Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Serlok Alamat untuk Kapten Isnanu



Jumat , 05 Mei 2023



Telah dibaca :  342

Minggu lalu Danramil Tebing Tinggi Kabupaten Kepulauan Meranti Kapten Isnanu (saya lebih suka memanggilnya “Ndan Isnanu”) mengirim SMS. Isinya mau silaturahim ke rumah. Kebetulan hari minggu saya berangkat ke Bengkalis. Jadi saya bilang kepadanya, Insya Allah hari jum’at sudah di rumah. Ketika hari jum’at siang  pulang, saya sudah lupa ngasih janji kepada Ndan Isnanu. Setelah sholat Jum’at, ada SMS masuk. Ndan Isnanu Tanya lagi, apakah sudah di rumah. Saya jawab,”sudah”.  Saya pikir dia sudah lupa dan sudah tidak akan datang ke rumah ku, eehhh ternyata dia jadi datang. Katanya, jam lima sore ke rumah ku.

Saya kirim serlok. Sebab posisi rumah saya, memang agak susah ditandai. Mungkin terlalu banyak gang atau jalan-jalan kecil, dan cukup sempit. Kendaraan yang boleh lewat, Becak dan Honda. Jika ada mobil, harus benar-benar professional. Sebab jalan pas body. Salah sedikit, langsung masuk selokan. Jika naik kendaraan Honda atau Honda pun harus hati-hati. Di jalan ini banyak anak-anak. Kebetulan sepanjang jalan ini banyak ibu-ibu muda yang kebetulan memang cukup banyak anak-anak nya. Sepanjang jalan itu juga, sudah ada tiga pengantin baru. Artinya, untuk satu tahun yang akan datang, jalan kecil depan rumah saya semakin banyak anak-anak kecil.

“Assalamu’alaikum ketua, saya sudah di depan bengkel mobil amat”, Ndan Isnanu nelpon saya.  Kemudian saya menjawab, “Naik mobil, apa Honda. Jika naik mobil berhenti saja di pengkolan jalan ndan. Terus ndan isnanu jalan kaki. Jika bawa Honda, langsung masuk saja. Nanti ada simpang tiga, belok ke kanan”. Ternyata dia membawa mobil. Saya jalan kaki mengecek, apakah benar lewat jalan sesuai serlok, ternyata benar. Saya khawatir kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali. Ketika saya dan Kyai Mardio Hasan keliling Jawa naik mobil pribadi saudara laki-lakinya, ingin mencari jalan pintas. Lalu kami pakai serlok lewat aplikasi google map atau apa, saya tidak tahu namanya. Bunyinya menyakinkan sekali. Suara nya suara perempuan, “Seratus meter lagi, belok ke kanan”. Lalu kami pun mengikuti arahan aplikasi tadi. Ternyata mobil masuk ke arah pertanian padi atau orang jawa bilang, “sawah”. Gara-gara aplikasi seperti ini kemudian menjadi guyonan di media sosial. Lalu ada yang membuat suara aplikasi lelucon bunyi nya begini, “ seratus meter lagi. Belok kiri. Lurus. Belok kiri lagi. Kemudian lurus, lalu 5 meter belok kanan. Jangan belok ke kiri. Karena itu rumah janda”.

Ndan Isnanu memang terlalu jauh parkir mobil nya. Jalan lumayan jauh. Sekitar 200 meter. Untung dia TNI, saya lihat berjalan dengan istrinya. Saya tersenyum. Dalam hati saya berkata, “tidak apa-apa jalan kaki, prajurit memang sejak dulu kerjanya jalan kaki”.

Di rumah saya silaturahim cukup lama. Hampir satu jam. Saya buatkan kopi “Gayo” dari Aceh. Kebetulan ada tetangga saya baru pulang dari Aceh dan mendapat oleh-oleh satu bungkus kopi Gayo. Memang kopi ini terasa nikmat. Saya ingin pesan agak lumayan banyak, ternyata keburu pulang ke Selatpanjang. Saya mengenal Ndan Isnanu sudah cukup banyak. Dia seorang prajurit yang didik di lingkungan santri. Sehingga kalau ketemu dengan ulama, kiai atau ustadz sangat senang. Asli daerah Malang Jawa Timur. Istrinya dari dumai, kelahiran Payakumbuh dan orang tuanya aslinya Padang. Ketika saya tanya apakah bisa bahasa padang, dia menjawab tidak bisa. Bahasanya bahasa nasional. Begitu juga Ndan Isnanu yang sudah lama tugas di tiga kabupaten ( Dumai, Bengkalis dan Kepulauan Meranti), namun bahasa Jawa Timur nya masih medok. Namun demikian, semangat NKRI nya dan semangat membangun atau menghabdi kepada tempat tugas nya memang patut diacungkan jempol.

Selain silaturahim masih suasana Idul Fitri, Dia pun meminta nasehat atau petuah dari ku. Ada beberapa petuah yang saya berikan. Salah satu yang saya sampaikan ditulisan ini sebagai berikut, “Ndan Isnanu, kita sebagai seorang suami harus menghormati pasangan kita, Apapun keadaan kita saat menjalankan tugas negara. Sebab orang yang paling dekat dan mengerti kesusahan atau pahit getir kehidupan adalah pasangan hidup kita. Memang kadang, pasasngan kita tidak sempurna. Mungkin sering marah-marah. Tapi percayalah, kemerahan pasangan kita sebenarnya wujud kasih sayang dalam bentuk yang berbeda”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Hati hati mengikuti serlok..5 meter lagi bisa menjebak karena posisi meragukan...he he he

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895