
Nabi Muhammad s.a.w duduk di depan kakek
buta dari bangsa Yahudi. Dia manusia sebatang kara. Namun fanatisme terhadap
bangsanya sangat tinggi. Selain itu, pemahaman agama yang dibawa oleh para nabi
nya kurang mendalam. Atau bisa jadi karena terprovokasi oleh orang-orang yang
membenci nabi. Akibatnya, sang kakek tua pun ikut-ikut membencinya. Bahkan
tidak ada orang yang paling dibenci oleh nya, kecuali Muhamad ibn Abdillah.
Nabi mendengar cacian nya tersenyum. Wajahnya
tetap sumeh, sumringah dan seolah-olah tidak ada perasaan kebencian sama
sekali. Dia tetap dengan telaten memasukan makanan atau ndulang ke mulut
kakek tua tadi. Sesekali kakek tua itu meraba-raba tangan nabi, sangat halus,
lembut namun berisi dan kekar. Kakek tua berkata kurang lebih begini,”Jika ketemu
dengan Muhammad, tolong balaskan kebencian saya kepada nya”.
Suatu hari nabi tidak bisa menyuap kakek
tua. Akhirnya ada seorang sahabat nabi mengganti tugas menyuap nya. Namun saat
menyentuh tangannya, kakek tua merasa berbeda. Suapan dan cara nya berbeda dari
sebelumnya. Hari-hari sebelumnya, cara
menyuapnya terasa lembut, tapi kali ini terasa agak lebih kasar. Akhirnya
sedikit kurang berkenan dan bertanya gerangan orang yang selalu menyuapnya. Ma’lum
saat disuap oleh nabi lupa bertanya biodata nabi. Hal ini karena terasa asyik
mengeluarkan kebencian. Kini setelah tiada, baru sadar betapa pentingnya
mengetahui status orang yang telah berjasa selama ini.
Ketika sahabat tadi mengatakan bahwa yang
selalu menyuapnya adalah nabi Muhammad s.a.w, kakek tua tadi menjerit dan
menangis sejadi-jadinya. Dia menjambak-jambak rambut dan memukul-mukul
kepalanya. Betapa menyesal, orang yang selama ini dibenci adalah orang yang
selalu menyuapnya setiap hari. Sungguh sangat mulia akhlaknya. Akhirnya, kakek
tadi pun mengikrarkan diri masuk Islam.
Satu lagi ada kisah yang sangat menyentuh
hati. Ini terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Suatu hari salah satu
Khalifah Bani Umayyah menanyakan kepada para petinggi pasukan elit tentang
siapa yang telah membunuh sayyidina husen dan keluarganya di Padang Karbala.
Sang Khallifah akan memberi hukuman pancung. Sebab perilaku pembunuhan yang
sangat biadab telah mencoreng keluarga besar Bani Umayyah dan menghina Cucu
Rasulullah S.A.W. Salah satu jendral yang merasa telah melakukan perbuatan
tersebut, bergetar. Malam hari, dia pun pergi dengan naik kuda hingga dipinggir
kota. Karena takut ketahuan jejaknya, akhirnya dia pun mampir ke rumah penduduk
kota kecil tersebut dan menjelaskan keadaanya dalam keadaan bahaya. Dia pun
meminta untuk bisa tinggal di rumah nya beberapa hari kedepan agar terhindar
dari kejaran pasukan kerajaan. Panglima perang tadi juga mengatakan kesalahan
yang telah dilakukan ketika melakukan pembunuhan terhadap Sayidina Husein dan
keluarga.
Sang tuan rumah melayani tamu dengan
sebaik-baik nya selama tiga hari. Pada hari terakhir, sang panglima pun
bertanya identitas tuan rumah atas penghormatan terhadap tamu dengan sangat
baik. Harapanya suatu saat sang panglima bisa membalas kebaikan nya. Tuan Rumah
pun menjelaskan bahwa diri nya adalah sayid Zainal Abidin, cicit dari Rasulullah
S.A.W atau Anak dari Sayidina Husein[waktu Perang Karbala, dia sedang sakit
keras sehingga tidak ikut rombongan]. Panglima menggigil mendengar penjelasan
dari tuan rumah. Tidak disangka sama sekali, bahwa orang yang menolong dan
menyelamatkan nyawanya justru dari anak yang ayahnya dibunuh oleh nya. padahal
seandainya mau, dia bisa saja memasukan racun dalam makanan atau minuman untuk
membalas dendam. Tapi tuan rumah tidak melakukan. Justru dia menghormati tamu
dengan akhlak yang agung sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w.
Kisah tersebut seperti sebuah dongeng di
film-film hayalan yang sering diciptakan oleh para sutradara dalam menyampaikan
pesan-pesan kebaikan. Namun film hanya sebatas hayalan dan
pengandaian-pengandaian lamunan kosong yang sering tidak masuk akal antara
cerita dengan realita kehidupan.Sedangkan kedua kisah Rasulullah dan cicitnya
adalah realita kehidupan. Mereka telah memberikan contoh tentang mengatur
managen keimanan dan keluasan pemahaman tentang hakikat kebenaran yang mampu melintasi
dari tumpukan-tumpukan angkara murka, dendam kesumat berubah menjadi cahayaa
kemulyaan hamba-hamba Allah di muka bumi ini.
Kita bisa berdalih bahwa Rasul dan
keturunannya adalah orang-orang pilihan sehingga mampu menerapkan pola hidup
yang sedemikian indah. Namun Tuhan menjelaskan bahwa Rasul adalah basyarun
mislukum, yang punya potensi seperti pada diri manusia umumnya; sakit,
sehat, tidur, bangun, lapar, kenyang, beristri dan punya anak. Potensi-potensi
lain seperti sifat-sifat marah dan senang, suka dan benci punya kenetralan dan
membutuhkan pengelolaan pada masing-masing manusia agar bisa menerapkan
nilai-nilai akhlak al-karimah yang agung dalam kehidupan sehari-hari. Proses penerapan
ini memhutuhkan praktek secara berkelanjutan agar menjadi bagian jalan hidup
yang istiqomah.
Penulis : Imam Ghozali
Marlikan
Imam ghozali karyamu bagus, masih ingat kah saya?
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3591
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895