
Bulan Ramadhan sebentar lagi berakhir. Entah
siapa yang meninggalkan, apakah bulan Ramadhan yang meninggalkan kita atau kita
yang meninggalkan bulan Ramadhan. Persoalan waktu adalah persoalan serius yang
melekat pada seluruh ciptaan Allah swt. Manusia dan waktu adalah persoalan yang
tidak bisa dipisahkan. Waktu bagi manusia akan terus menggerogoti kekuatannya. Ia
akan terus melumatkan dan manusia tidak bisa mengelak dari proses alamiah
tersebut. Ketika seluruh sendi-sendi manusia hancur, maka ia akan menemui
periodisasi waktu pada fase selanjutnya yaitu alam barzah dan alam akherat.
lalu muncul lagi generasi selanjutnya mengisi waktu dengan proses yang sama dan
akan menemukan periodisasi yang sama.
Bulan Ramadhan adalah waktu. Ia meraih
tanganmu dan memberikan suatu pilihan-pilihan. Terkadang manusia sadar atas
pilihannya, terkadang juga tidak sadar. Ada juga manusia mulai dari awal
mengenal hakikat waktu sudah tancap gas; berbuat baik, beribadah dan menebarkan
kemanfaatan kepada alam semesta. Ada juga mulai dari awal ramadhan, sebagian
manusia mengisi dengan keputusasaan. Ia mengeluh dengan dirinya sendiri karena
sakit, keterbatasan kenikmatan dunia, keluarga penuh dengan tuntutan melebihi
kapasitas, cuaca yang sangat ekstrem, harga kebutuhan pokok serba mahal,
konflik dengan keluarga, dan lain-lain. Ia benar-benar mengisi sepanjang bulan
ramadhan dengan penuh kesedihan pada persoalan dunia dan terus memikirkannya
sampai bulan ramadhan berakhir dan masuk bulan syawal.
Bulan ramadhan hakikatnya bulan yang panas.
Ia bisa melahirkan seluruh jiwa dan raga menjadi panas, emosi meledak-ledak,
dan mudah tersinggung. Di bulan puasa manusia ada yang merasa kulitnya melepuh
terbakar, tersayat meninggalkan luka yang perih. Tapi orang yang berpuasa tidak
bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti nafsu menendang kesana-kemari dengan
membiarkan ucapan-ucapan yang sudah tidak lagi mengandung dzikir dan perbuatan
tidak lagi mencerminkan ahli fikir. Bulan ramadhan dilewati penuh dengan
penderitaan, dan bertambah menderita juga saat ramadhan telah berlalu.
Bagi orang-orang yang sudah menyiapkan diri
menemui bulan ramadhan dengan penuh kebahagiaan, maka mereka akan menemukan
keindahan bulan ramadhan dalam konteks spiritual. Laksana seorang kekasih, ia
tidak akan melihat cacat orang yang dicintainya. Sebab kekasih hanya melihat
seluruh kebaikan yang menempel pada orang yang dicintainya. Kita boleh
mentertawakan sepasang suami-istri dengan segala keterbatasan ketika membandingkan
diri kita yang sempurna. Kita juga kadang akan merasa lebih mulia dengan
kesempurnaan tubuh yang lengkap, ada dua tangan dan dua kaki, kulit putih,
badan atletis, cerdas dan mendapatkan pekerjaan yang mempesona serta anak-anak
yang sukses dari segi pendidikan dan pekerjaan. Kesombongan kita sebagai wujud
dari lemah nya memahami kesempurnaan bisa dibenarkan pada sisi tertentu. Sebab
dengan kesempurnaan tersebut, kita bisa mendapatkan kemudahan dalam aspek
administrasi untuk bekerja dengan beragam jenis pekerjaan yang diiinginkan. Sedangkan
orang-orang yang berkebutuhan khusus, mereka belum mendapatkan fasilitas secara
sempurna dan masih dilihat sebelah mata baik dalam kehidupan sosial maupun
dalam kesempatan memperoleh pekerjaan.
Tuhan maha adil. Mutiara ramadhan yang
disebut dengan mahabah bisa diraih oleh siapa saja dan akan mendapatkan kesempatan
sama dalam meraih kemuliaan di hadapan-Nya. Manusia yang mulia secara fisik
kadang lebih terbuai oleh kecerdasan dan kadang terbuai oleh keledzatan dunia.
