Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Silang-Pendapat tentang Lail Al-Qadr



Selasa , 04 April 2023



Telah dibaca :  386

Berkaitan dengan kisah peritiwa Lail Al-Qadr Yaitu Q.S. Al-Qadr Ayat 1- 5 yaitu, “Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur’an pada lailatul qadr. Tahukah kamu apa lail al-qadr?. Lail Al-Qadr adalah malam yang lebih baik dari dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahtera malam itu sampai terbit fajar”.

Dalam Tafsir Al-Misbah, M.Quryis Sihab mengandung makna pertama wahyu Allah turun pertama kali turun pertama kali di malam Al-Qadr yaitu surat Al-Alaq Ayat 1-5. Setelah itu Al-Qur’an turun secara Mutawatir atau berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Penggunaan kata ganti “ انرلنه” mempunyai arti pengagungan terhadap kalam Allah, dan menisyaratkan bahwa Al-Qur’an selalu hadir dalam hati serta pikiran pasangan bicaranya.

Syaikh Farra’ mengatakan ayat, وما ادرئك ما ليلة القدر adalah ayat bentuk pemberitahuan yang akan dijawab sendiri oleh Allah s.w.t melalui ayat berikut ini, ليلة القدر خير من الف شهر. Arti dari ayat ini bahwa Allah telah menjelaskan tentang kedudukan malam Lail Al-Qadr sebagai malam mulia dan penuh keagungan. Pada malam itu, semua kebaikan dicurahkan ke seluruh penjuru muka bumi, dan banyak fadilah tersebut tidak akan ditemukan di hari dan bulan selain malam Lail Al-Qadr.

Apa maksud kebaikan tersebut? Abu Aliyah mengatakan bahwa sebuah kebaikan seseorang yang dilakukan pada malam Lail Al-Qadr akan dilipatgandakan pahalanya sebanyak 1000 bulan. Namun ulama lain beranggapan makna “min alfi syahr” adalah sepanjang hidup. Sebab orang Arab mengartikan sesuatu yang tak terbatas menggunakan kata tersebut.

Dalam Tafsir Al-Qurtubi, Ibnu Mas’ud meriwayatkan tentang Nabi suatu hari bercerita tentang seorang pemuda muslim pada masa Bani Israel telah berperang sepanjang hidupnya selama 1000 bulan. Para sahabat mendengar hal tersebut terkagum-kagum atas amalan jihad yang luarbiasa. Lalu Allah S.W.T menurunkan Surat Al-Qadr tadi.

Di dalam Kitab Al Muwatha, Nabi Muhammad telah diberitakan bahwa umur umat-umat nya pendek-pendek. Ini berbeda dengan umat-umat sebelumnya yang panjang-panjang sehingga bisa beramal kebaikan cukup banyak. Nabi pun khawatir akan hal ini. Atas kekhawatirannya, turun Surat Al-Qadr untuk menjawab kekhawatiranya.

Berkaitan dengan waktu, apakah Lail Al-Qadr masih ada saat sekaraang ini atau hanya ada pada masa Rasulullah ?  pertama, para ulama mengatakan jatuh malam Lail Al-Qadr jatuh pada tanggal 27 ramadhan. Dalil nya riwayat Zir Bin Hubiasy; aku pernah berkata kepada Ubai Bin Ka’ab:Sesungguhnya saudaramu, Abdullah bin Mas’ud, mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan malamnya dalam satu tahun makapasti ia akan mendapatkan Lail Al-Qadr.” Lalu Ubai berkata, semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman ia tentu mengerti bahwa Lail Al-Qadr itu terjadi pada sepuluah malam terakhir di bulan ramadhan, dan tepatnya malam keduapuluh tujuh. Kedua, para ulama sebagaimana mengikuti pendapat Abu Hurairah bahwa Lail Al-Qadr terjadi di bulan Ramadhan dengan tidak menentukan malamnya. Ketiga, pendapat Abu Razin, Al Uqaili bahwa Lail Al-Qadr itu terjadi pada malam pertama bulan Ramadhan. Sedangkan Al Hasan, Ibnu Ishak, dan Abdullah bin Zuhair berpendapat Lail Al-Qadr terjadi pada malam ke tujuh belas. Keempat, namun pendapat yang lebih diunggulkan oleh kebanyak para ulama terjadi antara sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Ini pendapat dari Imam Malik, Imam Syafi’i, Al Auzai, Ibn Tsaur, dan Imam Ahmad.

