Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Syukur sudut pandang Mata dan Hati



Jumat , 10 Januari 2025



Telah dibaca :  620

“Apa yang indah dalam pandangan anda bisa jadi  menimbulkan gelap dalam hati, apa yang tidak menyenangkan bisa jadi membuat anda menemukan kedamaian sejati”

Beberapa hari ini mau’idlatul hasanah Abah Guru Sekumpul selalu muncul di HP ku. Tanggal 5 Januari merupakan haul KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau lebih dikenal dengan Abah Guru Sekumpul dari Martapura Kalimantan Selatan. Karomah nya luarbiasa. Menurut catatan Kapolres Banjar AKBP M Ifan Hariyat jumlah muhibin yang datang sebanyak 4,1 juta orang. Menurut nya jumlah tersebut berdasarkan pada data sinyal HP yang dibawa jemaah yang hadir di Haul ke-20 Guru Sekumpul (Zakiri, 2025).

Silahkan anda mendengarkan lantunan sholawat-sholawat nya dan mau’idhatul hasanah nya. Insya Allah hati terasa terkena tetesan air kehidupan yang menumbuhkan pohon-pohon kehidupan di jiwa-jiwa yang gersang. Bahkan melihat wajahnya, anda akan merasakan kenikmatan bercengkrama dengan Rasulullah dan bermesra-mesraan dengan Sang Pencipta yaitu Allah SWT.

Bagi anda yang tidak menyukai nya, tidak mengapa. Banyak pupuk kehidupan yang bisa menyuburkan jiwa anda dengan merk yang berbeda-beda. Keberagaman adalah bagian dari desain Tuhan untuk saling melengkapi, bukan saling menyakiti.

“Ah, aku adalah kelompok para pendosa dan selalu berbuat maksiat” suara batin anda mungkin mengatakan demikian. Seolah-olah anda tidak pantas untuk duduk, mendengar untaian kalimat-kalimat penggugah jiwa.

Jika anda merasa demikian, berarti sama dengan ku. Penulis terkadang merasakan diri ini seperti seonggok tulang-belulang yang berada di selokan. Sangat kotor dan tidak berguna. Apalagi jika duduk sendiri, lalu merenung diri dan mencoba mengkalkulasi dosa-dosa dalam satu hari, rasa-rasanya lebih banyak daripada amal kebaikannya. Kadang-kadang merenung dan berkata dalam hati: “Kok saya lucu, sholat terburu-buru, lupa jumlah rokaat, tidak khusu’ dan tidak merasakan ladzatnya sujud kepada Allah. Saat orang lain merasa nikmat, tapi saat diri ini berdiri, ruku, sujud malah yang muncul adalah cita-cita kenikmatan dunia yang belum tentu didapat oleh ku”. Semoga anda tidak merasakan apa yang pada diriku.

Nasehat itu penting. Salah satu kalimat yang sangat indah dari Abah Guru Sekumpul kurang-lebih begini: “ Hidup yang tenang. Tidak usah gemrungsung, grusa-grusu. Harta milik Allah. Pangkat milik Allah. Perbaiki ibadah mu kepada-Nya, Insya Allah urusan mu akan dipermudah oleh-Nya”.

Dalam kehidupan kita memang harus belajar membangun mindset seperti itu. Semua yang ada di dunia ini pada hakikat nya milik-Nya. Ia mengajarkan kalimat yang sangat indah : “الحمد لله “. Lafadz tersebut mempunyai makna syukur tanpa batas kepada-Nya (Az-Zuhaili, 2013). Jika dilihat dari kalimat setelah nya ada kata kunci yang menunjukan kita hakikatnya tidak mempunyai apa-apa yaitu: “ رب العالمين“, yang menguasai alam semesta, “الرحمن الرحيم “, yang maha pengasih dan penyayang dan “ملك يوم الدين “ dan pemilik hari pembalasan.

Harta itu milik Allah. Kita ikhtiar agar kita mempunyai amal. Sebab ia yang akan dinilai oleh Allah, bukan jumlah harta nya. Indah lagi, Allah menitipkan harta sesuai dengan komposisi yang tepat. lalu ikhtiar lagi, lalu Allah merubah jumlah sesuai dengan kekuatan kita. Jika tidak kuat, sebanyak apapun akan hilang, jadi penyakit, kena garong, disita oleh negara, dan atau ludes kebakaran.

