Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Seberapa Besar Keagungan Mu dalam Pandangan Allah



Kamis , 09 Mei 2024



Telah dibaca :  596

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝٢١

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Sering sebagian manusia terjebak ada pengagungan diri sendiri. Kesempurnaan paras wajah cantik atau tampan, kulit yang mulus,  tubuh yang atletis dan kecerdasan akal kadang menyebabkan diri nya berpotensi muncul keakuan diri diluar batas kewajaran. Lebih lebih ketika pada dirinya ada asesoris dunia yang diberikan oleh Allah kepada nya seperti mendapatkan jabatan bergensi di perusahaan sebagai manager, karyawan di perusahaan internasional yang gajinya tidak habis di makan oleh tujuh turunan, menjadi pejabat di instansi pemerintah, menjadi politisi yang sukses, tokoh masyarakat yang disegani, mempunyai lembaga pendidikan yang bergensi dan lain lain.

Dalam kehidupan sosial, manusia membutuhkan pengakuan eksistensinya sebagai sosok manusia yang pantas untuk dihormati. Saya kira hal yang lumrah dan wajar jika pada dirinya mempunyai kebanggaan terhadap apa yang ia miliki. Satu sisi sikap tersebut malah membantu terjadi sistem kehidupan bisa terjaga dan tercipta kewibawaan suatu kelompok tersebut. Sehingga kelompok lain tidak berani merendahkan. Meskipun demikian, kewibawaan akan menjadi persoalan jika aggota kelompok tersebut tidak bisa menempatkan pada posisi masing-masing. 

Manusia tidak sama dengan “gabah” (padi yang belum jadi beras) yang berserakan tanpa aturan. Manusia membutuhkan aturan kehidupan. Secara naluri setiap manusia membutuhkan pasangan hidup, kasih-sayang, naluri makan-minum, perlindungan terhadap ancaman, naluri untuk senantiasa berkumpul, dan naluri untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Allah swt. Naluri-naluri tersebut selalu berkaitan dan kemudian membentuk kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok-kelompok tersebut bisa disebut dengan sekolah, kantor, organisasi dan lain-lain. seperti sebuah kapal laut yang besar, ada bagian-bagiannya yang mengendalikan pekerjaan-pekerjaan di bidangnya. Mualim 1 mempunyai tugas dinas jaga, bertanggungjawab kepada nahkoda, merawat, dan memimpin kapal jika nahkoda berhalangan. Ada mualim 2 mempunyai tugas menyiapkan keperluan medis dan menjadi tanggungjawab ketika kru kapal ada yang sakit. Ada mualim 3 mempunyai tugas memelihara alat keselamatan kapal dan memelihara bendera kapal. Jika anda pernah melihat Film Titanik, seperti itulah manusia mempunyai tugas yang berbeda-beda dalam suatu institusi atau organisasi. 

Meskipun kata “bersama” sebagai slogan belum tentu adanya “kebersamaan”.  Dalam realita kehidupan, manusia tidak lepas dari adanya persaingan untuk mendapatkan apa yang diinginkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kadang persaingan tersebut sudah tidak mengenal lagi batas perikemanusiaan. Kadang ia melupakan sisi-sisi sifat manusiawi dengan menutup potensi-potensi yang baik tumbuh dan berkembang secara wajar.

Persaingan yang sangat ketara dalam kehidupan sehari-hari saat sekarang ini dan mungkin sudah menjadi watak manusia adalah persaingan dalam dunia politik kekuasaan. Di bawah politik adalah bisnis. Persaingan ini sudah cukup tua dan setua peradaban manusia. Umat manusia dari seluruh dunia dan latarbelakang agama dan etnis apapun telah mencoba menaklukan dunia dalam genggamannya. Mereka berhasil dan runtuh dan terus terjadi siklus kekuasaan dari kelompok satu ke kelompok yang lain dengan batas-batas waktu yang telah ditentukan.

Pengertian batas-batas waktu suatu kekuasaan pada masa dulu tergantung seberapa ia mampu mempertahankan kekuasaan. Ibnu khaldun telah menjelaskan hal tersebut dengan sangat mendetail dalam Kitab Al-Muqadimah. Penulis hanya mengambil sebagian dari penyebab yang telah ditulis oleh-nya bahwa kekuasaan berakhir disebabkan karena telah lupa terhadap hakikat diri sendiri, berfoya-foya dan merasa dirinya mempunyai kekuatan di atas segala-galanya.

Sebelum Islam berkuasa, ada dua kekuatan negara besar yaitu Romawi dan Persia. Keduanya mempunyai sejarah panjang sebagai negara adikuasa. Kedua silih berganti untuk menjadi negara yang paling berkuasa. Sehingga nyaris, mereka senantiasa menjadi negara yang tidak pernah akur dan selalu ingin saling menghancurkan satu dengan lainnya.

