
Hari ini AL prodi MPI Fakultas Tarbiyah dan
Pendidikan Islam IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Ada dua asesor. Hebatnya keduanya
professor. Prof. Rahmat dari UIN Saizu Purwokerto. Informasi nya berasal dari Cilacap.
Saya tidak tahu, Cilacap bagian mana. Entah Kroya, Kawunganten, Nusawungu atau
kota cilacapnya. Jika benar, berarti saya dan Prof. Rahmat masih tetangga.
Dulu saat masih remaja -tahun 1988 an
-sudah biasa jalan-jalan ke kota Kroya. Nonton Bioskop sekaligus beli buku-buku
bekas di Pasar Kroya. Cilacap terkenal ceweknya cantik-cantik dan pemuda nya
rajin-rajin wiraswasta. dulu sekitar tahun 1990 an saya sudah jualan keset dan sikat
lantai. Mengambilnya juga dari wilayah Nusawungu Kabupaten Cilacap.
Asesor kedua Prof. Candra. Pertama ketemu
dengan ku, ia langsung tersenyum. Itu senyum tidak dibuat-buat. Kelihatannya sudah
“gawan bayi”. Sejak dari “penjuron” kelihatannya Prof berbadan
subur ini memang murah senyum. Kelihatannya persoalan “suka senyum”,
saya dan Prof. Candra ada kemiripan: sama-sama murah senyum.
Kenapa saya suka tersenyum?. Karena pesan ayah
ku dan mbok de ku agar senantiasa tersenyum kepada siapapun -meskipun orang
tersebut kurang berkenan dalam hati mu. Menurut orang tua ku, tersenyum itu
ibadah. Saya suka ibadah senyum. Sebab ibadah ngasih duit sama orang
lain belum bisa. Cukup senyum sudah dicatat bagian dari ibadah.
Pagi ini sebenarnya saya ingin “ngaji”
dengan dua asesor tersebut. Namun Prof. Rahmat masih belum sehat. Kami berdoa,
semoga Prof. Rahmat senantiasa diberi kesehatan dan bisa beraktivitas sebagaimana
biasa.
Pagi ini saya mencatat dua ilmu yang
diberikan oleh Prof. Candra. Pertama, bahwa sesuatu yang kotor jangan
cepat-cepat di buang. Sebab barang yang bersih dulunya itu kotor. Justru sesuatu
yang kotor sering menyadarkan orang yang “kecipratan “ untuk segera
membersihkan sebersih mungkin.
Dalam kajian fiqh ada kotor yang tidak menyebabkan
terhalangnya ibadah -karena kotoran tersebut tidak najis -ada juga kotor yang
ditimbulkan oleh najis sehingga menjadi penghalang keabsahan ibadah. Kedua
kotor tersebut -baik najis maupun tidak najis -tidak membuat penampilan kita
kurang baik, maka dibersihkan sebersih mungkin agar menjadi sangat baik dan
menjadi manusia yang unggul.
Saya melihat Sumber Daya Manusia (SDM) negara-negara
yang kini disebut sebagai negara maju lahir dari kondisi tubuh yang penuh
dengan “bolot” dan berkeringat penuh dengan penderitaan berkepanjangan. Mereka di
tempa dengan segala kekurangan. Tapi mereka tetap pantang menyerah dan terus
memperbaiki segala kekurangan yang ada. hasil perjuangan tersebut kini telah
membuahkan hasil. Mereka kini menjadi manusia unggul “ya’ulu yu’la ‘alahi”.
Koran Kompas -entah tahun berapa saya lupa
-pernah memberitakan sistem pendidikan kampus di India. Berita nya sangat
mendetail. Saya seperti membaca sebuah cerpen. Sang penulis berita tersebut
menjelaskan tentang keterbatasan fasilitas kampus. Mulai dari sang dosen
mengajar dengan memakai sepeda onta -sepeda ontel, gedungnya masih alami belum
tersentuh cat hingga para dosen harus membersihkan meja dan kursi ketika akan
duduk karena terlalu banyak debu-debu yang masuk ke ruangan tersebut.
Kondisi keterbatasan fasilitas kampus dan
kesederhanaan dosen -model oemar bakri -ternyata menghasilkan lulusan yang siap
pakai di pasar benua eropa. Terlihat ironis. Tapi itu fakta. India dengan
segala keterbatasan fasilitas mampu melahirkan pendidikan yang mampu mengangkat
martabat bangsa.
