Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Silaturahim UIS Malaysia Ke STAIN Bengkalis



Rabu , 15 Mei 2024



Telah dibaca :  739

Selasa (14 Mei 2024) STAIN Bengkalis mendapat tamu dari Universitas Islam Selangor (UIS) Malaysia. Sekitar jam 13.30 mereka telah sampai di kampus STAIN Bengkalis. Saya, Mas Jarir dan beberapa dosen menunggu di Gedung SBSN. Rombongan tersebut terlebih dulu berkunjung ke MAN 1 dan Polbeng. Setelah dari STAIN, informasinya ke STIE Syariah Bengkalis.

Rombongan dari UIS antara lain: Dr. Maad Ahmad, Dr. Mohd Faeez Bin Ilias, En. Muhammad Firadus bin Muhammad Sabri dan En. Muhammad Adham Bin Hambali. Ada beberapa agenda penting dari UIS yaitu: pertama, Lembaga Pendidikan tersebut akan mempromosikan program perguruan tinggi ke berbagai Lembaga Pendidikan berkaitan dengan program studi unggulan yang memungkinkan lulusan SLTA dan Perguruan Tinggi bisa melanjutkan ke jenjang Pendidikan tinggi sarjana dan pasca sarjana. Kedua, UIS membuka peluang Kerjasama antara berbagai perguruan tinggi baik perguruan tinggi agama, umum, negeri maupun swasta dalam bidang Tridarma Perguruan Tinggi.

Ada hal-hal yang menarik dalam pertemuan kedua Lembaga tersebut. Dari STAIN, Dr. Abu Anwar membuka kata kunci bahwa pertemuan ini merupakan pertemuan keluarga besar. Hal ini mengingat sejarah, baik Malaysia dan Bengkalis pernah menjadi satu kerajaan besar dan sama-sama satu rumpun melayu. Sedangkan Dr. Ahmad dari UIS membukan sambutan dengan kata kunci yang sangat indah,”kami datang ke STAIN mempunyai tujuan silaturahim”. Kedua nya sebenarnya mempunyai kata kunci sama, dan seolah-olah mengatakan bahwa “kami bukan orang lain, kami adalah keluarga besar”. Jadi wajar apabila antara keluarga besar harus senantiasa silaturahim agar mendapatkan keberkahan dari kedua belah pihak. Jika meminjam sabda Nabi, “Silaturahim selain memperpanjang umur juga menambah rezeki”.

Apa yang dimaksud "memperpanjang umur" dari hadist tersebut, apakah berkaitan dengan bertambah umur secara kuantitas atau kualitas. penulis tidak mengetahui, hanya nabi yang mengerti makna hadist tersebut. Penulis hanya bisa menduga-duga atau mengartikan maksud tersebut melalui berbagai pendekatan. Pola menemukan makna atau arti hadist (bahkan al-qur’an sekalipun) dengan pendekatan menafsiri dalam beragam faktor. Sebab watak Bahasa Arab adalah majazi yang mempunyai kekayaan makna, bahkan  satu kata bisa mempunyai sepuluh makna. Hal tersebut membuka peluang bagi penulis untuk memahami hadist dari berbagai pendekatan dengan melakukan munasabah dengan beberapa hadist  atau ayat-ayat al-qur’an berkaitan dengan persoalan tersebut.

Pertemuan antara UIS dan STAIN sebagai jalan untuk memperpanjang umur jika ditinjau dari makna majazi bahwa umur manusia itu terletak pada “nama baik”. Ada kalimat lama yang indah, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”.

Baik gajah maupun harimau dilihat bukan pada kehebatan dan kekuatannya mampu mengangkat benda yang sangat berat atau kekuatan lari dengan ratusan kilo meter, tapi dilihat pada keunikan pada bagian tubuhnya yang bisa dimanfaatkan setelah kematiannya.  Gajah yang sering dicari adalah gadingnya. Sebab ia mempunyai nilai jual tinggi digunakan untuk beragam asesoris, cenderamata, hiasan dan sebagainya. Harimau terletak pada kulitnya yang tebal dan kuat dan sangat besar nilai ekonomisnya. Kedua hal tersebut yang bisa dikenang oleh manusia saat ia menjadi hiasan dan dipajang di dinding rumah.

Sedang seluruh tubuh manusia tidak ada yang istimewa. Gigi dan kulit nya akan hancur lebur ketika manusia meninggal dunia, kecuali jika diawetkan. meskipun bisa diawetkan, mayat manusia tidak bisa menjadi hiasan  di ruang tamu. Bahkan ia akan menimbulkan presepsi negatif orang lain terhadap tuan rumah tersebut dengan memberi tuduhan-tuduhan sebagai keluarga penganut ilmu hitam, dukun santet, atau hilang kewarasannya karena ditinggal oleh orang yang sangat dicintainya. Dari fakta tersebut, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa secantik apapun atau seganteng apapun manusia saat meninggal dunia lalu dibalsem jadi tidak busuk, dan dijadikan hiasan di ruang tamu, maka orang-orang sekelilingnya menuduh dengan tuduhan yang tidak baik. Sebab perilaku yang dilakukan tidak menjadi bagian kebiasaan yang dilakukan oleh manusia. Dari sini penulis bisa belajar, bahwa meskipun mayat manusia harus dimulyakan dalam segala perawatannya, dalam sisi lain mayat atau bagian tubuh manusia kalah istimewa dari bagian tubuh gajah atau harimau. Bagian tubuh kedua binatang tersebut menjadi terlihat indah Ketika menjadi hiasan dinding rumah, sedangkan bagian tubuh manusia semakin memberi kesan mengerikan ketika diabadikan sebagai hiasan dinding rumah.

