Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Secangkir Kopi dengan Buya Mawardi



Senin , 14 Agustus 2023



Telah dibaca :  402

Sabtu malam minggu saya terbangun dari tidur. Jam menunjukan pukul 02.00 dini hari. Ada mimpi yang membuat saya terbangun. Ini mimpi bisa dibilang menyenangkan, tapi satu sisi membingungkan. Sebab dalam mimpi, saya seolah-olah diminta orang banyak agar menikahi seorang gadis. Pusing. Ini mimpi. Jika tidak terjadi tidak apa-apa. Khawatir saya ada dua; pertama saya tidur dan mengigau tentang gadis dalam mimpi tersebut. bisa gawat. kedua, jika mimpi ini menjadi kenyataan. Wah, bisa jadi, hari-hari ku menjadi “yaumul hisab” oleh ibu nya anak-anak. Kata para ustadz “yaumul hisab” adalah proses yang melelahkan dan menyakitkan. Hanya para waliyulloh yang tidak mempan panas api di dalam hati. Sayangnya, saya masih wali murid.

Para mufasiri mengartikan arti mimpi tersebut sebagai bentuk penghormatan. Saya akan mendapatkan penghormatan dari orang mulia. Saya pun menunggu  minggu pagi sampai siang untuk membenarkan kebenaran mimpi tersebut. Namun, karena anak-anak demam panas, HP baru saya buka jam 20.00 wib. Ada SMS masuk. Ada gambar dan tulisan. Ternyata foto guru saya saat kuliah program doktor di UIN Riau, yaitu buya Dr. H. Mawardi Shaleh, lc, MA. Seorang ulama. Kitab berjalan bermadzab Syafi’i. Kini sama-sama menjadi Ketua Umum MUI, Buya Mawardi ketum MUI Kampar, saya Kepulauan Meranti. Sama-sama suka bergurau. 

Pagi hari saya ngopi bareng di Kedai Jumbo. Sarapan, ngopi sambil melihat pandangan laut Kota Selatpanjang. Sudah lama tidak ketemu. Sekitar tahun 2013 bertemu saat masuk di lokal ku. Ulama satu ini benar-benar jenius, dan pembela Madzhab Syafi’i di Provinsi Riau, bahkan sampai ke manca negara seperti Malaysia.

Kami mengobrol kenangan masa lalu. Dia manggil saya “syeikh”, saya manggil dia “buya”. Dua sebutan untuk menunjukan makna “senior” atau “tua”. Saya panggil dia dengan “buya” karena tua ilmunya. Dia memanggil saya “syeikh” karena mungkin wajah saya sudah terlihat benar-benar tua. Tapi jika dilihat dari kumis dan jenggot, nampaknya Buya Mawardi benar-benar sudah terlihat sangat bijak dalam memberikan suatu argument; solutif dan tidak terkesan menggurui.

Memang dari segi nama kami sama-sama berharap berkah “tafaulan” pada ulama besar zaman klasik. Buya Mawardi bisa jadi orang tua nya berharap berkah dari ulama yang sangat terkenal yaitu Abu Hasan Ali Bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi. Terkenal dengan sebutan Syeikh Al-Mawardi. Magnum opusnya, “Al-Ahkam As-Sultaniyyah”. Buku ini adalah buku yang masih menjadi rujukan dalam kerangka berfikir dalam bidang perpolitikan. Salah satu yang menggunakan buku dan menjadi rujukan dalam berpolitik yaitu kalangan NU dengan konsep ahlu hal wa al-‘aqdi-nya.

Sedang nama saya Imam Ghozali. Orang tua saya adalah seorang ahli dzikir dan penganut tarikat qadiriyah wa naqsabandiyah. Tentu nama tersebut mempunyai harapan besar agar bisa mendapatkan tetesan ulama besar Syeikh Abu Hamid Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghozali. Terkenal dengan sebutan Imam Al-Ghozali. Magnum opusnya Ihya Ulumuddin.

Kelihatanya diusia mulai bertambah dan memutih rambutnya, harapan orang tua atas berkah dari nama besar ulama tersebut mulai terlihat. Buya Mawardi kelihatanya mulai terpengaruh oleh kitab Al-Ahkam As-Sultaniyyah. Ada kegelisahan sebagai seorang ulama dan intelektual yang memang harus disalurkan melalui jalur politik. Dia telah menjelaskan panjang lebar tentang kegelisahan tersebut.

Saya juga kelihatannya mulai sedikit terpengaruh nama besar Hujatul Islam, seorang ulama yang prolific. Dia lebih terkenal pada dunia tasawuf. Karena ini juga, saya sudah kurang tertarik (untuk saat ini) pada dunia politik praktis. Meskipun demikian, saya tetap berbicara politik pada tataran moralitas politik dan senantiasa saya sampaikan kepada siapapun yang ingin menapaki karir pada dunia politik.

Alhasil mimpi saya benar-benar terjadi. Saya benar-benar bahagia. Pertama, hari ini saya dikunjungi oleh dosen saya dan sekaligus salah satu ulama riau pembela Madzhab Syafi’i yang sangat fokal. Kedua, bahwa tafsir mimpi “dijodohkan saat sudah menikah” artinya akan kedatangan tamu agung yang mengagungkan tuan rumah dengan penghormatan yang agung. Tentu keagungan bukan pada baju formalitas, tapi pada rasa cinta. Dan berkaitan dengan cinta, maka tidak ada yang bisa membacanya kecual hanya orang-orang yang sedang jatuh cinta. Bukankah demikian?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879