Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Suka Memaafkan sebagian Tanda Memperoleh Kemenangan di Bulan Syawal



Minggu , 07 April 2024



Telah dibaca :  1093

Bulan Ramadhan sebentar lagi berakhir. Entah siapa yang meninggalkan, apakah bulan Ramadhan yang meninggalkan kita atau kita yang meninggalkan bulan Ramadhan. Persoalan waktu adalah persoalan serius yang melekat pada seluruh ciptaan Allah swt. Manusia dan waktu adalah persoalan yang tidak bisa dipisahkan. Waktu bagi manusia akan terus menggerogoti kekuatannya. Ia akan terus melumatkan dan manusia tidak bisa mengelak dari proses alamiah tersebut. Ketika seluruh sendi-sendi manusia hancur, maka ia akan menemui periodisasi waktu pada fase selanjutnya yaitu alam barzah dan alam akherat. lalu muncul lagi generasi selanjutnya mengisi waktu dengan proses yang sama dan akan menemukan periodisasi yang sama.

Bulan Ramadhan adalah waktu. Ia meraih tanganmu dan memberikan suatu pilihan-pilihan. Terkadang manusia sadar atas pilihannya, terkadang juga tidak sadar. Ada juga manusia mulai dari awal mengenal hakikat waktu sudah tancap gas; berbuat baik, beribadah dan menebarkan kemanfaatan kepada alam semesta. Ada juga mulai dari awal ramadhan, sebagian manusia mengisi dengan keputusasaan. Ia mengeluh dengan dirinya sendiri karena sakit, keterbatasan kenikmatan dunia, keluarga penuh dengan tuntutan melebihi kapasitas, cuaca yang sangat ekstrem, harga kebutuhan pokok serba mahal, konflik dengan keluarga, dan lain-lain. Ia benar-benar mengisi sepanjang bulan ramadhan dengan penuh kesedihan pada persoalan dunia dan terus memikirkannya sampai bulan ramadhan berakhir dan masuk bulan syawal.

Bulan ramadhan hakikatnya bulan yang panas. Ia bisa melahirkan seluruh jiwa dan raga menjadi panas, emosi meledak-ledak, dan mudah tersinggung. Di bulan puasa manusia ada yang merasa kulitnya melepuh terbakar, tersayat meninggalkan luka yang perih. Tapi orang yang berpuasa tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti nafsu menendang kesana-kemari dengan membiarkan ucapan-ucapan yang sudah tidak lagi mengandung dzikir dan perbuatan tidak lagi mencerminkan ahli fikir. Bulan ramadhan dilewati penuh dengan penderitaan, dan bertambah menderita juga saat ramadhan telah berlalu.

Bagi orang-orang yang sudah menyiapkan diri menemui bulan ramadhan dengan penuh kebahagiaan, maka mereka akan menemukan keindahan bulan ramadhan dalam konteks spiritual. Laksana seorang kekasih, ia tidak akan melihat cacat orang yang dicintainya. Sebab kekasih hanya melihat seluruh kebaikan yang menempel pada orang yang dicintainya. Kita boleh mentertawakan sepasang suami-istri dengan segala keterbatasan ketika membandingkan diri kita yang sempurna. Kita juga kadang akan merasa lebih mulia dengan kesempurnaan tubuh yang lengkap, ada dua tangan dan dua kaki, kulit putih, badan atletis, cerdas dan mendapatkan pekerjaan yang mempesona serta anak-anak yang sukses dari segi pendidikan dan pekerjaan. Kesombongan kita sebagai wujud dari lemah nya memahami kesempurnaan bisa dibenarkan pada sisi tertentu. Sebab dengan kesempurnaan tersebut, kita bisa mendapatkan kemudahan dalam aspek administrasi untuk bekerja dengan beragam jenis pekerjaan yang diiinginkan. Sedangkan orang-orang yang berkebutuhan khusus, mereka belum mendapatkan fasilitas secara sempurna dan masih dilihat sebelah mata baik dalam kehidupan sosial maupun dalam kesempatan memperoleh pekerjaan.

