Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Silaturohim Spontanitas



Selasa , 17 Juni 2025



Telah dibaca :  515

Saya kaget. Baru saja satu kali nyeruput wedang kopi, Mas Jarir narik tangan ku. tidak ada hujan, tidak ada badai dan tidak ada angin puting beliung langsung suruh cepat-cepat ikut dengannya.

“Pagi ini bupati menyuruh kita ke rumah dinas. Sekarang. Cepat” pinta nya.

Saya seperti orang bingung. Tidak ada hak tanya. Pokok nya ikut. Saya pun ikut. Satu mobil dengan Rektor IAIN Datuk Laksemana, saya dan Mas Jarir. Sedangkan Mas Edi Purnomo dan Mas Bili sudah lebih dulu berangkat ke Rumdis Bupati.

Sesampai di halaman Rumah Bupati, saya bertambah bingung. Saya baru sadar kalau saya memakai sandal. Yang lain pakai Sepatu. Para kepala dinas, kepala badan, dan para pegawai yang antri silaturahim pagi ini rapi-rapi: pakai Baju Dinas, dan Sepatu Dinas.”Ah, masa bodoh. Allah tidak melihat baju dan Sepatu, tapi pada takwa nya” kataku mengibur diri dalam hati sambil cengengesan sendiri.

Untung saya pagi ini memakai dasi. Entah kenapa saya pakai dasi. Padahal hari-hari tidak pernah pakai dasi. Termasuk akreditas. Mungkin itu rahasianya.

Untung saja yang difoto badan bagian atas. jadi terlihat rapih dan wibawa [perasaan ku saja]. Dari sekian banyak orang hanya dua orang yang memakai dasi: pak rektor  IAIN Datuk Laksemana dan saya.

Saya ingin tertawa sendiri. Kadang lucu. Sama lucunya ketika tahun 2018, saat saya diajak menemani Ketua STAIN pada masa nya, Prof. Samsul Nizar. Kami berempat ke BAN-PT. Ngurus akreditasi prodi bahasa Inggris yang dianggap sebagian alumni bermasalah. Rombongan kami waktu itu: Prof. Samsul, Mas Edi, Bu Mufaroah dan saya. Dari tiga orang tersebut, yang memakai dasi cuma saya. Waktu itu saya benar-benar merasa paling ngganteng[alhmadulillah urusan selesai, dan kemudian hari prodi bahasa Inggris mendapat nilai “B”-mungkin sekarang nilai baik sekali].

Sebenarnya ada yang lebih lucu dari sebatas persoalan dasi, yaitu kebiasaan ku diam tidak ngomong sepatah kata pun. Cuma nyengir saja. Pada masa Ketua STAIN lama, saat berada di kantor BAN-PT [lupa Tingkat berapa], saya pun cuma mendengar mereka ngomong. Saya tidak nyambung[kurang paham] diskusi mereka. Dan sampai hari ini gampang tidak nyambungan jika diajak diskusi. Mungkin alam diskusi ku tidak cocok di dunia nyata, bagusnya diskusi di alam yang ghabi-ghaib sedikit nyambung.

Di Rumah Dinas Bupati pun saya diam. Hanya senyum. Tapi saya merasa dengan modal senyum kewibawaan ku naik 25%. Bisa menutupi kekurangan ku yang memakai sandal.  Dari pada ngomong salah, malah nampak bego nya, sudah pakai sandal, bego lagi. Mendingan wiridan dalam hati dengan selalu membaca : ya wedang kopi, datanglah…”.

Alhamdulilah tidak lama saya berdoa, benar-benar kopi datang. Saya lihat tidak ada yang berani minum. Saya langsung minum. Masa sih, minum saja harus bupati yang mempersilahkan. Kurang kerjaan saja.

Sambil minum, saya mendengarkan paparan dari pak Dr. Abu Anwar dan Dr. Edi Purnomo. Saya senyum mendengar paparan mereka berdua. Bukan karena paham, tapi karena kopi nya sangat manis. Untung saja kadar gula ku normal. Sekitar 120 mg. Jika toh hari itu naik gara-gara minum kopi manis [plus melihat pelayan pembuat kopi juga manis], mungkin naik 3mg. Masih sangat normal. Berbeda dengan Mas Jarir yang harus menahan minum wedang kopi dan pandangan mata nya. Ma’lum, kadar gula  sudah masuk stadium tinggi.

Apakah silaturahim spontanitas ada manfaatnya. Tergantung. Jika apa yang disampaikan secara faktual saat itu, maka sangat memberi manfaat bagi kedua belah pihak baik Pemda Bengkalis maupun Institusi IAIN Datuk Laksemana. Dan kami menyadari bahwa pemda merupakan mitra yang tidak lepas dari berbagai persoalan perjalanan nya sangat dinamis. Tentu kita juga saling percaya atas fakta-fakta pada pertemuan tersebut dengan tetap melihat dinamika-dinamika kondisi pemda yang saat sekarang ini dalam kondisi efesiensi.

Kondisi efisien anggaran juga bukan hanya di pemda, tapi juga diseluruh instansi dan institusi. Termasuk di Perguruan Tinggi. Itu juga disampaikan oleh Bupati Bengkalis saat pertemuan, dan juga disampaikan oleh Ibu Tantri kepada ku saat belum bertemu dengan bupati.

Pada situasi efisiensi sebenarnya kita tidak boleh terlalu terjebak pesimis akut. Terutama pada tataran spiritual. Secara faktual, kadang kita terasa sesak dada dengan keterbatasan anggaran. Mau membuat kegiatan ini-itu [seperti akreditasi]-yang tidak seperti dulu-membuat terasa stress menghadapi kenyataan ini. Terasa seperti tidak sanggup menhadapi persoalan ini. Jalani saja, selesai juga.

Tapi semua ini terjadi bukan hanya terjadi pada kita atau kami, tapi juga pada mereka. Semua kaget. Kejadian begitu cepat membuat kita hanya bisa “melongo” tanpa bisa berkata apa-apa.

Bisakan efisiensi dibuat model seorang istri yang marah-marah sama suaminya?. Sang istri marah-marah tidak ingin hamil duluan, tapi nyatanya sembilan bulan kemudian punya anak. Lalu dia marah-marah lagi sama suaminya cukup satu anak saja, tapi kenyataan satu tahun kemudian mbrojol lagi anak nomor dua, tiga dan seterusnya.

Hebatnya lagi, ketakutan mereka tidak bisa memberi makan dan sekolah, kenyataannya seluruh anak nya bisa makan dan sekolah. Ketakutan akal kita tidak terbukti. Tuhan memberi jalan terbaik dalam memberi rezeki kepada pasangan suami-istri tersebut.

Saya kira kita harus optimis pada era efisiensi saat sekarang ini, bahwa  Tuhan akan menghadirkan rezeki-rezeki min haisu layah tasib. Kita harus mempunyai keyakinan ini sampai meluber dalam hati kita. Bagaimana tidak yakin, kita saja saat masih kecil tidak punya pekerjaan, tapi makan disuapi, berak diceboki, dan pempes dipasangkan oleh orang tua kita, nyatanya tidak pernah lapar. Sesulit apapun orang tua kita, kondisi kita saat masih kecil tetap terasa kenyang dan bahagia.

Tuhan telah membagi rezeki pada waktu dan tempat yang tepat. Tapi sayangnya, kita sering terlalu berfikir cekak [pendek], sehingga tidak bisa mengambil pelajaran dari janji-janji Tuhan. haruskah kita belajar lagi ilmu tawakal dari anak-anak kita yang masih “umbelen” dan “ingusan?”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875