
Kamis [27/4/2023 ] saya kembali kontrol di THT.
Seharusnya jadwal nya pertengahan bulan Romadhan. Tapi dokter bilang, kontrol
setelah bulan ramadhan pun tak masalah. Ternyata benar, setelah Ramadhan
telinga terasa kurang beres. Sakit lagi, telinga sebelah kiri. Ada kotoran Telinga.
Dulu saya sering membersihkan dengan cotton buds [kapas pembersih telinga].
Enak rasanya. Tapi kata dokter itu berbahaya. Sebab bisa menyebabkan kotoran
telinga terdorong ke dalam. Lama-lama bisa menyebabkan rusak Kendang Telinga. Dulu
tidak percaya. Setelah sakit dan periksa, baru saya bisa menerima penjelasan
dokter spesialis Poli THT. Apalagi, dokter di Poli THT di Rumah Sakit Umum Daerah [RSUD]
Kepulauan Meranti sangat ramah. Begitu juga pegawai di ruangan tersebut, ramah
sekali. jadi, belum diobati sudah terasa bahagia. Sakit terasa berkurang.
Saya mengambil nomor antrian jam 7.30 wib. Masih pagi, Tapi Rumah Sakit sudah ramai pasien. Menunggu di tempat seperti ini terasa sangat lama. semua wajah sedih. Setiap mata memandang isi nya orang sakit. Saya duduk dekat seorang
bapak. Usia nya sekitar 60-an tahun. Wajah Nampak lesu sekali. Saya menanyakan tentang
penyakit yang diderita, dia menjawab bahwa telinga nya selalu berdenging. Sudah
ke berbagai dokter dan rumah sakit, tapi belum sembuh. Kelihatanya, bapak tua tersebut bingung terhadap penyakitnya sendiri.
Ketika saya bertanya nomor urut antrian di Poli THT, bapak
tersebut malah bilang tak akan periksa telinganya. Saya heran mendengarnya. Saya
bertanya, “Jadi bapak ke sini mau periksa apa? katanya telinga nya
bermasalah". Bapak tadi dengan sedikit malu dan agak pelan menjawab,”Mau
periksa ini pak, ini nya melorot”. Setelah tangan dia memberi arah ke bawah,
saya baru tahu dan ingin tertawa. Tapi saya tahan. Tidak boleh tertawa di atas
penderitaan orang lain. Lagian, penyakit turun Hernia seperti itu sudah hal
biasa. Biasanya Dukun Kampung seperti Dukun Bayi bisa "menyengkak" urat-uratnya
untuk menormalkan kembali. Mungkin juga dia terkena penyakit bacterical
prostatitis sehingga mengalami pembengkakan prostat. Namun jika terkena bakteri
harus mendapat perawatan serius agar bisa sembuh. Saya jadi sedih melihat bapak ini, atas dan bawah sakit. Disaat sudah usia menuju senja bisa menikmati dengan penuh kebahagiaan, dia malah menghabiskan waktu dengan penuh penderitaan.
Saya juga bertemu seorang polisi di ruang antrian pengambilan nomor urut pasien. Dia
terlihat gagah dan sangat sopan kepadaku. Dibalik kegagahannya, dia sedang
memikirkan penyakit yang sedang diderita; penyakit ginjal. Sudah berkali-kali cek ke dokter. Saya kira hari itu mau cek lagi, jadi saya langsung bertanya
kepada nya, “cek kesehatan pak polisi?”. Dia menjawab, “Tidak ustadz, mau periksa
anak saya. Ada benjolan. Khawatir getah bening. Mumpung masih kecil, saya
cepat-cepat periksa ke dokter”. Penyakit getah bening termasuk berbahaya.
Limfoma adalah kanker getah bening disebabkan oleh sel darah putih yang
berubah menjadi ganas. Sel darah putih tersebut memperbanyak diri dengan tidak
terkendali pada kelenjar getah bening.
