
Anda -sebagaimana saya -mungkin hanya
sebatas pada tataran maqam orang-orang yang sedang mencari cinta sejati.
Kapan menemukan, belum tahu. Setiap orang mempunyai cara untuk menemukan status
cinta tersebut melalui beragam proses. Setiap orang punya cara yang
berbeda-beda. Ada proses linier, fluktuatif dan penuh dengan ujian-ujian
kehidupan yang sangat memilukan.
Cinta sejati tidak seperti seorang pemuda
kampung yang naik Grab di Ibu Kota. Pertama kali ke Ibu Kota. Sepanjang
perjalanan, ia melihat papan reklame segala produk kekinian, Gedung pencakar langit, dan hotel-hotel mewah dengan miniatur modern dan berkelas. Saat
berhenti di Jalan Tol, mobil-mobil mewah berjejer. Hatinya berkata: “Betapa
bahagia orang-orang kota”.
Sang pemuda menyakini bahwa Ibu Kota sumber
kebahagiaan. Ia bertekad bulat ingin hidup di Ibu Kota. Imajinasi keindahan
yang telah terekam dalam pikirannya telah menjadi keputusan final untuk
mengejar kebahagiaan. Pikiran pun terus berhayal tentang kebahagiaan dengan
segala dimensi-dimensi nya.
Semakin jauh, Grab menuju Gang-Gang kumuh. Ada
pemandangan kontras. Di kanan-kiri gang, jeritan anak-anak kecil berlari-lari,
tidak memakai baju. Penjual somay, ketoprak serta ibu-ibu berambut awut-awutan
duduk-duduk sangat asyik ngobrol. Entah apa yang diobrolkan. Sangat asyik. Mengingatkan
nya pada suasana kampung. Hanya saja, udara kampung masih terasa segar. Di Gang-Gang
kumuh Ibu Kota, udara terasa kotor, bau nya membuat perut mual-mual.
Dari arah depan, sahabat lama nya telah
menunggu. Ia memakai kaos lusuh. Topi partai. Ia kaget. Teman nya yang biasa
pulang setiap Idul Fitri terlihat sangat tampan, ternyata hanya sebagai buruh
bangunan. ia seperti tidak menyakini melihat kondisi tersebut. ia benar-benar
seperti tidak percaya jika teman nya juga mengajak bekerja sebagai buruh
bangunan di Ibu Kota.
“Ternyata di balik gemerlapnya Mall, Hotel,
Gedung pencakar langit di Ibu Kota, ada lorong-lorong kumuh yang sangat
menyedihkan. Saya benar-benar tertipu oleh keindahan semua itu” kata pemuda
tersebut dalam hati.
“Hidup adalah perjuangan Kawan” kata
temannya yang sudah lama di Jakarta.
Dia tidak memperdulikan ucapan temannya. Dia
masih ingat cerita-cerita teman nya tentang Ibu Kota, artis-artis, konser, dan segala
kenikmatan. Ketika melihat antara cerita dan realita, ia semakin merasa tidak
betah hidup di Ibu Kota. Dadanya terasa sesak. Pikirannya semakin kacau. Pikirannya
ingin sekali pulang ke kampung halaman.
Kisah dua pemuda tersebut saya kira bisa
mewakili tentang esensi dari suatu harapan-harapan terindah yang ada dalam
pikiran mereka. Pada satu sisi, mereka sama-sama mempunyai hayalan tentang
keindahan dan kenikmatan hidup. Pada sisi lain, mereka mempunyai terjemahan
yang berbeda-beda dalam upaya mewujudkan cita-cita dalam hayalan tersebut. maka,
keduanya juga akan menemukan kualitas cinta dan kenikmatan yang berbeda juga.
Perjuangan teman yang telah lama bekerja
sebagai kuli bangunan di Ibu Kota mungkin tidak akan menjadi kaya raya
sebagaimana kisah-kisah dramatis di TV Indosiar atau drama-drama Pendek Korea atau
China yang sering mampir di FB. Bahkan bisa jadi, ia selama nya akan menjadi
buruh hingga mempunyai istri dan anak-anak nya.
