
Rabu sampai jum’at, saya dijadikan “pager”
oleh para penggede STAIN. Tidak boleh bergerak. Tapi boleh bergerak-gerak. Jadi
plh ketua. Harus nengok-nyortir berkas masuk, dan lain-lain. Indonesia memang
termasuk pengguna kertas cukup besar di dunia. Ma’lum, bahan baku masih
melimpah. Jadi, isinya berkas menggunung. Semakin hari semakin tinggi. Kata Gus
Dur” Jika Amerika Serikat bisa ke bulan naik pesawat, Indonesia bisa ke bulan
manjat arsip”.
Saya harus menerima. Semua memang lagi ada
tugas. Saya yakin untuk kebaikan institusi ke depan. Semoga semua menjadi amal
sholeh.
Telpon sering berdering. Dua HP, bunyi
semua. Kadang saya biarkan. Terutama telpon mahasiswa yang “mbulet”,
yang tanya seperti orang bingung mencari Alamat rumah. Saya biarkan saja
berdering. Tapi kalau istri menelpon,tetap saya angkat. Bagiku, istri statusnya
sama dengan kapolda. Harus diangkat. Sekali tidak diangkat, bisa kena pecat.
Mas Mansur sibuk nyodorkan piagam pbak yang
harus segera ditanda-tangani. Belum selesai, kawan-kawan prodi di jurusan
syariah dan ekonomi islam mengajak ke Baznas. Saya menyanggupi. Ma’lum, hari
ini saya menjadi orang tua mereka. Ma’lum, orang tua yang terpenting
kehadirannya, doa restu. Nanti yang kerja, MoU, MoA dan apa istilah-istilah
lain kawan-kawan kajur dan prodi yang ahlinya.
Persoalan MoU sebenarnya sudah mulai ada progres
positif. Mulai bulan mei-agustus sudah ada beberapa MoU dengan perguruan
tinggi, baik jauh maupun dekat. Swasta maupun negeri. Sekitar 6-7 MoU yang
masuk. Memang ada beberapa perguruan tinggi sampai hari ini belum memberi
balasan MoU. Penyebabnya persoalan teknis dan persoalan sinyal HP kurang baik. Banyak
gangguan. Semakin banyak jual pulsa HP dengan beragam jenis pulsa, malah kadang
semakin banyak gangguan. Semakin banyak dokter, bukan semakin sehat, malah
semakin banyak orang sakit. Ironisnya, dokter nya yang sakit.
Sekitar jam 09.30 saya sampai di Kantor Baznas Bengkalis.Alhamdulillah langsung disambut oleh para pimpinan baznas antara lain: Ustadz Ismail.S.Sos dan Ustadz Riman Hambali, ME. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, acara dimulai. Ustadz Ismail, memberi sambutan sangat bagus. Rapi, terstruktur dan subtansinya sangat mengena. Kalau jadi jurkam sangat cocok.
Giliran saya memberi sambutan. Tidak banyak. Intinya penting menjalin silaturahim lahir dan batin. Mengacu kepada hadist nabi, silaturahim yang model begitu yang mendatangkan rezeki dan memperpanjang umur. Model silaturahim seperti itu juga, yang mengurangi resiko stress, marah, dan gampang emosi. Sebab niatnya sebatas menjalankan amanah ibadah dalam wujud muamalah.

Lhoo kenapa sekarang banyak orang
marah-marah, apalagi musim pilkada. Sebab orientasinya dibatasi pada tataran
lahir. Yang nampak-nampak saja. Akibatnya, ketika yang seharusnya “nampak”, menjadi
“tidak nampak”, maka penampakan wajah dan perilakunya menjadi sangat
semrawut. Hati terus bergejolak. Program kehidupanya menjadi tidak teratur. Itu
yang pernah saya alami ketika pernah menjadi tim-sukses, tapi tidak sukses. Duluuuuu…
Saya kira manusia sebagai al-insan
khayawanu natiq, silaturahim merupakan suatu keharusan. Ketika anda nanti menjadi
gubernur, bupati, kadis dan apa saja, maka yang perlu diingat-ingat kecerdasan
silaturahim harus dijabarkan pada turunan-turunannya seperti negosiator,
konseptor, provokator dalam pengertian positif, dan tidak kalah penting
kemampuan mengambil suatu keputusan atau eksekutor.
Anda mungkin sebagai manusia biasa sering
canggung menghadapi orang-orang yang berada ditingkat yang lebih tinggi
statusnya. Sistem administrasi memang tidak bisa dihindari. Anda tidak boleh sok
hebat di hadapan bupati ketika anda hanya sebatas kepala sub-bid di bagian
dinas tertentu. Ada unggah-ungguh dan aturan administrasi yang
mengaturnya. Tapi anda mempunyai strategi yang bisa dilakukan saat anda di luar
tugas kedinasan. Dan ini yang sering dilakukan oleh para negosiator yang
berhasil menjadi eksekutor yang cepat.
Saat saya ingin bertemu dengan bupati atau gubernur, maka saya harus mengikuti jadwal protokoler. Antri jam 07.00, bisa ketemua jam 17.00. itu wajar. Namun anda harus belajar kepada orang-orang yang sudah makan asam garam agar anda tidak perlu menghabiskan waktu di depan kantor. Anda harus belajar “melipat waktu”, sehingga 12 jam bisa menjadi 1 jam sudah cukup. Itu bisa. Leluhur kita telah mengajarkan ilmu lipat bumi kok.

Selanjutnya, ketika anda merasa canggung,
maka tanamkan dalam hati bahwa semua manusia itu sama. Islam mengajarkan
demikian. Takwa yang membedakan. Itu sebabnya, salah satu bentuk takwa yaitu
senantiasa mendoakan kebaikan kepada siapapun, termasuk kepada musuh anda. Ketika
anda sudah meluber rasa mahabah kepada Allah dan meluber rasa
cinta kepada sesama manusia, maka pada saat itu anda mempunyai kekuatan
melakukan silaturahim tanpa batas dengan siapa saja.
Apakah anda ingin mencoba, silahkan. Trik yang
penulis tuangkan dalam tulisan ini warisan dan rangkuman dari orang-orang yang pernah
melakukannya. Coba saja. Hitung-hitung sebagai persiapan pengembangan pribadi
dan persiapan masa datang. “mana tahu”, anda adalah orang-orang yang mendapat amanah
sebagai pimpinan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875