
Hari terakhir bulan ramadhan sudah tidak
terpikir lagi malam lailatul qadr yang sering disebut malam seribu bulan.
Hampir sebagian besar umat Islam di kampungku sudah sibuk menyiapkan keperluan
hari raya. Para ustadz menyiapkan teks khutbah. Ia memilih dalil-dalil dan
kisah-kisah yang bisa menyentuh hati. Kalau bisa saat khutbah hingga sampai
pada doa penutup khutbah bisa meneteskan air mata sebagai wujud kekhusu’an dan
kesakralan bulan ramadhan dan Idul Fitri. Ma’lum, hari itu semua hati membuka
diri dan mengakui diri segala kesalahan masa lalu. Anak merasa salah kepada
orang tua, menantu salah kepada mertua, istri merasa bersalah kepada suami.
Mereka kadang sangat dramatis. Saling tangis-tangisan dan mengakui kesalahan.
Namun kadang bagi jama’ah yang sudah mengenal ustadznya (apalagi kalau ustadz
tersebut teman dekatnya), komentar sama teman sebelahnya kadang kurang
mengenakan telinga. Sambil tersenyum dan membisikan ke telinga temannya;”Ah,
itu hanya air mata buaya”
Momen khutbah dan sholat idul fitri sering menimbulkan kesakralan oleh sebagian
orang. Lucunya, sehari setelah peristiwa yang penuh dengan dramatis ini, semua
kembali seperti semula. Yang suka marah kembali lagi menjadi pemarah, suka
bisik-bisik tetangga juga kembali lagi melakukan aktivitas tersebut, yang suka
pamer pun kembali lagi ke habitatnya. Seolah-olah kesakralan bulan ramadhan dan
tangisan di hari pertama Idul Fitri sirna. Sebagian mereka kembali lagi ke
fitrah nya yaitu menuruti hawa nafsu yang perilakunya seperti anak kecil “
an-nafsu ka tifli”, nafsu seperti anak kecil. Selalu ingin menuruti
kehendak suara hati tanpa mempertimbangkan lagi baik dan buruk, benar dan
salah.
Hari pertama Idul Fitri semua jenis makanan
ada. Ada opor ayam, soto, sop dan sejenisnya. Tidak ketinggalan ketupat yang
terbuat dari daun kelapa. Semua berwajah manis dan murah senyum. Semua
menginginkan rumahnya didatangi tamu dan menjadi kebahagiaan sendiri ketika mereka
datang dan makan masakan yang penuh warna dan rasa. Setelah makan, mereka
duduk-duduk di ruang tamu sambil menyantap kueh lebaran, dodol atau jenang, dan
minuman kaleng. Namun, ada juga yang selektif, tidak mau minum minuman kaleng
dan memilih air gelas kemasan segala merk, mulai merk yang sudah menasional
maupun yang mirip-mirip nasional. Sebab hari pertama sering menjadi penentu
kondisi tubuh. Jika kondisi tubuh tidak kuat makan dan minum minuman kaleng
yang penuh dengan zat pengawet dan mengandung gas, perut sakit atau malah
demam. Namun lagi lagi, di hari pertama Idul Fitri semua makanan menyuguhkan
dengan beragam selera. Setiap tuan rumah selalu saja memberikan rayuan maut
agar tamu selalu menyantap apa yang dihidangkan di rumahnya. Akhirnya tidak
bisa mengelak untuk makan dan minum tanpa lagi mempertimbangkan akal pikiran. Wajar,
jika hari pertama dan selanjutnya banyak anak-anak atau orang tua yang sakit
akibat makanan dan minuman.
Hari raya Idul Fitri memang penuh arti.
Sebagian orang mengartikan sebagai hari kembali makan. Hal ini disebabkan
sebulan makan libur di siang hari, kini bisa makan sebagaimana semula. Sebagian
lagi mengartikan sebagai hari kembali ke fitrah. Makna ini sering berkaitan
dengan fitrah manusia yang suci, bersih saat lahir dan tidak membawa dosa
sedikitpun. Itu sebabnya, fenomena yang dominan di hari raya tersebut yaitu
gabungan kedua makna Idul Fitri; saling memaafkan dan saling memberi
makan-makanan. Meskipun setiap wilayah, negara dan bangsa berbeda-beda polanya
sebagaimana ungkapan kalimat, “ lain ladang, lain belalang”, setiap daerah atau
bangsa punya tradisi yang berbeda-beda.
