Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

849 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sejuta Rasa di Hari Idul Fitri



Kamis , 11 April 2024



Telah dibaca :  2278

Hari terakhir bulan ramadhan sudah tidak terpikir lagi malam lailatul qadr yang sering disebut malam seribu bulan. Hampir sebagian besar umat Islam di kampungku sudah sibuk menyiapkan keperluan hari raya. Para ustadz menyiapkan teks khutbah. Ia memilih dalil-dalil dan kisah-kisah yang bisa menyentuh hati. Kalau bisa saat khutbah hingga sampai pada doa penutup khutbah bisa meneteskan air mata sebagai wujud kekhusu’an dan kesakralan bulan ramadhan dan Idul Fitri. Ma’lum, hari itu semua hati membuka diri dan mengakui diri segala kesalahan masa lalu. Anak merasa salah kepada orang tua, menantu salah kepada mertua, istri merasa bersalah kepada suami. Mereka kadang sangat dramatis. Saling tangis-tangisan dan mengakui kesalahan. Namun kadang bagi jama’ah yang sudah mengenal ustadznya (apalagi kalau ustadz tersebut teman dekatnya), komentar sama teman sebelahnya kadang kurang mengenakan telinga. Sambil tersenyum dan membisikan ke telinga temannya;”Ah, itu hanya air mata buaya”

Momen khutbah dan sholat idul fitri  sering menimbulkan kesakralan oleh sebagian orang. Lucunya, sehari setelah peristiwa yang penuh dengan dramatis ini, semua kembali seperti semula. Yang suka marah kembali lagi menjadi pemarah, suka bisik-bisik tetangga juga kembali lagi melakukan aktivitas tersebut, yang suka pamer pun kembali lagi ke habitatnya. Seolah-olah kesakralan bulan ramadhan dan tangisan di hari pertama Idul Fitri sirna. Sebagian mereka kembali lagi ke fitrah nya yaitu menuruti hawa nafsu yang perilakunya seperti anak kecil “ an-nafsu ka tifli”, nafsu seperti anak kecil. Selalu ingin menuruti kehendak suara hati tanpa mempertimbangkan lagi baik dan buruk, benar dan salah.

Hari pertama Idul Fitri semua jenis makanan ada. Ada opor ayam, soto, sop dan sejenisnya. Tidak ketinggalan ketupat yang terbuat dari daun kelapa. Semua berwajah manis dan murah senyum. Semua menginginkan rumahnya didatangi tamu dan menjadi kebahagiaan sendiri ketika mereka datang dan makan masakan yang penuh warna dan rasa. Setelah makan, mereka duduk-duduk di ruang tamu sambil menyantap kueh lebaran, dodol atau jenang, dan minuman kaleng. Namun, ada juga yang selektif, tidak mau minum minuman kaleng dan memilih air gelas kemasan segala merk, mulai merk yang sudah menasional maupun yang mirip-mirip nasional. Sebab hari pertama sering menjadi penentu kondisi tubuh. Jika kondisi tubuh tidak kuat makan dan minum minuman kaleng yang penuh dengan zat pengawet dan mengandung gas, perut sakit atau malah demam. Namun lagi lagi, di hari pertama Idul Fitri semua makanan menyuguhkan dengan beragam selera. Setiap tuan rumah selalu saja memberikan rayuan maut agar tamu selalu menyantap apa yang dihidangkan di rumahnya. Akhirnya tidak bisa mengelak untuk makan dan minum tanpa lagi mempertimbangkan akal pikiran. Wajar, jika hari pertama dan selanjutnya banyak anak-anak atau orang tua yang sakit akibat makanan dan minuman.

Hari raya Idul Fitri memang penuh arti. Sebagian orang mengartikan sebagai hari kembali makan. Hal ini disebabkan sebulan makan libur di siang hari, kini bisa makan sebagaimana semula. Sebagian lagi mengartikan sebagai hari kembali ke fitrah. Makna ini sering berkaitan dengan fitrah manusia yang suci, bersih saat lahir dan tidak membawa dosa sedikitpun. Itu sebabnya, fenomena yang dominan di hari raya tersebut yaitu gabungan kedua makna Idul Fitri; saling memaafkan dan saling memberi makan-makanan. Meskipun setiap wilayah, negara dan bangsa berbeda-beda polanya sebagaimana ungkapan kalimat, “ lain ladang, lain belalang”, setiap daerah atau bangsa punya tradisi yang berbeda-beda.

