
“Apa yang indah dalam pandangan anda bisa
jadi menimbulkan gelap dalam hati, apa
yang tidak menyenangkan bisa jadi membuat anda menemukan kedamaian sejati”
Beberapa hari ini mau’idlatul hasanah
Abah Guru Sekumpul selalu muncul di HP ku. Tanggal 5 Januari merupakan haul
KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau lebih dikenal dengan Abah Guru Sekumpul dari
Martapura Kalimantan Selatan. Karomah nya luarbiasa. Menurut catatan Kapolres Banjar
AKBP M Ifan Hariyat jumlah muhibin yang datang sebanyak 4,1 juta orang. Menurut
nya jumlah tersebut berdasarkan pada data sinyal HP yang dibawa jemaah yang
hadir di Haul ke-20 Guru Sekumpul
Silahkan anda mendengarkan lantunan
sholawat-sholawat nya dan mau’idhatul hasanah nya. Insya Allah hati
terasa terkena tetesan air kehidupan yang menumbuhkan pohon-pohon kehidupan di
jiwa-jiwa yang gersang. Bahkan melihat wajahnya, anda akan merasakan kenikmatan
bercengkrama dengan Rasulullah dan bermesra-mesraan dengan Sang Pencipta yaitu
Allah SWT.
Bagi anda yang tidak menyukai nya, tidak
mengapa. Banyak pupuk kehidupan yang bisa menyuburkan jiwa anda dengan merk
yang berbeda-beda. Keberagaman adalah bagian dari desain Tuhan untuk saling
melengkapi, bukan saling menyakiti.
“Ah, aku adalah kelompok para pendosa dan
selalu berbuat maksiat” suara batin anda mungkin mengatakan demikian. Seolah-olah anda tidak
pantas untuk duduk, mendengar untaian kalimat-kalimat penggugah jiwa.
Jika anda merasa demikian, berarti sama
dengan ku. Penulis terkadang merasakan diri ini seperti seonggok
tulang-belulang yang berada di selokan. Sangat kotor dan tidak berguna. Apalagi
jika duduk sendiri, lalu merenung diri dan mencoba mengkalkulasi dosa-dosa
dalam satu hari, rasa-rasanya lebih banyak daripada amal kebaikannya.
Kadang-kadang merenung dan berkata dalam hati: “Kok saya lucu, sholat
terburu-buru, lupa jumlah rokaat, tidak khusu’ dan tidak merasakan ladzatnya
sujud kepada Allah. Saat orang lain merasa nikmat, tapi saat diri ini berdiri,
ruku, sujud malah yang muncul adalah cita-cita kenikmatan dunia yang belum
tentu didapat oleh ku”. Semoga anda tidak merasakan apa yang pada diriku.
Nasehat itu penting. Salah satu kalimat
yang sangat indah dari Abah Guru Sekumpul kurang-lebih begini: “ Hidup yang
tenang. Tidak usah gemrungsung, grusa-grusu. Harta milik Allah. Pangkat milik
Allah. Perbaiki ibadah mu kepada-Nya, Insya Allah urusan mu akan dipermudah
oleh-Nya”.
Dalam kehidupan kita memang harus belajar
membangun mindset seperti itu. Semua yang ada di dunia ini pada hakikat nya
milik-Nya. Ia mengajarkan kalimat yang sangat indah : “الحمد لله “. Lafadz tersebut mempunyai
makna syukur tanpa batas kepada-Nya
Harta itu milik Allah. Kita ikhtiar agar
kita mempunyai amal. Sebab ia yang akan dinilai oleh Allah, bukan jumlah harta
nya. Indah lagi, Allah menitipkan harta sesuai dengan komposisi yang tepat.
lalu ikhtiar lagi, lalu Allah merubah jumlah sesuai dengan kekuatan kita. Jika
tidak kuat, sebanyak apapun akan hilang, jadi penyakit, kena garong, disita
oleh negara, dan atau ludes kebakaran.
Hanya saja, kita sering memaksa nafsu diri
agar berkata begini: “Allah tidak adil”. Lebih ekstrem lagi jika
disangkut pautkan dengan persoalan ibadah: “Kami rajin ibadah kok, rezekinya
seret!!”. Kadang juga dalam hati kita muncul juga: “Kuliah tinggi-tinggi
cuma honor, dia yang kuliah asal-asalan jadi anggota dewan”. Silahkan
ungkapan-ungkapan lain dideskripsikan masing-masing di hati anda. Kurang lebih
yang sama nasib nya dengan ku, mungkin sama kalimat-kalimat “berontak” dalam
hati atas rasa ketidakadilan hidup dari Tuhan. Seolah-olah demikian.
Seolah-olah Allah tidak adil.
Manusia sering mengukur arti keadilan
dengan ukuran diri sendiri. Jika orang lain mendapatkan satu kilo, maka ia
harus mendapatkan satu kilo. Padahal Tuhan menempatkan keadilan bukan pada
kuantitas tapi kualitas. Anda mungkin oleh Allah hanya diberi satu ons, tapi
kualitas dipandangan Allah satu kwintal.
