
Setelah membaca biografi Prof. Qurays
Shihab, ada rasa iri. Ia mempunyai semangat disiplin sangat tinggi pada
persoalan menghargai waktu. Saat memulai proses penulisan Tafsir Al-Misbah, sebelum
sholat subuh-jam 03.30 dinihari sudah bangun dan menyediakan waktu untuk
menulis. Ia lakukan setiap harinya. Hasilnya hari ini kita bisa menikmati
aliran mata air kehidupan yang terekam pada karya nya yang agung.
Berbeda dengan Prof. Qurays, Buya Hamka mungkin nasib nya kurang beruntung. Hidup di masa perbedaan pandangannya dengan orde lama. Ia berhasil menghasilkan karya yang monumental berupa Tafsir Al-Azhar selama di Penjara sebanyak 28 juz. Sedangkan 2 juz nya -juz 18 dan 19- diselesaikan sebelum di Penjara. Tapi disisi lain ia mendapatkan keberuntungan pahala yang sangat besar. hingga kini sudah ada ribuan mahasiswa mulai dari S1 hingga S3 telah melakukan penelitian berkaitan dengan Tafsir Al-Azhar. Terkadang sesuatu yang terlihat tidak baik bagi manusia, namun baik bagi Allah, begitu juga baik bagi manusia belum tentu baik di hadapan-Nya.

Saya benar-benar iri. Seolah-olah dalam
pikirannya sudah tidak ada lagi rasa kesedihan. Seolah-olah. Tentu sebagaimana
manusia, kedua tokoh tersebut di atas tentu ada kesedihan. Namun yang sungguh
luarbiasa, energi kesedihan diubah dalam bentuk energi positif yaitu memberi
pencerahan peradaban melalui goresan pena nya. Kedua tokoh tersebut seolah-olah
tidak rela waktu habis begitu saja. Waktu sangat berharga. Hidup akan berlalu.
Kedua nya ingin meninggalkan dunia yang fana dengan karya dan amal yang baik. Mereka
benar-benar berusaha semaksimal mungkin pada dirinya sudah hilang rasa dengki,
benci, dan dendam. Sebab sifat-sifat tersebut hanya menghabiskan amal kebaikan
dan menutup perjumpaan manusia dengan Tuhan nya, sedangkan karya kebaikan akan
selalu dikenang sepanjang peradaban manusia. Bahkan karya nya jauh lebih
panjang umur nya daripada umur penulisnya. Jadi, hakikat panjang umur adalah
kebaikan dan karya yang selalu dikenang saat sang penulis atau orang berkarya
telah meninggalkan dunia yang fana.
Saya bisa belajar dari kedua tokoh tersebut
tentang makna kebesaran dan keagungan peradaban selalu lahir dari
manusia-manusia yang penuh dengan kejernihan hati, luasnya wawasan dan
kedalaman membaca rahasia-rahasia masa depan. Orang ahli hikmah mengatakan “weruh
sa’durungi winarah” mengetahui sebelum sesuatu itu terjadi. ilmu ini bukan
sulap, bukan juga ilmu sihir, tapi sebagian rahasia-rahasia Tuhan yang
dititipkan kepada hamba-hamba-nya yang agung. Sebab orang-orang sejenisnya ini
yang oleh Allah diberi tugas untuk menjadi khalifah di dunia ini.
Saya telah membaca beberapa tulisan karya
para tokoh lahir dari Nusantara. Ada beberapa ungkapan jayabaya sebagai
berikut: “kereta tanpa kuda” merupakan akan terjadi suatu masa akan datang
kendaraan sudah tidak ditarik kuda. Sekarang telah terjadi. revolusi industri
terjadi di inggris dan kemudian revolusi digital yang melanda saat sekarang ini
telah menunjukan kebenaran-kebenaran tersebut. kuda sebagai penarik kendaraan
telah diganti dengan kendaraan roda dua, empat, kereta api dan pesawat terbang.
Bahkan kini di china, sudah ada taksi atau kendaraan tanpa perlu supir lagi.
Ada lagi kalimat “pasar hilang kumandangnya”, mempunyai arti pasar tradisional yang selalu ramai akan datang suatu masa menjadi sepi. Kini sudah mulai terasa, bangunan-bangunan pasar tradisional yang dibangun megah oleh pemerintah sudah mulai kosong. Era digital telah merubah semua itu. Manusia di era saat sekarang ini lebih memilih aplikasi untuk memasan sayur, lauk, dan sejenisnya tanpa perlu meninggalkan pekerjaan dan mengeluarkan tenaga atau biaya ke pasar tradisional. Era tradisional telah berubah menjadi era digital. Orang sudah mulai tidak atau paling tidak kurang mengenal orang lagi. Transaksi lewat digital. Kadang tidak saling kenal, tapi merasa kenal. Tercipta masyarakat yang sangat rapuh pondasi nilai-nilai keagungan. Rentan terjadi persahabatan dan rentan juga terjadi permusuhan seketika.