Tuhan maha adil. Mutiara ramadhan yang disebut dengan mahabah bisa diraih oleh siapa saja dan akan mendapatkan kesempatan sama dalam meraih kemuliaan di hadapan-Nya. Manusia yang mulia secara fisik kadang lebih terbuai oleh kecerdasan dan kadang terbuai oleh keledzatan dunia. Sehingga segala aktivitas bulan ramadhan berhenti untuk mengumpulkan kenikmatan dunia. Orang-orang yang berkebutuhan khusus bisa jadi serba terbatas segala-galanya. Namun akibat keterbatasan tersebut dia sangat bersungguh-sungguh mencari ridha-Nya di bulan ramadhan. Ia mampu menjadikan seluruh kegiatannya bernilai ibadah. Pagi hari sampai sore hari ia bekerja mencari rezeki Allah, malam hari dia sujud dan mampu merasakan indahnya berdialog dengan Sang Pencipta. Dalam dialognya, dia kadang tersenyum saat mendengarkan ayat-ayat syukur dan dalam dialognya kadang dia menangis mendengar siksa Allah yang sangat pedih. Ia pun memikirkan diri nya yang tidak sempurna cara sholatnya, cara ibadah nya dan cara beramal sholeh. Pengakuan serba terbatas ini telah menjadikan dirinya untuk berusaha setiap saat semua sisa waktu di bulan ramadhan dipersembahkan kepada kekasih teragung yaitu Allah Swt.

Bulan ramadhan benar-benar sebagai ujian kehidupan sekaligus wujud hakikat jihad setiap muslim. Pertama dari aspek bicara, sebagian dari diri kita terkadang tidak memperdulikan lagi apa yang diucapkan kepada pasangan kita, anak-anak kita, orang tua atau mertua kita atau masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Perut lapar dan tenggorokan terasa haus, tapi mulut laksana air mengalir tanpa henti-hentinya. Ironisnya, ucapan yang dari mulut laksana air limbah yang mendatangkan penyakit menyebar kemana-mana tapi dirinya tidak menyadari hal tersebut. Hal ini kemungkinan terjadi karena sudah terbiasa dengan hal-hal yang buruk-buruk. Kata maqalah” al-‘adatu muhakamah” kebiasaan menjadi tradisi.

Pada aspek bicara juga sering menghadirkan kalimat-kalimat yang tidak mensyukuri kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah swt. Orang model begini, menilai kenikmatan diukur dengan tataran kenikmatan duniawi, jika orang lain mempunyai duit seharunya dirinya juga punya duit, orang lain mempunyai kendaraan maka dirinya seharusnya demikian. Jadi kenikmatan masih diukur dengan hitungan nominal bukan subtansial. Akibatnya, ia tertutup untuk bisa melihat kenikmatan tersebut dari sudut hakikat. Dari mulutnya hanya isinya kritikan, hujatan, ejekan, dan kering dari rasa syukur atas nikmat umur masih hidup, kesehatan, mata masih bisa melihat dan masih bisa menikmati sujud kepada Allah swt.

Kedua aspek berfikir. Sebagian muslim berfikir melihat bulan ramadhan sebagai bulan pengumpul pahala saja, tidak melihat dari sumber dosa oleh anggota tubuhnya. Keistimewaan bulan ramadhan dengan amalan wajib pahalanya dilipatgandakan, dan amalan sunnah dinisbatkan menjadi amalan wajib telah menginspirasi sebagian umat islam untuk melakukan segala amal ibadah dengan mengejar target. Semangat yang membara tanpa program yang jelas telah melahirkan manusia-manusia berjalan tanpa arah yang jelas pasca romadhan. Dan pola kerja demikian akan terus berlanjut sampai pada datangnya bulan ramadhan tahun depan. Mereka berfikir sangat fluktuatif, saat ada amalan bernilai ibadah dengan pahala tinggi, maka ibadahnya meningkat, tapi pada saat tidak dijelaskan pahalanya, ibadah pun kendor.