Sehingga segala aktivitas bulan ramadhan berhenti untuk mengumpulkan kenikmatan
dunia. Orang-orang yang berkebutuhan khusus bisa jadi serba terbatas
segala-galanya. Namun akibat keterbatasan tersebut dia sangat
bersungguh-sungguh mencari ridha-Nya di bulan ramadhan. Ia mampu menjadikan
seluruh kegiatannya bernilai ibadah. Pagi hari sampai sore hari ia bekerja
mencari rezeki Allah, malam hari dia sujud dan mampu merasakan indahnya
berdialog dengan Sang Pencipta. Dalam dialognya, dia kadang tersenyum saat
mendengarkan ayat-ayat syukur dan dalam dialognya kadang dia menangis mendengar
siksa Allah yang sangat pedih. Ia pun memikirkan diri nya yang tidak sempurna
cara sholatnya, cara ibadah nya dan cara beramal sholeh. Pengakuan serba
terbatas ini telah menjadikan dirinya untuk berusaha setiap saat semua sisa
waktu di bulan ramadhan dipersembahkan kepada kekasih teragung yaitu Allah Swt.
Bulan ramadhan benar-benar sebagai ujian
kehidupan sekaligus wujud hakikat jihad setiap muslim. Pertama dari aspek
bicara, sebagian dari diri kita terkadang tidak memperdulikan lagi apa yang
diucapkan kepada pasangan kita, anak-anak kita, orang tua atau mertua kita atau
masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Perut lapar dan
tenggorokan terasa haus, tapi mulut laksana air mengalir tanpa henti-hentinya. Ironisnya,
ucapan yang dari mulut laksana air limbah yang mendatangkan penyakit menyebar
kemana-mana tapi dirinya tidak menyadari hal tersebut. Hal ini kemungkinan
terjadi karena sudah terbiasa dengan hal-hal yang buruk-buruk. Kata maqalah”
al-‘adatu muhakamah” kebiasaan menjadi tradisi.
Pada aspek bicara juga sering menghadirkan
kalimat-kalimat yang tidak mensyukuri kenikmatan-kenikmatan yang telah
diberikan oleh Allah swt. Orang model begini, menilai kenikmatan diukur dengan
tataran kenikmatan duniawi, jika orang lain mempunyai duit seharunya dirinya
juga punya duit, orang lain mempunyai kendaraan maka dirinya seharusnya
demikian. Jadi kenikmatan masih diukur dengan hitungan nominal bukan
subtansial. Akibatnya, ia tertutup untuk bisa melihat kenikmatan tersebut dari
sudut hakikat. Dari mulutnya hanya isinya kritikan, hujatan, ejekan, dan kering
dari rasa syukur atas nikmat umur masih hidup, kesehatan, mata masih bisa
melihat dan masih bisa menikmati sujud kepada Allah swt.
Kedua aspek berfikir. Sebagian muslim
berfikir melihat bulan ramadhan sebagai bulan pengumpul pahala saja, tidak melihat
dari sumber dosa oleh anggota tubuhnya. Keistimewaan bulan ramadhan dengan
amalan wajib pahalanya dilipatgandakan, dan amalan sunnah dinisbatkan menjadi
amalan wajib telah menginspirasi sebagian umat islam untuk melakukan segala
amal ibadah dengan mengejar target. Semangat yang membara tanpa program yang
jelas telah melahirkan manusia-manusia berjalan tanpa arah yang jelas pasca
romadhan. Dan pola kerja demikian akan terus berlanjut sampai pada datangnya
bulan ramadhan tahun depan. Mereka berfikir sangat fluktuatif, saat ada amalan
bernilai ibadah dengan pahala tinggi, maka ibadahnya meningkat, tapi pada saat
tidak dijelaskan pahalanya, ibadah pun kendor.
