
Pada tanggal 03 Januari 2023 merupakan hari
bersejarah bagi kementrian agama. Menurut Sambutan Menteri Agama H. Yaqut Cholil Qoumas, tanggal 03 Januari
1946 adalah hari lahir Kementrian Agama. Ini berarti Kemenag RI sudah cukup
berumur jika dibandingkan dengan usia rata-rata manusia. Jika manusia, pada
saat memasuki usia 78, adalah usia senja yang darinya sudah menetes madu-madu
kearifan, doa nya mustajab dan untaian kata-katanya senantiasa memberikan
segala sesuatu yang positif untuk generasi selanjutnya. Sedangkan usia lembaga
sangat spekulatif, naik turun yang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor dan
kepentingan-kepentingan politik.
Usia suatu lembaga tertentu (hal ini kementrian
agama) berbeda dengan usia manusia. Mengukur kedewasaan sebuah lembaga memang
tidak bisa dari seberapa ia telah berdiri. Tidak ada jaminan, bahwa lembaga
yang sudah lama berdiri mempunyai kedewasaan dalam mengambil setiap keputusan
atau kebijakan-kebijakan. Tidak bisa juga bisa disepelekan, ada lembaga yang
masih muda usianya, tapi kinerjanya jauh melampau ekspetasi penilaian
masyarakat secara umum. Sebab kedewasaan bukan pada usia lembaga. Sebab lembaga
benda mati. Ia hanya mengalami satu fase yaitu penuaan yang selalu identik dengan
rusak karena dimakan usia. Sedangkan manusia ada dua sisi yang ada pada
dirinya; penuaan dan pendewasaan. Penuaan berkaitan dengan umur, pendewasaan
berkaitan dengan komitmen positif mengisi umur tersebut.
Jika merujuk pada isi pidato menteri agama
(sering disebut “gusmen”), ada capaian-capaian yang cukup membanggakan
bagi kementrian agama antara lain; keberhasilan menerapkan penguatan moderasi
beragama, transportasi digita, revitalisasi KUA, kemandirian pesantren, cyber Islamic
university, religiousity index, dan tahun kerukunan umat beragama. Salah satu
keberhasilan yang tidak boleh dilupakan bagi para pegawai dikementrian agama
yaitu keberhasilan memperbaiki status pegawai di kementrian agama mendapat jatah
pegawai PPPK terbanyak di seluruh kementrian yang ada pada pemerintahan Jokowi-Ma’ruf
saat ini.
Penulis artikel ini merasakan keberanian gusmen
melakukan terobosan-terobosan berbagai inovasi menuju kementrian agama naik
kelas ke derajat yang lebih baik. Bisa jadi karena dia masih muda dan mempunyai
suatu komitmen jelas terhadap visi-misi yang ingin dicapainya. Itu sebabnya,
kadang dia melakukan sesuatu terlihat sangat “akseleratif” yang bisa
jadi hal seperti ini belum begitu familiar di kalangan kementrian agama yang
menggunakan logo “ikhlas-beramal”. Sehingga diplesetkan sebagai lembaga yang
hanya mengurus akherat, dan tidak tidak perlu memperbaiki persoalan dunia. Mungkin
sebagian orang berfikir seperti ini. Akibatnya, pada masa lalu kementrian ini
selalu mengalami berbagai persoalan yang kadang tidak sesuai dengan filosofis
kementerian yang sebenarnya. Semoga tidak terjadi lagi di masa mendatang.
Tentu penulis artikel ini tidak sedang
memuji atas keberhasilannya. Meskipun sebagai seorang menteri dan juga manusia
biasa, gusmen adalah orang yang mempunyai berbagai keterbatas. Dan saya
kira, kelemahan ini justru sebagai penyempurna bahwa dia adalah seorang manusia
yang juga perlu ada berbagai masukan dari orang-orang dekatnya untuk memperbaiki
kementrian agama semakin cemerlang di masa mendatang.
Kembali lagi melihat dari berbagai
keberhasilan kementrian agama sebagaimana tersebut di atas, menurut saya tantangan
ke depan kementrian ini semakin besar. Tentu bukan pada persoalan politik
praktis menghadapi pemilu 2024, tapi pada persoalan “kemampuan” kementrian ini
menjadi Rumah Besar bagi seluruh golongan umat beragama yang damai,rukun dan
menyenangkan. Sebab persoalan agama adalah persoalan keyakinan. Bagi orang yang
beragama, sering keyakinan merupakan segala-galanya dan berani mempertaruhkan
apapun untuk membela nya. Pola pikir sempit dan eksklusifitas keimanan
dengan mengabaikan keimanan kelompok agama lain mudah berpotensi tumbuh dan
berkembang di kementrian ini. Jika keberhasilan program kementrian agama di atas
tidak dirawat dengan baik, Bahkan jika tidak diteruskan pada penerus di masa
mendatang, keberagaman kadang malah menjadi bom waktu yang mengerikan. Penulis tentu
khawatir akan terjadi tafsir-tafsir sempit muncul di kementrian ini yang
membawa pada semakin muncul adanya keterkotakan di dalam nya, yang kemudian
menimbulkan sentiment dan membahayakan kesatuan dan persatuan di masa
mendatang. Semoga ini tidak terjadi.
Maka, sebagai penutup tulisan ini, selain
mengucapkan Selamat Hari Amal Bakti Kementrian Agama RI Ke-78, saya juga
mengucapkan selamat atas prestasi yang telah diraihnya. Semoga kementrian ini
selain sebagai rumah besar “keguyuban” Rumah Besar antara umat beragama,
juga melahirkan “kerukunan dan keguyuban” antar satu umat beragama dalam rangka mewujudkan kementrian sebagai
inspirasi positif akan hidupnya keberagaman dan perdamaian dalam perbedaan. Itulah
kementrian agama dalam membangun visi-misi bangsa Indonesia yang beragam warna.
Penulis : Imam Ghozali
Muhammad Syahrum
Mantap kYaii, terus mengukir goresan untaian Kalam nya..
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3572
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876