Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Semakin Tua Dunia, Semakin Asyik



Minggu , 09 Februari 2025



Telah dibaca :  505

Semangat ormas Nahdlatul Ulama sebagai media dakwah terlihat pada simbol mengikat dunia dengan tali. Tidak menggunakan  ikatan “tali mati”, tidak ketat, tidak juga terlalu longgar. Filosofisnya [lagi-lagi ini ijtihad pribadi, jika salah satu pahala, benar dua pahala], bahwa memperkenalkan ajaran Islam jangan terlalu saklek atau kaku jangan juga terlalu liberal. Ma’lum di hamparan bumi yang luas ada kehidupan masyarakat yang beragam. Ada yang “mbeneh” dengan nilai-nilai keagungan, ada yang terlalu menuruti hawa nafsu.

Tidak mungkin Islam harus membabat habis nilai-nilai yang sudah mbeneh di masyarakat. Bagaimanapun nilai-nilai universal kebaikan sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam tetap bisa diterima. Tidak mungkin juga nilai-nilai yang terlalu liberal diterima, sebab nilai-nilai tersebut sering kali berdasarkan pada kesemangatan menuruti hawa nafsu, individualisme dan juga liberalisme mutlak. Jelas Islam tidak menerimanya. Format yang tepat dalam mengkampanyekan ajaran islam melalui pola rahmat semesta alam. Itu sebabnya pendiri NU menggunakan simbol bumi sebagai simbol dakwah washatiyah.

Penulis hanya membayangkan seberapa panjang tali untuk mengikat bumi yang begitu luas [ sebenarnya kata “tali” untuk yang kecil, yang besar namanya “tambang”. Cuma saya suka memakai kata “tali” daripada “tambang”. Bukan karena persoalan yang lain-lain yang lagi viral]. Makna tali merupakan metafora dari hakikat ajaran agama Islam. Filosofisnya pada Q.S. Ali Imran ([3 ]:103) sebagai berikut: "Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan bercerai berai!".

Di dunia Islam, semua aliran ormas dan aliran agama [termasuk yang tidak merasa diri sebagai aliran tetap dikatakan aliran], apapun namanya. Jika merujuk pada data aliran Islam, hampir seluruh dunia mengikuti aliran atau madzhab empat imam besar yaitu Hanafi, Maliki,Syafi’i, Hanbali. Meskipun kemasan organisasi keagamaan bisa saja berbeda-beda, tidak masalah. Baju nya beda, isi nya sama. Tapi berbeda baju penting sebagai kekayaan budaya. Sebab tanpa budaya, agama sangat sulit untuk diterapkan lebih tepat dan cepat di masyarakat.

Universitas Al-Azhar Mesir bukan NU, tapi sangat mirip dengan amaliah NU. Sama-sama sebagai tempat penjaga warisan keilmuan Islam. Begitu juga perguruan tinggi dan pusat-pusat pendidikan lainnya di Timur Tengah sangat selaras dengan ajaran NU yang menganut prinsip pada sanad keilmuan sebagai mata rantai para ulama dan pendiri NU serta ulama-ulama di pesantren. Arab Saudi sebelum ada Gerakan Wahabi juga menjadi penyambung lidah keilmuan pesantren. Semua umat Islam di dunia tetap konsisten berpegang teguh pada Q.S. Ali Imran ([3]:104) sebagai berikut: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.

Allah telah menjelaskan bahwa kata “segolongan umat” merupakan urgensi penting dakwah Islam dalam bentuk organisasi. Ketika para ulama melihat rencana pembongkaran kuburan Nabi Muhammad saw oleh Raja Arab Saudi tahun 1922, maka Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari membentuk organisasi yang diberi nama NU. Itu syarat legitimasi jam’iyah sebagai representasi dari jama’ah yang mayoritas di Indonesia. terbukti, permohonan hadratusyeikh diterima oleh  Raja Arab Saudi. Penghormatan Raja Arab Saudi tersebut sebagai bentuk keberanian dan kewibawaan pribadi Hasyim Asy’ari dan juga militansi jama’ah terhadap komando nya. Ia merupakan tipe ulama yang sangat memahami kebutuhan jama’ah dan jam’iyahnya. Ia benar-benar menghidupkan semangat ruh militansi tinggi dalam organisasi NU.

Penulis membaca kisah hadratusyeikh, tergambar keikhlasan yang agung memperjuangkan jama’ah dan jam’iyah NU. Pengorbanan waktu, tenaga, dan harta digunakan untuk menghidupkan jam’iyah dan merawat jama’ah. bahkan bukan hanya itu, ia juga memikirkan umat Islam dan bangsa Indonesia yang majemuk. Keteguhan hati akan kebenaran organisasi sebagai representasi ajaran Rasulullah saw telah mampu menggerakan para sahabat-sahabat hadratusyeikh sama-sama berjuang dan berkorban membesarkan NU. Baginya, membesarkan NU berarti membesarkan ajaran Islam sebagai wujud dari ajaran yang secara bersanad sampai pada Rasulullah SAW.

Kini zaman terus mengalami perubahan. Dunia pada saat yang sama sudah mulai menua. Tapi perilaku manusia semakin muda dan mudah berperilaku secara instan. Ada yang sabar memegang nilai-nilai dasar organisasi untuk kepentingan umat, ada yang secara instan untuk meraih derajat diri, keagungan diri, kemulyaan diri, dan beragam tujuan yang bersifat duniawi. Godaan selalu datang dan manusia terkadang mudah tergoda oleh hal-hal yang bersifat pragmatis.

Penulis mencoba membayangkan wajah hadratusyeikh. Saya mencoba memasuki lorong-lorong waktu masa lalu. Mencoba membayangkan saat ia sedang mendidik para santri beragam kitab mulai kitab fiqh, tauhid, tasawuf, hadist, sampai pada Al-Qur’an. Penulis juga mencoba membayangkan saat ia sibuk mendidik santri senior dan para ulama, tiba-tiba di rumah sudah datang para tokoh-tokoh nasional yang beragam agama, para diplomat dari beragam negara. Betapa agung nya beliau. Ulama yang dicintai seluruh muslim dan non-muslim.

Ternyata rindu terasa sangat asyik, tapi pada saat yang sama juga terkadang menyakitkan. Dua perasaan berkecamuk dan muncul saat situasi-situasi yang tidak terduga. Apakah karena pengaruh dunia semakin tua. Saya pikir dulu, semakin tua semakin dewasa [saat saya masih muda melihat orang tua]. Ternyata tua hanyalah angka. Sedangkan keasikan adalah nafsu. ia seperti anak kecil, semakin tua semakin asyik seperti anak kecil kembali. kedewasaan adalah pilihan. Siapapun bisa semakin dewasa meskipun umur masih muda, termasuk dalam membawa organisasi agama terbesar di Dunia  seperti NU.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? You have received a message(-s) # 625887. Go

0mhtls

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872