Jayabaya juga mengatakan “sedulur podo mangan sedulur” merupakan tanda ada perubahan ikatan batiniah di keluarga semakin luntur. Pada masa dulu yang katanya masa dimana orang susah mencari duit dan pekerjaan bisa merajut rasa kekeluargaan yang sangat kuat. Orang tua dulu mempunyai anak cukup banyak. Sang ibu terkadang harus membagi nasi agar semua bisa sarapan atau makan meskipun dengan segala keterbatasan. Mereka sangat akur. Hingga kemudian anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi sukses. Saat meraih kesuksesan, nilai-nilai kekeluargaan pun tetap terjaga dengan baik. Orang tua masih menyayangi anak-anak nya, sebaliknya anak-anak nya pun selalu memulyakan orang tua nya dengan senantiasa memanjatkan doa-doa kebaikan setelah sholat lima waktu.
Selain Jayabaya, tentu saja banyak orang arif
yang mempunyai mata batin tajam terhadap perubahan fenomena masyarakat lahir
dari bumi pertiwi Indonesia. para ulama pesantren pernah mengatakan akan masa muncul
suatu zaman orang sedikit ilmu agama nya, namun sumrambah ahli ceramah. Kini, kita
bisa menyaksikan sama-sama semua orang bisa menjadi penceramah dan langsung
oleh netizen dipanggil dengan sebutan “ulama”.
Diantara ulama yang sering dianggap
kontroversi dan nyleneh pernyataan-pernyataannya yaitu Abdurrahman Wahid -Gus
Dur. Suatu hari saat ia sedang dirawat di Rumah Sakit, dan saat itu kondisi
negara dan bangsa sedang kacau. Para tokoh saat itu diskusi politik. Siapa gerangan
pengganti Soeharto, Gus Dur yang sedang dirawat langsung mengatakan: “Saya
nanti yang akan menjadi presiden pengganti Soeharto”. Semua yang di Rumah Sakit
menganggap ini sebagai gurauan atau pengaruh demam nya yang belum sembuh. Kenyataan
terbukti, Gus Dur menjadi presiden RI ke-4.
Mungkin yang kelihatannya lucu yang membuat
tertawa masyarakat dan menjadi geram DPR ketika Gus Dur mengatakan “DPR Kayak
Taman Kanak-Kanak”. Itu ucapan yang sangat berani, tapi benar. Gus Dur sudah
lama meninggalkan kita, tapi masyarakat pun mulai melihat kenyataan bahwa ada
regulasi-regulasi yang harus dibenahi berkaitan dengan persyaratan menjadi
seorang anggota dewan di masa mendatang. para ahli hukum dan orang-orang bijak
mulai menyuarakan arti penting pembenahan tersebut agar dimasa mendatang para
anggota DPR benar-benar berkualitas secara administrasi dan subtansi.
Entah kenapa hari-hari ini -terutama pasca
perang israeil-iran- sering muncul di Tik-Tok pidato pemimpin tertinggi Negara
Iran Ayatollah Ali Khaimeni. Diantara kalimat yang sangat menyejukan : “Tugas
kita yang diwariskan oleh Nabi Muhammad senantiasa terus berbuat baik dengan
tetap menjunjung tinggi akhlak-akhlak nya. Kita akan terus memperbaiki alam
semesta ini meskipun kita harus rela mengorbankan jiwa kita seperti Sayidina
Husein di Padang Karbala. Kebaikan yang kita perjuangkan harus dengan jiwa yang
suci. Sebab visi kita sedang memperkenalkan ajaran yang agung, yaitu Islam”.
Ada lagi ucapan yang sangat menggetarkan
jiwa dari nya kurang lebih begini:”tidak ada istilah sunni-syi’ah saat sekarang
ini. Orang-orang di luar sana sengaja membenturkan kita atas nama kebenaran dan
kebebasan dengan keuntungan untuk mereka dan kerugian untuk kita. umat Islam
harus rukun dan terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri dengan tetap
menjaga persatuan diantara sesama muslim”.
Saya senang mendengar pidato nya. Pancaran
wajah nya menunjukan keteguhan hati, kebersihan pikiran dan jelas arah masa
depannya. Ucapannya sederhana, tapi bernas, jauh dari nafsu duniawi dan
mengingatkan masa depan yang sangat panjang yaitu akherat. Saya kadang berfikir
seorang diri, betapa kotor diriku ini. Nafsu-nafsu duniawi terlalu kental
mengalahkan nafsu ukhrawi. Saya kadang seperti seorang diri yang berada di
padang tandus. Kanan kiri terasa panas dan penuh debu menyesakan dada. Meskipun
demikian, saya harus tetap berusaha berbuat sekecil apapun agar mata air
kehidupan jangan sampai padam. Sebab ia harapan terbesar untuk menciptakan kehidupan
lebih bermakna.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874