Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sunset: Catatan Kecil untuk Prof Dadan dan Ade Dwi Utami, P.hD



Jumat , 18 Juli 2025



Telah dibaca :  458

Malam hari belum bisa tidur. Badan terasa panas. Agaknya pengaruh terlalu banyak makan durian. Mungkin karena tinggi kandungan sulfur dan gula tinggi. Sambil “leyeh-leyeh” di kursi dan duduk bareng sama dosen-dosen PIAUD yang malam hari ini “nglembur” melengkapi document.

Untuk menghibur diri, saya menulis catatan harian sambil mendengar lagu lawas dari Scorpions berjudul” Always Somewhere”. Ada bait yang terasa sangat indah akan kuabadikan dalam tulisan ini:

Always somewhere

Miss you where I've been

I'll be back to love you again

Another morning another place

The only day off is far away

But every city has seen me in the end

And brings me to you again

Catatan malam ini tentang pertemuan ku dengan orang-orang hebat seperti Prof Dadan Suryana dan Ade Dwi Utami, Ph.D merupakan sesuatu yang menyenangkan. Bukan karena apa-apa. Rasa senang karena ajaran orang tua ku yang sangat mencintai ahli ilmu. Saya ingat betul pesan orang tua ku agar senantiasa senang terhadap ilmu dan ahli ilmu. Siapapun orang nya dan darimanapun ia berasal. Sebab kata orang tua ku :”Ilmu itu cahaya kebajikan yan dititipkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih”.


Pertemuan atas dasar kecintaan terhadap ilmu tentu saja sangat menyenangkan. Tradisi ini sebenarnya tradisi keagungan saat pertama hadirnya Islam di Jazirah Arab. Di beberapa buku sirah, sahabat-sahabat Nabi “ngerubut” dan duduk bersimpuh dihadapannya. Bahkan konon saking tidak ada jarak antara Nabi dan sahabat, hingga kaki para sahabat bersentuhan dengan kaki manusia yang teragung di Jagat Raya yaitu Nabi Muhammad SAW.

Wajar jika saya bertemu dengan beberapa ahli ilmu -apapun ilmunya -saya selalu cerewet bertanya beberapa yang memberi kemanfaatan dan juga siap mendengarkan dengan mencatat hal-hal yang menurut ku sangat penting untuk dijadikan pelajaran dalam kehidupan. mungkin saya yang paling cerewet, terutama saat bersama Prof Dadan.


Pada kesempatan ini saya telah mencatat tentang pola keterbukaan berbicara dan cara bergaul Ibu Ami. Saya melihat cara berbicara yang cepat dan apa adanya merupakan bagian kebiasaan dia selama masa pendidikan di Australia selama kurang lebih 5 tahun. Pola bicara orang ilmiah, terbuka dan tentu ia ingin tetap menjaga sebagai seorang dosen yang mempunyai tradisi ketimuran yang sering dikaitkan dengan persoalan etika dan sopan santun.

Melihat Bu Ami yang masih muda -sudah bersuami dan punya anak – mengingatkan ku kepada seorang peneliti dan doktor muda dari Jepang Mariko Ogawa saat berkunjung ke STAIN Bengkalis beberapa bulan silam. Sebagaimana Bu Ami, pola bicara Ogawa juga demikian: lugas, jelas dan mudah dipahami lawan bicaranya (Imam Ghozali I. H., 2025). Ini merupakan pola orang-orang yang sangat menyukai tradisi keilmuan dan penelitian. Suatu tradisi yang kurang dinikmati oleh sebagian dosen. Padahal tradisi tersebut sebenarnya yang harus tumbuh dan berkembang sebagai jalan hidup para dosen. Sebab dosen merupakan pembawa obor peradaban. Mereka mempunyai tanggungjawab untuk terus menghidupkan obor tersebut dan memberikan obor tersebut kepada mahasiswa. Sehingga ada tongkat estafet dan tradisi keilmuwan terus hidup dan memancar di kampus-kampus.

Sebagaimana Bu Ami, Prof Dadan juga demikian. Dalam waktu yang cukup singkat, saya bisa memetik semerbak harum bunga kehidupan. sebagai orang yang berasal dari Bandung dan mempunyai seorang istri dari Slawi Jawa Tengah dan kini menjadi dosen tetap di UNP Sumbar telah mempunyai pengalaman kehidupan yang sangat mendalam. Darah yang mengalir sebagai seorang guru sangat terlihat sekali. Saya melihatnya begitu sangat sabar memberi bimbingan kepada sahabat-sahabat ku dari prodi PIAUD yang sedang AL. Seolah-olah ia tidak rela murid-muridnya tidak mengenal ilmu. Ia ingin sekali melihat murid-muridnya berprestasi di masa-masa mendatang.

Seorang pendidik sejati memang demikian. Semangat yang tumbuh pada dirinya merupakan semangat untuk memberi sumbangsih positif dan selalu memberi tunjuk ajar kepada siapapun yang membutuhkan nya. Seorang guru atau pendidik sejati mempunyai energi yang sangat besar. Menurut Hujatul Islam, energi yang membuat seorang pendidik tetap tangguh dan selalu enerjik karena ia mencurahkan ilmu-ilmunya semata-mata untuk menuju Allah SWT (al-Taftazani, 1997).

Energi tertinggi dalam kehidupan orang-orang yang mengenal agama, bahwa kebutuhan psikologi merupakan kebutuhan utama selain dari safety, esteem dan social (Ghozali, Puasa, Jihad dan Cinta , 2025). Tidak bisa menutup mata bahwa setiap manusia membutuhkan berbagai keperluan hidup sebagai bagian naluri bawaan sejak ia lahir seperti memenuhi kebutuhan hidup. Namun ia juga tidak bisa lari dari kenyataan, bahwa manusia membutuhkan ketenangan sejati dari semua asesoris yang ada di dunia yaitu ketenangan bersumber dari agama.

Saya, Prof Dadan dan Bu Ami serta teman-teman ku lainnya sebenarnya pada wilayah tersebut mempunyai kesamaan. Hanya pola nya saja yang berbeda dalam memaknai dan mewujudkan kebutuhan naluri-naluri dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu saja ada kesamaan bahwa kita semua adalah bagian dari makhluk sosial (zoon politicon) dan makhluk beragama (homo religius). Sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan kebersamaan dan persaudaraan. meskipun pada wilayah-wilayah tertentu ada perbedaan-perbedaan. Tidak mengapa, sebab perbedaan merupakan bagian dari keindahan itu tercipta. Perbedaan tersebut menjadikan tumbuh kisah-kisah yang menjadi kenangan yang sangat sulit dilupakan. Hidup tidak monoton. Hidup semakin bermakna.

Semoga saja pertemuan kami memberi makna yang sangat berharga dalam upaya menjalin persaudaraan sepanjang hayat. Persaudaraan yang tidak pernah putus oleh keterbatasan masa. Hal ini karena pada diri kita ada pengikat yang membuat pertemuan tersebut “langgeng” yaitu persaudaraan diikat oleh naluri beragama (homo religius).

Daftar Pustaka

al-Taftazani, A. a.-W.-G. (1997). Sufi dari Zaman ke Zaman . Bandung : Penerbit Pustaka.

Ghozali, I. (2025). Agama dan Masa Depan Generasi Islam di Era Digital . Banyumas : CV Rizquna.

Ghozali, I. (2025). Puasa, Jihad dan Cinta . Banyumas : CV.Rizquna .

Imam Ghozali, I. H. (2025). Agama dan Transformasi Peradaban Masyarakat di Era Digital . Banyumas: CV Rizquna.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876