
Sudah tiga hari Hamid sholat taraweh
keliling. Sudah ada tiga masjid yang ia singgahi dalam tiga malam. Meskipun ia
sebagai buruh lepas di pelabuhan, dia tidak ingin ketinggalan melaksanakan
shalat taraweh hingga 23 raka’at. Ia terinspirasi oleh cerita teman-teman yang
sudah pulang dari umrah. Katanya disana telah melaksanakan sholat taraweh dan
witir sebanyak 23 rakaat. Bahkan kemaren, dia pun mendapat kiriman dari
tetangganya yang anak nya sedang nyantri di Pesantren di Jawa Timur. Video tersebut
menceritakan tentang pelaksanaan sholat taraweh 23 raka’at dan khatam 30 juz
setiap malam. Mulai jam 20.00 selesai jam 03.30 dinihari. Hamid tertarik dan
ingin sekali seperti mereka. Namun bulan puasa benar-benar mempengaruhi daya
tahan tubuh. Apalagi, ia setiap hari bekerja sebagai buruh bongkar-muat di Pelabuhan.
Meskipun ingin sholat lama-lama, tapi kadang hanya mampu 8 raka’at. Setelah
itu, ia pun pulang ke rumah. Untung saja sholat taraweh tidak wajib. Itu yang
membuat lega hatinya ketika tidak sanggup menuntaskan sampai 23 raka’at.
Selama tiga malam ( malam ke-15,16, dan
17), Hamid mendapatkan ilmu dari para ustadz yang mengisi mau’idzatul
hasanah sebelum sholat taraweh. Tema pembahasannya sama; “hikmah
lailatul qadar”. Hamid telah merekam sebagian isi kultum tersebut. Ia kelihatannya sedikit bingung penyampaian
ustadz tentang lailatul qadr berbeda-beda.
Malam ke-15 hamid mendapatkan materi
tentang hikmah lailatul qadr sebagai berikut:
“Saudaraku,
sungguh sangat rugi jika malam hari dihabiskan untuk tidur. Ingat!, dimalam
ramadhan ada malam yang disebut malam lailaltul qadr, malam yang sebanding
kualitas nya sama dengan 1000 bulan. Ingat, manusia yang paling mulia nabi
Muhammad ketika memasuki malam ramadhan, ia digunakan malam untuk bertaqarub
kepada Allah, para sahabat menghatam Al-Qur’an. Maka, hidupkan malam ramadhan,
perbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa mengharapkan ampunan kepada Allah
swt!”.
Malam ke-16, Hamid mendapatkan materi
sebagai berikut:
“Para jamaah rahimakumullah, lailatul qadr
bisa dilihat dari tanda-tanda sebagai berikut: angin tenang, suara binatang
malam tidak ada, malam terlihat sunyi, pagi hari matahari bersinar terang dan
tidak panas. Caranya, hidupkan malam hari dengan banyak ibadah dan beramal”.
Malam ke-17, Hamid mendapatkan materi
sebagai berikut:
“Laulatul Qadr adalah malam penentuan. Ia
merupakan batas hukum kehidupan. Jika sebelum Al-Qur’an turun, ibadah sebanyak
apapun tidak dinilai oleh Allah. Sedangkan setelah Al-Qur’an turun, sekecil
apapun ibadah dan amal perbuatan dinilai oleh Allah. Satu kali beribadah dan
amal sholeh setelah turun Al-Qur’an”,
jauh lebih mulia daripada beribadah sebanyak seribu bulan sebelum Al-Qur’an
turun. Sebab sebanyak ibadah tersebut tidak berdasarkan hukum Allah”.
Dari sekian penjelasan tiga ustadz di atas,
Hamid kelihatannya lebih bisa memahami penjelasan ustadz pada malam ke-17. Ia
lebih merasa tenang, tidak ngoyo lagi. Seberapa kuat beribadah, ia
lakukan. Jika tidak kuat dan merasa letih, dia pun sudah tidak lagi memaksakan
dirinya beribadah. Ia mulai bisa memahami, bahwa ibadah tidak melulu pada
persoalan kuantitas, tapi juga lebih penting pada kualitas.
Hamid yang sehari-hari bekerja di pelabuhan
merupakan tempat terbuka dengan mengangkat barang dari kapal “bongkar muat”
memang tidak selalu menguras energi. Kadang menemukan “bongkar muat” cukup menguras energi seperti mengangkat
tepung gandum yang ukuranya 50 Kg atau material bangunan seperti semen dan besi.
