
Malam hari belum bisa tidur. Badan terasa
panas. Agaknya pengaruh terlalu banyak makan durian. Mungkin karena tinggi
kandungan sulfur dan gula tinggi. Sambil “leyeh-leyeh” di kursi dan
duduk bareng sama dosen-dosen PIAUD yang malam hari ini “nglembur”
melengkapi document.
Untuk menghibur diri, saya menulis catatan
harian sambil mendengar lagu lawas dari Scorpions berjudul” Always Somewhere”.
Ada bait yang terasa sangat indah akan kuabadikan dalam tulisan ini:
Always somewhere
Miss you where I've been
I'll be back to love you again
Another morning another place
The only day off is far away
But every city has seen me in the end
And brings me to you again
Catatan malam ini tentang pertemuan ku dengan orang-orang hebat seperti Prof Dadan Suryana dan Ade Dwi Utami, Ph.D merupakan sesuatu yang menyenangkan. Bukan karena apa-apa. Rasa senang karena ajaran orang tua ku yang sangat mencintai ahli ilmu. Saya ingat betul pesan orang tua ku agar senantiasa senang terhadap ilmu dan ahli ilmu. Siapapun orang nya dan darimanapun ia berasal. Sebab kata orang tua ku :”Ilmu itu cahaya kebajikan yan dititipkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih”.

Pertemuan atas dasar kecintaan terhadap
ilmu tentu saja sangat menyenangkan. Tradisi ini sebenarnya tradisi keagungan
saat pertama hadirnya Islam di Jazirah Arab. Di beberapa buku sirah, sahabat-sahabat
Nabi “ngerubut” dan duduk bersimpuh dihadapannya. Bahkan konon saking
tidak ada jarak antara Nabi dan sahabat, hingga kaki para sahabat bersentuhan
dengan kaki manusia yang teragung di Jagat Raya yaitu Nabi Muhammad SAW.
Wajar jika saya bertemu dengan beberapa ahli ilmu -apapun ilmunya -saya selalu cerewet bertanya beberapa yang memberi kemanfaatan dan juga siap mendengarkan dengan mencatat hal-hal yang menurut ku sangat penting untuk dijadikan pelajaran dalam kehidupan. mungkin saya yang paling cerewet, terutama saat bersama Prof Dadan.

Pada kesempatan ini saya telah mencatat
tentang pola keterbukaan berbicara dan cara bergaul Ibu Ami. Saya melihat cara
berbicara yang cepat dan apa adanya merupakan bagian kebiasaan dia selama masa
pendidikan di Australia selama kurang lebih 5 tahun. Pola bicara orang ilmiah,
terbuka dan tentu ia ingin tetap menjaga sebagai seorang dosen yang mempunyai
tradisi ketimuran yang sering dikaitkan dengan persoalan etika dan sopan
santun.
Melihat Bu Ami yang masih muda -sudah
bersuami dan punya anak – mengingatkan ku kepada seorang peneliti dan doktor
muda dari Jepang Mariko Ogawa saat berkunjung ke STAIN Bengkalis beberapa bulan
silam. Sebagaimana Bu Ami, pola bicara Ogawa juga demikian: lugas, jelas dan
mudah dipahami lawan bicaranya
Sebagaimana Bu Ami, Prof Dadan juga
demikian. Dalam waktu yang cukup singkat, saya bisa memetik semerbak harum
bunga kehidupan. sebagai orang yang berasal dari Bandung dan mempunyai seorang
istri dari Slawi Jawa Tengah dan kini menjadi dosen tetap di UNP Sumbar telah
mempunyai pengalaman kehidupan yang sangat mendalam. Darah yang mengalir
sebagai seorang guru sangat terlihat sekali. Saya melihatnya begitu sangat
sabar memberi bimbingan kepada sahabat-sahabat ku dari prodi PIAUD yang sedang
AL. Seolah-olah ia tidak rela murid-muridnya tidak mengenal ilmu. Ia ingin
sekali melihat murid-muridnya berprestasi di masa-masa mendatang.
Seorang pendidik sejati memang demikian.
Semangat yang tumbuh pada dirinya merupakan semangat untuk memberi sumbangsih
positif dan selalu memberi tunjuk ajar kepada siapapun yang membutuhkan nya.
Seorang guru atau pendidik sejati mempunyai energi yang sangat besar. Menurut
Hujatul Islam, energi yang membuat seorang pendidik tetap tangguh dan selalu
enerjik karena ia mencurahkan ilmu-ilmunya semata-mata untuk menuju Allah SWT
Energi tertinggi dalam kehidupan
orang-orang yang mengenal agama, bahwa kebutuhan psikologi merupakan kebutuhan
utama selain dari safety, esteem dan social
Saya, Prof Dadan dan Bu Ami serta
teman-teman ku lainnya sebenarnya pada wilayah tersebut mempunyai kesamaan.
Hanya pola nya saja yang berbeda dalam memaknai dan mewujudkan kebutuhan
naluri-naluri dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu saja ada kesamaan bahwa kita semua
adalah bagian dari makhluk sosial (zoon politicon) dan makhluk beragama
(homo religius). Sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan kebersamaan
dan persaudaraan. meskipun pada wilayah-wilayah tertentu ada
perbedaan-perbedaan. Tidak mengapa, sebab perbedaan merupakan bagian dari
keindahan itu tercipta. Perbedaan tersebut menjadikan tumbuh kisah-kisah yang
menjadi kenangan yang sangat sulit dilupakan. Hidup tidak monoton. Hidup
semakin bermakna.
Semoga saja pertemuan kami memberi makna
yang sangat berharga dalam upaya menjalin persaudaraan sepanjang hayat.
Persaudaraan yang tidak pernah putus oleh keterbatasan masa. Hal ini karena
pada diri kita ada pengikat yang membuat pertemuan tersebut “langgeng”
yaitu persaudaraan diikat oleh naluri beragama (homo religius).
Daftar Pustaka
al-Taftazani, A. a.-W.-G. (1997). Sufi dari Zaman ke Zaman .
Bandung : Penerbit Pustaka.
Ghozali, I. (2025). Agama dan Masa Depan Generasi Islam di Era
Digital . Banyumas : CV Rizquna.
Ghozali, I. (2025). Puasa, Jihad dan Cinta . Banyumas :
CV.Rizquna .
Imam Ghozali, I. H. (2025). Agama dan Transformasi Peradaban
Masyarakat di Era Digital . Banyumas: CV Rizquna.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876