
Pagi hari saya mengikuti acara hari Amal Bakti Kementrian Agama di Provinsi Riau. Tahun ini dipusatkan di Loka Diklat Kementrian Agama Pekanbaru
jl. Yos Sudarso Kecamatan Rumbai kota Pekanbaru. Para penggede kemenag seluruh
kabupaten/kota dan kanwil hadir. Juga dari perguruan tinggi seperti STAIN Bengkalis, kepala sekolah, serta guru-guru juga mengikuti acara tersebut. Tema tahun
ini yaitu "Umat Rukun Menuju Indonesia Emas".
Pada acara tersebut saya tidak terlalu konsentrasi. Saat PJ Gubernur membacakan sambutan Menteri agama ri, kaki ku “semuten”. Terasa
kalau saya kurang olah raga, atau bisa jadi sudah bertambah umur. Tidak muda
lagi seperti dulu. Kadang semangatnya seperti anak-anak ABG. Itu sebabnya,
saya tidak bisa mencatat secara utuh isi mau’idzatul hasanah kyai Menteri. Ada yang
sedikit nyantel di baris terakhir,”persahabatan spiritual”.
Kenapa “kerukunan” menjadi kata yang menarik bagi bangsa Indonesia?.
Sebab mengingatkan kita bahwa kata tersebut bagian dari naluri manusia yang
tidak bisa dipisahkan. Para pemikir kuno yang liberal sekalipun mengatakan
bahwa manusia itu”zoon politicon” artinya manusia yang selalu ingin
berkumpul. Artinya berkumpul bukan untuk bertarung, tetapi untuk saling “sesrawungan”
atau silaturahim. Ilmu mantiq mengatakan “al-insan hayawanu natiq”,
artinya manusia adalah binatang yang mempunyai peradaban tinggi. Letaknya pada
akal nya. jadi, wujud dari peradaban tinggi yaitu “guyub rukun”. Sebab dalam
Islam perilaku tersebut yang mendatangkan rahmat Allah SWT. Tapi jika tidak
guyup dan suka pecah belah, maka rahmat Allah akan dicabut dari hati kelompok
tersebut. Bencana pun akan melanda.
Tidak jauh berbeda dengan ilmu mantiq, Ibn Khaldun mengatakan
manusia “al-insan madaniyun bitab’i”, manusia adalah makhluk yang mampu
menciptakan peradaban. Bentuk peradaban seperti apa? Madaniyun. Apa arti
madaniyun? Kata Ibnu Khaldun “hadarah” atau yang kita sering dengar “tamadun”.
Masyarakat Melayu sering menggunakan kata tamadun untuk menunjukan kualitas
peradaban tinggi yang bersumber dari ajaran-ajaran Islam.
Penulis bisa memahami bahwa “guyub rukun” dan “peradaban” merupakan
dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Laksana dua sisi mata uang. Dua-dua nya
bernilai saat bersama-sama dan akan menjadi kacau saat kedua nya tidak berjalan
seiring dan sejalan. Ketika “guyub rukun” tidak mampu menciptakan suatu
peradaban, maka itu wilayah “hayawan” secara umum. Makna “guyub rukun” pada
manusia karena ada keistimewaan berupa akal pikiran, yang menurut orang Yunani ia
mampu menghasilkan kebijaksanaan. Sehingga standarisasi dari peradaban bukan
pada bangunan dan sejenisnya. Tapi dari akal budi nya yang mampu menciptakan
nya dengan varian-varian berbeda akibat adanya perbedaan wilayah, geografis, Bahasa
dan karakter manusia yang menempati suatu daerah tersebut. Itu sebabnya dalam
kontek “guyub rukun”, Islam mengajarkan untuk senantiasa “lita’arofu”,
yaitu saling mempelajari, memahami dan mengimplementasikan keberagaman tersebut
dalam kehidupan sehari-hari. Wujud impelementasinya yaitu: mengambil sesuatu
yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik.
Bangsa barat juga mempunyai konsep guyub rukun. Sebab ia menjadi
dasar bangsa mereka maju. Tapi bangsa Indonesia mempunya standarisasi
nilai-nilai yang agung, itu sebab nya kata kunci nya bisa sama, tapi definsi
dan aplikasinya juga berbeda-beda. Jika bangsa barat guyub rukun lahir dari
pemikiran rasionalisme mutlak, bangsa Indonesia lahir dari rasionalisme
terbatas, yaitu dibatasi oleh ajaran-ajaran agama yang hidup di tengah-tengah masyarakat
Indonesia. Itu sebabnya, guyup rukun yang ada di Indonesia adalah guyub rukun
lahir dari intisari ajaran agama yang bersifat universal.
Aktualisasi nilai-nilai universal tersebut dalam wujud: ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Dikristalisasikan menjadikan
ideologi bangsa dan negara yang disebut Pancasila. Ia menjadi payung keberagaman
dan kerukunan yang agung. Ia tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak
boleh dipertentangkan dengan nya. Pancasila bukan agama, dan agama bukan Pancasila.
Namun kedua nya mempunyai titik temu (kalimatun sawa ) pada nilai-nilai
kebaikan. Dan bangsa ini bisa bertemu pada nilai-nilai universalnya. Sedangkan dalam
teknis pelaksanaannya, Islam sudah menjelaskan dengan sangat jelas “lakum
dienukum waliyadien”.
Walhasil, peringatan Hari Amal Bakti Kementrian Agama RI tahun 2025
menginginkan kita hidup rukun dalam keberagaman. Tentu istilah ini sudah hidup
ratusan yang lalu di bumi Nusantara. Kini kita diingatkan lagi, bahwa jika
ingin menjadi negara dan bangsa yang besar, menjadi bangsa yang mendapatkan
kasih sayang Sang Pencipta, salah satu yang harus dilalui yaitu menjadikan guyub
rukun sebagai realita hidup bukan wacana yang hanya di atas kertas.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872