Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Senyum Dokter, Obat Pasien



Jumat , 28 April 2023



Telah dibaca :  345

Kamis [27/4/2023 ] saya kembali kontrol di THT. Seharusnya jadwal nya pertengahan bulan Romadhan. Tapi dokter bilang, kontrol setelah bulan ramadhan pun tak masalah. Ternyata benar, setelah Ramadhan telinga terasa kurang beres. Sakit lagi, telinga sebelah kiri. Ada kotoran Telinga. Dulu saya sering membersihkan dengan cotton buds [kapas pembersih telinga]. Enak rasanya. Tapi kata dokter itu berbahaya. Sebab bisa menyebabkan kotoran telinga terdorong ke dalam. Lama-lama bisa menyebabkan rusak Kendang Telinga. Dulu tidak percaya. Setelah sakit dan periksa, baru saya bisa menerima penjelasan dokter spesialis Poli THT. Apalagi, dokter di Poli THT di Rumah Sakit Umum Daerah [RSUD] Kepulauan Meranti sangat ramah. Begitu juga pegawai di ruangan tersebut, ramah sekali. jadi, belum diobati sudah terasa bahagia. Sakit terasa berkurang.

Saya mengambil nomor antrian jam 7.30 wib. Masih pagi, Tapi Rumah Sakit sudah ramai pasien. Menunggu di tempat seperti ini terasa sangat lama. semua wajah sedih. Setiap mata memandang isi nya orang sakit. Saya duduk dekat seorang bapak. Usia nya sekitar 60-an tahun. Wajah Nampak lesu sekali. Saya menanyakan tentang penyakit yang diderita, dia menjawab bahwa telinga nya selalu berdenging. Sudah ke berbagai dokter dan rumah sakit, tapi belum sembuh. Kelihatanya, bapak tua tersebut bingung terhadap penyakitnya sendiri.

Ketika saya bertanya nomor urut antrian di Poli THT, bapak tersebut malah bilang tak akan periksa telinganya. Saya heran mendengarnya. Saya bertanya, “Jadi bapak ke sini mau periksa apa? katanya telinga nya bermasalah". Bapak tadi dengan sedikit malu dan agak pelan menjawab,”Mau periksa ini pak, ini nya melorot”. Setelah tangan dia memberi arah ke bawah, saya baru tahu dan ingin tertawa. Tapi saya tahan. Tidak boleh tertawa di atas penderitaan orang lain. Lagian, penyakit turun Hernia seperti itu sudah hal biasa. Biasanya Dukun Kampung seperti Dukun Bayi bisa "menyengkak" urat-uratnya untuk menormalkan kembali. Mungkin juga dia terkena penyakit bacterical prostatitis sehingga mengalami pembengkakan prostat. Namun jika terkena bakteri harus mendapat perawatan serius agar bisa sembuh. Saya jadi sedih melihat bapak ini, atas dan bawah sakit. Disaat sudah usia menuju senja bisa menikmati dengan penuh kebahagiaan, dia malah menghabiskan waktu dengan penuh penderitaan.

Saya juga bertemu  seorang polisi di ruang antrian pengambilan nomor urut pasien. Dia terlihat gagah dan sangat sopan kepadaku. Dibalik kegagahannya, dia sedang memikirkan penyakit yang sedang diderita; penyakit ginjal. Sudah berkali-kali cek ke dokter. Saya kira hari itu mau cek lagi, jadi saya langsung bertanya kepada nya, “cek kesehatan pak polisi?”. Dia menjawab, “Tidak ustadz, mau periksa anak saya. Ada benjolan. Khawatir getah bening. Mumpung masih kecil, saya cepat-cepat periksa ke dokter”. Penyakit getah bening termasuk berbahaya. Limfoma adalah kanker getah bening disebabkan oleh sel darah putih yang berubah menjadi ganas. Sel darah putih tersebut memperbanyak diri dengan tidak terkendali pada kelenjar getah bening.