Ketika Islam muncul sebagai kekuatan baru dan tanah Arab menjadi pusat pemerintahan pada masa nabi Muhammad saw, bangsa Romawi dan Persia masih melihat sebelah mata. Pandangan tersebut tidak lepas dari tradisi masyarakat Arab masa jahiliyah sebagai masyarakat yang sangat susah di atur, ashobiyah, suka perang dan mempunyai sifat-sifat yang tidak terpuji seperti mabuk-mabukan, berjudi dan membunuh anak perempuan karena takut miskin. Pandangan pesimistis tersebut tentu saja berlansung sangat lama terhadap bangsa arab yang kemudian dikenal dengan masa jahiliyah. Mereka (Romawi dan Persia) menganggap bangsa Arab belum mempunyai standarisasi sebagai negara yang beradab, kuat dan mempunyai kepantasan sebagai bangsa pemenang.

Realita bangsa Arab pada permulaan Islam adalah penonton politik. Bangsa arab musrik sangat mengidolakan bangsa Persia yang menyembah api. Bangsa arab yang sudah menganut Islam mengidolakan bangsa Romawi representasi dari mereka, sebab bangsa tersebut menganut agama nasrani yang statusnya sama dengan Islam yaitu sebagai agama samawi. Peperangan di antara mereka telah menciptakan bangsa Arab laksana supporter sepakbola, saling menyanjung dan saling mengejek terhadap masing-masing negara yang dibelanya.

Ketika bangsa Romawi kalah oleh Persia, maka umat Islam bersedih. Bangsa Arab jahiliyah mengintimidasi, persekusi dan menghina bahwa tuhan yang mereka sembah tidak mampu membantu untuk memenangkan perang. Allah pun memberi janji kabar gembira, bahwa pada kurun waktu tidak lama lagi, bangsa Romawi memenangkan perang melawan Persia. Kemenangan tersebut telah membuat hati umat Islam bahagia dan semakin mantap akan keagungan Allah benar-benar telah muncul dan sang pencipta senantiasa berpihak kepada orang-orang yang mencintai-Nya.

Apakah keagungan Allah membela umat Islam hadir saat mereka membutuhkan-Nya? Islam mengajarkan demikian. Namun dalam persoalan ini, terkadang memunculkan spekulasi. Ketika umat Islam mendapatkan suatu kejayaan, umat Islam dengan mudah mengatakan bahwa Allah telah menolong hamba-hamba-Nya. Tetapi saat Islam mengalami kekalahan, wajah-wajah putus asa terkadang muncul untuk membahasakan “pertolongan Allah” dalam wujud yang berbeda. Sebab respon rasa dalam menerima kebahagiaan dan penderitaan pasti berbeda. Sehingga sangat sulit bagi sebagian umat Islam menyamakan freskuensi pada dua rasa yang bertolak belakang.

Dari persoalan tersebut sebenarnya keagungan manusia bukan pada persoalan berhasil dan sukses dalam pertempuran dan mampu mengalahkan musuh-musuh yang besar. Kekalahan secara kasat mata bisa juga bagian dari keberhasilan dalam perspektif lain. Seperti kisah bangsa Palestina yang hingga saat sekarang ini masih menderita. Dalam konteks peperangan, mereka mengalami penderitaan moril, material, jiwa dan raga. Tapi ditinjau dari sudut keimanan, bisa jadi mereka adalah orang yang pertama mencium bau Surga dan mendapatkan kemulyaan sangat tinggi dalam pandangan Allah swt. Sebab kemulyaan dan keagungan umat Islam sebenarnya tidak diukur dari gemerlapnya dunia seisinya.

Ada dua pelajaran berharga pada masa Nabi Muhammad saw. Ketika Perang Badar, pasukan Islam sangat sedikit, tapi mampu mengalahkan pasukan kaum kafir yang jumlah nya jauh lebih besar dari umat Islam. Ketika Perang Uhud, meskipun masih kalah jumlah pasukan muslim dari pasukan kafir qurayis, tapi sudah cukup membuktikan bahwa perbaikan sistem tempur dalam pasukan Islam sudah mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Namun kenapa perang badar menang dan perang uhud kalah?

Penulis melihat ada dua persoalan besar penyebab kemenangan dan kekalahan; yaitu kemenangan umat Islam karena niat suci mengabdi kepada-Nya dan disiplin dalam menjalankan tugas-tugas yang telah diberikan oleh puncuk pimpinan pasukan. Jadi, kekalahan juga disebabkan karena meninggalkan kedua faktor tersebut.

Pelajaran yang bisa diambil dari sejarah tersebut bahwa ketulusan mengabdi kepada Allah adalah faktor pendorong sangat kuat untuk melakukan suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sebagainya. Jika anda seorang pelajar atau seorang pedagang yang hatinya sudah menata diri untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencari ridha-Nya, maka kebahagiaan batin akan meluber dan melimpah dalam diri dan keluarga anda. Lalu muncul kedamaian hati dan kebahagiaan dhohir. Selain itu ketika sudah membulatkan segala perilaku hanya mengharapkan ridha-Nya, maka yang perlu dilakukan yaitu memperbaiki disiplin dalam melaksanakan aktivitas, apapun yang telah diprogramkan dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah kita akan menjadi manusia yang agung dalam pandangan manusia, lebih-lebih dalam pandangan Allah swt.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876