
Saya kaget. Baru saja satu kali nyeruput
wedang kopi, Mas Jarir narik tangan ku. tidak ada hujan, tidak ada badai dan
tidak ada angin puting beliung langsung suruh cepat-cepat ikut dengannya.
“Pagi ini bupati menyuruh kita ke rumah
dinas. Sekarang. Cepat” pinta nya.
Saya seperti orang bingung. Tidak ada hak
tanya. Pokok nya ikut. Saya pun ikut. Satu mobil dengan Rektor IAIN Datuk
Laksemana, saya dan Mas Jarir. Sedangkan Mas Edi Purnomo dan Mas Bili sudah
lebih dulu berangkat ke Rumdis Bupati.
Sesampai di halaman Rumah Bupati, saya
bertambah bingung. Saya baru sadar kalau saya memakai sandal. Yang lain pakai Sepatu.
Para kepala dinas, kepala badan, dan para pegawai yang antri silaturahim pagi
ini rapi-rapi: pakai Baju Dinas, dan Sepatu Dinas.”Ah, masa bodoh. Allah tidak
melihat baju dan Sepatu, tapi pada takwa nya” kataku mengibur diri dalam
hati sambil cengengesan sendiri.
Untung saya pagi ini memakai dasi. Entah kenapa
saya pakai dasi. Padahal hari-hari tidak pernah pakai dasi. Termasuk akreditas.
Mungkin itu rahasianya.
Untung saja yang difoto badan bagian atas. jadi
terlihat rapih dan wibawa [perasaan ku saja]. Dari sekian banyak orang hanya
dua orang yang memakai dasi: pak rektor IAIN
Datuk Laksemana dan saya.
Saya ingin tertawa sendiri. Kadang lucu. Sama
lucunya ketika tahun 2018, saat saya diajak menemani Ketua STAIN pada masa nya,
Prof. Samsul Nizar. Kami berempat ke BAN-PT. Ngurus akreditasi prodi bahasa Inggris
yang dianggap sebagian alumni bermasalah. Rombongan kami waktu itu: Prof.
Samsul, Mas Edi, Bu Mufaroah dan saya. Dari tiga orang tersebut, yang memakai
dasi cuma saya. Waktu itu saya benar-benar merasa paling ngganteng[alhmadulillah
urusan selesai, dan kemudian hari prodi bahasa Inggris mendapat nilai “B”-mungkin
sekarang nilai baik sekali].
Sebenarnya ada yang lebih lucu dari sebatas
persoalan dasi, yaitu kebiasaan ku diam tidak ngomong sepatah kata pun. Cuma nyengir
saja. Pada masa Ketua STAIN lama, saat berada di kantor BAN-PT [lupa Tingkat berapa],
saya pun cuma mendengar mereka ngomong. Saya tidak nyambung[kurang paham] diskusi
mereka. Dan sampai hari ini gampang tidak nyambungan jika diajak diskusi. Mungkin
alam diskusi ku tidak cocok di dunia nyata, bagusnya diskusi di alam yang ghabi-ghaib
sedikit nyambung.
Di Rumah Dinas Bupati pun saya diam. Hanya senyum.
Tapi saya merasa dengan modal senyum kewibawaan ku naik 25%. Bisa menutupi
kekurangan ku yang memakai sandal. Dari pada
ngomong salah, malah nampak bego nya, sudah pakai sandal, bego
lagi. Mendingan wiridan dalam hati dengan selalu membaca : ya wedang kopi,
datanglah…”.
Alhamdulilah tidak lama saya berdoa, benar-benar
kopi datang. Saya lihat tidak ada yang berani minum. Saya langsung minum. Masa sih,
minum saja harus bupati yang mempersilahkan. Kurang kerjaan saja.
