Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Setiap Orang Punya Kesempurnaan



Minggu , 24 Agustus 2025



Telah dibaca :  466

Suatu hari Nabi Muhammad duduk seorang diri. Ada rasa kesepian pada dirinya. Ada sesuatu yang hilang pada dirinya. Seorang Perempuan yang sangat dicintai telah meninggalkannya selama-lamanya. Perempuan itu adalah Khadijah, seorang istri yang agung, mulia dan selalu setia dalam suka dan duka.

Hal ini membuat Aisyah cemburu. Ia sangat pencemburu. Seluruh kisah keindahan masa lalu Khadijah dengan segepok argumentasi yang disampaikan oleh nabi, ia tetap menolaknya. Aisyah menganggap Khadijah sebagai perempuan tua yang kalah kecantikan, kecerdasan, dan yang lebih nyata ia lebih muda dari nya.

Nabi tidak menerima argumentasinya. Menurut Nabi, selain kelebihan Khadijah yang telah disebutkan di atas, ada kelebihan yang diberikan kepada Nabi yaitu telah memberikan keturunan.

Penulis bisa melihat makna kesempurnaan antara Nabi dan Aisyah berbeda-beda standarisasinya. Tentu saja tidak ada yang salah. Semua benar. Bahwa kesempurnaan dalam kehidupan memang tidak mempunyai definisi yang baku. Kesempurnaan hakikatnya adalah ketidaksempurnaan dari sudut pandang yang berbeda. Karena sifat kesempurnaan adalah sebuah presepsi dari data yang ia kumpulkan, maka setiap orang mempunyai hak untuk memberi definisi sesuai dengan presepsi masing-masing.

Kesempurnaan Khadijah karena melahirkan keturunan. Dari jalur nya, dzuriyah Nabi tersebar dimana-mana dan menjadi sumber kebaikan. Mereka laksana cahaya-cahaya yang selalu menerangi umat manusia dari kegelapan.

Kesempurnaan Aisyah dari kecerdasannya. Ia tidak mempunyai keturunan. Tapi ia mempunyai kekuatan akal pikiran yang bisa merekam ribuan hadist nabi Muhammad saw. dari nya hadist-hadist hukum tersebar dan menjadi bagian sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Ia tidak melahirkan keturunan, tapi ia telah membuktikan kesempurnaan dengan meninggalkan catatan-catatan ilmu yang akan terus memberi manfaat sepanjang masa.

Dari sisi keberkahan dan keagungan hidup, antara Khadijah dan Aisyah sama yaitu mampu menebarkan kebaikan melintasi zaman dan selalu menjadi juru terang seluruh umat manusia. Seluruh umat Islam telah merasakan cahaya-cahaya kehidupan dari mereka berdua.

Jadi, kesempurnaan sebenarnya kemampuan seseorang menyukuri segala kenikmatan yang telah Allah berikan kepada hamba-hamba nya. Allah senantiasa memberi kelebihan kepada setiap orang yang kadang tidak dimiliki oleh orang lain. Melalui kelebihan tersebut, sebagai jalan untuk mengaktualisasikan diri dan menjadikan dirinya lebih memberi manfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, negara nya dan agamanya.

Ada orang tidak mempunyai kaki duduk di pinggir jalan. Bagi orang-orang yang mempunyai kaki lengkap merasa dirinya lebih sempurna. Pandangan ini benar, karena ia melihat kesempurnaan dengan kelengkapan tubuh. Namun pertanyaannya, seberapa besar kebermanfaatan mereka?  Lebih dalam lagi seberapa besar rasa syukur atas pemberian Allah dengan apa yang ada pada dirinya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang kemudian menjadi makna kesempurnaan terseleksi dengan sendirinya.

Disini keadilan Allah. Manusia -apapun bentuk nya -adalah ciptaan Allah yang paling sempurna -ahsanitaqwiim. Kesempurnaan dalam pandangan Allah, bukan pandangan manusia. tidak ada karya Allah yang batil, yang tidak sempurna. Semua sempurna.

Namun kesempuraan tersebut tidak ada artinya sama sekali jika pada dirinya tidak mempunyai dua unsur penting yaitu iman dan karya -amalun sholihun. Iman sebagai bukti rasa syukur dan pengakuan manusia atas kehambaannya di hadapan Tuhan, dan prestasi adalah sebuah bukti tanggungjawab manusia mempergunakan segala fasilitas yang diberikan oleh Allah bisa memberi kemanfaatan untuk dirinya dan orang lain.

Dari dua indikator ini sebenarnya menjadi sangat sederhana memaknai kesempurnaan. Jika kita ingin sempurna dalam pandangan Allah maka yang perlu dilakukan yaitu berusaha semaksimal mungkin memberi kemanfaatan atau prestasi yang gemilang dalam bidang masing-masing. Jika orang lain mampu dengan cara nya untuk meraih prestasi, maka Tuhan memberi cara tersendiri pada diri kita untuk bisa berprestasi. Jika hidup selalu mencari jati diri untuk mengejar prestasi dalam rambu-rambu ilahiyah, maka hidup ini terasa indah. Kita mampu melihat orang lain dengan kesempurnaan yang beragam yang disatukan oleh Iman dan amal sholeh.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875