
Setelah sholat ashar, bisikan hati saya ingin menemui Bupati Meranti H.AKBP Asmar di
rumah dinasnya. Tidak ada janjian, tidak ada pemberitahuan. Saya pun sengaja tidak
memberi tahu ajudannya. Saya tahu, itu merupakan suatu kesalahan. Prosedurnya,
siapapun yang ingin ketemu bupati, harus lapor kepada ajudan, dan dia yang akan
membuat jadwal pertemuan tersebut. namun saya kadang kurang memikirkan hal-hal
seperti itu. Jadi, ketika datang ke rumahnya, Satpol PP pun bertanya kepadaku “Apakah
sudah dijadwalkan oleh ajudan”, saya jawab “belum”. Mungkin karena bingung campur segan, anak
muda yang bertugas tadi pun masuk ke rumah bupati dan mengatakan kepada
seseorang di dalam bahwa saya ingin bertemu dengan bupati.
Saya duduk di kursi tunggu yang letaknya di
luar rumah dinas. Sekitar 5 menit, ada seorang ibu datang dan mengatakan
bahwa “Bapak baru saja tidur, karena baru pulang dari perjalanan dinas”. Saya
tersenyum dan rencana ingin pulang. Namun, tiba-tiba pintu pintu depan rumah dinas
berbunyi. Ada suara memanggilku, “Mas, silahkan masuk”. Ternyata itu
suara bupati, pak H. Asmar. Ibu tadi tersipu malu saat tahu bupati memanggilku. Saya segera masuk Rumah Dinas Bupati dan mengobrol “ngalor-ngidul”,
kadang diselingi guyonan, dan sedikit nasehat tentang kehidupan sebagai sesama
muslim.
“Mas kyai puasa ?” tanya bupati.
“Belum, saya ikut keputusan pemerintah” jawab ku.
Ternyata sama, H. Asmar pun puasanya hari
selasa ikut ketentuan pemerintah. Namun kami sepakat untuk saling menghargai
perbedaan. Sebab persoalan hisab dan rukyat adalah persoalan ijtihad. Benar dapat
dua pahala, salah dapat satu pahala.
“Ada keperluan apa mas kyai?” tanya bupati.
“Sebelum puasa, saya ingin merasakan teh panas di rumah dinas bupati” kataku. Sontak H. Asmar pun tertawa. Kami jadi tertawa bersama-sama. Mungkin bupati pun agak iskal memikirkan tingkahku. Mungkin biasanya, orang datang ke rumah bupati mempunyai hajat yang besar, tapi saya hanya ingin minum teh manis. Suasana menjadi terlihat sangat cair. Namun karena H. Asmar dengan penuh ketawadhuan meminta doa menjelang ramadhan dan meminta nasehat dariku, tentu saya terlihat sedikit serius. Apalagi Teh yang dihidangkan pun masih sangat panas. Sambil menunggu dingin, saya menggunakan waktu untuk saling nasehat-menasehati.
Saya teringat hadist Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa
yang ingin memberi nasehat kepada pemimpin, jangan dilakukan secara
terang-terangan. Nasehatilah dia di tempat yang sepi, jika menerima nasehat,
maka sangat baik dan bilan tidak menerima maka kamu telah menyampaikan
kewajiban nasehat kepadanya” (HR. Imam Ahmad).
Setelah dirasa cukup, saya pun pamit
kepada pak bupati. Dia mengantarku sampai di depan pintu. Setelah mengucapkan
salam, saya pun pergi dan segera menuju ke TPU (Tempat Pemakaman Umum). Saya
pergi dan menghidupkan tradisi “mendoakan” orang-orang yang telah
meninggal. Secara khusus untuk orang tua, guru-guru dan secara umat untuk
seluruh umat Islam, termasuk yang tidak pernah ziarah kubur pun tetap didoakan dengan harapan selamat dunia dan akherat.
“Pak, beli
bunga rampai?” kata seorang
ibu muda yang duduk di dekat pintu masuk TPU. Saya berhenti melihat-lihat bunga
yang sudah dibungkus plastik warna kuning. Anaknya yang masih kecil berumur sekitar 2 tahun. Tidak memakai baju dan mainan “pempes”. Saya membeli satu
bungkus. baru berjalan beberapa langkah, ada ibu penjual lainnya juga menawarkan dagangan sama. Saya
melihat anaknya tertidur dan diselimuti kain batik. Udara panas. Hanya saja, udara dibawah pohon beringin besar dan tinggi membuat anaknya nyaman bisa tidur nyenyak
di samping ibunya yang sedang jualan bungai rampai. Saya membeli satu lagi.
Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda: “Dari
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam melewati dua buah kuburan. Lalu Beliau bersabda,”Sungguh keduanya sedang
disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya).
Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari
kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah.” Kemudian
Beliau mengambil pelepah basah. Beliau belah menjadi dua, lalu Beliau tancapkan
di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya,”Wahai,
Rasulullah. Mengapa Rasul melakukan ini?” Beliau menjawab,”Semoga mereka
diringankan siksaannya, selama keduanya belum kering”.
Saya pun berjalan pelan dan
melintasi kuburan yang sudah memenuhi lokasi TPU. Bahkan bisa jadi sudah silih
berganti. Saya pun berfikir, bahwa semua akan merasakan sebagaimana mereka.
Pantas saja Rasulullah menganjurkan untuk melakukan ziarah kubur kapan dan
dimanapun berada dan tidak khusus di bulan romadhan. Meskipun demikian, ziarah
kubur di bulan ramadhan menjadi sangat spesial. Bukan pada format perintah yang
bersifat khususiyah hadist nabi, tapi pada subtansi ziarah kubur. Melalui
ziarah kubur di bulan ramadhan kita bisa membangkitkan lagi semangat untuk
mencintai orang tua yang mungkin terlupakan selama satu tahun karena kesibukan.
Melalui ziarah kubur, kita mampu mengambil pelajaran bahwa bulan romadhan tahun
ini adalah bulan romadhan yang sangat spesial dan harus dilakukan secara totalitas
dalam beribadah kepada-Nya. Melalui ziarah kubur ini juga, tumbuh rasa empati
kepada sesama muslim. semua nya didoakan ibadah dan amal sholeh diterima,
selamat dunia dan akherat, termasuk orang yang tidak pernah ziarah kubur
sekalipun tetap didoakan keselamatan. Jika demikian realitanya, maka tradisi
ziarah kubur menjelang bulan ramadhan sangat baik sekali dilestarikan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876