
Bendera merah putih bagian dari simbol
negara. Maka jenis bendera hanya satu, yaitu merah putih. Namun di bawah merah
putih, ada bendera yang beraneka warna. Ormas atau perkumpulan mempunyai
bendera beragam warna dan beragam bentuk. Dan semua bendera tersebut merupakan
penjabaran dari makna merah putih. Karena nya, secara hirarki seluruh bendera
ormas, perkumpulan atau paguyupan dipasang berada di bawah nya.
Merah putih sebagai simbol negara merupakan
simbol semangat perjuangan dan semangat cita-cita para pendiri bangsa
mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merah simbol keberanian, Putih
simbol kesucian dan keikhlasan dalam berjuang. Bangsa Indonesia berhasil meraih
kemerdekaan karena dengan semangat keberanian melawan penjajah Belanda dan
mempunyai kesucian hati berjuang semata-mata mencari ridha Allah SWT.
Keberanian dan kesucian tidak boleh terpisahkan dalam perjuangan. Keberanian adalah energi pendobrak semangat yang penuh dengan luapan-luapan perjuangan tanpa kenal menyerah. Sedangkan kesucian merupakan refleksi diri akan tujuan hidup di dunia yaitu semata-semata berkarya dan beribadah kepada Sang Pencipta. itu sebab nya semua pengorbanan yang demikian merupakan bagian dari jihad fi sabilillah.

Keberanian dan kesucian dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan karena negara merupakan harta termahal dari sebuah bangsa. Negara merupakan harta yang paling berharga. Berjuang merebut kemerdekaan dan menjaga nya merupakan bagian dari esensi syariat Islam. Ttanpa ada nya negara, maka tidak ada peradaban, tanpa ada peradaban, hakikatnya tidak terealisasi ajaran Islam secara sempurna. Itu sebabnya berjuang dan mempertahankan negara merupakan bagian dari maqashid syari’ah agama Islam.
Tentu saja bendera merah putih sebagai
simbol negara bukan sebatas simbol mati. Ia harus terus berkibar di tiang
tinggi dan kuat menancap di bumi dan menjulang diangkasa. Kekokohan dan
keperkasaan adalah simbol semangat perjuangan melepaskan diri dari belenggu-belenggu
kejahilan seperti kemiskinan, keterbelakangan, perpecahan, dan kebodohan serta
ketidakmauan untuk meninggalkan segala perbuatan yang sia-sia.
Namun kejahilan masih terjadi dimana-mana. Saat menatap sang merah putih, saya terasa ingin menetes air mata. bukan karena membayangkan tetasan darah para pejuang dan suhada. Bukan karena kisah kematian masal akibat kerja Rodi dan Ramusha. Saya mengusap pipiku karena seolah-olah saya melihat tetangga ku yang terjebak judi online, anak-anak remaja yang tas kuliah nya berisi ganja, dan seorang lelaki tua berpakaian lusuh dibentak istrinya karena beberapa hari bekerja belum mendapatkan uang untuk membeli beras dan lauk seadanya.

Bendera merah putih terus berkibar di
angkasa Indonesia raya. Tidak mudah menaruh nya di puncak tiang bendera. Jutaan
masyarakat Indonesia yang telah gugur untuk menempatkan bendera tersebut di
tempat teratas. Mereka gugur karena ingin melihat bendera berkibar di angkasa
jaya. Sebab itu cermin dari kemerdekaan.
Namun cermin kemerdekaan secara subtansional
masih “blentang-blentong” dan belum merata. Sebelah sana saya melihat sekelompok
orang tertawa bahagia karena telah mendapatkan manfaat dari kemerdekaan. Sebelah
sini ada sekelompok orang yang justru sedang tidak merasakan apa makna
kemerdekaan. Sudah 80 tahun merdeka, belum bisa mengatakan bahwa mereka telah merdeka.
Sebab mereka masih terjajah oleh kemiskinan, kerbelakangan dan belum terpenuhi
secara wajar kebutuhan dasar nya.
Memasuki tahun ke-80 hari kemerdekaan
tantangan semakin besar. tiap hari entah berapa kali mendengar kata merdeka. Tetangga
ku sampai tidak bisa membedakan makna merdeka dan terjajah. Tetanggaku kadang
bertanya kepada ku dengan pertanyaan lugu: “Kenapa para pejabat bisa tertawa
lebar, sedangkan kami tidak bisa tertawa seperti mereka?”.
Saya tidak menjawab pertanyaan tersebut. Apalagi
persoalan “tertawa”. Di era kemerdekaan saat sekarang ini, saya sangat susah mengatakan
“tertawa” sebagai simbol kebahagiaan sebagaimana saya tidak bisa membedakan yang
“tidak tertawa” sedang mengalami penderitaan. Semoga saja ini bukan cermin dari
sulitnya membedakan kemerdekaan dan penjajahan.
Sebagai penutup, semoga bangsa dan negara Indonesi
tetap jaya, bersatu dan bertambah maju di tengah-tengah situasi bangsa yang
belum terbebas secara total dari tantangan persoalan lokal, nasional dan
global.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875