
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ
اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ٢١
“Wahai manusia,
sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu
agar kamu bertakwa”.
Sering sebagian manusia terjebak ada
pengagungan diri sendiri. Kesempurnaan paras wajah cantik atau tampan, kulit yang
mulus, tubuh yang atletis dan kecerdasan
akal kadang menyebabkan diri nya berpotensi muncul keakuan diri diluar batas kewajaran.
Lebih lebih ketika pada dirinya ada asesoris dunia yang diberikan oleh Allah kepada
nya seperti mendapatkan jabatan bergensi di perusahaan sebagai manager,
karyawan di perusahaan internasional yang gajinya tidak habis di makan oleh
tujuh turunan, menjadi pejabat di instansi pemerintah, menjadi politisi yang
sukses, tokoh masyarakat yang disegani, mempunyai lembaga pendidikan yang
bergensi dan lain lain.
Dalam kehidupan sosial, manusia membutuhkan pengakuan eksistensinya sebagai sosok manusia yang pantas untuk dihormati. Saya kira hal yang lumrah dan wajar jika pada dirinya mempunyai kebanggaan terhadap apa yang ia miliki. Satu sisi sikap tersebut malah membantu terjadi sistem kehidupan bisa terjaga dan tercipta kewibawaan suatu kelompok tersebut. Sehingga kelompok lain tidak berani merendahkan. Meskipun demikian, kewibawaan akan menjadi persoalan jika aggota kelompok tersebut tidak bisa menempatkan pada posisi masing-masing.
Manusia tidak sama dengan “gabah” (padi yang belum jadi beras) yang berserakan tanpa aturan. Manusia membutuhkan aturan kehidupan. Secara naluri setiap manusia membutuhkan pasangan hidup, kasih-sayang, naluri makan-minum, perlindungan terhadap ancaman, naluri untuk senantiasa berkumpul, dan naluri untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Allah swt. Naluri-naluri tersebut selalu berkaitan dan kemudian membentuk kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok-kelompok tersebut bisa disebut dengan sekolah, kantor, organisasi dan lain-lain. seperti sebuah kapal laut yang besar, ada bagian-bagiannya yang mengendalikan pekerjaan-pekerjaan di bidangnya. Mualim 1 mempunyai tugas dinas jaga, bertanggungjawab kepada nahkoda, merawat, dan memimpin kapal jika nahkoda berhalangan. Ada mualim 2 mempunyai tugas menyiapkan keperluan medis dan menjadi tanggungjawab ketika kru kapal ada yang sakit. Ada mualim 3 mempunyai tugas memelihara alat keselamatan kapal dan memelihara bendera kapal. Jika anda pernah melihat Film Titanik, seperti itulah manusia mempunyai tugas yang berbeda-beda dalam suatu institusi atau organisasi.
Meskipun kata “bersama” sebagai slogan belum tentu
adanya “kebersamaan”. Dalam realita
kehidupan, manusia tidak lepas dari adanya persaingan untuk mendapatkan apa
yang diinginkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kadang persaingan tersebut
sudah tidak mengenal lagi batas perikemanusiaan. Kadang ia melupakan sisi-sisi
sifat manusiawi dengan menutup potensi-potensi yang baik tumbuh dan berkembang
secara wajar.
Persaingan yang sangat ketara dalam
kehidupan sehari-hari saat sekarang ini dan mungkin sudah menjadi watak manusia
adalah persaingan dalam dunia politik kekuasaan. Di bawah politik adalah
bisnis. Persaingan ini sudah cukup tua dan setua peradaban manusia. Umat
manusia dari seluruh dunia dan latarbelakang agama dan etnis apapun telah
mencoba menaklukan dunia dalam genggamannya. Mereka berhasil dan runtuh dan
terus terjadi siklus kekuasaan dari kelompok satu ke kelompok yang lain dengan
batas-batas waktu yang telah ditentukan.
Pengertian batas-batas waktu suatu
kekuasaan pada masa dulu tergantung seberapa ia mampu mempertahankan kekuasaan.
Ibnu khaldun telah menjelaskan hal tersebut dengan sangat mendetail dalam Kitab
Al-Muqadimah. Penulis hanya mengambil sebagian dari penyebab yang telah ditulis
oleh-nya bahwa kekuasaan berakhir disebabkan karena telah lupa terhadap hakikat
diri sendiri, berfoya-foya dan merasa dirinya mempunyai kekuatan di atas
segala-galanya.
Sebelum Islam berkuasa, ada dua kekuatan
negara besar yaitu Romawi dan Persia. Keduanya mempunyai sejarah panjang
sebagai negara adikuasa. Kedua silih berganti untuk menjadi negara yang paling
berkuasa. Sehingga nyaris, mereka senantiasa menjadi negara yang tidak pernah
akur dan selalu ingin saling menghancurkan satu dengan lainnya.
