Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Senyuman Ramadhan



Jumat , 28 Februari 2025



Telah dibaca :  528

Bulan Ramadhan tahun ini mengingatkan ku pada sahabatku, Dr. Ramadhan yang masih betah di Jakarta. Dulu waktu sering luntang-luntung ke Jakarta, hampir bisa dipastikan saya menelponnya. Sesibuk apapun pasti jawabanya “siap grakk!”. Terakhir saat ada acara di kemayoran, saya menelponnya. Sama jawabanya: “siap Gus…”. Saya tanya jarak rumah. Katanya dekat. Ternyata sampai di rumahnya memakan waktu 90 menit lebih. Boyoke sampai terasa panas duduk terus di belakang Mas Grab.

Bulan Ramadhan tahun ini seharusnya tetap tersenyum. Rugi jika tidak tersenyum. Sebab Sang Rabul ‘Alamin, Allah SWT telah memberi kenikmatan yang agung. Pertama, Allah tidak memerintah kepada para malaikat untuk melakukan efisiensi rezeki kepada seluruh manusia di hamparan alam semesta. Kedua, Allah juga telah memberikan udara untuk bernafas gratis dan bebas dari polusi. Jika ada polusi, berarti sudah dilakukan proses oplosan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Ketiga, saya dan anda mendapatkan undangan VIP dari tuhan dengan panggilan sangat terhormat: “ya ayyuhalladzina amanu”, wahai orang-orang yang beriman..”. kadang saya minder juga saat memperhatikan undangan tersebut. Saya pegang, lihat bolak-balik. Apakah saya pantas memegang undangan tersebut? tapi gimana  lagi, Tuhan terlalu positif thinking kepada hamba-hamba-Nya. Hebatnya lagi, sudah positif tinking, semua mendapat karpet merah dan tidak ada stratifikasi sosial. Tuhan benar-benar telah menerapkan sistem kehidupan yang sangat egaliter. Keempat, Allah mengajarkan bahwa manusia itu setara. Tidak ada perbedaan antara Direktur Pertamina dengan pengecer petralite yang pagi-pagi setelah sholat subuh pergi ke Pelabuhan menjadi buruh untuk mendapatkan rezeki ala kadarnya. Bahasa Drama Sinetron Indosiar: “Mencari Sesuap Nasi”. Jadi saya bangga, ternyata derajat ku dengan Direktur Pertamina atau yang mempunyai Pom Bensin sama. Hebat. saya bangga. Tapi apakah mereka bangga seperti ku atau anda? Wallahu a’lam. Mungkin tidak. Nyatanya, gaji 4 milyar perbulan (katanya sih..) belum merasa cukup. Kalau anda seperti saya, satu bulan punya gaji sebanyak itu mungkin kalau makan bakso sampai muntah.

Memasuki bulan Ramadhan kita harus tersenyum. Apalagi saya, tadi sore senyum bahagia luar biasa. Sebab para penjual bunga di pemakaman berdebat dengan peziarah. Debat positif dan konstruktif. Kata penjual bunga: “Maaf bu, bunga nya sudah habis. Tinggal satu jenis saja”. Pembeli bunga saling berpandangan dengan keluarganya. Setelah musyawarat mufakat, mereka tetap beli bunga yang tinggal satu jenis tersebut. Saya tersenyum senang melihatnya. Bunga nya habis. Alhamdulillah saya masih bisa tersenyum melihat orang lain bahagia. Semoga konsisten.

Ada satu lagi yang membuat tersenyum karena ada hadist nabi yang berbunyi begini: “ Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR. Ahmad).

Saya tersenyum bukan pada hadist tersenyum, tetapi pertanyaan Kang Paimin yang suka nggedabrus bertanya begini: “Katanya setan nya di rantai, kok masih banyak orang berperilaku maksiat dan menyakiti perasaan manusia dari sabang sampai Merauke?”. Karena pertanyaan nggedabrus, saya pun jawabnya asbun saja: “Setan tidak lepas dari rantai, tetap dirantai, di krangkeng. Mereka yang maksiat-maksiat bukan setan, tapi bos nya”. “Bos mah bebas”.

Saya pernah mendengar maksud hadist tersebut bahwa setan adalah nafsu kita sendiri. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu adalah rantai. Semakin kuat kemampuan mengendalikan hawa nafsu, maka semakin menderita setan sebagai simbol nafsu amarah yang ada pada diri kita sesndiri. Sebaliknya, semakin tidak bisa mengendalikan nafsu, maka perilaku semakin liar dan terus berbuat maksiat dan dosa.

Jadi, saat sekarang ini kita yang mendapatkan undangan dari allah, juga harus interopeksi diri, apakah sudah bisa disebut sebagai kelompok yang benar-benar “orang yang beriman”. Jangan-jangan iman kita masih imitasi. Sholeh saat kita kalah, terpinggirkan dan merasa terdzalimi. Tuhan benar-benar menjadi sahabat sejati. Tapi saat mempunyai kekuatan, kewenangan, harta melimpah, terkadang Tuhan diletakan di peci dan baju koko. Saat peci dan baju koko lepas, lupa juga terhadap Tuhan.

Itulah manusia. Lucu. Menggemaskan. Sejak kecil memang manusia lucu dan aneh. Disuruh turun tidak boleh manjat pohon, malah tetap naik. Disuruh manjat pohon, malah turun. Suruh puasa, malah makan. Suruh makan malah puasa (karena gula darah).

Semoga saja tersenyum anda bukan wujud kebalikannya karena sedang menderita. Semoga senyum kita adalah senyum mendapatkan kemulyaan dari Allah SWT di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872