Seperti kisah Qarun. Ketika ia minta
keadilan kuantitas, Musa sudah mengatakan bahwa Allah sudah menempatkan
keadilan kualitas. Qarun tetap “brengkel”(susah dinasehati). Akal
pikiran nya yang agung diturunkan sama rendah nya dengan Fir’aun yang hanya
berfikir jabatan dan kekuasaan. Padahal Allah telah meletakan sebagai calon
hamba yang punya kedudukan mulia disisi-Nya, tapi Qarun “nggedros”(memaksa)
agar Musa mendoakan dirinya menjadi orang kaya raya. Walhasil, keinginan
terkabulkan. Qarun jadi milyader. Namun ingat, ia hanya sebentar. Makan tetap
satu piring. Tidur tetap seperti orang miskin, tidak punya kuasa apapun untuk
mempertahankannya. Dan saat mati, semua kekayaan pun berpindah tangan.
Tragisnya lagi, ia tercatat meninggal su’ul khotimah.
Syaqiq bin Ibrahim menafsiri kata ” الحمد لله“ sebagai berikut: Pertama,
jika Allah memberikan sesuatu kepadamu, maka engkau tahu siapa yang memberimu. Kedua,
hendaknya engkau ridha atas apa yang Dia berikan kepada mu. Ketiga,
sepanjang kekuatan-Nya ada dalam tubuh mu, maka janganlah engkau maksiat
kepada-Nya. Inilah syarat-syarat pujian
Tuhan kadang menghadirkan kita dengan
kondisi yang berbeda dengan orang lain. Pada sisi lain, kita diberikan oleh
Allah berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan cukup tinggi, tapi pada sisi lain
kita kesulitan dalam bidang ekonomi. Seolah-olah keadaan yang sangat
kontrakdiksi. Kita sering membangun logika sendiri:”Seharusnya semakin
tinggi pendidikan semakin nyaman hidup di dunia”. Pola pikir seperti itu
yang ada pada diri Qarun. Ia hapal kita taurat, tapi lupa tujuan dakwahnya. Jadi,
ekonomi diukur dari tinggi-rendah nya pendidikan.
Tapi kenapa mayoritas para Nabi dan Rasul
adalah hamba-hamba Allah yang diberi kekurangan ekonomi?. Padahal mereka adalah
para kekasih Allah?. Saya mencoba menjawab. Ketika malaikat Jibril menawarkan
Gunung Uhud menjadi Emas Berlian dan ketika kaum Kafir Qurays menawarkan
fasilitas dunia kepada Nabi Muhammad, pilihan nabi tetap satu yaitu umat
manusia mengenal Allah SWT.
Fakta tersebut wujud nyata bahwa apa yang
terjadi pada Nabi dan Rasul pada sisi lain juga terjadi pada diri kita dalam
kontek kehidupan sehari-hari. Kita yang kadang dititipkan ilmu pengetahuan
dalam bangku kuliah sebenarnya agar kita bisa mendidik dan memberi pencerahan
tentang hukum-hukum syariat secara umum. Ketika anda menerangkan ekonomi,
hukum, Pendidikan, politik sebenarnya sedang menerangkan tentang penjabaran
syariah dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan. Tujuannya agar masyarakat
memahami dan mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya apa? Ada
masyarakat yang mentertawakan kita sebagaimana para Rasul juga ditertawakan
karena ia berhadapan dengan tembok kapitalisasi bisnis dan kekuasaan. Sedangkan
Rasul adalah orang-orang miskin secara ekonomi. Sama seperti kita. Artinya saat
profesi kita sebagai seorang pendidik atau apa saja yang secara ekonomi kadang
kalah dengan penghasilan Tukang Bengkel atau Penjual Martabak di pinggir jalan.
Bahkan bisa juga kalah dengan Tukang Parkir yang baju nya lusuh. Anda bayangkan
saja, Tukang Parkir bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp. 200.000,00/hari.
Kalikan saja satu bulan, bisa mencapai bersih sekitar 5-6 juta.
Kita sudah saatnya belajar merubah mindset
bahwa ukuran kemulyaan tidak melulu pada rasa nyaman dengan keadaan ekonomi
yang mapan. Dalam hidup para penjual bakso, marbatak dan para pebisnis yang
sudah menggurita sama seperti kita. Mereka sama-sama melakukan persaingan
bisnis. Hari ini mereka menang tender ratusan milyar, hari berikutnya bisa jadi
bangkrut hingga gulung tikar. Pada persoalan kehidupan dunia isinya adalah
persaingan, saling jegal dan saling berusaha untuk tetap eksis.
Kita hidup dalam kondisi seperti itu. Tugas
kita adalah selalu berada di garis syariat Islam. Silahkan bekerja semaksimal
mungkin untuk menjadi terbaik sebagai seorang pemimpin seperti Nabi Yusuf atau
kaya raya seperti Nabi Sulaiman. Tuhan memberi kebebasan. Silahkan menjadi
profesi apapun sebagai pendidik atau pendakwah seperti Nabi Ayub yang selalu
sakit-sakitan atau seperti Nabi Muhammad yang hartanya habis karena untuk
berdakwah dan mendidik. Semua nya tidak ada perbedaan. Semua tetap mulia. Sebab
ukuran kemuliaan umat Rasulullah adalah kemampuan memberi manfaat kepada diri
sendiri, keluarga dan masyarakat. Sekecil apapun usaha kita, jika itu benar dan
memberi manfaat berarti kita telah mulia dalam pandangan Allah SWT.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872