
Kadang saya melihat youtube atau
video-video pendek ada rasa kagum. Salah satunya yaitu seorang warga negara Indonesia
dan lulusan program doktor dari Rusia
memilih menjadi pemulung. Ia berkeliling kota Blora dan memungut sampah-sampah
di pinggir jalan dan di tempat-tempat sampah. Anda atau kita secara umum
mungkin akan mengatakan begini:”Sayang sekali ya, jauh-jauh kuliah di luar
negeri pulang malah menjadi pemulung”.
Ada penggalan kalimat yang saya kutip dari perkataannya :
“Saya itu manusia dan harus punya hakikat
hidup. Hakikat saya itu menciptakan nilai lebih untuk memberi makan saya,
memberi makan keluarga dan generasi muda. Semua kerja mulia tapi buat saya yang
paling mulia adalah jadi pemulung,”
Sangat sulit mengambil keputusan tersebut. Tentu saja ada banyak pertimbangan memilih pekerjaan tersebut. Salah satunya karena
persoalan politik dan perbedaan pandangan ideologi orang tersebut dengan
pemerintah Indonesia pada masa nya.
Itulah politik. Jangankan perbedaan
pandangan ideologi yang jelas-jelas berbeda yang akan melahirkan kebijakan, keputusan
politik yang berbeda. AS dan Cina jelas berbeda ideologi. Kedua nya lagi
gila-gilaan main tarif-tarif barang. Korban nya Indonesia, pokok nya anti AS,
dan dekat dengan Cina digebuk. Tarif barang barang Indonesia yang tadinya 32 persen
menjadi 47 persen. Indonesia seperti dua tetangga yang sama-sama baper. Dekat sini,sana
marah. Dekat sana, sini marah. Untung bangsa Indonesia penyabar. Apa ini
gara-gara dampak dari kampanye anti AS dan Israel?. Wallahu a’lam.
Apakah satu ideologi rukun. Tidak juga. Yang
sama-sama satu ideologi saja, pun saling berantem. Jangankah satu ideologi,
satu tim-sukes pun bisa berantem. Sedikit-sedikit berantem. Iya khan. Contoh nya
banyak. Silahkan cari sendiri.
Beberapa hari yang lalu saya juga membaca
ada seorang yang sudah bergelar doktor. Kampus bergensi menawarkan menjadi
dosen. Ia malah tersinggung. Ia malah memilih pergi mancing. Katanya: “ Kerja
dosen yang telah merenggut hobby mancing ku”.
Saya terus terang kalah dalam memahami
makna hidup dari dua doktor tersebut di atas. Angkat tangan. Saya memang tidak melihat siapa
mereka. Saya berpegang pada kalimat “Jangan kau lihat siapa yang berbicara,
tapi lihat apa yang dibicarakan”. Salah satu prinsip kehidupan yang sangat bijaksana
yaitu hidup kembali ke alam semesta. Maka, alam semesta ini harus dirawat
dengan sebaik-baiknya. Jika alam semesta di rawat, maka alam semesta akan memberi
kebaikan kepada manusia.
Salah satu pemandangan yang sering terlihat
di depan mata (jangan-jangan saya pun termasuk pelakunya) yaitu membuang sampah
di sembarang tempat. Di pinggir jalan, di sungai, di parit-parit, selokan-selokan,
tempat-tempat strategis lainnya terlihat sangat banyak tumpukan sampah-sampah. Siapa
yang membuang. Siapa lagi kalau bukan manusia.
Ajaran Islam sering terdengar di
mimbar-mimbar: “Kebersihan sebagian dari iman”. Ada juga ajaran yang
berbunyi: “Allah maha indah dan menyukai hal-hal yang indah”. Banyak sekali
pesan-pesan berkaitan tentang kearifan hidup menjaga alam semesta ini atau
lingkungan ini agar terlihat indah, nyaman dan bersih dari sampah-sampah,bau
nya dan pemandangannya.
Membahas tentang kebersihan jalan, selokan,
sekolah, kantor, WC,pasar, mushola,masjid dan tempat-tempat yang mulia seolah-olah
kurang keren dan menggairahkan. Para ustadz atau mubaligh mungkin sangat
menikmati sekali ketika membahas persoalan surga, neraka, dan sirat yang lebih
kecil dari rambut dibelah tujuh, serta bidadari-bidadarinya. Bahkan lebih heboh
lagi, jika pengajiannya suka yang kontra. Jika satu “ngomong ini”, maka
langsung dihantam itu salah dan yang benar harus “ngomong itu”. Ini salah, bid’ah,
tidak dikerjakan nabi, itu benar dan sesuai dengan ajaran Nabi. Masyarakat akhirnya
lupa bersih-bersih sampah, lebih sibuk menilai ibadah orang lain. Ibadah sosial
lesu, malas dan lebih suka ibadah individual yang ingin mencari kenikmatan
pintas model Si Walid.
Semakin kesini memang terlihat ajaran Islam
seolah-olah sebatas urusan ke-Walid-an semata. Itu yang dilihat pada
media sosial. Kenikmatan jalan pintas. Ajaran Islam benar-benar sedang dibonsai
pada persoalan-persoalan bersifat ibadah individual semata. Persoalan ibadah bersifat sosial politik,
ekonomi dan hal-hal yang telah disebutkan di atas masih pada tataran trial
and error, coba dan salah.
Perlu sekali adanya pendekatan-pendekatan
kajian agama dalam dimensi lingkungan hidup, ketahanan pangan, kesehatan,
pertanian, perikanan dan bisnis serta hal-hal yang berkaitan langsung dalam
kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga dengan cara ini, Ajaran Islam bukan
sebatas teoritis, tetapi memang nyata dan mampu diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Jika pendekatan-pendekatan tersebut terlalu
luas, mungkin disederhanakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sama-sama
membersihkan sampah dan peduli terhadap keberadaan sampah di sekitar kita. Salah
satu cara untuk mengurangi yaitu masing-masing membuat tempat pembakaran sampah
yang ada atap nya. Sehingga saat musim hujan, sampah-sampah keluarga tidak
harus “Tenteng dan dibuang di pinggir jalan”. Cukup dibakar di lokasi
sekitar rumah sendiri.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871