
Selama menonton acara Amerika’s Talen Got,
dua kali saya hampir meneteskan air mata karena terharu oleh penampilannya;
pertama, penampilan gadis kecil berusia 9-10 tahunan yang bernama Celine Tam
berasal dari Hongkong. Kedua putri Ariani yang memiliki nama asli Ariani Nisma
Putri berumur 17 tahun dari Indonesia. Ruangan pertunjukan telah menjadi saksi
atas kekaguman penonton dan tetesan air mata orang tua dan saudara-saudara
mereka. bahkan bisa jadi, keharuan semakin melanda sebagian masyarakat kedua negara
tersebut yang bisa menyelami makna penampilan mereka apakah atas nama
nasionalisme, agama atau apa saja.
Ariani sebelum nya mungkin masih tertutup
hijab dan masih mastur oleh masyarakat Indonesia. Sebagian orang saat
pertama melihatnya akan sedikit meragukan kemampuannya, dia bukan siapa-siapa. Namun
kini dia mashur fi al- ardhi (semoga saja fi samawati), dan
sebagian orang mengatakan, “Dia telah mengharumkan nama Indonesia”. Itulah mutiara,
saat orang sudah mengetahui statusnya orang akan berebut untuk memilikinya,
tapi saat orang belum tahu statusnya, bisa jadi untuk mainan anak-anak di pinggir
pantai dan dibuang sat ibu-ibu nya memanggil pulang di sore hari.
Saya bisa membayangkan sambutan yang sangat
meriah di acara tersebut. keterbatasan dirinya pada netra nya bisa jadi membuat
semakin haru seisi ruangan tersebut. Seorang juri sekaligus Pemilik Media SYCO,
Simon Cowell datang menghampirinya dan mengucapkan selamat kepada Ariani. Salah
satu ucapan Ariani yang cukup menyentuh hati, “Tantangan terberatku orang
melihatku hanya sebagai orang dengan disabilitas netra, bukan seorang musisi. Tapi
ketika aku bernyanyi, aku merasa seperti superstar”.
Simon mungkin bukan seorang muslim. Dan dia
pun bisa jadi tidak memikirkan status agama siapapun yang ada di depanya, yang
menurutnya sebagai bagian privasi yang tidak harus ditunjukan pada acara-acara
seperti AGT tersebut. Dia sebagai pemilik perusahaan tersebut hanya melihat
pada kualitas yang tampil di acara yang ditonton hampir seluruh masyarakat
dunia. ketika baik akan mendapat arpesiasi ketika kurang baik, kurang juga
mendapat apresiasi. Fakta ini, Simon telah menempatkan pada tempat sejajar
sebagai sama-sama menusia yang sangat penting untuk dihargai dan dilihat pada “amalun
sholihun” menurut versi-nya.
Saya secara pribadi tentu belum bisa
sepenuhnya bisa bersikap seobyektif apa yang dilakukan oleh Simon. Saya sering
masih melihat KTP atas nama agama, suku, etnis dan budaya. Bisa jadi. Bahkan bisa
jadi model berpandangan seperti ini masih mewabah di negeri ini, sehingga
gampang terjadi persoalan yang lebih luas selalu melihatkan atas nama suku,
etnis, keyakinan adan agama. pandangan nya sering menjadi subyektif, dan tidak
obyektif atas dasar kualitas dan profesionalitas.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879