Saya melihat wajah para pasien sayu dan malas tersenyum. Tidak beberapa lama, serombongan orang datang menebar senyum kepada setiap orang yang mengenalnya, bahkan juga kadang diselingi tawa. Mereka cek kesehatan. setelah saya bertanya kepada seseorang yang duduk di dekat, katanya, "Mereka bacalon anggota dewan". Saya pun memaklumi, mereka memang harus banyak senyum kepada setiap orang yang ada didekatnya. mana tahu, bisa menjadi bagian dari rezeki suara saat pencoblosan nanti.
Berbeda para pasien yang sedang antri karena derita penyakitnya tetap bersikap acuh tak acuh. apalagi sekitar saya, semua sakit. saya pun tidak tersenyum. Bagaimana bisa senyum, wong lagi sedih kok tersenyum. Nanti dikira sedang mengejek orang yang sedang sakit, dan dikira tidak bisa berempati terhadap penderitaan orang lain.
Salahkah tersenyum di Rumah Sakit? Harus kah Rumah
Sakit dipresepsikan sebagai tempat yang sedih dan penuh dengan penderitaan?
Bukankah penderitaan bukan hanya di Rumah Sakit? Bukan kah di jalan juga ada penderitaan yang
dialami oleh para anak Punk, anak-anak pembawa kaleng susu yang berhenti di
lampu bang jo, ibu-ibu menggendong anak kecil yang jualan Koran dan Minuman
atau juga kecelakaan beruntun dan banyak yang meninggal dunia? Bukankah itu
kesedihan? Bahkan jika di jelentreh kan lagi, akan semakin banyak orang
yang sedang sedih di Kapal Laut, Mobil, Pesawat Terbang dan lain-lain. Jika
demikian, tidak ada salah nya membudayakan senyum di Rumah Sakit bukan?
Haruskah hanya Rumah Sakit menjadi sasaran manusia di planet bumi ini untuk
mengekspresikan tempat yang paling menyedihkan. Padahal orang-orang yang
berziarah kubur saja masih bisa tersenyum, bahkan tertawa terkekeh-kekeh?. Jadi
jelas tidak adil jika adat kebiasaan kita terlalu irit tersenyum di rumah
sakit. Bahkan kalau bisa rumah sakit harus dirubah mindset nya, bukan merubah
nama menjadi Rumah Sehat, tapi merubah pola berfikir menjadi “berfikir sehat”.
Sebab seseorang bahagia bukan karena tempat, tapi karena berfikir tepat.
Banyak orang sakit bisa bahagia sebagaimana banyak orang yang rumah nya
biasa-biasa saja, tapi bisa senyum sumringah. Banyak orang sehat berfikir
sakit, sebagaimana banyak orang mempunyai rumah bak Istana, tapi hidup nya
merana. Kerangka bangun kedua nya terletak pada cara mengartikan kebahagiaan.
Ada orang yang meletakan ukuran kebahagiaan pada sebuah benda, seperti orang
yang menginginkan mobil. Saat mendapatkannya, maka kebahagiaan tersebut akan
memudar seiring memudarnya kualitas mobilnya. Ada orang yang meletakan
kebahagiaan pada sikap leqowo batin atas segala keputusan Sang Pencipta kepada
dirinya. Sehingga apa yang dilakukan oleh nya sebatas dari ketundukan segala
perintah-perintah-Nya sebagai perwujudan bagian dari pengabdian yang tulus
kepada-Nya.
Seorang pasien yang tulus mengabdi kepada Allah bisa memahami
dan kemudian mewujudkan dalam sikap dan perilaku. Dia tetap semangat untuk bisa
sembuh dari sakitnya. Sebab segala usaha yang dilakukan bagian dari
perintah-perintah-Nya. Tidak ada beda nya antara sembuh dan tidak
sembuh dalam melaksanakan perintahnya. Kedua nya berujung kepada dua wujud dari
anjuran tuhan dalam wujud syukur dan sabar. Ketika seorang pasien berproses
menuju kesembuhan dan mendapatkanya, maka dia mengucapkan syukur kepada Allah. Namun
ketika, belum mendapatkanya dia pun bersikap sabar menerima keputusan-nya.
seorang pasien yang memahami ini mampu melalui hari-harinya senantiasa
tersenyum atas dalam melaksanakan perintah-perintah Nya dan menelusuri
rahasia-rahasia yang diberikan Tuhan dalam setiap kejadian.