Berkaitan dengan keutamaan malam Lail Al-Qadr; pertama, pada malam ini kebaikanya sebanding dengan seribu bulan. Kedua, dosa-dosa yang telah lalu mendapatkan ampunan dari Allah s.w.t. sebagai hadist dalam Kitab Shoheh Bukhori-Muslim berbunyi,”Barangsiapa yang menghidupkan malam Lail Al-Qadr karena dasar iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa masa lalunya diampuni oleh Allah s.w.t.”

Pendekatan Filosofis

Beberapa Ahli Tafsir dan ahlu mukasyafah telah membahas Lail Al-Qadr pada pendekatan ritual. Pendekatan ini mengajarkan tentang pentingnya pensucian diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan mengisi perbuatan-perbuatan baik. Sikap masa lalu para hamba Allah yang masa bodoh atau asal-asalan dalam beribadah diharapkan mampu meningkatkan kualitas ketaqwaan melalui perbaikan manajemen spiritual pada bulan ramadhan. Buah dari perbaikan yaitu balasan kebaikan dengan perbandingan satu malam amal sholeh kualitasnya sama dengan seribu bulan. Ini merupakan pendekatan tentang pentingnya hidup mempunyai tujuan yang jelas yaitu mengharapkan ridha Allah s.w.t.

Namun dari sisi kedudukan manusia sebagai Khalifah di Dunia, Surat Al-Qadr juga sangat menarik sekali apabila ditinjau dari aspek sosial. Pesan-pesan bisa dirujuk dari beberapa kata kunci yang ada, yaitu: kata Lail Al-Qadr, khairun min alfi sahr, dan salaamun. Pertama, Lail Al-Qadr adalah malam penentuan segala urusan manusia. Penentuan urusan manusia berkaitan turunan aturan-aturan tuhan tentang tatacara hidup yang benar berkaitan dengan ibadah dan muamalah. Ini penting. Walaupun manusia bisa melakukan segala ibadah dan kegiatan sosial tanpa aturan Tuhan, Mereka bisa mencipitakan dengan akal-pikiran dan kekuasaan menciptakan ritual dan sistem kehidupannya. Raja Fir’aun, Raja Namrud dan sejenisnya adalah contoh sekelompok para kaum penguasa dan pemodal membangun sistem kehidupan; mulai dari cara ibadah dan sistem sosial. Bahkan orang-orang Arab kuno pun menggunakan sistem ini. Catatan sejarah sudah ada orang dan masyarakat yang telah membuat agama dan segala sistem kehidupan telah dibuat sedemikian rupa. Sehingga masyarakat melihat mereka adalah juru selamat dan wajib disembah dan dijadikan Tuhan.

