ia berharap mendapatkan kenikmatan dakwah yang
lebih besar, Allah menegurnya. Asbab nya ia kurang mersepon kehadiran
Abdullah bin Umi Maktum orang biasa, dan pandangan mata nya bermasalah. Ia
rakyat jelata. Seolah-olah tidak ada pengaruh signifikan terhadap dakwah
Islamiyah. Nabi ingin membuat strategi dakwah dengan menyambut para bangsawan.
Allah kurang berkenan. Ini diwujudkan dengan turun nya surat ‘abasa.
Silaturahim terlihat mudah, tapi kadang
susah juga. Sebab silaturahim bukan hanya menghadirkan jasad, tapi juga rasa
dan ketulusan hati. Jika silaturahim hanya bermodal jasad dan tidak disertai
dengan ketulusan hati, maka silaturahim menjadi hambar.
Pernah dulu ketika saya masih punya jiwa
muda dan saat itu masih dalam pendidikan pesantren, hampir satu minggu sekali
berkelahi dengan santri senior. Kebetulan rambutnya panjang. Seperti artis
Ahmad Dani muda. Rambut nya sering menjadi sasaran ku untuk menarik kuat-kuat
kepala nya. jambak-jambakan. Kami sering berkelahi. Kadang saya menang,
tapi lebih sering kalah.
Ayah mengetahui kelakukan ku. Suka
berkelahi. Dalam pikiran ku, semua orang tidak benar, Semua salah. Ayah ku
memberi pesan kepada ku. Masih ingat betul pesan ayah ku (semoga Allah
senantiasa mengampuni nya dan menempatkannya di tempat yang indah disisi-Nya).
Ayah ku berkata: “Mam, belajar lah melihat diri sendiri, sebab persoalan
terbesar sebenarnya bukan pada orang lain, tapi pada diri sendiri”.
Ayah ku tahu bahwa nasehat tersebut belum
mampu diterapkan dalam kehidupan ku sehari-hari. Saya pun dipanggil lagi. Ia memberi nasehat sangat singkat tapi makjleb:
“Mam, kelihatnnya kamu jarang berdzikir !”.
Nasehat-nasehat orang tua dulu terkadang
terlihat biasa-biasa saja. Kadang saya berfikir: “Bagaimana bisa saya yang
bersalah? Sudah jelas-jelas orang lain yang bersalah kok”. Itu kadang terlintas
dalam pikiran dan tidak menerima nasehat dari orang tua. Proses mencari sebuah
kebenaran. Kadang saya berhenti pada prinsip tersebut cukup lama.
Ketika saya mulai berkumpul dengan para
guru ngaji di kampung, dengan dosen-dosen, para guru besar di berbagai
perguruan tinggi baik dalam dan luar negeri sertia pengalaman-pengalaman hidup
yang beragam, mulai ada bisikan suci dalam hati: “Kehidupan di dunia sebenarnya
berisi cinta kasih dalam bentuk yang berbeda. Seperti marah nya seorang ayah
karena melihat anak nya main pisau atau petasan. Orang tua berbicara panjang
lebar seolah-olah kita salah atau ia terkesan menggurui, padahal sebenarnya ia
sedang memberikan makna kebenaran dan cinta dalam wujud yang beragam. Ia hadir
seperti bertawali yang sangat pahit sekali. sulit untuk minum atau
menelannya. Padahal tujuannya sangat mulia, yaitu agar imun tubuh kita
meningkat, kulit menjadi halus dan tidak digigit nyamuk.”
Namun ketika bertemu lagi dengan
orang-orang biasa, maka perilaku ku kadang kembali error. Muncul lagi penyakit
amarah tidak ketulungan. Saya kira itu normal. Sifat manusia memang demikian. Naik
turun. Kadang baik, kadang kurang baik bahkan kadang berperilaku tidak pantas. Salah
satu bentuk kenormalan juga, ketika kita melakukan suatu hal yang kurang baik,
kita masih punya “rem” yang “pakem” untuk segera kembali ke jalur yang benar. Saya
dan anda kemungkinan sama pada persoalan human error nya. Tapi itulah
jalan yang sangat bijak dari Tuhan agar kita semakin mengenal diri dalam upaya
untuk selalu berbuat baik kepada sesama manusia.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872