Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Senyuman Menggoda Seorang Professor



Jumat , 04 Juli 2025



Telah dibaca :  543

Hari ini AL prodi MPI Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Islam IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Ada dua asesor. Hebatnya keduanya professor. Prof. Rahmat dari UIN Saizu Purwokerto. Informasi nya berasal dari Cilacap. Saya tidak tahu, Cilacap bagian mana. Entah Kroya, Kawunganten, Nusawungu atau kota cilacapnya. Jika benar, berarti saya dan Prof. Rahmat masih tetangga.

Dulu saat masih remaja -tahun 1988 an -sudah biasa jalan-jalan ke kota Kroya. Nonton Bioskop sekaligus beli buku-buku bekas di Pasar Kroya. Cilacap terkenal ceweknya cantik-cantik dan pemuda nya rajin-rajin wiraswasta. dulu sekitar tahun 1990 an saya sudah jualan keset dan sikat lantai. Mengambilnya juga dari wilayah Nusawungu Kabupaten Cilacap.

Asesor kedua Prof. Candra. Pertama ketemu dengan ku, ia langsung tersenyum. Itu senyum tidak dibuat-buat. Kelihatannya sudah “gawan bayi”. Sejak dari “penjuron” kelihatannya Prof berbadan subur ini memang murah senyum. Kelihatannya persoalan “suka senyum”, saya dan Prof. Candra ada kemiripan: sama-sama murah senyum.

Kenapa saya suka tersenyum?. Karena pesan ayah ku dan mbok de ku agar senantiasa tersenyum kepada siapapun -meskipun orang tersebut kurang berkenan dalam hati mu. Menurut orang tua ku, tersenyum itu ibadah. Saya suka ibadah senyum. Sebab ibadah ngasih duit sama orang lain belum bisa. Cukup senyum sudah dicatat bagian dari ibadah.

Pagi ini sebenarnya saya ingin “ngaji” dengan dua asesor tersebut. Namun Prof. Rahmat masih belum sehat. Kami berdoa, semoga Prof. Rahmat senantiasa diberi kesehatan dan bisa beraktivitas sebagaimana biasa.

Pagi ini saya mencatat dua ilmu yang diberikan oleh Prof. Candra. Pertama, bahwa sesuatu yang kotor jangan cepat-cepat di buang. Sebab barang yang bersih dulunya itu kotor. Justru sesuatu yang kotor sering menyadarkan orang yang “kecipratan “ untuk segera membersihkan sebersih mungkin.

Dalam kajian fiqh ada kotor yang tidak menyebabkan terhalangnya ibadah -karena kotoran tersebut tidak najis -ada juga kotor yang ditimbulkan oleh najis sehingga menjadi penghalang keabsahan ibadah. Kedua kotor tersebut -baik najis maupun tidak najis -tidak membuat penampilan kita kurang baik, maka dibersihkan sebersih mungkin agar menjadi sangat baik dan menjadi manusia yang unggul.

Saya melihat Sumber Daya Manusia (SDM) negara-negara yang kini disebut sebagai negara maju lahir dari kondisi tubuh yang penuh dengan “bolot” dan berkeringat penuh dengan penderitaan berkepanjangan. Mereka di tempa dengan segala kekurangan. Tapi mereka tetap pantang menyerah dan terus memperbaiki segala kekurangan yang ada. hasil perjuangan tersebut kini telah membuahkan hasil. Mereka kini menjadi manusia unggul “ya’ulu yu’la ‘alahi”.

Koran Kompas -entah tahun berapa saya lupa -pernah memberitakan sistem pendidikan kampus di India. Berita nya sangat mendetail. Saya seperti membaca sebuah cerpen. Sang penulis berita tersebut menjelaskan tentang keterbatasan fasilitas kampus. Mulai dari sang dosen mengajar dengan memakai sepeda onta -sepeda ontel, gedungnya masih alami belum tersentuh cat hingga para dosen harus membersihkan meja dan kursi ketika akan duduk karena terlalu banyak debu-debu yang masuk ke ruangan tersebut.