Ia berumur tidak muda lagi. Ia harus bersaing dengan pendatang baru yang
usianya muda dan enerjik. Itu sebabnya, ketika dalam kondisi sangat ekstrem dan
badan terasa sangat letih, ia terpaksa tidak melaksanakan ibadah puasa. bahkan
dalam beberapa waktu, ia tidak tahan menjalankan ibadah puasa sampai tuntas.
Terpaksa ia pun membatalkan puasanya.
Kadang hati nya goncang, apakah Tuhan murka
atau perbuatannya. Puasa merupakan suatu kewajiban, tapi disisi lain ia juga
mempunyai tanggung jawab memberi nafkah istri dan anak-anaknya. Sebagai kepala
rumah tangga, ia memang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Apapun pekerjaannya, ia tidak malu, yang penting halal.
Saat istirahat di Masjid, ia membuka Al-Qur’an
terjemahan. Ada ayat yang berbunyi begini:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang
dikerjakannya dan dia mendapatkan siksa dari kejahatan yang diperbuat. (mereka
berdoa), “ Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami
melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban
yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya
Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami
memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. engkaulah
pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir”
Hamid belum memahami sepenuhnya maksud ayat
tersebut. Jangankan memahaminya, menyentuh Al-Qur’an pun belum tentu setiap
saat. Apalagi dirinya belum begitu lancar membaca Al-Qur’an. Ia lebih suka
membaca terjemahannya. Meskipun demikian, terjemahan ayat tersebut sepertinya
sangat mempengaruhi jiwanya. Ia merasa bahagia dan tenang, meskipun belum paham
maksudnya. Itulah bagian dari mukjizat Al-Qur’an, ia mampu menghadirkan
ketenangan batin meskipun belum tentu memahami isinya.
Hamid duduk di serambi masjid. Setelah
membaca beberapa terjemahan ayat Al-Qur’an, ia membuka HP androidnya. Ada video
pengajian Gus Baha, berbahasa Indonesia campur Jawa. Ia sangat serius mendengarkan pengajiannya. Ada kalimat
yang membuat dia merasa nyaman dalam keterbatasan memahaminya sebagai berikut:
“Jangan kamu anggap orang yang tidak
melaksanakan sholat taraweh ibadahnya tidak baik. tidak semua umat nya Rasulullah
bisa melaksanakan sholat taraweh. Mereka ada yang menjadi Saptam. Buruh,
pekerja kasar dan sejenisnya. Mereka bekerja untuk keluarga dan mencari nafkah
itu wajib. Sedangkan sholat taraweh itu sunnah”.
Entah tiba-tiba matanya memerah, menetes air
mata dan membasaih pipi. Bibirnya bergetar. Laksana anak kecil mengharapkan
kasih sayang dari orang tuanya. Hatinya bergetar, dan pikirannya merangkum
segala kekurangan dan kedhoifan dirinya dan keagungan Allah. Rangkuman pesan
dari al-qur’an dan para ustadz telah mempertemukan suatu rasa hina dihadapan-Nya
dan merasakan kasih sayang-Nya atas segala keterbatasan dihadapan-Nya. Perasaan
kotor belum beribadah dengan maksimal, ternyata bukan berarti Allah menjauh
dari dirinya. Justru Allah selalu ingin dekat dengan-Nya. bibirnya terus bergetar,
dan dari mulutnya mengucapkan doa pendek, “Ya Allah…..ampuni hamba-Mu yang
dhoif, yang sering meninggalkan ibadah,
kadang tidak puasa. Semua itu saya lakukan karena bekerja untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga ku”.
Pak Hamid yang sedikit ilmu, telah mampu
menunjukan kefanaan dan kehinaan atas segala kedhaifan pada dirinya. Ia benar-benar
merasa tidak mempunyai amal dan ibadah yang pantas dibanggakan. Ia juga telah
mampu mensyukuri dengan tulus kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah begitu
besar. Atas segala keterbatasan tersebut, ia tetap menghambakan diri kepada Sang
Pencipta dengan setulus hati. Ketika rasa kefanaan dan ketiadaan ada dirinya
tumbuh, berarti yang ada pada dirinya dan terlihat oleh nya hanya Allah swt. Bukan
orang-orang seperti ini bagian dari hamba Allah yang menemukan lailatul
qadr?
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876