Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sulitnya Untuk Bangkit



Selasa , 20 Mei 2025



Telah dibaca :  451

Mendengar lagu nasional di moment tertentu ternyata sangat baik untuk memperbaiki vitalitas yang sedang down. Ma’lum hidup kadang banyak problem. Rencana kadang tidak sesuai dengan harapan. Bahkan pada moment tertentu,kadang dunia terasa sempit.  Terkadang bait-bait lagu sedikit bisa mengurai rasa sesak dalam hati.

Salah satu contoh lagu satu nusa satu bangsa dengan sebagai bait berikut:

Satu Nusa Satu Bangsa

Satu Bahasa Kita

Tanah Air Pasti Jaya

Untuk Selama-Lamanya

Bait-bait tersebut terlihat sangat sakral dan menggugah kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan saat diiringi dengan aransemen lagunya. Jadi, musik punya pengaruh juga mempengaruhi dan merubah watak seseorang. Sebab musik berkaitan dengan rasa. Dan puncak tertinggi dari manusia pada rasa nya. Itu sebabnya, musik seperti makanan: ada yang bergizi dan beracun. Bergizi dimakan halal, beracun dimakan haram. Begitu juga musik. Ada musik yang bergizi sangat baik untuk asupan kekuatan spiritual, ada juga musik mengandung racun yang melupakan status martabat manusia sebagai makhluk sosial dan juga sebagai makhluk Tuhan.

Bait-bait lagu adalah sastra. Alam semesta ini juga sastra. Jika Al-Qur’an sastra yang tertulis dari firman-firman Tuhan, maka alam semesta adalah sastra yang terekam dalam pandangan manusia yang akan melahirkan bait-bait ajaran kehidupan. Semua mengajarkan tentang pentingnya bangkit secara alamiah, bukan secara keterpaksaan.

Seperti bangkitnya pohon-pohon di pagi hari, tumbuh secara konsisten. Dari biji, jadi kecambah, jadi pohon dan berbuah. Seperti matahari yang konsisten setiap pagi menyinari alam semesta. Dan seperti bintang-bintang selalu saja menghadirkan kebahagiaan saat orang memandangnya.

Memang manusia berbeda dengan pohon dan matahari. Tuhan telah memberi akal. Namun Tuhan juga menginginkan manusia belajar dari pohon dan matahari untuk selalu bangkit memperbaiki kualitas diri.

Bagaimana cara memperbaiki diri. Jangan tanya kepada ku, tapi tanya kepada diri sendiri seberapa penting makna bangkit untuk diri sendiri. Semua orang diberi keistimewaan sendiri-sendiri untuk menjawab makna kebangkitan dan manfaat tersebut untuk diri sendiri.

Karena kadang hidup seperti “Genteng Rumah”. Diinjak-injak dalam proses nya. saat sudah jadi, genteng di tempatkan di tempat yang tinggi.

Setiap manusia mempunyai problem berbeda-beda. Para pejabat negara punya problem, rakyat juga punya problem. Semua problem yang ada bukan untuk ditaruh di ruangan kita sehingga kita sulit melihat keindahan dan kenyamanan rumah. Ambil sedikit demi sedikit, dibuang dan dibakar. Terus seperti itu, maka kamar kita akan terlihat luas, longgar dan sirkulasi udara pun terasa segar.

Kamar kita sebenarnya adalah hati kita sendiri. Pikiran kita kadang terlalu laju dalam melihat persoalan. Terlalu responsif pada sisi negatifnya. Ironisnya pada sisi positif terlalu lambat memberi jalan keluar terhadap apa yang kita pikirkan tersebut. Akibatnya, terjadi beban dalam otak kita yang kecil. Jika sudah begini, seluruh jalan terlihat gelap dan seolah-olah solusi tertutup.

Maka Tuhan menghadirkan hati sebagai sumber cahaya. Ingatlah, di dunia ini bukan saya dan anda, tapi kita. Mungkin saya punya masalah berat, begitu juga anda. Tapi di luar sana, ada juga jutaan orang yang mempunyai masalah superberat. Diantara jutaan manusia yang sedang mengalami persoalan, mereka bisa hidup tenang dan terus berjalan mengurai akar persoalan. Sebagian dari mereka berhasil dan kembali bangkit dengan penuh prestasi.

Sebagai penutup, saat malam hari saya berdua istri naik kendaraan roda dua keluaran tahun 2008. Berkendaraan mengelilingi kota kecil. Terasa haus. Lalu kami beli Kelapa Muda. Beli satu tapi Sang Pembeli memberi dua. Ia sangat baik kepada ku.

“Umi, lihat bapak penjual kelapa muda, setiap hari jualan sampai malam hari. Ia tidak punya kaki. Tapi wajah nya selalu ceria. Padahal, hari-hari ini ia mengalami kesulitan jualan. Pembeli turun dratis, 50%. Tapi ia tetap bisa tersenyum dan tertawa. Begitu juga istrinya dengan setia menemaninya. Sama. Sangat ramah dan selalu terlihat bahagia” kata ku berbisik pada istriku.

Saya kagum kepada pasangan suami-istri jualan kelapa muda. Tentu saja mereka banyak masalah. Tapi mereka begitu hebat bisa menciptakan energi positif di tengah-tengah segala keterbatasan fisik dan penghasilan.

Belajar dari suami-istri tersebut bahwa hari kebangkitan nasional sebenarnya upaya membangkitkan energi positif kita untuk selalu bahagia menyambut hidup dengan terus belajar, bekerja, berkarya dan selalu yakin akan balasan dari Sang Pencipta Kebangkitan yang paling agung yaitu Allah SWT.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872