Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Secangkir Teh Panas Menjelang Ramadhan



Senin , 11 Maret 2024



Telah dibaca :  689

Setelah sholat ashar, bisikan hati saya  ingin menemui Bupati Meranti H.AKBP Asmar di rumah dinasnya. Tidak ada janjian, tidak ada pemberitahuan. Saya pun sengaja tidak memberi tahu ajudannya. Saya tahu, itu merupakan suatu kesalahan. Prosedurnya, siapapun yang ingin ketemu bupati, harus lapor kepada ajudan, dan dia yang akan membuat jadwal pertemuan tersebut. namun saya kadang kurang memikirkan hal-hal seperti itu. Jadi, ketika datang ke rumahnya, Satpol PP pun bertanya kepadaku “Apakah sudah dijadwalkan oleh ajudan”, saya jawab “belum”.  Mungkin karena bingung campur segan, anak muda yang bertugas tadi pun masuk ke rumah bupati dan mengatakan kepada seseorang di dalam bahwa saya ingin bertemu dengan bupati.

Saya duduk di kursi tunggu yang letaknya di luar rumah dinas. Sekitar 5 menit, ada seorang ibu datang dan mengatakan bahwa “Bapak baru saja tidur, karena baru pulang dari perjalanan dinas”. Saya tersenyum dan rencana ingin pulang. Namun, tiba-tiba pintu pintu depan rumah dinas berbunyi. Ada suara memanggilku, “Mas, silahkan masuk”. Ternyata itu suara bupati, pak H. Asmar. Ibu tadi tersipu malu saat tahu bupati memanggilku. Saya segera masuk Rumah Dinas Bupati dan mengobrol “ngalor-ngidul”, kadang diselingi guyonan, dan sedikit nasehat tentang kehidupan sebagai sesama muslim.

“Mas kyai puasa ?” tanya bupati.

“Belum, saya ikut keputusan pemerintah” jawab ku.

Ternyata sama, H. Asmar pun puasanya hari selasa ikut ketentuan pemerintah. Namun kami sepakat untuk saling menghargai perbedaan. Sebab persoalan hisab dan rukyat adalah persoalan ijtihad. Benar dapat dua pahala, salah dapat satu pahala.

“Ada keperluan apa mas kyai?” tanya bupati.

“Sebelum puasa, saya ingin merasakan teh panas di rumah dinas bupati” kataku. Sontak H. Asmar pun tertawa. Kami jadi tertawa bersama-sama. Mungkin bupati pun agak iskal memikirkan tingkahku. Mungkin biasanya, orang datang ke rumah bupati mempunyai hajat yang besar, tapi saya hanya ingin minum teh manis. Suasana menjadi terlihat sangat cair. Namun karena H. Asmar dengan penuh ketawadhuan meminta doa menjelang ramadhan dan meminta nasehat dariku, tentu saya terlihat  sedikit serius. Apalagi Teh yang dihidangkan pun masih sangat panas. Sambil menunggu dingin, saya menggunakan waktu untuk saling nasehat-menasehati.

Saya teringat hadist Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang ingin memberi nasehat kepada pemimpin, jangan dilakukan secara terang-terangan. Nasehatilah dia di tempat yang sepi, jika menerima nasehat, maka sangat baik dan bilan tidak menerima maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasehat kepadanya” (HR. Imam Ahmad).

Setelah dirasa cukup, saya pun pamit kepada pak bupati. Dia mengantarku sampai di depan pintu. Setelah mengucapkan salam, saya pun pergi dan segera menuju ke TPU (Tempat Pemakaman Umum). Saya pergi dan menghidupkan tradisi “mendoakan” orang-orang yang telah meninggal. Secara khusus untuk orang tua, guru-guru dan secara umat untuk seluruh umat Islam, termasuk yang tidak pernah ziarah kubur pun tetap didoakan dengan harapan selamat dunia dan akherat.

“Pak, beli bunga rampai?” kata seorang ibu muda yang duduk di dekat pintu masuk TPU. Saya berhenti melihat-lihat bunga yang sudah dibungkus plastik warna kuning. Anaknya yang masih kecil  berumur sekitar 2 tahun. Tidak memakai baju dan  mainan “pempes”. Saya membeli satu bungkus. baru berjalan beberapa langkah, ada ibu penjual lainnya juga menawarkan dagangan sama. Saya melihat anaknya tertidur dan diselimuti kain batik. Udara panas. Hanya saja, udara dibawah pohon beringin besar dan tinggi membuat anaknya nyaman bisa tidur nyenyak di samping ibunya yang sedang jualan bungai rampai. Saya membeli satu lagi.

Kanjeng nabi Muhammad saw bersabda: “Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua buah kuburan. Lalu Beliau bersabda,”Sungguh keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah.” Kemudian Beliau mengambil pelepah basah. Beliau belah menjadi dua, lalu Beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya,”Wahai, Rasulullah. Mengapa Rasul melakukan ini?” Beliau menjawab,”Semoga mereka diringankan siksaannya, selama keduanya belum kering”.

Saya pun berjalan pelan dan melintasi kuburan yang sudah memenuhi lokasi TPU. Bahkan bisa jadi sudah silih berganti. Saya pun berfikir, bahwa semua akan merasakan sebagaimana mereka. Pantas saja Rasulullah menganjurkan untuk melakukan ziarah kubur kapan dan dimanapun berada dan tidak khusus di bulan romadhan. Meskipun demikian, ziarah kubur di bulan ramadhan menjadi sangat spesial. Bukan pada format perintah yang bersifat khususiyah hadist nabi, tapi pada subtansi ziarah kubur. Melalui ziarah kubur di bulan ramadhan kita bisa membangkitkan lagi semangat untuk mencintai orang tua yang mungkin terlupakan selama satu tahun karena kesibukan. Melalui ziarah kubur, kita mampu mengambil pelajaran bahwa bulan romadhan tahun ini adalah bulan romadhan yang sangat spesial dan harus dilakukan secara totalitas dalam beribadah kepada-Nya. Melalui ziarah kubur ini juga, tumbuh rasa empati kepada sesama muslim. semua nya didoakan ibadah dan amal sholeh diterima, selamat dunia dan akherat, termasuk orang yang tidak pernah ziarah kubur sekalipun tetap didoakan keselamatan. Jika demikian realitanya, maka tradisi ziarah kubur menjelang bulan ramadhan sangat baik sekali dilestarikan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876