
Bulan Ramadhan tahun ini mengingatkan ku
pada sahabatku, Dr. Ramadhan yang masih betah di Jakarta. Dulu waktu sering luntang-luntung
ke Jakarta, hampir bisa dipastikan saya menelponnya. Sesibuk apapun pasti
jawabanya “siap grakk!”. Terakhir saat ada acara di kemayoran, saya
menelponnya. Sama jawabanya: “siap Gus…”. Saya tanya jarak rumah. Katanya dekat.
Ternyata sampai di rumahnya memakan waktu 90 menit lebih. Boyoke sampai terasa
panas duduk terus di belakang Mas Grab.
Bulan Ramadhan tahun ini seharusnya tetap
tersenyum. Rugi jika tidak tersenyum. Sebab Sang Rabul ‘Alamin, Allah SWT telah
memberi kenikmatan yang agung. Pertama, Allah tidak memerintah kepada para malaikat
untuk melakukan efisiensi rezeki kepada seluruh manusia di hamparan alam
semesta. Kedua, Allah juga telah memberikan udara untuk bernafas gratis
dan bebas dari polusi. Jika ada polusi, berarti sudah dilakukan proses oplosan
oleh manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Ketiga, saya dan anda
mendapatkan undangan VIP dari tuhan dengan panggilan sangat terhormat: “ya
ayyuhalladzina amanu”, wahai orang-orang yang beriman..”. kadang saya
minder juga saat memperhatikan undangan tersebut. Saya pegang, lihat
bolak-balik. Apakah saya pantas memegang undangan tersebut? tapi gimana lagi, Tuhan terlalu positif thinking
kepada hamba-hamba-Nya. Hebatnya lagi, sudah positif tinking, semua
mendapat karpet merah dan tidak ada stratifikasi sosial. Tuhan benar-benar
telah menerapkan sistem kehidupan yang sangat egaliter. Keempat, Allah
mengajarkan bahwa manusia itu setara. Tidak ada perbedaan antara Direktur
Pertamina dengan pengecer petralite yang pagi-pagi setelah sholat subuh pergi
ke Pelabuhan menjadi buruh untuk mendapatkan rezeki ala kadarnya. Bahasa Drama
Sinetron Indosiar: “Mencari Sesuap Nasi”. Jadi saya bangga, ternyata
derajat ku dengan Direktur Pertamina atau yang mempunyai Pom Bensin sama. Hebat.
saya bangga. Tapi apakah mereka bangga seperti ku atau anda? Wallahu a’lam.
Mungkin tidak. Nyatanya, gaji 4 milyar perbulan (katanya sih..) belum merasa
cukup. Kalau anda seperti saya, satu bulan punya gaji sebanyak itu mungkin kalau
makan bakso sampai muntah.
Memasuki bulan Ramadhan kita harus
tersenyum. Apalagi saya, tadi sore senyum bahagia luar biasa. Sebab para
penjual bunga di pemakaman berdebat dengan peziarah. Debat positif dan
konstruktif. Kata penjual bunga: “Maaf bu, bunga nya sudah habis. Tinggal satu
jenis saja”. Pembeli bunga saling berpandangan dengan keluarganya. Setelah musyawarat
mufakat, mereka tetap beli bunga yang tinggal satu jenis tersebut. Saya tersenyum
senang melihatnya. Bunga nya habis. Alhamdulillah saya masih bisa tersenyum
melihat orang lain bahagia. Semoga konsisten.
Ada satu lagi yang membuat tersenyum karena
ada hadist nabi yang berbunyi begini: “ Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh
berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu
pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, para setan diikat dan
pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu
bulan (HR. Ahmad).
Saya tersenyum bukan pada hadist tersenyum,
tetapi pertanyaan Kang Paimin yang suka nggedabrus bertanya begini: “Katanya
setan nya di rantai, kok masih banyak orang berperilaku maksiat dan menyakiti
perasaan manusia dari sabang sampai Merauke?”. Karena pertanyaan nggedabrus,
saya pun jawabnya asbun saja: “Setan tidak lepas dari rantai, tetap
dirantai, di krangkeng. Mereka yang maksiat-maksiat bukan setan, tapi
bos nya”. “Bos mah bebas”.
Saya pernah mendengar maksud hadist
tersebut bahwa setan adalah nafsu kita sendiri. Kemampuan mengendalikan hawa
nafsu adalah rantai. Semakin kuat kemampuan mengendalikan hawa nafsu, maka
semakin menderita setan sebagai simbol nafsu amarah yang ada pada diri kita
sesndiri. Sebaliknya, semakin tidak bisa mengendalikan nafsu, maka perilaku
semakin liar dan terus berbuat maksiat dan dosa.
Jadi, saat sekarang ini kita yang mendapatkan
undangan dari allah, juga harus interopeksi diri, apakah sudah bisa disebut
sebagai kelompok yang benar-benar “orang yang beriman”. Jangan-jangan iman kita
masih imitasi. Sholeh saat kita kalah, terpinggirkan dan merasa terdzalimi. Tuhan
benar-benar menjadi sahabat sejati. Tapi saat mempunyai kekuatan, kewenangan,
harta melimpah, terkadang Tuhan diletakan di peci dan baju koko. Saat peci dan
baju koko lepas, lupa juga terhadap Tuhan.
Itulah manusia. Lucu. Menggemaskan. Sejak kecil
memang manusia lucu dan aneh. Disuruh turun tidak boleh manjat pohon, malah
tetap naik. Disuruh manjat pohon, malah turun. Suruh puasa, malah makan. Suruh makan
malah puasa (karena gula darah).
Semoga saja tersenyum anda bukan wujud
kebalikannya karena sedang menderita. Semoga senyum kita adalah senyum
mendapatkan kemulyaan dari Allah SWT di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872