Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Simbol Negara



Kamis , 14 Agustus 2025



Telah dibaca :  448

Bendera merah putih bagian dari simbol negara. Maka jenis bendera hanya satu, yaitu merah putih. Namun di bawah merah putih, ada bendera yang beraneka warna. Ormas atau perkumpulan mempunyai bendera beragam warna dan beragam bentuk. Dan semua bendera tersebut merupakan penjabaran dari makna merah putih. Karena nya, secara hirarki seluruh bendera ormas, perkumpulan atau paguyupan dipasang berada di bawah nya.

Merah putih sebagai simbol negara merupakan simbol semangat perjuangan dan semangat cita-cita para pendiri bangsa mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merah simbol keberanian, Putih simbol kesucian dan keikhlasan dalam berjuang. Bangsa Indonesia berhasil meraih kemerdekaan karena dengan semangat keberanian melawan penjajah Belanda dan mempunyai kesucian hati berjuang semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Keberanian dan kesucian tidak boleh terpisahkan dalam perjuangan. Keberanian adalah energi pendobrak semangat yang penuh dengan luapan-luapan perjuangan tanpa kenal menyerah. Sedangkan kesucian merupakan refleksi diri akan tujuan hidup di dunia yaitu semata-semata berkarya dan beribadah kepada Sang Pencipta. itu sebab nya semua pengorbanan yang demikian merupakan bagian dari jihad fi sabilillah.


Keberanian dan kesucian dalam perjuangan mewujudkan kemerdekaan karena negara merupakan harta termahal dari sebuah bangsa. Negara merupakan harta yang paling berharga. Berjuang merebut kemerdekaan dan menjaga nya merupakan bagian dari esensi syariat Islam. Ttanpa ada nya negara, maka tidak ada peradaban, tanpa ada peradaban, hakikatnya tidak terealisasi ajaran Islam secara sempurna. Itu sebabnya berjuang dan mempertahankan negara merupakan bagian dari maqashid syari’ah agama Islam.

Tentu saja bendera merah putih sebagai simbol negara bukan sebatas simbol mati. Ia harus terus berkibar di tiang tinggi dan kuat menancap di bumi dan menjulang diangkasa. Kekokohan dan keperkasaan adalah simbol semangat perjuangan melepaskan diri dari belenggu-belenggu kejahilan seperti kemiskinan, keterbelakangan, perpecahan, dan kebodohan serta ketidakmauan untuk meninggalkan segala perbuatan yang sia-sia.

Namun kejahilan masih terjadi dimana-mana. Saat menatap sang merah putih, saya terasa ingin menetes air mata. bukan karena membayangkan tetasan darah para pejuang dan suhada. Bukan karena kisah  kematian masal akibat kerja Rodi dan Ramusha. Saya mengusap pipiku karena  seolah-olah saya melihat tetangga ku yang terjebak judi online, anak-anak remaja yang tas kuliah nya berisi ganja, dan seorang lelaki tua berpakaian lusuh dibentak istrinya karena beberapa hari bekerja belum mendapatkan uang untuk membeli beras dan lauk seadanya.


Bendera merah putih terus berkibar di angkasa Indonesia raya. Tidak mudah menaruh nya di puncak tiang bendera. Jutaan masyarakat Indonesia yang telah gugur untuk menempatkan bendera tersebut di tempat teratas. Mereka gugur karena ingin melihat bendera berkibar di angkasa jaya. Sebab itu cermin dari kemerdekaan.

Namun cermin kemerdekaan secara subtansional masih “blentang-blentong” dan belum merata. Sebelah sana saya melihat sekelompok orang tertawa bahagia karena telah mendapatkan manfaat dari kemerdekaan. Sebelah sini ada sekelompok orang yang justru sedang tidak merasakan apa makna kemerdekaan. Sudah 80 tahun merdeka, belum bisa mengatakan bahwa mereka telah merdeka. Sebab mereka masih terjajah oleh kemiskinan, kerbelakangan dan belum terpenuhi secara wajar kebutuhan dasar nya.

Memasuki tahun ke-80 hari kemerdekaan tantangan semakin besar. tiap hari entah berapa kali mendengar kata merdeka. Tetangga ku sampai tidak bisa membedakan makna merdeka dan terjajah. Tetanggaku kadang bertanya kepada ku dengan pertanyaan lugu: “Kenapa para pejabat bisa tertawa lebar, sedangkan kami tidak bisa tertawa seperti mereka?”.

Saya tidak menjawab pertanyaan tersebut. Apalagi persoalan “tertawa”. Di era kemerdekaan saat sekarang ini, saya sangat susah mengatakan “tertawa” sebagai simbol kebahagiaan sebagaimana saya tidak bisa membedakan yang “tidak tertawa” sedang mengalami penderitaan. Semoga saja ini bukan cermin dari sulitnya membedakan kemerdekaan dan penjajahan.

Sebagai penutup, semoga bangsa dan negara Indonesi tetap jaya, bersatu dan bertambah maju di tengah-tengah situasi bangsa yang belum terbebas secara total dari tantangan persoalan lokal, nasional dan global. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875