Berbeda ketika melihat foto atau lukisan manusia. Saat kita bertamu dan ada foto atau lukisan seseorang dan orang tersebut dikenal sebagai orang yang telah menoreh tinta kebaikan, maka kita akan mengatakan kurang lebih begini kepada tuan rumah, “ Saya mengenal orang tua mu, saya tahu persis bahwa tidak ada orang sehebat dan sebaik bapak mu di kampung ini. Sungguh kamu sangat beruntung mempunyai orang tua seperti itu”.

Jadi, catatan tinta emas kebaikan dalam kehidupan sehari-hari adalah umur kedua setelah kematian. Semakin banyak kebaikan dan jasa nya saat masih hidup, maka banyak yang mengenangnya dan mengabadikan nya dalam memori peradaban. Ia akan disebut secara terus-menerus lintas generasi.  Ia secara fisik sudah puluhan tahun telah tiada, tapi ia seolah-olah berada di sekitar kita. Saat orang berdiskusi, membahas ilmu dan Pendidikan, kata-kata atau kalimatnya senantiasa dikutip sebagai landasan kebaikan untuk kepentingan umat manusia. Umurnya menjadi sangat Panjang dan tidak pernah putus. Namanya senantiasa disebut, disanjung dan diabadikan untuk nama-nama generasi, jalan, musium, sekolah dan lain-lain. Ia senantiasa mendapat aliran doa dan amal sholeh. Subhanallah.

Silaturahim selain mempanjang umur, juga menambah rezeki. Allah menjadi rezeki begitu sangat luas. Ada rezeki berupa harta yang melimpah, duit yang tidak berseri, anak-anak yang sholeh dan sholehah, kebahagiaan, Kesehatan, dan keberkahan ucapan dan perbuatannya. Rezeki sangat luas. Kita bisa jadi mempunyai jatah rezeki dalam bentuk kekayaan dunia berbeda-beda. Ada yang hanya memegang pena dan menandatangi satu naskah proyek dan sejenisnya telah mampu mendapatkan keuntungan milyaran rupiah. Ada juga yang harus mengeluarkan energi sangat besar hanya mendapatkan puluhan ribu setiap hari. Hitungan nominal nya berbeda. Bahkan kadang bisa memicu adanya rasa iri dan ingin menjadi seperti orang-orang yang mempunyai penghasilan besar. Namun, pada sisi yang sama, orang-orang kaya juga kadang berimajinasi dan tersenyum melihat orang-orang yang santai duduk-duduk di kedai kopi sambil merokok dan tertawa lepas. Mereka kagum, “betapa Bahagia mereka dalam menjalani hidup. Kopi dan rokok bisa membeli kebahagiaan yang luarbiasa. Sedangkan saya untuk membeli bahagia harus menghambur-hambur duit, sarapan pagi di Inggris, makan siang AS, tidur malam di Tiongkok”.

Ternyata kekayaan yang terindah adalah kekayaan yang mampu memberi rasa bahagia. Semua fasilitas bisa membahagiakan; rumah, jabatan, pabrik, perusahaan, istri, suami, kendaraan, anak dan lain-lain.  Semua manusia ingin mendapatkan hal tersebut. Namun semua bisa dikemas menjadi satu kaca kunci yaitu “Kesehatan”. Ketika kita mendapatkan Kesehatan, maka kita telah mendapatkan seluruh kekayaan di dunia ini. Anda boleh punya harta melimpah, tapi saat anda kehilangan Kesehatan, maka harta tersebut habis untuk berobat. Anda boleh bangga mempunyai istri atau suami idaman, tapi saat tidak sehat akan terjadi rasa hambar dan tidak menggairahkan. Maka bersyukurlah, Ketika kita mendapatkan rezeki Kesehatan.

Dalam Islam, Kesehatan tidak sebatas hanya Kesehatan fisik. Sebab Kesehatan tersebut hanya menciptakan kebahagiaan sementara di dunia.

Tuhan telah mengajarkan Teknik kehidupan yang agung, “Ya Allah berikan kami kebahagiaan di dunia dan di akherat dan jagalah kami dari siksa api neraka”. Kesehatan yang mampu mengekalkan kebagiaan, yaitu Kesehatan spiritual. Orang-orang yang mendapatkan anugerah Kesehatan spiritual adalah orang-orang yang telah mendapatkan hidayah mengenal Allah dan Rasul-Nya melalui ucapan dan keyakinan kebenaran dalam sebuah kalimat, “Kami bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah”.

Kalimat indah tersebut adalah pembuka seluruh kegiatan, aktivitas dan proses muamalah di dunia ini menjadi sangat bernilai tinggi. Kualitas tinggi suatu amal kita dalam pandangan Allah karena kita telah memposisikan hati dan niat kita yang tulus semata-mata bekerja dan berbuat apapun hanya untuk Allah. Maka pekerjaan itu menjadi ibadah, meskipun wujudnya adalah pekerjaan dunia.

Pertemuan UIS dan STAIN memang pertemuan dunia, tapi telah diikat menjadi nilai akherat dan bernilai ibadah. Saya secara pribadi berharap, secara duniawiyah, STAIN Bengkalis mendaptkan berkahnya, yaitu bisa melakukan MoU dan MoA. Penulis terus melakukan penjajagan dan komunikasi dengan doktor muda dari UIS, Dr. Faeez. Semoga segera terwujud.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876