Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Strategi Hamid Mendapatkan Lailatul Qadr



Senin , 01 April 2024



Telah dibaca :  737

Sudah tiga hari Hamid sholat taraweh keliling. Sudah ada tiga masjid yang ia singgahi dalam tiga malam. Meskipun ia sebagai buruh lepas di pelabuhan, dia tidak ingin ketinggalan melaksanakan shalat taraweh hingga 23 raka’at. Ia terinspirasi oleh cerita teman-teman yang sudah pulang dari umrah. Katanya disana telah melaksanakan sholat taraweh dan witir sebanyak 23 rakaat. Bahkan kemaren, dia pun mendapat kiriman dari tetangganya yang anak nya sedang nyantri di Pesantren di Jawa Timur. Video tersebut menceritakan tentang pelaksanaan sholat taraweh 23 raka’at dan khatam 30 juz setiap malam. Mulai jam 20.00 selesai jam 03.30 dinihari. Hamid tertarik dan ingin sekali seperti mereka. Namun bulan puasa benar-benar mempengaruhi daya tahan tubuh. Apalagi, ia setiap hari bekerja sebagai buruh bongkar-muat di Pelabuhan. Meskipun ingin sholat lama-lama, tapi kadang hanya mampu 8 raka’at. Setelah itu, ia pun pulang ke rumah. Untung saja sholat taraweh tidak wajib. Itu yang membuat lega hatinya ketika tidak sanggup  menuntaskan sampai 23 raka’at.

Selama tiga malam ( malam ke-15,16, dan 17), Hamid mendapatkan ilmu dari para ustadz yang mengisi mau’idzatul hasanah sebelum sholat taraweh. Tema pembahasannya sama; “hikmah lailatul qadar”. Hamid telah merekam sebagian isi kultum tersebut. Ia  kelihatannya sedikit bingung penyampaian ustadz tentang lailatul qadr berbeda-beda.

Malam ke-15 hamid mendapatkan materi tentang hikmah lailatul qadr sebagai berikut:

 “Saudaraku, sungguh sangat rugi jika malam hari dihabiskan untuk tidur. Ingat!, dimalam ramadhan ada malam yang disebut malam lailaltul qadr, malam yang sebanding kualitas nya sama dengan 1000 bulan. Ingat, manusia yang paling mulia nabi Muhammad ketika memasuki malam ramadhan, ia digunakan malam untuk bertaqarub kepada Allah, para sahabat menghatam Al-Qur’an. Maka, hidupkan malam ramadhan, perbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa mengharapkan ampunan kepada Allah swt!”.

Malam ke-16, Hamid mendapatkan materi sebagai berikut:

“Para jamaah rahimakumullah, lailatul qadr bisa dilihat dari tanda-tanda sebagai berikut: angin tenang, suara binatang malam tidak ada, malam terlihat sunyi, pagi hari matahari bersinar terang dan tidak panas. Caranya, hidupkan malam hari dengan banyak ibadah dan beramal”.

Malam ke-17, Hamid mendapatkan materi sebagai berikut:

“Laulatul Qadr adalah malam penentuan. Ia merupakan batas hukum kehidupan. Jika sebelum Al-Qur’an turun, ibadah sebanyak apapun tidak dinilai oleh Allah. Sedangkan setelah Al-Qur’an turun, sekecil apapun ibadah dan amal perbuatan dinilai oleh Allah. Satu kali beribadah dan amal sholeh setelah turun  Al-Qur’an”, jauh lebih mulia daripada beribadah sebanyak seribu bulan sebelum Al-Qur’an turun. Sebab sebanyak ibadah tersebut tidak berdasarkan hukum Allah”.

Dari sekian penjelasan tiga ustadz di atas, Hamid kelihatannya lebih bisa memahami penjelasan ustadz pada malam ke-17. Ia lebih merasa tenang, tidak ngoyo lagi. Seberapa kuat beribadah, ia lakukan. Jika tidak kuat dan merasa letih, dia pun sudah tidak lagi memaksakan dirinya beribadah. Ia mulai bisa memahami, bahwa ibadah tidak melulu pada persoalan kuantitas, tapi juga lebih penting pada kualitas.