Bagi seorang dokter tersenyum ketika
melaksanakan tugas karena dia memahami bahwa suasana yang menyenangkan dalam
proses pengobatan sangat penting bagi pasien. Apakah senyum dan keramahan
membantu mengurangi rasa sakit seseorang pasien? Bisa jadi iya. Rasa sakit
karena kondisi jasmani sedang sakit. Tapi perasaan sakit adalah kondisi
psikologi. Ada orang yang sebenarnya jenis penyakitnya biasa saja, menjadi
parah disebabkan kondisi psikologi yang berfikir negatif. Orang yang sedang
sakit kadang terlalu keras berfikir akan penyakitnya, berfikir keluarganya,
anak nya dan biaya-biaya nya. Semua yang belum pernah dipikirkan ketika jatuh
sakit, semua masuk dalam pikiran.
Seorang pasien mengalami gangguan
fisik. Pada hari-hari biasa sebelum sakit bisa tidur, duduk, makan dan begadang
dengan leluasa. Saat mengantuk dia bisa tidur dimanapun berada. Namun saat
penyakit datang, kadang ingin duduk harus mencari posisi yang sesuai, ingin
berdiri membutuhkan orang untuk memegangnya, ingin makanan enak harus hari-hati
dan tidak boleh sembarangan menyantapnya, ingin tidur sebagaimana hari-hari
sebelumnya namun kepala dan bagian tubuh lain terus-menerus berdenyut sangat
kuat dan terasa sangat sakit.
Kondisi seperti ini membuat pikiran menjadi
letih, daya tahan tubuh menurun, nafas tidak berjalan normal dan berpengaruh
pada peredaran darah serta danyut jantung dan organ-organ lain mengalami
gangguan secara bersamaan. Jika ini secara terus menerus terjadi, maka dalam
waktu yang cukup lama akan menurunkan kekuatan organ-organ tubuh menerima beban kerja yang abnormal. hal ini bisa berdampak dari sakit yang sebelumnya biasa saja meningkat
menjadi lebih parah.
Nabi Muhammad telah mengajarkan bahwa,
“senyum adalah sedekah”. Sering kita tidak menyadari kalimat yang terlihat
sederhana ini. Padahal, senyum adalah bagian dari sistem bangun pembentuk
peradaban manusia yang sangat tinggi. Hal ini berangkat dari status manusia
sebagai makhluk sosial. Dia selalu membutuhkan untuk berinteraksi dan
bekerjasama untuk mewujudkan hal-hal yang diinginkan. Semua bisa terwujud
apabila dalam komunikasi bisa hadir suasana-suasana yang nyaman pada sikap,
perilaku dan bahasa-bahasa tubuh di antara mereka.
Dari sini bisa dipahami sebenarnya oleh
dokter dan pasien bahwa kebiasaan atau membudayakan senyum dalam lingkungan
seperti rumah sakit sangat penting untuk mewujudkan manusia yang berkualitas
baik wujud dari kualitas spiritual maupun kualitas dalam kehidupan sosial. Ketika
keduanya bisa diwujudkan di lingkungan rumah sakit, maka suasana rumah sakit
menjadi sangat menyenangkan. Tempat ini bukan sebatas pertemuan dokter dan
pasien semata, tapi lebih jauh dari itu adalah pertemuan antara sesama saudara untuk
saling bersinergi mewujudkan kualitas spiritual semakin ikhlas mengabdi kepada
Allah dan kualitas sosial yaitu semakin ikhlas membantu saudara-saudara nya
yang sedang sakit juga karena mencari ridha-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3587
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895