Daerah perkampungan yang masih memegang tradisi kearifan lokal yang kental, hari pertama Idul Fitri dilakukan dengan kegiatan silaturahim secara berjamaah. Mereka datang dulu ke rumah orang yang dianggap sebagai ulama, kyai atau guru. Datang rombongan dan saling memaafkan. Duduk sebentar kemudian, segera pergi ke tempat lain. Jadi ada semacam berapa target rumah harus dicapai, semakin banyak rumah yang dikunjungi terasa semakin bahagia. Sebab semakin banyak bertemu para ulama dan guru, semakin merdeka karena sudah meminta maaf dan doa restu. Pola ini biasanya sampai beberapa hari kedepan, dua atau tiga hari Idul Fitri.

Ketika memasuki hari keempat, mereka biasanya sudah mulai menyiapkan diri ke rumah teman-teman dekatnya. Mulai pagi sudah menyiapkan baju-baju terbaiknya. Hari keempat menjadi hari istimewa, selain hari orang-orang mulai sepi datang ke rumahnya, hari itu adalah kesempatan untuk bisa mengobrol lebih lama dengan teman-temannya atau orang-orang yang dianggap spesial dalam hidupnya.  

Berbeda suasana di daerah perkotaan. Suasana sepi. Para pembantu, para pekerja dan orang-orang merantau mencari nafkah biasanya pulang kampung. Jika tidak, sebagian mereka lebih asyik berada di kontrakan atau pergi ke rumah teman dekatnya. Sedangkan orang-orang ekonomi lebih mapan dan para pejabat dan sejenisnya serta para artis lebih memfokuskan silaturahim dengan keluarga besarnya, teman-teman dan relasi-relasi bisnisnya. Mereka adalah orang-orang sibuk. Ada jadwal tertentu untuk open house. Selain karena kesibukan, mereka adalah figure public yang memang segala kegiatannya sering untuk konsumsi public. Resikonya, ada yang pro dan kontra. Semua itu adalah wajar, karena kadang kegiatan memang dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian para warganet atau netizen.

Walhasil, Idul Fitri telah menjadi moment seluruh lapisan masyarakat mulai dari pejabat sampai rakyat biasa. Penulis  menggunakan dengan istilah “hari sejuta rasa”, ada rasa beragam minuman, makanan, kueh dan lain-lain. Ada juga rasa bahagia, senang, haru, rindu dan ketulusan bersilaturahim serta keterbukaan untuk saling memaafkan. Hari Idul Fitri benar-benar telah mampu meruntuhkan egoisme individual dan kolektivitas. Itu sebabnya, rasa “benci” dan “dendam” di hari yang fitri ini seolah-olah hilang. Sungguh hari yang sangat dahsyat sekali dalam merubah pribadi-pribadi  umat nabi Muhammad yang agung. Bahkan bisa jadi, kanjeng nabi tersenyum melihat umatnya yang begitu “guyup rukun” dalam suasana penuh kebahagiaan. Apakah kanjeng nabi juga tetap tersenyum ketika melihat umatnya di hari-hari berikutnya, saya tidak tahu. Sebab rasa tulus saling memaafkan kadang mulai luntur saat hari Idul Fitri mulai menjauh. Manusia kembali lagi sebagai “basyarun mislukum”, dengan membuka file-file lama sebelum ramadhan; dendam, benci dan perilaku negatif lainnya.

Semoga ini tidak terjadi pada diri kita. secara pribadi, Kami sekeluarga mohon maaf kepada para pembaca. Semoga kita benar-benar punya semangat suci untuk kembali menjadi orang-orang yang tulus saling memaafkan dan hilang rasa dendam di dalam hati.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Notification- Process 1,00000 BTC. Get => htt

pr6gdl

Avatar

???? Message; Withdrawing №PF66. Go to withdrawal

z2tij6

Avatar

???? Notification: Process 0,75117127 BTC. Confirm

kvpbyb

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1023

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   614

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   762

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   887

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12935


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4069


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2425


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2365