
Alhamdulillah pagi ini cerah. Matahari bersinar sangat indah menghangatkan tubuh. Saya sangat berterima kasih kepada-Nya atas kenikmatan tersebut. Sebab panitia PBAK kelabakan karena hujan turun sangat deras. Lapangan STAIN tempat untuk acara tergenang air hujan. Rencana sholat di tempat tersebut batal. Untung tadi malam (malam sabtu), semua panitia siaga. cepat tanggap. Mereka sama-sama mele'kan (tidak tidur) menyiapkan untuk PBAK supaya berjalan lancar.
Suaca memang sudah sangat sulit diprediksi. Sebentar hujan, sebentar terang. Apakah ini cermin manusia di era post truth yang penuh dinamikan di media sosial yang membuat manusia bahagia berlebih-lebihan, dan sedih tidak ketulungan. Sebentar teman, sebentar lawan. Sebentar sehat, sebentar sakit.
Jam 04.dinihari saya keliling. Saya menemui
anggota PMI.”bisa tidur?”, tanyaku. Mereka menjawab,”bisa pak,
sekitar 30 menit”.
Masih jam 04.00 anggota MENWA sudah tegak
berdiri. Mengatur mahasiswa baru yang mulai berdatangan. Saya cek lapangan. Air
hujan sudah bersih. Lantai lembab, tapi tidak ada air. Kursi tertata rapi. Lampu
ok. Ada panitia lewat, saya tanya kondisi air. “aman pak”, katanya.
Setelah saya cek, saya yakin bahwa panitia PBAK
telah bekerja secara maksimal. Ada kekurangan itu manusiawi. Tapi saya percaya
panitia pbak orang-orang hebat. saya harus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
dalam tulisan ini.
Namun tulisan ini tidak membahas tentang PBAK.
Saya ingin mengulas kisah kaum sufi yang sumeleh seperti Robiah
Adawiyyah, Syufyan Tsauri, atau Adam bin Ibrahim yang kecintaan kepada Allah
totalitas. Saking cintanya kepada Allah, mereka rela di masukan ke dalam neraka
karena ridha-Nya. Mereka rela masuk neraka dengan syarat, rasa cinta kepada-Nya
tidak tercerabut dari hatinya. Itulah cinta sejati.
Cinta sejati memberi, bukan meminta. Cinta
sejati orientasi mengeluarkan esensi dunia, bukan memasukan dunia. Cinta
sejati, kotoran hati keluar dari tubuhnya, sehingga jernih bagai cermin.
Sehingga hati bisa menjadi cermin. Menjadi potret dan jalan mengenal diri.
Semakin mengenal diri maka semakin mengenal Tuhannya.
Apa artinya dalam hidup ini?. Hati manusia
terlalu kecil. Dunia dan problematika terlalu besar. Ironisnya, semua mau
dimasukan dalam hati. Akibatnya, hati menjadi gelap. Semrawut. Stress. Emosi. Marah-marah.
dan sulit mendapatkan ilham untuk mengurai problem solving kehidupan.
Hati yang terlalu sempit dari sinar
keikhlasan memang selalu merasa bermasalah. Belum punya kerjaan, masalah. Sudah
punya kerja masalah. Belum punya istri pusing. Punya istri pusing. Nambah istri
satu lagi, pusing. Tidak punya anak, stress. Punya anak tambah stress. Tidak
jadi kepala daerah atau legislatif marah-marah. jadi juga marah-marah. kurus
malu. Ingin gemuk. Setelah gemuk malu.
Jadi manusia yang melihat ukuran hati
dengan parameter-parameter statistic dunia memang sering jadi ruwet. Sebab hati
memang bukan untuk tempat pabrik, jabatan, dan seisinya. Hati adalah tempat
bersemayam sinar-sinar mahabah kepada Sang Khaliq yaitu Allah Swt.
Ada buku yang sangat bagus. Judulnya “Ganti
Hati”. Karya Dahlan Iskan. Isinya tentang kisah saat hatinya (lever) yang
rusak, diganti dengan hati yang baru dan fress. Dahlan Iskan bukan tokoh
sufi, tapi penganut tarikat syattariyah. Di antara ajaran syattariyah (hal
sama juga pada tarikat-tarikat lain).
Buku tersebut bukan buku kajian tauhid atau
tasawuf seperti yang saya kenal seperti Ihya Ulumuddin dan Al-Hikam. Buku Ganti
Hati menerangkan tentang saat Dahlan Iskan terkena penyakit lever, sehingga
wajah nya berubah menjadi hitam. Sama seperti Nurcholish Madjid. Wajah jadi
hitam seperti gosong. Itu pengaruh lever yang rusak. Ia menerangkan secara
mendetail penyakitnya sampai proses ganti hati.
Penyakit lever adalah penyakit sangat
berbahaya. Rusak segumpal darah tersebut berarti kematian. Di Tiongkok sudah ada
Rumah Sakit khusus dan tempat operasinya. Banyak yang gagal. Mati. Salah satu
penyebabnya adalah tidak teratur peredaran darah disebabkan adanya kecemasan
pasien menghadapi proses ganti hati. Ini berdampak pada sulitnya menyatu antara
tubuh dan hati baru dalam proses transplantasi hati. Jika sudah bisa menyatu,
maka otomatis gagal operasi.
Kenapa cemas?. Sebab naluri manusia
terhadap ketakutan sangat sulit dihindari. Apalagi orang-orang yang sedang
menikmati masa kejayaan. Banyak duit. Banyak Perusahaan dan jabatan. Kondisi
ekonomi-sosial sedang melimpah. Kecemasan datang dari kecintaan terhadap istri
dan anak-anaknya. Takut Nasib mereka di masa mendatang.
Dahlan Iskan justru tidak demikian. Ia mampu
mengendalikan rasa cemas sampai titik terendah. Dia adalah raja media massa. Satu
hari bisa 100 juta pendapatanya. Saat terkena penyakit liver kronis dan harus
diganti, dia menerapkan ilmu sumeleh.
Seperti apa ilmu sumeleh. Saya hanya
mengilustrasikan dalam penggalan kisah nya sebagai berikut:
“Saat saya menunggu operasi beberapa hari
mendatang. Saya gunakan waktu untuk kursus bahasa mandarin di Rumah Sakit. Saya
mengundang guru privat bahasa Mandarin. Belajar mengenal nama-nama peralatan Rumah
Sakit. Saya belajar sungguh-sungguh hampir-hampir saya lupa mau operasi liver yang
menentukan hidup matiku”.
“Saya tahu, operasi liver prosentase
kegagalan sangat besar. Setiap hari di Rumah Sakit, selalu saja ada orang
meninggal karena gagal operasi. Saya tidak takut sama sekali. Orang tua ku
mengajarkan agar hidup itu sumeleh, sangkan paraning dumadi, kita dulu tidak
ada, sekarang ada, tidak ada lagi, lalu kembali kepada Yang Maha Ada.”
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876