Ketika Islam muncul sebagai kekuatan baru
dan tanah Arab menjadi pusat pemerintahan pada masa nabi Muhammad saw, bangsa Romawi
dan Persia masih melihat sebelah mata. Pandangan tersebut tidak lepas dari
tradisi masyarakat Arab masa jahiliyah sebagai masyarakat yang sangat susah di
atur, ashobiyah, suka perang dan mempunyai sifat-sifat yang tidak
terpuji seperti mabuk-mabukan, berjudi dan membunuh anak perempuan karena takut
miskin. Pandangan pesimistis tersebut tentu saja berlansung sangat lama
terhadap bangsa arab yang kemudian dikenal dengan masa jahiliyah. Mereka
(Romawi dan Persia) menganggap bangsa Arab belum mempunyai standarisasi sebagai
negara yang beradab, kuat dan mempunyai kepantasan sebagai bangsa pemenang.
Realita bangsa Arab pada permulaan Islam adalah
penonton politik. Bangsa arab musrik sangat mengidolakan bangsa Persia yang
menyembah api. Bangsa arab yang sudah menganut Islam mengidolakan bangsa Romawi
representasi dari mereka, sebab bangsa tersebut menganut agama nasrani yang
statusnya sama dengan Islam yaitu sebagai agama samawi. Peperangan di antara mereka
telah menciptakan bangsa Arab laksana supporter sepakbola, saling menyanjung
dan saling mengejek terhadap masing-masing negara yang dibelanya.
Ketika bangsa Romawi kalah oleh Persia,
maka umat Islam bersedih. Bangsa Arab jahiliyah mengintimidasi, persekusi dan
menghina bahwa tuhan yang mereka sembah tidak mampu membantu untuk memenangkan
perang. Allah pun memberi janji kabar gembira, bahwa pada kurun waktu tidak
lama lagi, bangsa Romawi memenangkan perang melawan Persia. Kemenangan tersebut
telah membuat hati umat Islam bahagia dan semakin mantap akan keagungan Allah
benar-benar telah muncul dan sang pencipta senantiasa berpihak kepada
orang-orang yang mencintai-Nya.
Apakah keagungan Allah membela umat Islam
hadir saat mereka membutuhkan-Nya? Islam mengajarkan demikian. Namun dalam
persoalan ini, terkadang memunculkan spekulasi. Ketika umat Islam mendapatkan
suatu kejayaan, umat Islam dengan mudah mengatakan bahwa Allah telah menolong
hamba-hamba-Nya. Tetapi saat Islam mengalami kekalahan, wajah-wajah putus asa
terkadang muncul untuk membahasakan “pertolongan Allah” dalam wujud yang
berbeda. Sebab respon rasa dalam menerima kebahagiaan dan penderitaan pasti
berbeda. Sehingga sangat sulit bagi sebagian umat Islam menyamakan freskuensi pada
dua rasa yang bertolak belakang.
Dari persoalan tersebut sebenarnya
keagungan manusia bukan pada persoalan berhasil dan sukses dalam pertempuran
dan mampu mengalahkan musuh-musuh yang besar. Kekalahan secara kasat mata bisa
juga bagian dari keberhasilan dalam perspektif lain. Seperti kisah bangsa Palestina
yang hingga saat sekarang ini masih menderita. Dalam konteks peperangan, mereka
mengalami penderitaan moril, material, jiwa dan raga. Tapi ditinjau dari sudut
keimanan, bisa jadi mereka adalah orang yang pertama mencium bau Surga dan
mendapatkan kemulyaan sangat tinggi dalam pandangan Allah swt. Sebab kemulyaan
dan keagungan umat Islam sebenarnya tidak diukur dari gemerlapnya dunia
seisinya.
Ada dua pelajaran berharga pada masa Nabi Muhammad
saw. Ketika Perang Badar, pasukan Islam sangat sedikit, tapi mampu mengalahkan
pasukan kaum kafir yang jumlah nya jauh lebih besar dari umat Islam. Ketika
Perang Uhud, meskipun masih kalah jumlah pasukan muslim dari pasukan kafir
qurayis, tapi sudah cukup membuktikan bahwa perbaikan sistem tempur dalam
pasukan Islam sudah mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Namun kenapa
perang badar menang dan perang uhud kalah?
Penulis melihat ada dua persoalan besar
penyebab kemenangan dan kekalahan; yaitu kemenangan umat Islam karena niat suci
mengabdi kepada-Nya dan disiplin dalam menjalankan tugas-tugas yang telah
diberikan oleh puncuk pimpinan pasukan. Jadi, kekalahan juga disebabkan karena
meninggalkan kedua faktor tersebut.
Pelajaran yang bisa diambil dari sejarah
tersebut bahwa ketulusan mengabdi kepada Allah adalah faktor pendorong sangat
kuat untuk melakukan suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan baik dalam
bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sebagainya. Jika anda seorang pelajar
atau seorang pedagang yang hatinya sudah menata diri untuk melakukan sesuatu
dalam rangka mencari ridha-Nya, maka kebahagiaan batin akan meluber dan
melimpah dalam diri dan keluarga anda. Lalu muncul kedamaian hati dan
kebahagiaan dhohir. Selain itu ketika sudah membulatkan segala perilaku hanya
mengharapkan ridha-Nya, maka yang perlu dilakukan yaitu memperbaiki disiplin
dalam melaksanakan aktivitas, apapun yang telah diprogramkan dalam kehidupan
sehari-hari. Insya Allah kita akan menjadi manusia yang agung dalam pandangan
manusia, lebih-lebih dalam pandangan Allah swt.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2951
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876