Kisah India sama dengan kisah Iran. Sejak tahun
1980 -2019 negara tersebut hancur akibat perang dan embargo ekonomi oleh AS. Namun
militansi kajian ilmiah menjadi bagian gerakan spiritual pendidikan bangsa Iran
yang mewabah ke seluruh lapisan masyarakat. Tidak kecil tidak besar. Semua kutu
buku dan selalu melakukan inovasi-inovasi penelitian. Hasil nya sungguh
luarbiasa. Ia satu-satunya negara Islam yang telah mencapai puncak penelitian
dan teknologi setaraf dengan negara-negara di Benua Eropa.
Kedua, hidup dengan menerapkan konsep “anfa’ahum
linnas” memberi kemanfaatan bagi sesama manusia. Menurut Prof. Rahmat manusia
sering terjebak keakuan diri dan mengabaikan aspek sosial yang tidak bisa
dilepaskan dari hakikat manusia. Seorang kepala negara yang hebat karena ia
bersama dengan para tim yang hebat-hebat. Ia bisa sukses karena ada kebersamaan
sebagai tim yang kuat. Berkah kerjasama tim yang solit, kesuksesan bisa diraih
dengan sempurna.
Siapa yang mendapat nama? Jelas pimpinan. Bahkan
kadang malah nama daerah atau nama bangsa ikut harum. Hanya seorang seorang Megawati
-Pemain Voli -Indonesia menjadi harum di Negara Korea dan diperhitungkan di
dunia per voli an.
Makna memberi manfaat sebenarnya tidak
lepas dari job descripstion. Ada kapten, mualim, juru mudi dan kelasi. Seorang
kapten bertugas agar perjalanan kapal selamat sampai tujuan. Lalu dibuat job
description kepada para mualim untuk menangani bagian-bagian tertentu agar
tujuan tercapai. Juru mudik harus memahami tugas yang diberikan kepadanya. Dan kelasi
melaksanakan tugas yang mendukung tercapainya perjalanan kapal tersebut sesuai
dengan bidangnya.
Antara kapten dan kelasi jelas berbeda
tugas dan tanggungjawabnya. Berbeda juga penghasilannya. Tapi keduanya
mempunyai satu visi misi yang jelas yaitu sama-sama mewujudkan kondisi kapal
yang nyaman, tenang, bersih dan menyenangkan.
Sehebat apapun seorang kapten, jika dia
bermain solo dan tidak memperdulikan mualim, juru mudi dan kelasi, maka
perjalanan pelayaran -yang seharusnya indah dan menyenangkan – bisa menjadi
gagal jika tidak dikatakan tidak berhasil.
Hal yang sama jika semua baik dan kapten kurang
baik, maka kendala pun akan mudah terjadi. Namun jika kedua nya sama-sama saling
menyadarinya, maka kelemahan bisa ditutupi dengan kelebihan bagian yang lain.
Mungkin mencari kesempurnaan terkadang
sangat lah sulit. Selalu saja ada kekurangan dan hambatan. Saya kira hal
tersebut tidak masalah jika sama-sama saling prihatin dan saling bahu-membahu untuk
sama-sama berat di junjung ringan dijinjing.
Yang tidak kita harapkan sebenarnya jangan
sampai ada yang iseng melubangi dasar kapal. Itu sangat berbahaya. Mungkin itu
sebatas iseng, tapi bisa menjadi masalah besar. Kapal secara pelan-pelan akan
tenggelam dan penumpang akan mati.
Walhasil, pelajaran yang bisa diambil dari
pertemuan pertama dengan prof. candra,bahwa manusia ditakdirkan penuh dengan
kekurangan. Tuhan menghadirkan kekurangan bukan untuk diratapi. Keinginan tuhan
-menurutku -sebenarnya agar kita berfikir lebih trengginas, kreatif dan solutif
untuk meraih cita-cita yang diinginkan bersama.
Semoga Allah senantiasa memberi jalan
keluar dari segala kesulitan dan mengabulkan cita-cita kita bersama yaitu
kesuksesan di masa-masa yang akan datang. Semoga. Amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875