Kondisi keterbatasan fasilitas kampus dan kesederhanaan dosen -model oemar bakri -ternyata menghasilkan lulusan yang siap pakai di pasar benua eropa. Terlihat ironis. Tapi itu fakta. India dengan segala keterbatasan fasilitas mampu melahirkan pendidikan yang mampu mengangkat martabat bangsa.

Kisah India sama dengan kisah Iran. Sejak tahun 1980 -2019 negara tersebut hancur akibat perang dan embargo ekonomi oleh AS. Namun militansi kajian ilmiah menjadi bagian gerakan spiritual pendidikan bangsa Iran yang mewabah ke seluruh lapisan masyarakat. Tidak kecil tidak besar. Semua kutu buku dan selalu melakukan inovasi-inovasi penelitian. Hasil nya sungguh luarbiasa. Ia satu-satunya negara Islam yang telah mencapai puncak penelitian dan teknologi setaraf dengan negara-negara di Benua Eropa.

Kedua, hidup dengan menerapkan konsep “anfa’ahum linnas” memberi kemanfaatan bagi sesama manusia. Menurut Prof. Rahmat manusia sering terjebak keakuan diri dan mengabaikan aspek sosial yang tidak bisa dilepaskan dari hakikat manusia. Seorang kepala negara yang hebat karena ia bersama dengan para tim yang hebat-hebat. Ia bisa sukses karena ada kebersamaan sebagai tim yang kuat. Berkah kerjasama tim yang solit, kesuksesan bisa diraih dengan sempurna.

Siapa yang mendapat nama? Jelas pimpinan. Bahkan kadang malah nama daerah atau nama bangsa ikut harum. Hanya seorang seorang Megawati -Pemain Voli -Indonesia menjadi harum di Negara Korea dan diperhitungkan di dunia per voli an.

Makna memberi manfaat sebenarnya tidak lepas dari job descripstion. Ada kapten, mualim, juru mudi dan kelasi. Seorang kapten bertugas agar perjalanan kapal selamat sampai tujuan. Lalu dibuat job description kepada para mualim untuk menangani bagian-bagian tertentu agar tujuan tercapai. Juru mudik harus memahami tugas yang diberikan kepadanya. Dan kelasi melaksanakan tugas yang mendukung tercapainya perjalanan kapal tersebut sesuai dengan bidangnya.

Antara kapten dan kelasi jelas berbeda tugas dan tanggungjawabnya. Berbeda juga penghasilannya. Tapi keduanya mempunyai satu visi misi yang jelas yaitu sama-sama mewujudkan kondisi kapal yang nyaman, tenang, bersih dan menyenangkan.

Sehebat apapun seorang kapten, jika dia bermain solo dan tidak memperdulikan mualim, juru mudi dan kelasi, maka perjalanan pelayaran -yang seharusnya indah dan menyenangkan – bisa menjadi gagal jika tidak dikatakan tidak berhasil.

Hal yang sama jika semua baik dan kapten kurang baik, maka kendala pun akan mudah terjadi. Namun jika kedua nya sama-sama saling menyadarinya, maka kelemahan bisa ditutupi dengan kelebihan bagian yang lain.

Mungkin mencari kesempurnaan terkadang sangat lah sulit. Selalu saja ada kekurangan dan hambatan. Saya kira hal tersebut tidak masalah jika sama-sama saling prihatin dan saling bahu-membahu untuk sama-sama berat di junjung ringan dijinjing.

Yang tidak kita harapkan sebenarnya jangan sampai ada yang iseng melubangi dasar kapal. Itu sangat berbahaya. Mungkin itu sebatas iseng, tapi bisa menjadi masalah besar. Kapal secara pelan-pelan akan tenggelam dan penumpang akan mati.

Walhasil, pelajaran yang bisa diambil dari pertemuan pertama dengan prof. candra,bahwa manusia ditakdirkan penuh dengan kekurangan. Tuhan menghadirkan kekurangan bukan untuk diratapi. Keinginan tuhan -menurutku -sebenarnya agar kita berfikir lebih trengginas, kreatif dan solutif untuk meraih cita-cita yang diinginkan bersama.

Semoga Allah senantiasa memberi jalan keluar dari segala kesulitan dan mengabulkan cita-cita kita bersama yaitu kesuksesan di masa-masa yang akan datang. Semoga. Amin. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875