
Mendengar lagu nasional di moment tertentu
ternyata sangat baik untuk memperbaiki vitalitas yang sedang down. Ma’lum
hidup kadang banyak problem. Rencana kadang tidak sesuai dengan harapan. Bahkan
pada moment tertentu,kadang dunia terasa sempit. Terkadang bait-bait lagu sedikit bisa mengurai
rasa sesak dalam hati.
Salah satu contoh lagu satu nusa satu
bangsa dengan sebagai bait berikut:
Satu Nusa Satu Bangsa
Satu Bahasa Kita
Tanah Air Pasti Jaya
Untuk Selama-Lamanya
Bait-bait tersebut terlihat sangat sakral
dan menggugah kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan saat diiringi dengan
aransemen lagunya. Jadi, musik punya pengaruh juga mempengaruhi dan merubah
watak seseorang. Sebab musik berkaitan dengan rasa. Dan puncak tertinggi dari
manusia pada rasa nya. Itu sebabnya, musik seperti makanan: ada yang bergizi
dan beracun. Bergizi dimakan halal, beracun dimakan haram. Begitu juga musik. Ada
musik yang bergizi sangat baik untuk asupan kekuatan spiritual, ada juga musik
mengandung racun yang melupakan status martabat manusia sebagai makhluk sosial
dan juga sebagai makhluk Tuhan.
Bait-bait lagu adalah sastra. Alam semesta
ini juga sastra. Jika Al-Qur’an sastra yang tertulis dari firman-firman Tuhan,
maka alam semesta adalah sastra yang terekam dalam pandangan manusia yang akan
melahirkan bait-bait ajaran kehidupan. Semua mengajarkan tentang pentingnya bangkit
secara alamiah, bukan secara keterpaksaan.
Seperti bangkitnya pohon-pohon di pagi
hari, tumbuh secara konsisten. Dari biji, jadi kecambah, jadi pohon dan
berbuah. Seperti matahari yang konsisten setiap pagi menyinari alam semesta. Dan
seperti bintang-bintang selalu saja menghadirkan kebahagiaan saat orang
memandangnya.
Memang manusia berbeda dengan pohon dan
matahari. Tuhan telah memberi akal. Namun Tuhan juga menginginkan manusia
belajar dari pohon dan matahari untuk selalu bangkit memperbaiki kualitas diri.
Bagaimana cara memperbaiki diri. Jangan tanya
kepada ku, tapi tanya kepada diri sendiri seberapa penting makna bangkit untuk
diri sendiri. Semua orang diberi keistimewaan sendiri-sendiri untuk menjawab
makna kebangkitan dan manfaat tersebut untuk diri sendiri.
Karena kadang hidup seperti “Genteng Rumah”.
Diinjak-injak dalam proses nya. saat sudah jadi, genteng di tempatkan di tempat
yang tinggi.
Setiap manusia mempunyai problem
berbeda-beda. Para pejabat negara punya problem, rakyat juga punya problem. Semua
problem yang ada bukan untuk ditaruh di ruangan kita sehingga kita sulit
melihat keindahan dan kenyamanan rumah. Ambil sedikit demi sedikit, dibuang dan
dibakar. Terus seperti itu, maka kamar kita akan terlihat luas, longgar dan
sirkulasi udara pun terasa segar.
Kamar kita sebenarnya adalah hati kita
sendiri. Pikiran kita kadang terlalu laju dalam melihat persoalan. Terlalu responsif
pada sisi negatifnya. Ironisnya pada sisi positif terlalu lambat memberi jalan
keluar terhadap apa yang kita pikirkan tersebut. Akibatnya, terjadi beban dalam
otak kita yang kecil. Jika sudah begini, seluruh jalan terlihat gelap dan
seolah-olah solusi tertutup.
Maka Tuhan menghadirkan hati sebagai sumber
cahaya. Ingatlah, di dunia ini bukan saya dan anda, tapi kita. Mungkin saya
punya masalah berat, begitu juga anda. Tapi di luar sana, ada juga jutaan orang
yang mempunyai masalah superberat. Diantara jutaan manusia yang sedang
mengalami persoalan, mereka bisa hidup tenang dan terus berjalan mengurai akar
persoalan. Sebagian dari mereka berhasil dan kembali bangkit dengan penuh prestasi.
Sebagai penutup, saat malam hari saya
berdua istri naik kendaraan roda dua keluaran tahun 2008. Berkendaraan mengelilingi
kota kecil. Terasa haus. Lalu kami beli Kelapa Muda. Beli satu tapi Sang
Pembeli memberi dua. Ia sangat baik kepada ku.
“Umi, lihat bapak penjual kelapa muda, setiap
hari jualan sampai malam hari. Ia tidak punya kaki. Tapi wajah nya selalu
ceria. Padahal, hari-hari ini ia mengalami kesulitan jualan. Pembeli turun
dratis, 50%. Tapi ia tetap bisa tersenyum dan tertawa. Begitu juga istrinya
dengan setia menemaninya. Sama. Sangat ramah dan selalu terlihat bahagia” kata ku berbisik pada istriku.
Saya kagum kepada pasangan suami-istri
jualan kelapa muda. Tentu saja mereka banyak masalah. Tapi mereka begitu hebat bisa
menciptakan energi positif di tengah-tengah segala keterbatasan fisik dan
penghasilan.
Belajar dari suami-istri tersebut bahwa
hari kebangkitan nasional sebenarnya upaya membangkitkan energi positif kita
untuk selalu bahagia menyambut hidup dengan terus belajar, bekerja, berkarya
dan selalu yakin akan balasan dari Sang Pencipta Kebangkitan yang paling agung
yaitu Allah SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872