Sambil minum, saya mendengarkan paparan
dari pak Dr. Abu Anwar dan Dr. Edi Purnomo. Saya senyum mendengar paparan
mereka berdua. Bukan karena paham, tapi karena kopi nya sangat manis. Untung saja
kadar gula ku normal. Sekitar 120 mg. Jika toh hari itu naik gara-gara minum
kopi manis [plus melihat pelayan pembuat kopi juga manis], mungkin naik 3mg. Masih
sangat normal. Berbeda dengan Mas Jarir yang harus menahan minum wedang kopi
dan pandangan mata nya. Ma’lum, kadar gula sudah masuk stadium tinggi.
Apakah silaturahim spontanitas ada
manfaatnya. Tergantung. Jika apa yang disampaikan secara faktual saat itu, maka
sangat memberi manfaat bagi kedua belah pihak baik Pemda Bengkalis maupun Institusi
IAIN Datuk Laksemana. Dan kami menyadari bahwa pemda merupakan mitra yang tidak
lepas dari berbagai persoalan perjalanan nya sangat dinamis. Tentu kita juga
saling percaya atas fakta-fakta pada pertemuan tersebut dengan tetap melihat
dinamika-dinamika kondisi pemda yang saat sekarang ini dalam kondisi efesiensi.
Kondisi efisien anggaran juga bukan hanya
di pemda, tapi juga diseluruh instansi dan institusi. Termasuk di Perguruan
Tinggi. Itu juga disampaikan oleh Bupati Bengkalis saat pertemuan, dan juga
disampaikan oleh Ibu Tantri kepada ku saat belum bertemu dengan bupati.
Pada situasi efisiensi sebenarnya kita
tidak boleh terlalu terjebak pesimis akut. Terutama pada tataran spiritual. Secara
faktual, kadang kita terasa sesak dada dengan keterbatasan anggaran. Mau membuat
kegiatan ini-itu [seperti akreditasi]-yang tidak seperti dulu-membuat terasa
stress menghadapi kenyataan ini. Terasa seperti tidak sanggup menhadapi
persoalan ini. Jalani saja, selesai juga.
Tapi semua ini terjadi bukan hanya terjadi
pada kita atau kami, tapi juga pada mereka. Semua kaget. Kejadian begitu cepat
membuat kita hanya bisa “melongo” tanpa bisa berkata apa-apa.
Bisakan efisiensi dibuat model seorang istri
yang marah-marah sama suaminya?. Sang istri marah-marah tidak ingin hamil
duluan, tapi nyatanya sembilan bulan kemudian punya anak. Lalu dia marah-marah
lagi sama suaminya cukup satu anak saja, tapi kenyataan satu tahun kemudian mbrojol
lagi anak nomor dua, tiga dan seterusnya.
Hebatnya lagi, ketakutan mereka tidak bisa
memberi makan dan sekolah, kenyataannya seluruh anak nya bisa makan dan
sekolah. Ketakutan akal kita tidak terbukti. Tuhan memberi jalan terbaik dalam
memberi rezeki kepada pasangan suami-istri tersebut.
Saya kira kita harus optimis pada era
efisiensi saat sekarang ini, bahwa Tuhan
akan menghadirkan rezeki-rezeki min haisu layah tasib. Kita harus
mempunyai keyakinan ini sampai meluber dalam hati kita. Bagaimana tidak
yakin, kita saja saat masih kecil tidak punya pekerjaan, tapi makan disuapi,
berak diceboki, dan pempes dipasangkan oleh orang tua kita, nyatanya tidak
pernah lapar. Sesulit apapun orang tua kita, kondisi kita saat masih kecil
tetap terasa kenyang dan bahagia.
Tuhan telah membagi rezeki pada waktu dan
tempat yang tepat. Tapi sayangnya, kita sering terlalu berfikir cekak
[pendek], sehingga tidak bisa mengambil pelajaran dari janji-janji Tuhan. haruskah
kita belajar lagi ilmu tawakal dari anak-anak kita yang masih “umbelen”
dan “ingusan?”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875