Padahal sistem tersebut adalah sistem kreasi manusia. Bisa salah dan benar. Namun terlepas dari benar dan salah, atau manfaat dan tidak manfaat dari sistem kehidupan tersebut ada suatu kekurangan yaitu pada sisi nilai ibadah. Berbeda dengan sistem kehidupan yang lahir dari ajaran agama Islam. Pada ajaran Islam, sistem kehidupan lahir dari pandangan kalimat tauhid, yaitau tidak ada Tuhan selain Allah. Ketika pandangan ini terpatri dalam hati, maka segala perbuatan tersebut menjadi berkualitas. Walaupun hasil dari ijtihad-ijtihad sosial berbeda-beda. Namun karena rujukan nya pada paham tauhid, seluruh ijtihadnya bermuara pada sinar-sinar ilahiyah. Ini yang menjadikan malam tersebut menjadi penentu perbedaan dari malam-malam sebelumnya yang landasan berfikir sebatas pada rasional manusia secara mutlak. Kedua, pengertian atau makna alfi syahr adalah majaz tentang kualitas malam Lail Al-Qadr. Malam tersebut adalah malam “pembatas” dari peraturan dunia dan peraturan agama. Sebelum malam tersebut kehidupan manusia berdasarkan kekuatan rasional. Segala peraturan manusia sebelum turunnya Al-Qur’an merupakan peraturan-peraturan kehidupan hasil buah pikir manusia. Sehingga kedudukanya porfan, terbatas pada nilai-nilai kehidupan semata. Semua bisa berubah sejalan perubahan waktu dan orang-orang yang berserikat di dalamnya. Kita bisa membaca sejarah perubahan sistem-sistem kehidupan dalam bidang ideologi di berbagai belahan dunia. sejarah yang menarik seperti peristiwa runtuhnya tembok berlin tahun 1989. Jerman dibagi dua dan dibatasi oleh Tembok Berlin. Jerman Timur penganut sosialis. Ia bagian dari blok Uni Soviet. Sedangkan Jerman Barat bagian dari blok Amerika Serikat. Kedua Negara ini telah menjadi laboratorium hasil buah pikir manusia. Ketika Jerman Barat menerapkan ideologi kapitalis di Jerman Barat, ternyata mampu meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan Jerman Timur, justru mengalami bencana ekstrem dalam bidang ekonomi dan merambat pada buruknya politik internal. Mereka tidak kuat. Akhirnya mereka melakukan gerakan penyatuan Jerman dengan membongkar Tembok Berlin. Ideologi sosialis Jerman Timur hancur, dan berganti menjadi ideologi kapitalis mengikuti Jerman Barat.

Ideologi tersebut adalah buah pikir manusia. Ia berhenti sampai pada puncak kejayaan dunia dan berkisar sebatas persoalan tersebut. Ketika Tuhan menurunkan Al-Qur’an, maka ada perubahan besar dalam sistem kehidupan manusia; dari sistem hasil pemikiran manusia murni menuju sistem pemikiran manusia yang mendapat cahaya dari firman-firman Allah S.W.T. Jika sebelum turun Al-Qur’an hanya sebatas catatan sejarah dunia, maka setelah Al-Qur’an catatan peradaban sampai di hadapan Allah S.W.T. Ibarat sebuah kebaikan yang telah dilakukan selama 1000 bulan akan habis di dunia, akan kalah kualitasnya oleh ibadah yang dilakukan pada malam Lail Al-Qadr. Kekalahan ini karena satu malam tersebut mendapat pengakuan dari Allah sebagai bagian dari ibadah dan amal sholeh. Jadi agama telah menggeser status manusia menjadi lebih bermartabat, yaitu dari hamba yang semata-mata mengejar kejayaan dunia berubah menjadi hamba yang mengejar Ridha-Nya. Bisa jadi proses kreasi kehidupan sama, tapi ruh yang melatarbelakangi yang melahirkan nilai kualitas nya berbeda.Ketiga, salamun adalah wujud dari perubahan sistem kehidupan manusia. Ketika malam Lail Al-Qadr sebagai malam pembatas dari materialisme dan berdasarkan Islam, Tuhan menutup firman-Nya dengan kalimat “salam” sebagai pengakuan atas segala catatan kebaikan manusia mulai pada malam Lail Al-Qadr. Ketika seorang sudah bersyahadat dan beramal, maka statusnya segala aktivitasnya telah mendapat sinar-sinar ketuhanan yang secara kualitasnya lebih baik dari 1000 bulan. Amalan-amalan yang seperti ini yang akan berjumpa dengan Allah di Hari Kiamat nanti dan masuk ke dalam Surga.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4579


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895