Hamid yang sehari-hari bekerja di pelabuhan merupakan tempat terbuka dengan mengangkat barang dari kapal “bongkar muat” memang tidak selalu menguras energi. Kadang menemukan “bongkar muat”  cukup menguras energi seperti mengangkat tepung gandum yang ukuranya 50 Kg atau material bangunan seperti semen dan besi. Ia berumur tidak muda lagi. Ia harus bersaing dengan pendatang baru yang usianya muda dan enerjik. Itu sebabnya, ketika dalam kondisi sangat ekstrem dan badan terasa sangat letih, ia terpaksa tidak melaksanakan ibadah puasa. bahkan dalam beberapa waktu, ia tidak tahan menjalankan ibadah puasa sampai tuntas. Terpaksa ia pun membatalkan puasanya.

Kadang hati nya goncang, apakah Tuhan murka atau perbuatannya. Puasa merupakan suatu kewajiban, tapi disisi lain ia juga mempunyai tanggung jawab memberi nafkah istri dan anak-anaknya. Sebagai kepala rumah tangga, ia memang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apapun pekerjaannya, ia tidak malu, yang penting halal.

Saat istirahat di Masjid, ia membuka Al-Qur’an terjemahan. Ada ayat yang berbunyi begini:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapatkan siksa dari kejahatan yang diperbuat. (mereka berdoa), “ Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”

Hamid belum memahami sepenuhnya maksud ayat tersebut. Jangankan memahaminya, menyentuh Al-Qur’an pun belum tentu setiap saat. Apalagi dirinya belum begitu lancar membaca Al-Qur’an. Ia lebih suka membaca terjemahannya. Meskipun demikian, terjemahan ayat tersebut sepertinya sangat mempengaruhi jiwanya. Ia merasa bahagia dan tenang, meskipun belum paham maksudnya. Itulah bagian dari mukjizat Al-Qur’an, ia mampu menghadirkan ketenangan batin meskipun belum tentu memahami isinya.

Hamid duduk di serambi masjid. Setelah membaca beberapa terjemahan ayat Al-Qur’an, ia membuka HP androidnya. Ada video pengajian Gus Baha, berbahasa Indonesia campur Jawa. Ia sangat  serius mendengarkan pengajiannya. Ada kalimat yang membuat dia merasa nyaman dalam keterbatasan memahaminya sebagai berikut:

“Jangan kamu anggap orang yang tidak melaksanakan sholat taraweh ibadahnya tidak baik. tidak semua umat nya Rasulullah bisa melaksanakan sholat taraweh. Mereka ada yang menjadi Saptam. Buruh, pekerja kasar dan sejenisnya. Mereka bekerja untuk keluarga dan mencari nafkah itu wajib. Sedangkan sholat taraweh itu sunnah”.

Entah tiba-tiba matanya memerah, menetes air mata dan membasaih pipi. Bibirnya bergetar. Laksana anak kecil mengharapkan kasih sayang dari orang tuanya. Hatinya bergetar, dan pikirannya merangkum segala kekurangan dan kedhoifan dirinya dan keagungan Allah. Rangkuman pesan dari al-qur’an dan para ustadz telah mempertemukan suatu rasa hina dihadapan-Nya dan merasakan kasih sayang-Nya atas segala keterbatasan dihadapan-Nya. Perasaan kotor belum beribadah dengan maksimal, ternyata bukan berarti Allah menjauh dari dirinya. Justru Allah selalu ingin dekat dengan-Nya. bibirnya terus bergetar, dan dari mulutnya mengucapkan doa pendek, “Ya Allah…..ampuni hamba-Mu yang dhoif,  yang sering meninggalkan ibadah, kadang tidak puasa. Semua itu saya lakukan karena bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ku”.

Pak Hamid yang sedikit ilmu, telah mampu menunjukan kefanaan dan kehinaan atas segala kedhaifan pada dirinya. Ia benar-benar merasa tidak mempunyai amal dan ibadah yang pantas dibanggakan. Ia juga telah mampu mensyukuri dengan tulus kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah begitu besar. Atas segala keterbatasan tersebut, ia tetap menghambakan diri kepada Sang Pencipta dengan setulus hati. Ketika rasa kefanaan dan ketiadaan ada dirinya tumbuh, berarti yang ada pada dirinya dan terlihat oleh nya hanya Allah swt. Bukan orang-orang seperti ini bagian dari hamba Allah yang menemukan lailatul qadr?  



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876