Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Segelas Air di Tengah Badai Gurun


 TAUHID

Kamis , 01 Agustus 2024



Telah dibaca :  701

Saya belum pernah melihat seperti apa badai gurun. Informasi dari teman-temanku yang pernah melihatnya sangat mengerikan. Mungkin sama juga badai gurun pada film Desierto (2015), Mine (2016), Revenge (2017) dan Gold (2022). Badai guru sering disebut habud. Orang Inggris menyebutnya habood adalah sejenis badai debu hebat yang dibawa oleh angin di wilayah lahan kering. Bagi sebagian orang badai gurun sangat menyenangkan dan menjadi bagian destinasi sangat mengasikan untuk ditonton. Berbeda bagi orang-orang yang berada di wilayah tersebut, sungguh sangat menyesakan dada, bahkan bisa jadi timbul penyakit baru seperti batuk-batuk, sesak nafas, demam dan lain-lain. Sama seperti di Indonesia, saat ada perubahan cuaca dari musim penghujan menuju musim kemarau, sering terjadi penyakit semacam itu, dan terasa sangat menyiksa. Mungkin bagi masyarakat Indonesia ketika ada badai gurun terjadi di negeri kita akan timbul beragam penyakit akibat perubahan iklim secara tiba-tiba, udara kotor, pola hidup berubah dan lain-lain. Indonesia tidak ada badai gurun. Tipologi geografis dan kondisi tanah bisa terjadi mirip-mirip badai gurun ketika musim kemarau. Selain itu ada ancaman yang lebih serius yaitu kebakaran hutan dan gunung meletus serta gempa bumi.

Kehidupan saat sekarang ini laksana dalam cengkraman badai guru. Adanya arus informasi yang sangat komplek, dunia yang terang benderang menjadi terlihat gelap gulita dan menyesakan pernafasan. bagi anda seorang tokoh agama, maka anda akan disuguhi informasi dari HP di tangan anda berupa video porno, informasi amoral dari beragam pelaku, perilaku para politisi atau pejabat yang bertentangan dengan hati Nurani anda, dan beragam criminal yang terjadi di sekitar anda atau Seberang sana tapi terasa dekat karena masuk di HP anda melalui WA, IG dan sejenisnya.

Bagi anda seorang pendidik melihat dunia pendidikan satu sisi ingin menangis tapi tidak mengeluarkan air mata. hatinya sedih laksana tersayat silet. pikiran anda seolah-olah buntu, mengapa, mau apa, dan bagaimana adalah awalan pertanyaan yang mampir pada pikiran dan hati tapi selalu saja kebingungan darimana harus memulai dan bagaimana jalan penyelesaian. anda sebagai seorang pendidik bisa jadi akan mengalami “bludreg” (kepala sakit akibat terlalu banyak pikiran) dan terkadang duduk seperti orang bingung. ya, anda benar-benar bingung. ilmu yang anda dapat dan jenjang Pendidikan serta ribuan penelitian seolah-olah hanya dalam wujud lembaran-lembaran manuskrip tanpa arti.

Bagi anda sebagai orang tua saat melihat informasi di HP, TV dan media online lainnya terkadang tidak bisa tidur. anda seolah-olah berdiri di rumah kaca yang setiap sudut menampilkan informasi-informasi sampah. Anda akan dijejali segala informasi tersebut. Anda akan terus membayangkan jika kejadian tersebut terjadi pada keluarga anda atau keluarga kita. sehingga kadang anda harus membuat keputusan yang terkadang tanpa pertimbangan matang dampak dari keputusan tersebut.

Kehidupan saat sekarang ini laksana dalam kepungan badai gurun. Saat kita terkurung, pikiran dan nalar kita berhenti mencerna secara sehat dan sistematis. Hati terasa gelisah tidak menentu. yang ada dalam pikirannya adalah pergi jauh-jauh dan selamat dari amukan badai guru tersebut.

Apakah anda akan pergi dari realita kehidupan saat sekarang ini. Apakah kita akan terus mengeluh dengan keadaan seperti ini. semua jawaban dikembalikan kepada kita masing-masing. Apakah dengan mengeluh kita mampu menghindari dari persoalan yang terjadi? Apakah ketika kita sedih badai Gurun Pasir akan tersipu-sipu malu dan minta maaf kepada kita. tidak sama sekali. Tuhan telah mendesain badai gurun untuk seluruh manusia tanpa kecuali; anda seorang pejabat, ustadz, petani, tukang sapu akan terkena oleh sengatan panasnya serbuk-serbuk debu dan pasir. semua terkena secara bersamaan.

Kadang kita memang perlu muhasabah diri, duduk dan merenung hakikat hidup kita sebenarnya. Anda yang sekarang menjadi pembesar, ilmuwan, agamawan, suami, istri, mertua dan seluruh status yang ada pada diri anda sebenarnya pada situasi sama yaitu kita menghadapi persoalan kehidupan yang sangat menyedihkan. Kesenangan saat sekarang ini terkadang setipis kulit dari hakikat kesedihan. Dunia berubah begitu cepat, dan kita sering tidak menyadari kecepatan perubahan tersebut.

Anda dalam segala jenjang level status sosial sebenarnya sama-sama hanya mempunyai satu gelas air kehidupan. Nilai kebaikan dan kebahagiaan kita saat minum adalah pada level itu, Satu gelas bukan satu timba atau satu bak. Lebih dari satu gelas hanya hayalan panjang kita yang entah bisa minum di masa mendatang atau tidak.

Mari duduk dan merenung diri sendiri. lihat tubuh, wajah, rambut dan pendengaran. lalu lihat satu gelas kehidupan yang ada dalam hati anda. Hati anda adalah laksana air kehidupan yang sangat jernih. Darinya kita belajar meminumnya sedikit demi sedikit dan pelan-pelan sambil menghayati sejuknya air tersebut. Dari situ kita bisa mengenal diri sendiri tentang hidup dan cara menghisi kehidupan. biarkan dunia terus menari-nari dengan segala modelnya, anda cukup berteman dengan satu gelas kehidupan yang ada pada hati anda. Saat anda bisa menemukan, maka anda mendapatkan kebahagiaan sejati, sebab ia telah bertemu dengan Dzat Yang Maha Suci.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   218

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   112

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   123

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13589


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4583


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2900