Saya tentu tidak melihatnya sebagai seorang
buruh. Sebab sebutan “buruh” hanya istilah-istilah produk sosial yang terus
bermunculan dari beragam istilah-istilah sosial di era kekinian. Saya melihatnya
dari sebuah perjuangan panjang untuk mewujudkan cita-cita nya dengan sepenuh
hati. Dia jelas sudah cukup panjang mengalami daftar penderitaan hidup di Ibu
Kota. Tapi ia tetap bisa tersenyum dan hidup dengan prinsip yang sangat kuat
yang ada pada dirinya “Hidup Adalah Perjuangan”. Kemampuan mengenal
intisari kehidupan ini sebenarnya puncak dari kehebatan pemuda tersebut.
Hidup memang bukan soal kesempurnaan. Sebab
kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta. Semua karya-nya penuh dengan
kesempurnaan. Manusia adalah karya-Nya, manusia berarti sempurna. Sempurna dalam
pengertian ciptaan-Nya.
Manusia itu sempurna, tapi karya manusia
belum tentu sempurna dan tidak akan sempurna. Tuhan tidak melihat kesempurnaan
karya manusia. Tuhan melihat manusia pada proses karya nya. Dari sini ada indikator-indikator
yang beragam-ragam catatan-catatan kualitas dari setiap manusia. pada persoalan
penilaian, ini Allah mempunyai otoritas untuk melakukan klafifikasi status
hamba-hamba-Nya.
Manusia dalam menjalankan proses kehidupan
tidak boleh terperangkap pada keindah-keindahan karya-karya nya sendiri. Sebab
karya-karya tersebut sebenarnya hakikatnya bukan milik sendiri, tapi milik sang
majikan.
Sebagaimana seorang pemuda kuli bangunan di
atas. Ia telah berhasil membuat begitu banyak bangunan. Dia tentu saja merasa
bangga. Lebih bangga lagi majikannya. Atas prestasi yang sangat baik tersebut,
majikannya terus memberikan bonus setiap tahunnya.
Saya dan anda saya kira seperti pemuda
tersebut. Kita mempunyai pasangan hidup yang menyenangkan hati, anak-anak yang
berprestasi dan kemulyaan-kemulyaan lain mampir pada diri kita. Namun
lagi-lagi, apa yang kita miliki sebenarnya hanya pada proses nya, bukan pada
otoritas benda nya.
Tuhan telah memberikan hak dan kewajiban dalam
perjalanan hidup. Ada hak dan kewajiban sebatas formal ada hak dan kewajiban
secara subtansional. Pada dua hal yang berbeda, kita harus bisa memahami dan
menempatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu saja ada yang tidak boleh diri kita
terampas oleh keindahan yang bersifat fana. Hari ini sebagian saudara kita
telah mengantarkan anak-anak nya menjadi orang-orang hebat, menjadi dokter,
pejabat dan para politikus sukses. Hari ini juga sebagian saudara kita sedang
berjuang untuk menjadikan hidup bermartabat dalam kehidupan sosial, banting
tulang, kerja keras untuk sebuah harga diri yang agung dalam kehidupan di Dunia.
Lagi-lagi, tuhan telah mengajarkan kepada
kita bahwa “proses yang kita lakukan” sebenarnya milik kita yang
sesungguhnya. Karenanya jangan sampai kita berhenti kepada kecintaan melihat isi
dunia ini seperti berhentinya pemuda kampung ketika melihat keindahan Ibu Kota.
Kita harus semakin menyadari bahwa keindahan yang sesungguhnya, ketulusan
mencintai yang sesungguhnya bukan atasan kita, bawahan kita, pasangan kita, dan
anak-anak kita, tetapi ketulusan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Itulah Tuhan
Sang Kekasih Sejati yang sering kita lupakan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876