Saya melihat wajah para pasien sayu dan malas tersenyum. Tidak beberapa lama,  serombongan orang  datang  menebar senyum kepada setiap orang yang mengenalnya, bahkan juga kadang diselingi tawa. Mereka cek kesehatan. setelah saya bertanya kepada seseorang yang duduk di dekat, katanya, "Mereka bacalon anggota dewan". Saya pun memaklumi, mereka memang harus banyak senyum kepada setiap orang yang ada didekatnya. mana tahu, bisa menjadi bagian dari rezeki suara saat pencoblosan nanti.

Berbeda para pasien yang sedang antri karena derita penyakitnya tetap bersikap acuh tak acuh. apalagi sekitar saya, semua sakit. saya pun tidak tersenyum.  Bagaimana bisa senyum, wong lagi sedih kok tersenyum. Nanti dikira sedang mengejek orang yang sedang sakit, dan dikira tidak bisa berempati terhadap penderitaan orang lain.

Salahkah tersenyum di Rumah Sakit? Harus kah Rumah Sakit dipresepsikan sebagai tempat yang sedih dan penuh dengan penderitaan? Bukankah penderitaan bukan hanya di Rumah Sakit? Bukan  kah di jalan juga ada penderitaan yang dialami oleh para anak Punk, anak-anak pembawa kaleng susu yang berhenti di lampu bang jo, ibu-ibu menggendong anak kecil yang jualan Koran dan Minuman atau juga kecelakaan beruntun dan banyak yang meninggal dunia? Bukankah itu kesedihan? Bahkan jika di jelentreh kan lagi, akan semakin banyak orang yang sedang sedih di Kapal Laut, Mobil, Pesawat Terbang dan lain-lain. Jika demikian, tidak ada salah nya membudayakan senyum di Rumah Sakit bukan? Haruskah hanya Rumah Sakit menjadi sasaran manusia di planet bumi ini untuk mengekspresikan tempat yang paling menyedihkan. Padahal orang-orang yang berziarah kubur saja masih bisa tersenyum, bahkan tertawa terkekeh-kekeh?. Jadi jelas tidak adil jika adat kebiasaan kita terlalu irit tersenyum di rumah sakit. Bahkan kalau bisa rumah sakit harus dirubah mindset nya, bukan merubah nama menjadi Rumah Sehat, tapi merubah pola berfikir menjadi “berfikir sehat”. Sebab seseorang bahagia bukan karena tempat, tapi karena berfikir tepat.

Banyak orang sakit bisa bahagia sebagaimana banyak orang yang rumah nya biasa-biasa saja, tapi bisa senyum sumringah. Banyak orang sehat berfikir sakit, sebagaimana banyak orang mempunyai rumah bak Istana, tapi hidup nya merana. Kerangka bangun kedua nya terletak pada cara mengartikan kebahagiaan. Ada orang yang meletakan ukuran kebahagiaan pada sebuah benda, seperti orang yang menginginkan mobil. Saat mendapatkannya, maka kebahagiaan tersebut akan memudar seiring memudarnya kualitas mobilnya. Ada orang yang meletakan kebahagiaan pada sikap leqowo batin atas segala keputusan Sang Pencipta kepada dirinya. Sehingga apa yang dilakukan oleh nya sebatas dari ketundukan segala perintah-perintah-Nya sebagai perwujudan bagian dari pengabdian yang tulus kepada-Nya.

Seorang pasien yang tulus mengabdi kepada Allah bisa memahami dan kemudian mewujudkan dalam sikap dan perilaku. Dia tetap semangat untuk bisa sembuh dari sakitnya. Sebab segala usaha yang dilakukan bagian dari perintah-perintah-Nya. Tidak ada beda nya antara sembuh dan tidak sembuh dalam melaksanakan perintahnya. Kedua nya berujung kepada dua wujud dari anjuran tuhan dalam wujud syukur dan sabar. Ketika seorang pasien berproses menuju kesembuhan dan mendapatkanya, maka dia mengucapkan syukur kepada Allah. Namun ketika, belum mendapatkanya dia pun bersikap sabar menerima keputusan-nya. seorang pasien yang memahami ini mampu melalui hari-harinya senantiasa tersenyum atas dalam melaksanakan perintah-perintah Nya dan menelusuri rahasia-rahasia yang diberikan Tuhan dalam setiap kejadian.

