
Pagi ini saya membuka FB, dan kebetulan
yang muncul FB milik Mas Muhammad Aziz Hakim (Mas Aziz). Ia termasuk pejabat gaul
plus facebooker. Selain Mas Aziz, ada Mas Ruchman Basori juga selalu
update setiap kegiatannya di FB.
Baik Mas Aziz dan Mas Ruchman merupakan minjumlatin
bagian dari umaro dan intelektual yang menebarkan rahmat semesta alam di
dunia maya. Keduanya bisa jadi mengikuti Gus Mus-isme, yang cukup rajin mengisi
lapak-lapak media sosial dengan konten bersifat positif, kontruktif, menyejukan
qalbu dan tentunya tidak kaku.
Ulama seperti Gus Mus yang konsisten berdakwah di medsos masih sedikit. Jika para intelektual, ulama dan orang-orang hebat peduli terhadap media sosial dan mengisinya dengan konten yang
konstruktif, saya kira generasi muda Indonesia semakin mendapatkan vitamin
peradaban, di saat media-media sosial di luar sana secara masif terus meracuni generasi muda dengan konten-konten yang merusak moralitas yang agung.
Kembali lagi ke FB Mas Aziz. Pagi ini ia nge-share
ultah Prof Dr.Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag (Prof Inung). Ultahnya tanggal 18 Mei,
berarti dua hari sebelumnya ia masih mengisi materi pada kegiatan koordinasi Warek
III/Waket Bidang Kemahasiswaan di hotel Mercure Banten. Jangan-jangan setelah
menuntaskan materinya, ia langsung pulang dan mempersiapkan ultah ke-52?. Kalau ingat waktu itu ultah-nya,
saya pastinya mengucapkan selamat dan memberi kado ala kadarnya.
Apakah Prof Inung mau menerima kado dari ku?. Apakah prof gaul satu ini yang di kemenag bagian dari kelompok ya’lu wa laa yu’la alaih masih menerima kado dari kelompok basyarun mislukum seperti ku ?. Ma’lum, ia pastinya memiliki folder berisi file-file kesibukan yang sangat banyak dan komplek tentunya, terutama persoalan-persoalan berkaitan dengan PTKIN.
Kado terbaik dariku untuknya adalah doa kesehatan. ini adalah harta yang paling berharga di dunia. Apalagi saat sekarang ini perubahan transisi cuaca alam yang kadang kurang bersahabat dan menimbulkan muncul penyakit-penyakit seperti batuk-batuk, panas-dingin, muntaber, dan sejenisnya. Bukan hanya Prof Inung, saya sendiri harus menjaga badan tetap sehat menjalankan aktivitasnya. Terbukti, ketika saya pulang dari acara tersebut, seluruh anak-anak yang masih sekolah di tingkat SD tumbang semua terkena batuk dan muntah-muntah. Jangan-jangan transisi cuaca yang begitu cepat telah menjalar ke seluruh wilayah Zamrud Katulistiwa?
Penulis menilai Prof Inung cukup
gaul, terbuka dan bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Jarang saya menemukan
model seorang prof atau pejabat yang mempunyai karakter seperti itu. Beberapa
kali pertemuan pada waktu silam, dia senantiasa serius mendengarkan lawan
bicaranya. Pejabat satu ini memang mempunyai tipikal sebagai pemimpin yang berusaha
keras memberi solusi terhadap lembaga yang dipimpinnya. Ia benar-benar menjauhi
pola seorang pemimpin formalistic yang hanya sebatas memberi sambutan dan
memotong pita kegiatan yang bersifat seremonial. Saya kira pemimpin masa depan memang harus semakin mengurangi jarak dengan orang-orang yang dipimpinnya. Prof Inung sudah membuka jalan ke arah tersebut. Ketika sudah terbangun kedekatan, saya kira semakin tercipta keterbukaan bersama dalam semangat tinggi memajukan institusi dengan penuh rasa cinta.
Semangat Prof Inung merubah wajah PTKIN menjadi glowing
lahir dan batin memang tidak bisa dilakukan dengan pendekatan “kun fayakun”
atau meminta bantuan Bandung Bondowoso sebagaimana membangun Candi Prambanan
dalam waktu satu malam. Ada beberapa persoalan cukup komplek. Penulis tentu
hanya bisa melihat dari sisi realita perguruan tinggi yang menghampar dari
seluruh tanah nusantara yang tipologi SDM berfariasi, letak geografis
yang dibatasi oleh laut, selat, gunung, lembah dan daratan cukup jauh serta
kesadaran masyarakat terhadap pendidikan masih rendah. Prof Inung pastinya memahami persoalan tersebut.
Prof Inung selain sudah memahami persoalan tersebut di atas, juga lebih ma’rifat pada persoalan-persoalan administrasi kemenag yang tidak lepas dari administrasi pemerintahan pusat secara umum. Keduanya saling keterkaitan dan sangat komplek. Ada keterbasan-keterbatasan yang terkadang membutuhkan rembug bareng di antara pengambil kebijakan. Tentunya, dengan segala kekuatan dan kewenangannya, Prof Inung telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan PTKIN menjadi suri tauladan bagi perguruan tinggi di luar PTKIN.
Apakah dengan segala
keterbatasan, PTKIN bisa berbenah diri menjadi semakin baik lagi?
Pertanyaan ini yang menurut penulis menjadi renungan yang belum terjawab dengan
tuntas dan akan terus-menerus diperbaiki oleh nya di masa sekarang dan
mendatang.
Sebagai penutup, salam buat Prof Inung dari
anak pulau yang nun jauh di daerah
terluar berdekatan dengan negara jiran Malaysia. Semoga di usia ke-52 Prof
Inung senantiasa sukses menjalankan setiap amanah dan keberkahan merembes
sampai ke PTKIN. Amin ya rabbal ‘alamin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2952
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876