Ketiga aspek perbuatan. Aspek perbuatan
manusia tidak lepas dari aspek kedua yaitu berfikir. Keduanya saling
berhubungan. Sebab perbuatan manusia tidak lepas dari proses berfikir. Meskipun
banyak juga manusia berbuat tanpa menggunakan pikiran, tapi secara umum
demikian adanya. Ketika berbicara tentang perbuatan baik dan buruk, tidak lepas
dari proses berfikir benar dan tidak benar. Ketika ada seseorang atau lembaga
atau ormas membagi takjil dengan tujuan untuk pamer kedermawanan, maka
perbuatan tersebut dianggap cacat. Tapi sebaliknya, ketika mereka melakukan hal
tersebut mempunyai tujuan sebagai metode dakwah, maka perbuatan dalam wujud
yang sama bisa menghasilkan nilai yang berbeda disebabkan perbedaan dari proses
berfikir nya. Itu sebabnya, pada wilayah ini setiap orang bisa menilai, tapi
tidak bisa memvonis nya, antara benar dan salah.
Keempat aspek hati. Al-qur’an dan hadist
tidak selalu berbicara pada tataran tekstual, tapi sering menampilkan hal-hal
yang bersifat majazi. Ketika nabi mengatakan bahwa,”setan di rantai atau di
penjara”, maka kita juga harus melihat dari segi majaz. Allah menciptakan
manusia dari unsur yang dimiliki oleh malaikat dan iblis. Keduanya ada pada
diri manusia. Keduanya kadang muncul dalam bentuk perlawanan, kadang juga dalam
wujud dominasi iblis atas malaikat atau sebaliknya. Dari sini kita sering
melihat perilaku manusia yang beragam; ada baik dan tidak baik, sholeh dan
salah. Ketika manusia bisa konsisten berbuat baik, maka pada dirinya mampu
mengendalikan hawa nafsu menjadi muthmainah. Saat itu maka manusia mampu
memenjarakan iblis pada dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika ia selalu menuruti hawa nafsu syayiah atau
nafsu amarah (nafsu negatif) berarti manusia telah membiarkan iblis berkeliaran
pada dirinya, keluar masuk laksana keluar masuk keringat dari pori-pori kulit manusia
di musim panas.
Aspek hati melahirkan manusia disebut
dengan qalbun salim dan qalbun marid. Qalbun salim adalah
hati kaum muslimin yang telah memantapkan hatinya berupa sinar nafsu
mutmainah. Sehingga hatinya tenang laksana lautan luas yang tenang ketika
masuk pada dirinya bisikan-bisikan jahat yang ingin menghancurkan
kepribadiannya. Semua hanyut dan tidak membekas pada dirinya. Sedangkan qalbun
marid cermin dari hati rusak. Isinya iri dengki, hasud, riya dan
sejenisnya. Tidak peduli apakah ia berbaju ala ustadz, buya, ulama dan
sejenisnya. Semua berpotensi bisa terkena qalbun marid. Senyum hanya
sebatas hiasan bibir, tapi di dalamnya terkandung bisa-bisa kebencian kepada
orang lain atau kelompok lain dan ingin menghancurkannya. Kelompok ini
sebenarnya yang menjadi fintah besar di tengah-tengah umat. Ia laksana cahaya,
tapi berubah laksana cahaya api. Sama-sama memghasilan sinar. Cahaya melahirkan
sinar ketenangan dan kedamaian, sedangkan api mampu membakar siapapun yang
berada di dekatnya.
Di penghujung ramadhan, kita benar-benar
dilatih untuk bisa menundukan keempat aspek yang secara terus-menerus menyerang
kita setiap saat. Kita bisa letih dan tidak berdaya menghadapi semua itu. Bahkan
kita bisa terkapar seperti manusia sedang berpuasa di tengah hari dalam keadaan
yang tidak bertenaga sama sekali. Namun saat sinar-sinar keagungan Allah telah
tumbuh dalam hati yang paling dalam, maka sinar-sinar tersebut akan mampu
menyinari seluruh tubuh nya. Dalam kondisi apapun, semua bisa diformat menjadi
hal-hal yang diridhai oleh Allah swt.
Menjelang datangnya bulan syawal, penulis
menutup tulisan ini meminta maaf atas segala kesalahan dan berharap semoga kita
menjadi orang-orang yang berhasil dalam perjuangan menundukan hawa nafsu dan
kita kembali menjadi pemenang di bulan syawal.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876