Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sempena HAB Kemenag RI : Rukun Wujud Naluri Manusia



Jumat , 03 Januari 2025



Telah dibaca :  405

Pagi hari saya mengikuti acara hari Amal Bakti Kementrian Agama di Provinsi Riau. Tahun ini dipusatkan di Loka Diklat Kementrian Agama Pekanbaru jl. Yos Sudarso Kecamatan Rumbai kota Pekanbaru. Para penggede kemenag seluruh kabupaten/kota dan kanwil hadir. Juga dari perguruan tinggi seperti STAIN Bengkalis, kepala sekolah, serta guru-guru juga mengikuti acara tersebut. Tema tahun ini yaitu "Umat Rukun Menuju Indonesia Emas".

Pada acara tersebut saya tidak terlalu konsentrasi. Saat PJ Gubernur membacakan sambutan Menteri agama ri, kaki ku “semuten”. Terasa kalau saya kurang olah raga, atau bisa jadi sudah bertambah umur. Tidak muda lagi seperti dulu. Kadang semangatnya seperti anak-anak ABG. Itu sebabnya, saya tidak bisa mencatat secara utuh isi mau’idzatul hasanah kyai Menteri. Ada yang sedikit nyantel di baris terakhir,”persahabatan spiritual”.

Kenapa “kerukunan” menjadi kata yang menarik bagi bangsa Indonesia?. Sebab mengingatkan kita bahwa kata tersebut bagian dari naluri manusia yang tidak bisa dipisahkan. Para pemikir kuno yang liberal sekalipun mengatakan bahwa manusia itu”zoon politicon” artinya manusia yang selalu ingin berkumpul. Artinya berkumpul bukan untuk bertarung, tetapi untuk saling “sesrawungan” atau silaturahim. Ilmu mantiq mengatakan “al-insan hayawanu natiq”, artinya manusia adalah binatang yang mempunyai peradaban tinggi. Letaknya pada akal nya. jadi, wujud dari peradaban tinggi yaitu “guyub rukun”. Sebab dalam Islam perilaku tersebut yang mendatangkan rahmat Allah SWT. Tapi jika tidak guyup dan suka pecah belah, maka rahmat Allah akan dicabut dari hati kelompok tersebut. Bencana pun akan melanda.

Tidak jauh berbeda dengan ilmu mantiq, Ibn Khaldun mengatakan manusia “al-insan madaniyun bitab’i”, manusia adalah makhluk yang mampu menciptakan peradaban. Bentuk peradaban seperti apa? Madaniyun. Apa arti madaniyun? Kata Ibnu Khaldun “hadarah” atau yang kita sering dengar “tamadun”. Masyarakat Melayu sering menggunakan kata tamadun untuk menunjukan kualitas peradaban tinggi yang bersumber dari ajaran-ajaran Islam.

Penulis bisa memahami bahwa “guyub rukun” dan “peradaban” merupakan dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Laksana dua sisi mata uang. Dua-dua nya bernilai saat bersama-sama dan akan menjadi kacau saat kedua nya tidak berjalan seiring dan sejalan. Ketika “guyub rukun” tidak mampu menciptakan suatu peradaban, maka itu wilayah “hayawan” secara umum. Makna “guyub rukun” pada manusia karena ada keistimewaan berupa akal pikiran, yang menurut orang Yunani ia mampu menghasilkan kebijaksanaan. Sehingga standarisasi dari peradaban bukan pada bangunan dan sejenisnya. Tapi dari akal budi nya yang mampu menciptakan nya dengan varian-varian berbeda akibat adanya perbedaan wilayah, geografis, Bahasa dan karakter manusia yang menempati suatu daerah tersebut. Itu sebabnya dalam kontek “guyub rukun”, Islam mengajarkan untuk senantiasa “lita’arofu”, yaitu saling mempelajari, memahami dan mengimplementasikan keberagaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Wujud impelementasinya yaitu: mengambil sesuatu yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik.

Bangsa barat juga mempunyai konsep guyub rukun. Sebab ia menjadi dasar bangsa mereka maju. Tapi bangsa Indonesia mempunya standarisasi nilai-nilai yang agung, itu sebab nya kata kunci nya bisa sama, tapi definsi dan aplikasinya juga berbeda-beda. Jika bangsa barat guyub rukun lahir dari pemikiran rasionalisme mutlak, bangsa Indonesia lahir dari rasionalisme terbatas, yaitu dibatasi oleh ajaran-ajaran agama yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Itu sebabnya, guyup rukun yang ada di Indonesia adalah guyub rukun lahir dari intisari ajaran agama yang bersifat universal.

Aktualisasi nilai-nilai universal tersebut dalam wujud: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Dikristalisasikan menjadikan ideologi bangsa dan negara yang disebut Pancasila. Ia menjadi payung keberagaman dan kerukunan yang agung. Ia tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak boleh dipertentangkan dengan nya. Pancasila bukan agama, dan agama bukan Pancasila. Namun kedua nya mempunyai titik temu (kalimatun sawa ) pada nilai-nilai kebaikan. Dan bangsa ini bisa bertemu pada nilai-nilai universalnya. Sedangkan dalam teknis pelaksanaannya, Islam sudah menjelaskan dengan sangat jelas “lakum dienukum waliyadien”.

Walhasil, peringatan Hari Amal Bakti Kementrian Agama RI tahun 2025 menginginkan kita hidup rukun dalam keberagaman. Tentu istilah ini sudah hidup ratusan yang lalu di bumi Nusantara. Kini kita diingatkan lagi, bahwa jika ingin menjadi negara dan bangsa yang besar, menjadi bangsa yang mendapatkan kasih sayang Sang Pencipta, salah satu yang harus dilalui yaitu menjadikan guyub rukun sebagai realita hidup bukan wacana yang hanya di atas kertas. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872