
Sabtu malam minggu saya terbangun dari
tidur. Jam menunjukan pukul 02.00 dini hari. Ada mimpi yang membuat saya
terbangun. Ini mimpi bisa dibilang menyenangkan, tapi satu sisi membingungkan. Sebab
dalam mimpi, saya seolah-olah diminta orang banyak agar menikahi seorang gadis.
Pusing. Ini mimpi. Jika tidak terjadi tidak apa-apa. Khawatir saya ada dua;
pertama saya tidur dan mengigau tentang gadis dalam mimpi tersebut. bisa gawat.
kedua, jika mimpi ini menjadi kenyataan. Wah, bisa jadi, hari-hari ku menjadi “yaumul
hisab” oleh ibu nya anak-anak. Kata para ustadz “yaumul hisab” adalah proses
yang melelahkan dan menyakitkan. Hanya para waliyulloh yang tidak mempan panas
api di dalam hati. Sayangnya, saya masih wali murid.
Para mufasiri mengartikan arti mimpi
tersebut sebagai bentuk penghormatan. Saya akan mendapatkan penghormatan dari
orang mulia. Saya pun menunggu minggu pagi
sampai siang untuk membenarkan kebenaran mimpi tersebut. Namun, karena
anak-anak demam panas, HP baru saya buka jam 20.00 wib. Ada SMS masuk. Ada gambar
dan tulisan. Ternyata foto guru saya saat kuliah program doktor di UIN Riau, yaitu
buya Dr. H. Mawardi Shaleh, lc, MA. Seorang ulama. Kitab berjalan bermadzab Syafi’i. Kini sama-sama menjadi Ketua Umum MUI, Buya Mawardi ketum MUI Kampar, saya Kepulauan Meranti. Sama-sama suka bergurau.
Pagi hari saya ngopi bareng di Kedai Jumbo.
Sarapan, ngopi sambil melihat pandangan laut Kota Selatpanjang. Sudah lama
tidak ketemu. Sekitar tahun 2013 bertemu saat masuk di lokal ku. Ulama satu ini
benar-benar jenius, dan pembela Madzhab Syafi’i di Provinsi Riau, bahkan sampai
ke manca negara seperti Malaysia.
Kami mengobrol kenangan masa lalu. Dia manggil
saya “syeikh”, saya manggil dia “buya”. Dua sebutan untuk menunjukan makna “senior”
atau “tua”. Saya panggil dia dengan “buya” karena tua ilmunya. Dia memanggil
saya “syeikh” karena mungkin wajah saya sudah terlihat benar-benar tua. Tapi jika
dilihat dari kumis dan jenggot, nampaknya Buya Mawardi benar-benar sudah
terlihat sangat bijak dalam memberikan suatu argument; solutif dan tidak terkesan
menggurui.
Memang dari segi nama kami sama-sama
berharap berkah “tafaulan” pada ulama besar zaman klasik. Buya Mawardi
bisa jadi orang tua nya berharap berkah dari ulama yang sangat terkenal yaitu Abu
Hasan Ali Bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi. Terkenal dengan sebutan Syeikh
Al-Mawardi. Magnum opusnya, “Al-Ahkam As-Sultaniyyah”. Buku ini adalah buku
yang masih menjadi rujukan dalam kerangka berfikir dalam bidang perpolitikan. Salah
satu yang menggunakan buku dan menjadi rujukan dalam berpolitik yaitu kalangan
NU dengan konsep ahlu hal wa al-‘aqdi-nya.
Sedang nama saya Imam Ghozali. Orang tua
saya adalah seorang ahli dzikir dan penganut tarikat qadiriyah wa
naqsabandiyah. Tentu nama tersebut mempunyai harapan besar agar bisa
mendapatkan tetesan ulama besar Syeikh Abu Hamid Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali.
Terkenal dengan sebutan Imam Al-Ghozali. Magnum opusnya Ihya Ulumuddin.
Kelihatanya diusia mulai bertambah dan
memutih rambutnya, harapan orang tua atas berkah dari nama besar ulama tersebut
mulai terlihat. Buya Mawardi kelihatanya mulai terpengaruh oleh kitab Al-Ahkam
As-Sultaniyyah. Ada kegelisahan sebagai seorang ulama dan intelektual yang
memang harus disalurkan melalui jalur politik. Dia telah menjelaskan panjang
lebar tentang kegelisahan tersebut.
Saya juga kelihatannya mulai sedikit
terpengaruh nama besar Hujatul Islam, seorang ulama yang prolific. Dia
lebih terkenal pada dunia tasawuf. Karena ini juga, saya sudah kurang tertarik
(untuk saat ini) pada dunia politik praktis. Meskipun demikian, saya tetap
berbicara politik pada tataran moralitas politik dan senantiasa saya sampaikan
kepada siapapun yang ingin menapaki karir pada dunia politik.
Alhasil mimpi saya benar-benar terjadi. Saya
benar-benar bahagia. Pertama, hari ini saya dikunjungi oleh dosen saya dan sekaligus
salah satu ulama riau pembela Madzhab Syafi’i yang sangat fokal. Kedua, bahwa
tafsir mimpi “dijodohkan saat sudah menikah” artinya akan kedatangan tamu agung
yang mengagungkan tuan rumah dengan penghormatan yang agung. Tentu keagungan
bukan pada baju formalitas, tapi pada rasa cinta. Dan berkaitan dengan cinta,
maka tidak ada yang bisa membacanya kecual hanya orang-orang yang sedang jatuh
cinta. Bukankah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879