
Minggu lalu Danramil Tebing Tinggi
Kabupaten Kepulauan Meranti Kapten Isnanu (saya lebih suka memanggilnya “Ndan
Isnanu”) mengirim SMS. Isinya mau silaturahim ke rumah. Kebetulan hari minggu
saya berangkat ke Bengkalis. Jadi saya bilang kepadanya, Insya Allah hari jum’at
sudah di rumah. Ketika hari jum’at siang pulang, saya sudah lupa ngasih janji kepada Ndan
Isnanu. Setelah sholat Jum’at, ada SMS masuk. Ndan Isnanu Tanya lagi, apakah sudah
di rumah. Saya jawab,”sudah”. Saya pikir
dia sudah lupa dan sudah tidak akan datang ke rumah ku, eehhh ternyata dia jadi
datang. Katanya, jam lima sore ke rumah ku.
Saya kirim serlok. Sebab posisi rumah saya,
memang agak susah ditandai. Mungkin terlalu banyak gang atau jalan-jalan kecil,
dan cukup sempit. Kendaraan yang boleh lewat, Becak dan Honda. Jika ada mobil,
harus benar-benar professional. Sebab jalan pas body. Salah sedikit, langsung
masuk selokan. Jika naik kendaraan Honda atau Honda pun harus hati-hati. Di jalan
ini banyak anak-anak. Kebetulan sepanjang jalan ini banyak ibu-ibu muda yang
kebetulan memang cukup banyak anak-anak nya. Sepanjang jalan itu juga, sudah
ada tiga pengantin baru. Artinya, untuk satu tahun yang akan datang, jalan
kecil depan rumah saya semakin banyak anak-anak kecil.
“Assalamu’alaikum ketua, saya sudah di
depan bengkel mobil amat”, Ndan Isnanu nelpon saya. Kemudian saya menjawab, “Naik mobil, apa Honda.
Jika naik mobil berhenti saja di pengkolan jalan ndan. Terus ndan isnanu jalan
kaki. Jika bawa Honda, langsung masuk saja. Nanti ada simpang tiga, belok ke
kanan”. Ternyata dia membawa mobil. Saya jalan kaki mengecek, apakah benar
lewat jalan sesuai serlok, ternyata benar. Saya khawatir kejadian beberapa
tahun lalu terulang kembali. Ketika saya dan Kyai Mardio Hasan keliling Jawa
naik mobil pribadi saudara laki-lakinya, ingin mencari jalan pintas. Lalu kami
pakai serlok lewat aplikasi google map atau apa, saya tidak tahu namanya. Bunyinya
menyakinkan sekali. Suara nya suara perempuan, “Seratus meter lagi, belok ke
kanan”. Lalu kami pun mengikuti arahan aplikasi tadi. Ternyata mobil masuk ke
arah pertanian padi atau orang jawa bilang, “sawah”. Gara-gara aplikasi seperti
ini kemudian menjadi guyonan di media sosial. Lalu ada yang membuat suara
aplikasi lelucon bunyi nya begini, “ seratus meter lagi. Belok kiri. Lurus. Belok
kiri lagi. Kemudian lurus, lalu 5 meter belok kanan. Jangan belok ke kiri. Karena
itu rumah janda”.
Ndan Isnanu memang terlalu jauh parkir mobil
nya. Jalan lumayan jauh. Sekitar 200 meter. Untung dia TNI, saya lihat berjalan
dengan istrinya. Saya tersenyum. Dalam hati saya berkata, “tidak apa-apa jalan
kaki, prajurit memang sejak dulu kerjanya jalan kaki”.
Di rumah saya silaturahim cukup lama. Hampir
satu jam. Saya buatkan kopi “Gayo” dari Aceh. Kebetulan ada tetangga saya baru
pulang dari Aceh dan mendapat oleh-oleh satu bungkus kopi Gayo. Memang kopi ini
terasa nikmat. Saya ingin pesan agak lumayan banyak, ternyata keburu pulang ke
Selatpanjang. Saya mengenal Ndan Isnanu sudah cukup banyak. Dia seorang
prajurit yang didik di lingkungan santri. Sehingga kalau ketemu dengan ulama,
kiai atau ustadz sangat senang. Asli daerah Malang Jawa Timur. Istrinya dari
dumai, kelahiran Payakumbuh dan orang tuanya aslinya Padang. Ketika saya tanya
apakah bisa bahasa padang, dia menjawab tidak bisa. Bahasanya bahasa nasional. Begitu
juga Ndan Isnanu yang sudah lama tugas di tiga kabupaten ( Dumai, Bengkalis dan
Kepulauan Meranti), namun bahasa Jawa Timur nya masih medok. Namun demikian,
semangat NKRI nya dan semangat membangun atau menghabdi kepada tempat tugas nya
memang patut diacungkan jempol.
Selain silaturahim masih suasana Idul Fitri,
Dia pun meminta nasehat atau petuah dari ku. Ada beberapa petuah yang saya
berikan. Salah satu yang saya sampaikan ditulisan ini sebagai berikut, “Ndan
Isnanu, kita sebagai seorang suami harus menghormati pasangan kita, Apapun
keadaan kita saat menjalankan tugas negara. Sebab orang yang paling dekat dan
mengerti kesusahan atau pahit getir kehidupan adalah pasangan hidup kita. Memang
kadang, pasasngan kita tidak sempurna. Mungkin sering marah-marah. Tapi percayalah,
kemerahan pasangan kita sebenarnya wujud kasih sayang dalam bentuk yang berbeda”.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Hati hati mengikuti serlok..5 meter lagi bisa menjebak karena posisi meragukan...he he he
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3587
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895