Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Senyuman Para Kekasih Allah



Kamis , 30 Maret 2023



Telah dibaca :  369

Nabi Muhammad s.a.w duduk di depan kakek buta dari bangsa Yahudi. Dia manusia sebatang kara. Namun fanatisme terhadap bangsanya sangat tinggi. Selain itu, pemahaman agama yang dibawa oleh para nabi nya kurang mendalam. Atau bisa jadi karena terprovokasi oleh orang-orang yang membenci nabi. Akibatnya, sang kakek tua pun ikut-ikut membencinya. Bahkan tidak ada orang yang paling dibenci oleh nya, kecuali Muhamad ibn Abdillah.

Nabi mendengar cacian nya tersenyum. Wajahnya tetap sumeh, sumringah dan seolah-olah tidak ada perasaan kebencian sama sekali. Dia tetap dengan telaten memasukan makanan atau ndulang ke mulut kakek tua tadi. Sesekali kakek tua itu meraba-raba tangan nabi, sangat halus, lembut namun berisi dan kekar. Kakek tua berkata kurang lebih begini,”Jika ketemu dengan Muhammad, tolong balaskan kebencian saya kepada nya”.

Suatu hari nabi tidak bisa menyuap kakek tua. Akhirnya ada seorang sahabat nabi mengganti tugas menyuap nya. Namun saat menyentuh tangannya, kakek tua merasa berbeda. Suapan dan cara nya berbeda dari sebelumnya. Hari-hari sebelumnya,  cara menyuapnya terasa lembut, tapi kali ini terasa agak lebih kasar. Akhirnya sedikit kurang berkenan dan bertanya gerangan orang yang selalu menyuapnya. Ma’lum saat disuap oleh nabi lupa bertanya biodata nabi. Hal ini karena terasa asyik mengeluarkan kebencian. Kini setelah tiada, baru sadar betapa pentingnya mengetahui status orang yang telah berjasa selama ini.

Ketika sahabat tadi mengatakan bahwa yang selalu menyuapnya adalah nabi Muhammad s.a.w, kakek tua tadi menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Dia menjambak-jambak rambut dan memukul-mukul kepalanya. Betapa menyesal, orang yang selama ini dibenci adalah orang yang selalu menyuapnya setiap hari. Sungguh sangat mulia akhlaknya. Akhirnya, kakek tadi pun mengikrarkan diri masuk Islam.

Satu lagi ada kisah yang sangat menyentuh hati. Ini terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Suatu hari salah satu Khalifah Bani Umayyah menanyakan kepada para petinggi pasukan elit tentang siapa yang telah membunuh sayyidina husen dan keluarganya di Padang Karbala. Sang Khallifah akan memberi hukuman pancung. Sebab perilaku pembunuhan yang sangat biadab telah mencoreng keluarga besar Bani Umayyah dan menghina Cucu Rasulullah S.A.W. Salah satu jendral yang merasa telah melakukan perbuatan tersebut, bergetar. Malam hari, dia pun pergi dengan naik kuda hingga dipinggir kota. Karena takut ketahuan jejaknya, akhirnya dia pun mampir ke rumah penduduk kota kecil tersebut dan menjelaskan keadaanya dalam keadaan bahaya. Dia pun meminta untuk bisa tinggal di rumah nya beberapa hari kedepan agar terhindar dari kejaran pasukan kerajaan. Panglima perang tadi juga mengatakan kesalahan yang telah dilakukan ketika melakukan pembunuhan terhadap Sayidina Husein dan keluarga.

Sang tuan rumah melayani tamu dengan sebaik-baik nya selama tiga hari. Pada hari terakhir, sang panglima pun bertanya identitas tuan rumah atas penghormatan terhadap tamu dengan sangat baik. Harapanya suatu saat sang panglima bisa membalas kebaikan nya. Tuan Rumah pun menjelaskan bahwa diri nya adalah sayid Zainal Abidin, cicit dari Rasulullah S.A.W atau Anak dari Sayidina Husein[waktu Perang Karbala, dia sedang sakit keras sehingga tidak ikut rombongan]. Panglima menggigil mendengar penjelasan dari tuan rumah. Tidak disangka sama sekali, bahwa orang yang menolong dan menyelamatkan nyawanya justru dari anak yang ayahnya dibunuh oleh nya. padahal seandainya mau, dia bisa saja memasukan racun dalam makanan atau minuman untuk membalas dendam. Tapi tuan rumah tidak melakukan. Justru dia menghormati tamu dengan akhlak yang agung sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w.

Kisah tersebut seperti sebuah dongeng di film-film hayalan yang sering diciptakan oleh para sutradara dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Namun film hanya sebatas hayalan dan pengandaian-pengandaian lamunan kosong yang sering tidak masuk akal antara cerita dengan realita kehidupan.Sedangkan kedua kisah Rasulullah dan cicitnya adalah realita kehidupan. Mereka telah memberikan contoh tentang mengatur managen keimanan dan keluasan pemahaman tentang hakikat kebenaran yang mampu melintasi dari tumpukan-tumpukan angkara murka, dendam kesumat berubah menjadi cahayaa kemulyaan hamba-hamba Allah di muka bumi ini.

Kita bisa berdalih bahwa Rasul dan keturunannya adalah orang-orang pilihan sehingga mampu menerapkan pola hidup yang sedemikian indah. Namun Tuhan menjelaskan bahwa Rasul adalah basyarun mislukum, yang punya potensi seperti pada diri manusia umumnya; sakit, sehat, tidur, bangun, lapar, kenyang, beristri dan punya anak. Potensi-potensi lain seperti sifat-sifat marah dan senang, suka dan benci punya kenetralan dan membutuhkan pengelolaan pada masing-masing manusia agar bisa menerapkan nilai-nilai akhlak al-karimah yang agung dalam kehidupan sehari-hari. Proses penerapan ini memhutuhkan praktek secara berkelanjutan agar menjadi bagian jalan hidup yang istiqomah.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Marlikan

Imam ghozali karyamu bagus, masih ingat kah saya?

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895