Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sering Melupakan Kekasih Terindah



Sabtu , 26 Juli 2025



Telah dibaca :  490

Anda -sebagaimana saya -mungkin hanya sebatas pada tataran maqam orang-orang yang sedang mencari cinta sejati. Kapan menemukan, belum tahu. Setiap orang mempunyai cara untuk menemukan status cinta tersebut melalui beragam proses. Setiap orang punya cara yang berbeda-beda. Ada proses linier, fluktuatif dan penuh dengan ujian-ujian kehidupan yang sangat memilukan.

Cinta sejati tidak seperti seorang pemuda kampung yang naik Grab di Ibu Kota. Pertama kali ke Ibu Kota. Sepanjang perjalanan, ia melihat papan reklame segala produk kekinian, Gedung pencakar langit, dan hotel-hotel mewah dengan miniatur modern dan berkelas. Saat berhenti di Jalan Tol, mobil-mobil mewah berjejer. Hatinya berkata: “Betapa bahagia orang-orang kota”.

Sang pemuda menyakini bahwa Ibu Kota sumber kebahagiaan. Ia bertekad bulat ingin hidup di Ibu Kota. Imajinasi keindahan yang telah terekam dalam pikirannya telah menjadi keputusan final untuk mengejar kebahagiaan. Pikiran pun terus berhayal tentang kebahagiaan dengan segala dimensi-dimensi nya.

Semakin jauh, Grab menuju Gang-Gang kumuh. Ada pemandangan kontras. Di kanan-kiri gang, jeritan anak-anak kecil berlari-lari, tidak memakai baju. Penjual somay, ketoprak serta ibu-ibu berambut awut-awutan duduk-duduk sangat asyik ngobrol. Entah apa yang diobrolkan. Sangat asyik. Mengingatkan nya pada suasana kampung. Hanya saja, udara kampung masih terasa segar. Di Gang-Gang kumuh Ibu Kota, udara terasa kotor, bau nya membuat perut mual-mual.

Dari arah depan, sahabat lama nya telah menunggu. Ia memakai kaos lusuh. Topi partai. Ia kaget. Teman nya yang biasa pulang setiap Idul Fitri terlihat sangat tampan, ternyata hanya sebagai buruh bangunan. ia seperti tidak menyakini melihat kondisi tersebut. ia benar-benar seperti tidak percaya jika teman nya juga mengajak bekerja sebagai buruh bangunan di Ibu Kota.

“Ternyata di balik gemerlapnya Mall, Hotel, Gedung pencakar langit di Ibu Kota, ada lorong-lorong kumuh yang sangat menyedihkan. Saya benar-benar tertipu oleh keindahan semua itu” kata pemuda tersebut dalam hati.

“Hidup adalah perjuangan Kawan” kata temannya yang sudah lama di Jakarta.

Dia tidak memperdulikan ucapan temannya. Dia masih ingat cerita-cerita teman nya tentang Ibu Kota, artis-artis, konser, dan segala kenikmatan. Ketika melihat antara cerita dan realita, ia semakin merasa tidak betah hidup di Ibu Kota. Dadanya terasa sesak. Pikirannya semakin kacau. Pikirannya ingin sekali pulang ke kampung halaman.

Kisah dua pemuda tersebut saya kira bisa mewakili tentang esensi dari suatu harapan-harapan terindah yang ada dalam pikiran mereka. Pada satu sisi, mereka sama-sama mempunyai hayalan tentang keindahan dan kenikmatan hidup. Pada sisi lain, mereka mempunyai terjemahan yang berbeda-beda dalam upaya mewujudkan cita-cita dalam hayalan tersebut. maka, keduanya juga akan menemukan kualitas cinta dan kenikmatan yang berbeda juga.

