Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Susu Beruang dan Transformasi Digital



Rabu , 18 Desember 2024



Telah dibaca :  394

Entah siapa yang pesan. Hanya kaget saja. Panitia tiba-tiba memberi susu beruang kepada dewan hakim KTIQ. Satu-satu. Sembilan dewan hakim, berarti Sembilan susu beruang. Siapa punya ide, saya tak tahu. Tapi itu termasuk ide jenius. Ma’lum, dewan hakim sudah tiga-empat hari di hotel. Rata-rata laki-laki. Loyo. Demam. Solusinya, minum susu beruang. Biasanya kalau sudah minum susu, sehat. Jika tidak sehat-sehat terpaksa disuruh pulang ke rumah masing-masing.

Entah siapa yang pesan. Apa ada konspirasi Susu Beruang. Atau jangan-jangan ada yang guyonan dari dewan hakim. Ma'lum, jika mereka sudah kumpul, akan muncul banyolan-banyolan yang kadang harus siap-siap "tebal Telinga".  Ma'lum, generasi "jadul" hidup di era digital. Kadang lucu-lucu. Membunyikan "ChatGPT" kedengarannya "Kecap ABC".

Tema KTIQ tahun ini: ketahanan keluarga dan transformasi digital. Uniknya, era digital menjadi obyek kajian. Karena kenyataannya, era digital sudah merambah ke sumsum kehidupan manusia. Sulit menghindar darinya. Era digital memang persis seperti Susu Beruang. Gambar Beruang. Isinya Susu Sapi. Iklan gambar Naga. Tidak nyambung. tapi orang banyak yang suka. Karena susu beruang telah berhasil mempresepsikan diri sebagai produk susu yang higeinis dan membantu meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

Para peserta KTIQ yang rata-rata masih menjadi mahasiswa kelihatannya sudah mulai “kranjingan” tentang tema-tema yang berbau “digital”. Mungkan alam bawah sadar mengatakan era tersebut sebagai wujud kesempurnaan hidup. Jika mendengar modern, maka terbayang kemajuan, kemoderan dan kemulyaan. Ketika mendengar era tradisional berarti “jadul”, “kolot”, dan terbelakang.

Para peserta KTIQ yang sebenarnya bagian dari pemegang tongkat estafet peradaban Islam. Ketika kami membaca hasil tulisannya dan memaparkan di depan para dewan hakim, terasa muncul kesedihan. Mereka belum memahami hakikat makna dari kata “modern”. Mereka lebih memfokuskan diri sebatas memaknai pada aspek mekanik dan teknologi (Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Jilid. 2, Cet. 1, , 2006). Ini merupakan sebuah kemunduran berfikir. Modern dalam kontek mekanik bisa dibenarkan. Tapi dalam konteks suatu evolusi peradaban, modern sebenarnya telah terjadi sejak nabi Muhammad saw diutus menjadi rasul di tanah Arab. Ia mampu menghapus masa jahiliyah sebagai wujud tradisional dan merubah menjadi zaman modern atau Madinah Al-Munawarah. Kata Madinah itu punya arti tamadun atau hadarah. Dua-duanya berarti peradaban. Robert N Bellah menilai masa Nabi Muhammad sebagai masa modern pada pemikiran visioner ayat al-qur’an dan gebrakan Nabi Muhammad dalam merubah tatanan kehidupan Masyarakat Arab kala itu (Madjid, Cita-Cita Politik Islam, 2009).

Jadi ada perbedaan pandangan tentang makna modern. Islam lebih menekan pada penerjemahan firman-firman Tuhan berkaitan implementasi pada tataran nilai-nilai qur’ani. Jika dulu ada istilah membunuh bayi hidup-hidup dan sekarang ada istilah aborsi dengan alat super modern, tetap hakikatnya sebagai wujud dari zaman jahiliah. Sebab makna modern meletakan nilai-nilai dari segi kemanfaatan dan tidak mengandung kerusakan. Jadi ukurannya pada produk nya, tapi pada azas kemanfaatannya.

Firman Allah dalam Q.S. Al-A’raf ([7]: 56) berbunyi:  “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”Q.S. Al-Baqarah ([2]:11) berbunyi:”Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan”.

Penulis bisa mencermati makna tersebut dari para ahli tafsir. Imam Al-Baidhawi menafsiri wujud dari kerusakan yaitu mengorbankan perang dan fitnah dengan membuat tipu daya yang dilakukan oleh kaum kafir. Mereka membuat kerusakan di dunia. Syeikh Az-Zuhaili juga selain membuat kerusakan juga melakukan provokasi dan membocorkan rahasia umat Islam (https://islam.nu.or.id, 2020).

Dari dua ahli tafsir ini sebenarnya sudah bisa dipahami bahwa kemajuan teknologi yang bermula mengalami peledakan teknologi pada masa revolusi industri sebenarnya bagian dari bentuk peperangan dan kerusakan-kerusakan serta jalan untuk menebarkan fitnah di kalangan umat Islam mulai dari tahun 1760 di kawasan eropa hingga era digital saat sekarang ini. Semua produk teknologi adalah wujud penjajahan bangsa barat dan bangsa-bangsa baru bangkit dan kemudian menempati negara modern seperti China, Korea dan Singapura. Negara-negara ini yang menjadi kendali seluruh aktivitas tatanan dunia. Mereka bisa menciptakan apa saja dalam wujud apapun sesuai dengan selera mereka. Negara-negara islam sementara ini masih sebatas sebagai konsumen dan selalu menjadi korban. Dampaknya berupa serangan nilai-nilai liberalisasi yang saat ini kita sama-sama melihat alat-alat komunikasi dan media-media online yang bersliweran saat sekarang ini.

Apa akibatnya, umat Islam gagap. Sebagian mereka belum mampu menghadapi serangan tersebut. Ia mencoba menangkis nilai-nilai liberalisasi seperti menangkis peluru-peluru tembakan dengan kipas angin. Tragisnya, sebagian generasi Islam pun malah membiarkan peluru-peluru tersebut menyerang dan membunuh rasa mereka sampai diri nya tidak merasa. Salah satu bukti, mereka membanggakan produk mekanik dan teknologi yang dianggap modern dan tidak menyaringnya dengan baik. Lagi-lagi kita tetap menjadi korban.

Apakah generasi Islam seperti peserta KTIQ telah menjadi korban. Bisa jadi. Salah satu indikatornya, mereka telah kehilangan ruh semangat belajar memperdalam ilmu pengetahuan. Mereka telah menikmati kemudahan aplikasi seperti AI, ChatGPT dan sejenisnya. Kita sudah mulai bisa merasakan dampak negatif tersebut. Tapi saya melihat mereka tidak merasakan hal tersebut. Sedih.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

IMAM HAKIM

Mencerahkan sekali, perlu generasi penerus ini untuk senantiasa diinfiltrasi mindset seperti Pak Waket ungkapkan bahwa modern tidak dimaknai sempit hanya dalam mekaniknya IT saja, namun peradabannya mesti dtransformasi....Mantap Pak Waket STAIN Bengkalis

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872