Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Si Walid dan Fenomena Sampah



Sabtu , 19 April 2025



Telah dibaca :  634

Kadang saya melihat youtube atau video-video pendek ada rasa kagum. Salah satunya yaitu seorang warga negara Indonesia dan  lulusan program doktor dari Rusia memilih menjadi pemulung. Ia berkeliling kota Blora dan memungut sampah-sampah di pinggir jalan dan di tempat-tempat sampah. Anda atau kita secara umum mungkin akan mengatakan begini:”Sayang sekali ya, jauh-jauh kuliah di luar negeri pulang malah menjadi pemulung”.

Ada penggalan kalimat yang saya kutip dari perkataannya :

“Saya itu manusia dan harus punya hakikat hidup. Hakikat saya itu menciptakan nilai lebih untuk memberi makan saya, memberi makan keluarga dan generasi muda. Semua kerja mulia tapi buat saya yang paling mulia adalah jadi pemulung,”

Sangat sulit mengambil keputusan tersebut. Tentu saja ada banyak pertimbangan memilih pekerjaan tersebut. Salah satunya karena persoalan politik dan perbedaan pandangan ideologi orang tersebut dengan pemerintah Indonesia pada masa nya.

Itulah politik. Jangankan perbedaan pandangan ideologi yang jelas-jelas berbeda yang akan melahirkan kebijakan, keputusan politik yang berbeda. AS dan Cina jelas berbeda ideologi. Kedua nya lagi gila-gilaan main tarif-tarif barang. Korban nya Indonesia, pokok nya anti AS, dan dekat dengan Cina digebuk. Tarif barang barang Indonesia yang tadinya 32 persen menjadi 47 persen. Indonesia seperti dua tetangga yang sama-sama baper. Dekat sini,sana marah. Dekat sana, sini marah. Untung bangsa Indonesia penyabar. Apa ini gara-gara dampak dari kampanye anti AS dan Israel?. Wallahu a’lam.

Apakah satu ideologi rukun. Tidak juga. Yang sama-sama satu ideologi saja, pun saling berantem. Jangankah satu ideologi, satu tim-sukes pun bisa berantem. Sedikit-sedikit berantem. Iya khan. Contoh nya banyak. Silahkan cari sendiri.

Beberapa hari yang lalu saya juga membaca ada seorang yang sudah bergelar doktor. Kampus bergensi menawarkan menjadi dosen. Ia malah tersinggung. Ia malah memilih pergi mancing. Katanya: “ Kerja dosen yang telah merenggut hobby mancing ku”.

Saya terus terang kalah dalam memahami makna hidup dari dua doktor tersebut di atas. Angkat tangan. Saya memang tidak melihat siapa mereka. Saya berpegang pada kalimat “Jangan kau lihat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang dibicarakan”. Salah satu prinsip kehidupan yang sangat bijaksana yaitu hidup kembali ke alam semesta. Maka, alam semesta ini harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Jika alam semesta di rawat, maka alam semesta akan memberi kebaikan kepada manusia.

Salah satu pemandangan yang sering terlihat di depan mata (jangan-jangan saya pun termasuk pelakunya) yaitu membuang sampah di sembarang tempat. Di pinggir jalan, di sungai, di parit-parit, selokan-selokan, tempat-tempat strategis lainnya terlihat sangat banyak tumpukan sampah-sampah. Siapa yang membuang. Siapa lagi kalau bukan manusia.

Ajaran Islam sering terdengar di mimbar-mimbar: “Kebersihan sebagian dari iman”. Ada juga ajaran yang berbunyi: “Allah maha indah dan menyukai hal-hal yang indah”. Banyak sekali pesan-pesan berkaitan tentang kearifan hidup menjaga alam semesta ini atau lingkungan ini agar terlihat indah, nyaman dan bersih dari sampah-sampah,bau nya dan pemandangannya.

Membahas tentang kebersihan jalan, selokan, sekolah, kantor, WC,pasar, mushola,masjid dan tempat-tempat yang mulia seolah-olah kurang keren dan menggairahkan. Para ustadz atau mubaligh mungkin sangat menikmati sekali ketika membahas persoalan surga, neraka, dan sirat yang lebih kecil dari rambut dibelah tujuh, serta bidadari-bidadarinya. Bahkan lebih heboh lagi, jika pengajiannya suka yang kontra. Jika satu “ngomong ini”, maka langsung dihantam itu salah dan yang benar harus “ngomong itu”. Ini salah, bid’ah, tidak dikerjakan nabi, itu benar dan sesuai dengan ajaran Nabi. Masyarakat akhirnya lupa bersih-bersih sampah, lebih sibuk menilai ibadah orang lain. Ibadah sosial lesu, malas dan lebih suka ibadah individual yang ingin mencari kenikmatan pintas model Si Walid.

Semakin kesini memang terlihat ajaran Islam seolah-olah sebatas urusan ke-Walid-an semata. Itu yang dilihat pada media sosial. Kenikmatan jalan pintas. Ajaran Islam benar-benar sedang dibonsai pada persoalan-persoalan bersifat ibadah individual semata. Persoalan ibadah bersifat sosial politik, ekonomi dan hal-hal yang telah disebutkan di atas masih pada tataran trial and error, coba dan salah.

Perlu sekali adanya pendekatan-pendekatan kajian agama dalam dimensi lingkungan hidup, ketahanan pangan, kesehatan, pertanian, perikanan dan bisnis serta hal-hal yang berkaitan langsung dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga dengan cara ini, Ajaran Islam bukan sebatas teoritis, tetapi memang nyata dan mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika pendekatan-pendekatan tersebut terlalu luas, mungkin disederhanakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sama-sama membersihkan sampah dan peduli terhadap keberadaan sampah di sekitar kita. Salah satu cara untuk mengurangi yaitu masing-masing membuat tempat pembakaran sampah yang ada atap nya. Sehingga saat musim hujan, sampah-sampah keluarga tidak harus “Tenteng dan dibuang di pinggir jalan”. Cukup dibakar di lokasi sekitar rumah sendiri.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871