Perjuangan teman yang telah lama bekerja sebagai kuli bangunan di Ibu Kota mungkin tidak akan menjadi kaya raya sebagaimana kisah-kisah dramatis di TV Indosiar atau drama-drama Pendek Korea atau China yang sering mampir di FB. Bahkan bisa jadi, ia selama nya akan menjadi buruh hingga mempunyai istri dan anak-anak nya.

Saya tentu tidak melihatnya sebagai seorang buruh. Sebab sebutan “buruh” hanya istilah-istilah produk sosial yang terus bermunculan dari beragam istilah-istilah sosial di era kekinian. Saya melihatnya dari sebuah perjuangan panjang untuk mewujudkan cita-cita nya dengan sepenuh hati. Dia jelas sudah cukup panjang mengalami daftar penderitaan hidup di Ibu Kota. Tapi ia tetap bisa tersenyum dan hidup dengan prinsip yang sangat kuat yang ada pada dirinya “Hidup Adalah Perjuangan”. Kemampuan mengenal intisari kehidupan ini sebenarnya puncak dari kehebatan pemuda tersebut.

Hidup memang bukan soal kesempurnaan. Sebab kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta. Semua karya-nya penuh dengan kesempurnaan. Manusia adalah karya-Nya, manusia berarti sempurna. Sempurna dalam pengertian ciptaan-Nya.

Manusia itu sempurna, tapi karya manusia belum tentu sempurna dan tidak akan sempurna. Tuhan tidak melihat kesempurnaan karya manusia. Tuhan melihat manusia pada proses karya nya. Dari sini ada indikator-indikator yang beragam-ragam catatan-catatan kualitas dari setiap manusia. pada persoalan penilaian, ini Allah mempunyai otoritas untuk melakukan klafifikasi status hamba-hamba-Nya.

Manusia dalam menjalankan proses kehidupan tidak boleh terperangkap pada keindah-keindahan karya-karya nya sendiri. Sebab karya-karya tersebut sebenarnya hakikatnya bukan milik sendiri, tapi milik sang majikan.

Sebagaimana seorang pemuda kuli bangunan di atas. Ia telah berhasil membuat begitu banyak bangunan. Dia tentu saja merasa bangga. Lebih bangga lagi majikannya. Atas prestasi yang sangat baik tersebut, majikannya terus memberikan bonus setiap tahunnya.

Saya dan anda saya kira seperti pemuda tersebut. Kita mempunyai pasangan hidup yang menyenangkan hati, anak-anak yang berprestasi dan kemulyaan-kemulyaan lain mampir pada diri kita. Namun lagi-lagi, apa yang kita miliki sebenarnya hanya pada proses nya, bukan pada otoritas benda nya.

Tuhan telah memberikan hak dan kewajiban dalam perjalanan hidup. Ada hak dan kewajiban sebatas formal ada hak dan kewajiban secara subtansional. Pada dua hal yang berbeda, kita harus bisa memahami dan menempatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu saja ada yang tidak boleh diri kita terampas oleh keindahan yang bersifat fana. Hari ini sebagian saudara kita telah mengantarkan anak-anak nya menjadi orang-orang hebat, menjadi dokter, pejabat dan para politikus sukses. Hari ini juga sebagian saudara kita sedang berjuang untuk menjadikan hidup bermartabat dalam kehidupan sosial, banting tulang, kerja keras untuk sebuah harga diri yang agung dalam kehidupan di Dunia.

Lagi-lagi, tuhan telah mengajarkan kepada kita bahwa “proses yang kita lakukan” sebenarnya milik kita yang sesungguhnya. Karenanya jangan sampai kita berhenti kepada kecintaan melihat isi dunia ini seperti berhentinya pemuda kampung ketika melihat keindahan Ibu Kota. Kita harus semakin menyadari bahwa keindahan yang sesungguhnya, ketulusan mencintai yang sesungguhnya bukan atasan kita, bawahan kita, pasangan kita, dan anak-anak kita, tetapi ketulusan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Itulah Tuhan Sang Kekasih Sejati yang sering kita lupakan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876