Bagi seorang dokter tersenyum ketika melaksanakan tugas karena dia memahami bahwa suasana yang menyenangkan dalam proses pengobatan sangat penting bagi pasien. Apakah senyum dan keramahan membantu mengurangi rasa sakit seseorang pasien? Bisa jadi iya. Rasa sakit karena kondisi jasmani sedang sakit. Tapi perasaan sakit adalah kondisi psikologi. Ada orang yang sebenarnya jenis penyakitnya biasa saja, menjadi parah disebabkan kondisi psikologi yang berfikir negatif. Orang yang sedang sakit kadang terlalu keras berfikir akan penyakitnya, berfikir keluarganya, anak nya dan biaya-biaya nya. Semua yang belum pernah dipikirkan ketika jatuh sakit, semua masuk dalam pikiran.

Seorang pasien mengalami gangguan fisik. Pada hari-hari biasa sebelum sakit bisa tidur, duduk, makan dan begadang dengan leluasa. Saat mengantuk dia bisa tidur dimanapun berada. Namun saat penyakit datang, kadang ingin duduk harus mencari posisi yang sesuai, ingin berdiri membutuhkan orang untuk memegangnya, ingin makanan enak harus hari-hati dan tidak boleh sembarangan menyantapnya, ingin tidur sebagaimana hari-hari sebelumnya namun kepala dan bagian tubuh lain terus-menerus berdenyut sangat kuat dan terasa sangat sakit.

Kondisi seperti ini membuat pikiran menjadi letih, daya tahan tubuh menurun, nafas tidak berjalan normal dan berpengaruh pada peredaran darah serta danyut jantung dan organ-organ lain mengalami gangguan secara bersamaan. Jika ini secara terus menerus terjadi, maka dalam waktu yang cukup lama akan menurunkan kekuatan organ-organ tubuh menerima beban kerja yang abnormal. hal ini bisa berdampak dari sakit yang sebelumnya biasa saja meningkat menjadi lebih parah.

Nabi Muhammad telah mengajarkan bahwa, “senyum adalah sedekah”. Sering kita tidak menyadari kalimat yang terlihat sederhana ini. Padahal, senyum adalah bagian dari sistem bangun pembentuk peradaban manusia yang sangat tinggi. Hal ini berangkat dari status manusia sebagai makhluk sosial. Dia selalu membutuhkan untuk berinteraksi dan bekerjasama untuk mewujudkan hal-hal yang diinginkan. Semua bisa terwujud apabila dalam komunikasi bisa hadir suasana-suasana yang nyaman pada sikap, perilaku dan bahasa-bahasa tubuh di antara mereka.

Dari sini bisa dipahami sebenarnya oleh dokter dan pasien bahwa kebiasaan atau membudayakan senyum dalam lingkungan seperti rumah sakit sangat penting untuk mewujudkan manusia yang berkualitas baik wujud dari kualitas spiritual maupun kualitas dalam kehidupan sosial. Ketika keduanya bisa diwujudkan di lingkungan rumah sakit, maka suasana rumah sakit menjadi sangat menyenangkan. Tempat ini bukan sebatas pertemuan dokter dan pasien semata, tapi lebih jauh dari itu adalah pertemuan antara sesama saudara untuk saling bersinergi mewujudkan kualitas spiritual semakin ikhlas mengabdi kepada Allah dan kualitas sosial yaitu semakin ikhlas membantu saudara-saudara nya yang sedang sakit juga karena mencari ridha-Nya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895