
Suatu hari Nabi Muhammad duduk seorang diri.
Ada rasa kesepian pada dirinya. Ada sesuatu yang hilang pada dirinya. Seorang Perempuan
yang sangat dicintai telah meninggalkannya selama-lamanya. Perempuan itu adalah
Khadijah, seorang istri yang agung, mulia dan selalu setia dalam suka dan duka.
Hal ini membuat Aisyah cemburu. Ia sangat
pencemburu. Seluruh kisah keindahan masa lalu Khadijah dengan segepok
argumentasi yang disampaikan oleh nabi, ia tetap menolaknya. Aisyah menganggap Khadijah
sebagai perempuan tua yang kalah kecantikan, kecerdasan, dan yang lebih nyata
ia lebih muda dari nya.
Nabi tidak menerima argumentasinya. Menurut
Nabi, selain kelebihan Khadijah yang telah disebutkan di atas, ada kelebihan
yang diberikan kepada Nabi yaitu telah memberikan keturunan.
Penulis bisa melihat makna kesempurnaan
antara Nabi dan Aisyah berbeda-beda standarisasinya. Tentu saja tidak ada yang
salah. Semua benar. Bahwa kesempurnaan dalam kehidupan memang tidak mempunyai
definisi yang baku. Kesempurnaan hakikatnya adalah ketidaksempurnaan dari sudut
pandang yang berbeda. Karena sifat kesempurnaan adalah sebuah presepsi dari
data yang ia kumpulkan, maka setiap orang mempunyai hak untuk memberi definisi
sesuai dengan presepsi masing-masing.
Kesempurnaan Khadijah karena melahirkan
keturunan. Dari jalur nya, dzuriyah Nabi tersebar dimana-mana dan
menjadi sumber kebaikan. Mereka laksana cahaya-cahaya yang selalu menerangi
umat manusia dari kegelapan.
Kesempurnaan Aisyah dari kecerdasannya. Ia tidak
mempunyai keturunan. Tapi ia mempunyai kekuatan akal pikiran yang bisa merekam
ribuan hadist nabi Muhammad saw. dari nya hadist-hadist hukum tersebar dan
menjadi bagian sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Ia tidak melahirkan
keturunan, tapi ia telah membuktikan kesempurnaan dengan meninggalkan
catatan-catatan ilmu yang akan terus memberi manfaat sepanjang masa.
Dari sisi keberkahan dan keagungan hidup,
antara Khadijah dan Aisyah sama yaitu mampu menebarkan kebaikan melintasi zaman
dan selalu menjadi juru terang seluruh umat manusia. Seluruh umat Islam telah
merasakan cahaya-cahaya kehidupan dari mereka berdua.
Jadi, kesempurnaan sebenarnya kemampuan
seseorang menyukuri segala kenikmatan yang telah Allah berikan kepada
hamba-hamba nya. Allah senantiasa memberi kelebihan kepada setiap orang yang
kadang tidak dimiliki oleh orang lain. Melalui kelebihan tersebut, sebagai
jalan untuk mengaktualisasikan diri dan menjadikan dirinya lebih memberi
manfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, negara nya dan
agamanya.
Ada orang tidak mempunyai kaki duduk di
pinggir jalan. Bagi orang-orang yang mempunyai kaki lengkap merasa dirinya
lebih sempurna. Pandangan ini benar, karena ia melihat kesempurnaan dengan
kelengkapan tubuh. Namun pertanyaannya, seberapa besar kebermanfaatan mereka? Lebih dalam lagi seberapa besar rasa syukur atas
pemberian Allah dengan apa yang ada pada dirinya. Pertanyaan-pertanyaan ini
yang kemudian menjadi makna kesempurnaan terseleksi dengan sendirinya.
Disini keadilan Allah. Manusia -apapun
bentuk nya -adalah ciptaan Allah yang paling sempurna -ahsanitaqwiim. Kesempurnaan
dalam pandangan Allah, bukan pandangan manusia. tidak ada karya Allah yang
batil, yang tidak sempurna. Semua sempurna.
Namun kesempuraan tersebut tidak ada
artinya sama sekali jika pada dirinya tidak mempunyai dua unsur penting yaitu
iman dan karya -amalun sholihun. Iman sebagai bukti rasa syukur dan
pengakuan manusia atas kehambaannya di hadapan Tuhan, dan prestasi adalah sebuah
bukti tanggungjawab manusia mempergunakan segala fasilitas yang diberikan oleh Allah
bisa memberi kemanfaatan untuk dirinya dan orang lain.
Dari dua indikator ini sebenarnya menjadi
sangat sederhana memaknai kesempurnaan. Jika kita ingin sempurna dalam
pandangan Allah maka yang perlu dilakukan yaitu berusaha semaksimal mungkin
memberi kemanfaatan atau prestasi yang gemilang dalam bidang masing-masing. Jika
orang lain mampu dengan cara nya untuk meraih prestasi, maka Tuhan memberi cara
tersendiri pada diri kita untuk bisa berprestasi. Jika hidup selalu mencari
jati diri untuk mengejar prestasi dalam rambu-rambu ilahiyah, maka hidup
ini terasa indah. Kita mampu melihat orang lain dengan kesempurnaan yang
beragam yang disatukan oleh Iman dan amal sholeh.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875