Daerah perkampungan yang masih memegang
tradisi kearifan lokal yang kental, hari pertama Idul Fitri dilakukan dengan
kegiatan silaturahim secara berjamaah. Mereka datang dulu ke rumah orang yang
dianggap sebagai ulama, kyai atau guru. Datang rombongan dan saling memaafkan.
Duduk sebentar kemudian, segera pergi ke tempat lain. Jadi ada semacam berapa target
rumah harus dicapai, semakin banyak rumah yang dikunjungi terasa semakin
bahagia. Sebab semakin banyak bertemu para ulama dan guru, semakin merdeka
karena sudah meminta maaf dan doa restu. Pola ini biasanya sampai beberapa hari
kedepan, dua atau tiga hari Idul Fitri.
Ketika memasuki hari keempat, mereka
biasanya sudah mulai menyiapkan diri ke rumah teman-teman dekatnya. Mulai pagi
sudah menyiapkan baju-baju terbaiknya. Hari keempat menjadi hari istimewa,
selain hari orang-orang mulai sepi datang ke rumahnya, hari itu adalah
kesempatan untuk bisa mengobrol lebih lama dengan teman-temannya atau
orang-orang yang dianggap spesial dalam hidupnya.
Berbeda suasana di daerah perkotaan.
Suasana sepi. Para pembantu, para pekerja dan orang-orang merantau mencari nafkah
biasanya pulang kampung. Jika tidak, sebagian mereka lebih asyik berada di
kontrakan atau pergi ke rumah teman dekatnya. Sedangkan orang-orang ekonomi
lebih mapan dan para pejabat dan sejenisnya serta para artis lebih memfokuskan
silaturahim dengan keluarga besarnya, teman-teman dan relasi-relasi bisnisnya.
Mereka adalah orang-orang sibuk. Ada jadwal tertentu untuk open house. Selain
karena kesibukan, mereka adalah figure public yang memang segala kegiatannya
sering untuk konsumsi public. Resikonya, ada yang pro dan kontra. Semua itu
adalah wajar, karena kadang kegiatan memang dibuat sedemikian rupa untuk
menarik perhatian para warganet atau netizen.
Walhasil, Idul Fitri telah menjadi moment
seluruh lapisan masyarakat mulai dari pejabat sampai rakyat biasa. Penulis menggunakan dengan istilah “hari sejuta
rasa”, ada rasa beragam minuman, makanan, kueh dan lain-lain. Ada juga rasa
bahagia, senang, haru, rindu dan ketulusan bersilaturahim serta keterbukaan
untuk saling memaafkan. Hari Idul Fitri benar-benar telah mampu meruntuhkan
egoisme individual dan kolektivitas. Itu sebabnya, rasa “benci” dan “dendam” di
hari yang fitri ini seolah-olah hilang. Sungguh hari yang sangat dahsyat sekali
dalam merubah pribadi-pribadi umat nabi
Muhammad yang agung. Bahkan bisa jadi, kanjeng nabi tersenyum melihat umatnya
yang begitu “guyup rukun” dalam suasana penuh kebahagiaan. Apakah kanjeng nabi
juga tetap tersenyum ketika melihat umatnya di hari-hari berikutnya, saya tidak
tahu. Sebab rasa tulus saling memaafkan kadang mulai luntur saat hari Idul
Fitri mulai menjauh. Manusia kembali lagi sebagai “basyarun mislukum”,
dengan membuka file-file lama sebelum ramadhan; dendam, benci dan perilaku
negatif lainnya.
Semoga ini tidak terjadi pada diri kita.
secara pribadi, Kami sekeluarga mohon maaf kepada para pembaca. Semoga kita
benar-benar punya semangat suci untuk kembali menjadi orang-orang yang tulus
saling memaafkan dan hilang rasa dendam di dalam hati.
Penulis : Imam Ghozali
???? Notification- Process 1,00000 BTC. Get => htt
pr6gdl
???? Message; Withdrawing №PF66. Go to withdrawal
z2tij6
???? Notification: Process 0,75117127 BTC. Confirm
kvpbyb
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1023
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   762
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   887
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12935
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4069
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3131
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2425
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2365