Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sumeleh Jalan Meraih Kebahagiaan di Era Post Truth



Sabtu , 24 Agustus 2024



Telah dibaca :  583

Alhamdulillah pagi ini cerah. Matahari bersinar sangat indah menghangatkan tubuh. Saya sangat berterima kasih kepada-Nya atas kenikmatan tersebut. Sebab panitia PBAK kelabakan karena  hujan turun sangat deras. Lapangan STAIN tempat untuk acara tergenang air hujan. Rencana sholat di tempat tersebut batal. Untung tadi malam (malam sabtu), semua panitia siaga. cepat tanggap. Mereka sama-sama mele'kan (tidak tidur) menyiapkan untuk PBAK supaya berjalan lancar.

Suaca memang sudah sangat sulit diprediksi. Sebentar hujan, sebentar terang. Apakah ini cermin manusia di era post truth yang penuh dinamikan di media sosial yang membuat manusia bahagia berlebih-lebihan, dan sedih tidak ketulungan. Sebentar teman, sebentar lawan. Sebentar sehat, sebentar sakit. 

Jam 04.dinihari saya keliling. Saya menemui anggota PMI.”bisa tidur?”, tanyaku. Mereka menjawab,”bisa pak, sekitar 30 menit”.

Masih jam 04.00 anggota MENWA sudah tegak berdiri. Mengatur mahasiswa baru yang mulai berdatangan. Saya cek lapangan. Air hujan sudah bersih. Lantai lembab, tapi tidak ada air. Kursi tertata rapi. Lampu ok. Ada panitia lewat, saya tanya kondisi air. “aman pak”, katanya.

Setelah saya cek, saya yakin bahwa panitia PBAK telah bekerja secara maksimal. Ada kekurangan itu manusiawi. Tapi saya percaya panitia pbak orang-orang hebat. saya harus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dalam tulisan ini.

Namun tulisan ini tidak membahas tentang PBAK. Saya ingin mengulas kisah kaum sufi yang sumeleh seperti Robiah Adawiyyah, Syufyan Tsauri, atau Adam bin Ibrahim yang kecintaan kepada Allah totalitas. Saking cintanya kepada Allah, mereka rela di masukan ke dalam neraka karena ridha-Nya. Mereka rela masuk neraka dengan syarat, rasa cinta kepada-Nya tidak tercerabut dari hatinya. Itulah cinta sejati.

Cinta sejati memberi, bukan meminta. Cinta sejati orientasi mengeluarkan esensi dunia, bukan memasukan dunia. Cinta sejati, kotoran hati keluar dari tubuhnya, sehingga jernih bagai cermin. Sehingga hati bisa menjadi cermin. Menjadi potret dan jalan mengenal diri. Semakin mengenal diri maka semakin mengenal Tuhannya.

Apa artinya dalam hidup ini?. Hati manusia terlalu kecil. Dunia dan problematika terlalu besar. Ironisnya, semua mau dimasukan dalam hati. Akibatnya, hati menjadi gelap. Semrawut. Stress. Emosi. Marah-marah. dan sulit mendapatkan ilham untuk mengurai problem solving kehidupan.

Hati yang terlalu sempit dari sinar keikhlasan memang selalu merasa bermasalah. Belum punya kerjaan, masalah. Sudah punya kerja masalah. Belum punya istri pusing. Punya istri pusing. Nambah istri satu lagi, pusing. Tidak punya anak, stress. Punya anak tambah stress. Tidak jadi kepala daerah atau legislatif marah-marah. jadi juga marah-marah. kurus malu. Ingin gemuk. Setelah gemuk malu.

Jadi manusia yang melihat ukuran hati dengan parameter-parameter statistic dunia memang sering jadi ruwet. Sebab hati memang bukan untuk tempat pabrik, jabatan, dan seisinya. Hati adalah tempat bersemayam sinar-sinar mahabah kepada Sang Khaliq yaitu Allah Swt.

Ada buku yang sangat bagus. Judulnya “Ganti Hati”. Karya Dahlan Iskan. Isinya tentang kisah saat hatinya (lever) yang rusak, diganti dengan hati yang baru dan fress. Dahlan Iskan bukan tokoh sufi, tapi penganut tarikat syattariyah. Di antara ajaran syattariyah (hal sama juga pada tarikat-tarikat lain).

Buku tersebut bukan buku kajian tauhid atau tasawuf seperti yang saya kenal seperti Ihya Ulumuddin dan Al-Hikam. Buku Ganti Hati menerangkan tentang saat Dahlan Iskan terkena penyakit lever, sehingga wajah nya berubah menjadi hitam. Sama seperti Nurcholish Madjid. Wajah jadi hitam seperti gosong. Itu pengaruh lever yang rusak. Ia menerangkan secara mendetail penyakitnya sampai proses ganti hati.

Penyakit lever adalah penyakit sangat berbahaya. Rusak segumpal darah tersebut berarti kematian. Di Tiongkok sudah ada Rumah Sakit khusus dan tempat operasinya. Banyak yang gagal. Mati. Salah satu penyebabnya adalah tidak teratur peredaran darah disebabkan adanya kecemasan pasien menghadapi proses ganti hati. Ini berdampak pada sulitnya menyatu antara tubuh dan hati baru dalam proses transplantasi hati. Jika sudah bisa menyatu, maka otomatis gagal operasi.

Kenapa cemas?. Sebab naluri manusia terhadap ketakutan sangat sulit dihindari. Apalagi orang-orang yang sedang menikmati masa kejayaan. Banyak duit. Banyak Perusahaan dan jabatan. Kondisi ekonomi-sosial sedang melimpah. Kecemasan datang dari kecintaan terhadap istri dan anak-anaknya. Takut Nasib mereka di masa mendatang.

Dahlan Iskan justru tidak demikian. Ia mampu mengendalikan rasa cemas sampai titik terendah. Dia adalah raja media massa. Satu hari bisa 100 juta pendapatanya. Saat terkena penyakit liver kronis dan harus diganti, dia menerapkan ilmu sumeleh.

Seperti apa ilmu sumeleh. Saya hanya mengilustrasikan dalam penggalan kisah nya sebagai berikut:

“Saat saya menunggu operasi beberapa hari mendatang. Saya gunakan waktu untuk kursus bahasa mandarin di Rumah Sakit. Saya mengundang guru privat bahasa Mandarin. Belajar mengenal nama-nama peralatan Rumah Sakit. Saya belajar sungguh-sungguh hampir-hampir saya lupa mau operasi liver yang menentukan hidup matiku”.

Saya tahu, operasi liver prosentase kegagalan sangat besar. Setiap hari di Rumah Sakit, selalu saja ada orang meninggal karena gagal operasi. Saya tidak takut sama sekali. Orang tua ku mengajarkan agar hidup itu sumeleh, sangkan paraning dumadi, kita dulu tidak ada, sekarang ada,  tidak ada lagi, lalu kembali kepada Yang Maha Ada.”



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876