Ketiga aspek perbuatan. Aspek perbuatan manusia tidak lepas dari aspek kedua yaitu berfikir. Keduanya saling berhubungan. Sebab perbuatan manusia tidak lepas dari proses berfikir. Meskipun banyak juga manusia berbuat tanpa menggunakan pikiran, tapi secara umum demikian adanya. Ketika berbicara tentang perbuatan baik dan buruk, tidak lepas dari proses berfikir benar dan tidak benar. Ketika ada seseorang atau lembaga atau ormas membagi takjil dengan tujuan untuk pamer kedermawanan, maka perbuatan tersebut dianggap cacat. Tapi sebaliknya, ketika mereka melakukan hal tersebut mempunyai tujuan sebagai metode dakwah, maka perbuatan dalam wujud yang sama bisa menghasilkan nilai yang berbeda disebabkan perbedaan dari proses berfikir nya. Itu sebabnya, pada wilayah ini setiap orang bisa menilai, tapi tidak bisa memvonis nya, antara benar dan salah.

Keempat aspek hati. Al-qur’an dan hadist tidak selalu berbicara pada tataran tekstual, tapi sering menampilkan hal-hal yang bersifat majazi. Ketika nabi mengatakan bahwa,”setan di rantai atau di penjara”, maka kita juga harus melihat dari segi majaz. Allah menciptakan manusia dari unsur yang dimiliki oleh malaikat dan iblis. Keduanya ada pada diri manusia. Keduanya kadang muncul dalam bentuk perlawanan, kadang juga dalam wujud dominasi iblis atas malaikat atau sebaliknya. Dari sini kita sering melihat perilaku manusia yang beragam; ada baik dan tidak baik, sholeh dan salah. Ketika manusia bisa konsisten berbuat baik, maka pada dirinya mampu mengendalikan hawa nafsu menjadi muthmainah. Saat itu maka manusia mampu memenjarakan iblis pada dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika  ia selalu menuruti hawa nafsu syayiah atau nafsu amarah (nafsu negatif) berarti manusia telah membiarkan iblis berkeliaran pada dirinya, keluar masuk laksana keluar masuk keringat dari pori-pori kulit manusia di musim panas.

Aspek hati melahirkan manusia disebut dengan qalbun salim dan qalbun marid. Qalbun salim adalah hati kaum muslimin yang telah memantapkan hatinya berupa sinar nafsu mutmainah. Sehingga hatinya tenang laksana lautan luas yang tenang ketika masuk pada dirinya bisikan-bisikan jahat yang ingin menghancurkan kepribadiannya. Semua hanyut dan tidak membekas pada dirinya. Sedangkan qalbun marid cermin dari hati rusak. Isinya iri dengki, hasud, riya dan sejenisnya. Tidak peduli apakah ia berbaju ala ustadz, buya, ulama dan sejenisnya. Semua berpotensi bisa terkena qalbun marid. Senyum hanya sebatas hiasan bibir, tapi di dalamnya terkandung bisa-bisa kebencian kepada orang lain atau kelompok lain dan ingin menghancurkannya. Kelompok ini sebenarnya yang menjadi fintah besar di tengah-tengah umat. Ia laksana cahaya, tapi berubah laksana cahaya api. Sama-sama memghasilan sinar. Cahaya melahirkan sinar ketenangan dan kedamaian, sedangkan api mampu membakar siapapun yang berada di dekatnya.

Di penghujung ramadhan, kita benar-benar dilatih untuk bisa menundukan keempat aspek yang secara terus-menerus menyerang kita setiap saat. Kita bisa letih dan tidak berdaya menghadapi semua itu. Bahkan kita bisa terkapar seperti manusia sedang berpuasa di tengah hari dalam keadaan yang tidak bertenaga sama sekali. Namun saat sinar-sinar keagungan Allah telah tumbuh dalam hati yang paling dalam, maka sinar-sinar tersebut akan mampu menyinari seluruh tubuh nya. Dalam kondisi apapun, semua bisa diformat menjadi hal-hal yang diridhai oleh Allah swt.

Menjelang datangnya bulan syawal, penulis menutup tulisan ini meminta maaf atas segala kesalahan dan berharap semoga kita menjadi orang-orang yang berhasil dalam perjuangan menundukan hawa nafsu dan kita kembali menjadi pemenang di bulan syawal. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876