
Entah siapa yang pesan. Hanya kaget saja. Panitia tiba-tiba memberi
susu beruang kepada dewan hakim KTIQ. Satu-satu. Sembilan dewan hakim, berarti
Sembilan susu beruang. Siapa punya ide, saya tak tahu. Tapi itu termasuk ide
jenius. Ma’lum, dewan hakim sudah tiga-empat hari di hotel. Rata-rata
laki-laki. Loyo. Demam. Solusinya, minum susu beruang. Biasanya kalau sudah
minum susu, sehat. Jika tidak sehat-sehat terpaksa disuruh pulang ke rumah
masing-masing.
Entah siapa yang pesan. Apa ada konspirasi Susu Beruang. Atau jangan-jangan ada yang guyonan dari dewan hakim. Ma'lum, jika mereka sudah kumpul, akan muncul banyolan-banyolan yang kadang harus siap-siap "tebal Telinga". Ma'lum, generasi "jadul" hidup di era digital. Kadang lucu-lucu. Membunyikan "ChatGPT" kedengarannya "Kecap ABC".
Tema KTIQ tahun ini: ketahanan keluarga dan transformasi digital. Uniknya, era digital menjadi obyek kajian. Karena kenyataannya, era digital sudah merambah ke sumsum kehidupan manusia. Sulit menghindar darinya. Era digital memang persis seperti Susu Beruang. Gambar Beruang. Isinya Susu Sapi. Iklan gambar Naga. Tidak nyambung. tapi orang banyak yang suka. Karena susu beruang telah berhasil mempresepsikan diri sebagai produk susu yang higeinis dan membantu meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.
Para peserta KTIQ yang rata-rata masih menjadi mahasiswa
kelihatannya sudah mulai “kranjingan” tentang tema-tema yang berbau
“digital”. Mungkan alam bawah sadar mengatakan era tersebut sebagai wujud
kesempurnaan hidup. Jika mendengar modern, maka terbayang kemajuan, kemoderan
dan kemulyaan. Ketika mendengar era tradisional berarti “jadul”, “kolot”,
dan terbelakang.
Para peserta KTIQ yang sebenarnya bagian dari pemegang tongkat
estafet peradaban Islam. Ketika kami membaca hasil tulisannya dan memaparkan di
depan para dewan hakim, terasa muncul kesedihan. Mereka belum memahami hakikat makna
dari kata “modern”. Mereka lebih memfokuskan diri sebatas memaknai pada aspek
mekanik dan teknologi
Jadi ada perbedaan pandangan tentang makna modern. Islam lebih
menekan pada penerjemahan firman-firman Tuhan berkaitan implementasi pada
tataran nilai-nilai qur’ani. Jika dulu ada istilah membunuh bayi hidup-hidup
dan sekarang ada istilah aborsi dengan alat super modern, tetap hakikatnya
sebagai wujud dari zaman jahiliah. Sebab makna modern meletakan nilai-nilai
dari segi kemanfaatan dan tidak mengandung kerusakan. Jadi ukurannya pada
produk nya, tapi pada azas kemanfaatannya.
Firman Allah dalam Q.S. Al-A’raf ([7]: 56) berbunyi: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”Q.S. Al-Baqarah ([2]:11) berbunyi:”Apabila
dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi, mereka menjawab,
“Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan”.
Penulis bisa mencermati makna tersebut dari para ahli tafsir. Imam
Al-Baidhawi menafsiri wujud dari kerusakan yaitu mengorbankan perang dan fitnah
dengan membuat tipu daya yang dilakukan oleh kaum kafir. Mereka membuat
kerusakan di dunia. Syeikh Az-Zuhaili juga selain membuat kerusakan juga
melakukan provokasi dan membocorkan rahasia umat Islam
Dari dua ahli tafsir ini sebenarnya sudah bisa dipahami bahwa kemajuan
teknologi yang bermula mengalami peledakan teknologi pada masa revolusi industri
sebenarnya bagian dari bentuk peperangan dan kerusakan-kerusakan serta jalan
untuk menebarkan fitnah di kalangan umat Islam mulai dari tahun 1760 di kawasan
eropa hingga era digital saat sekarang ini. Semua produk teknologi adalah wujud
penjajahan bangsa barat dan bangsa-bangsa baru bangkit dan kemudian menempati
negara modern seperti China, Korea dan Singapura. Negara-negara ini yang
menjadi kendali seluruh aktivitas tatanan dunia. Mereka bisa menciptakan apa
saja dalam wujud apapun sesuai dengan selera mereka. Negara-negara islam sementara
ini masih sebatas sebagai konsumen dan selalu menjadi korban. Dampaknya berupa
serangan nilai-nilai liberalisasi yang saat ini kita sama-sama melihat alat-alat
komunikasi dan media-media online yang bersliweran saat sekarang ini.
Apa akibatnya, umat Islam gagap. Sebagian mereka belum mampu
menghadapi serangan tersebut. Ia mencoba menangkis nilai-nilai liberalisasi
seperti menangkis peluru-peluru tembakan dengan kipas angin. Tragisnya, sebagian
generasi Islam pun malah membiarkan peluru-peluru tersebut menyerang dan
membunuh rasa mereka sampai diri nya tidak merasa. Salah satu bukti, mereka
membanggakan produk mekanik dan teknologi yang dianggap modern dan tidak menyaringnya
dengan baik. Lagi-lagi kita tetap menjadi korban.
Apakah generasi Islam seperti peserta KTIQ telah menjadi korban. Bisa
jadi. Salah satu indikatornya, mereka telah kehilangan ruh semangat belajar
memperdalam ilmu pengetahuan. Mereka telah menikmati kemudahan aplikasi seperti
AI, ChatGPT dan sejenisnya. Kita sudah mulai bisa merasakan dampak negatif tersebut.
Tapi saya melihat mereka tidak merasakan hal tersebut. Sedih.
Penulis : Imam Ghozali
IMAM HAKIM
Mencerahkan sekali, perlu generasi penerus ini untuk senantiasa diinfiltrasi mindset seperti Pak Waket ungkapkan bahwa modern tidak dimaknai sempit hanya dalam mekaniknya IT saja, namun peradabannya mesti dtransformasi....Mantap Pak Waket STAIN Bengkalis
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872