Hanya saja, kita sering memaksa nafsu diri agar berkata begini: “Allah tidak adil”. Lebih ekstrem lagi jika disangkut pautkan dengan persoalan ibadah: “Kami rajin ibadah kok, rezekinya seret!!”. Kadang juga dalam hati kita muncul juga: “Kuliah tinggi-tinggi cuma honor, dia yang kuliah asal-asalan jadi anggota dewan”. Silahkan ungkapan-ungkapan lain dideskripsikan masing-masing di hati anda. Kurang lebih yang sama nasib nya dengan ku, mungkin sama kalimat-kalimat “berontak” dalam hati atas rasa ketidakadilan hidup dari Tuhan. Seolah-olah demikian. Seolah-olah Allah tidak adil.

Manusia sering mengukur arti keadilan dengan ukuran diri sendiri. Jika orang lain mendapatkan satu kilo, maka ia harus mendapatkan satu kilo. Padahal Tuhan menempatkan keadilan bukan pada kuantitas tapi kualitas. Anda mungkin oleh Allah hanya diberi satu ons, tapi kualitas dipandangan Allah satu kwintal.

Seperti kisah Qarun. Ketika ia minta keadilan kuantitas, Musa sudah mengatakan bahwa Allah sudah menempatkan keadilan kualitas. Qarun tetap “brengkel”(susah dinasehati). Akal pikiran nya yang agung diturunkan sama rendah nya dengan Fir’aun yang hanya berfikir jabatan dan kekuasaan. Padahal Allah telah meletakan sebagai calon hamba yang punya kedudukan mulia disisi-Nya, tapi Qarun “nggedros”(memaksa) agar Musa mendoakan dirinya menjadi orang kaya raya. Walhasil, keinginan terkabulkan. Qarun jadi milyader. Namun ingat, ia hanya sebentar. Makan tetap satu piring. Tidur tetap seperti orang miskin, tidak punya kuasa apapun untuk mempertahankannya. Dan saat mati, semua kekayaan pun berpindah tangan. Tragisnya lagi, ia tercatat meninggal su’ul khotimah.

Syaqiq bin Ibrahim menafsiri kata ” الحمد لله“ sebagai berikut: Pertama, jika Allah memberikan sesuatu kepadamu, maka engkau tahu siapa yang memberimu. Kedua, hendaknya engkau ridha atas apa yang Dia berikan kepada mu. Ketiga, sepanjang kekuatan-Nya ada dalam tubuh mu, maka janganlah engkau maksiat kepada-Nya. Inilah syarat-syarat pujian (Qurthubi, 2015).

Tuhan kadang menghadirkan kita dengan kondisi yang berbeda dengan orang lain. Pada sisi lain, kita diberikan oleh Allah berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan cukup tinggi, tapi pada sisi lain kita kesulitan dalam bidang ekonomi. Seolah-olah keadaan yang sangat kontrakdiksi. Kita sering membangun logika sendiri:”Seharusnya semakin tinggi pendidikan semakin nyaman hidup di dunia”. Pola pikir seperti itu yang ada pada diri Qarun. Ia hapal kita taurat, tapi lupa tujuan dakwahnya. Jadi, ekonomi diukur dari tinggi-rendah nya pendidikan.

Tapi kenapa mayoritas para Nabi dan Rasul adalah hamba-hamba Allah yang diberi kekurangan ekonomi?. Padahal mereka adalah para kekasih Allah?. Saya mencoba menjawab. Ketika malaikat Jibril menawarkan Gunung Uhud menjadi Emas Berlian dan ketika kaum Kafir Qurays menawarkan fasilitas dunia kepada Nabi Muhammad, pilihan nabi tetap satu yaitu umat manusia mengenal Allah SWT.

Fakta tersebut wujud nyata bahwa apa yang terjadi pada Nabi dan Rasul pada sisi lain juga terjadi pada diri kita dalam kontek kehidupan sehari-hari. Kita yang kadang dititipkan ilmu pengetahuan dalam bangku kuliah sebenarnya agar kita bisa mendidik dan memberi pencerahan tentang hukum-hukum syariat secara umum. Ketika anda menerangkan ekonomi, hukum, Pendidikan, politik sebenarnya sedang menerangkan tentang penjabaran syariah dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan. Tujuannya agar masyarakat memahami dan mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya apa? Ada masyarakat yang mentertawakan kita sebagaimana para Rasul juga ditertawakan karena ia berhadapan dengan tembok kapitalisasi bisnis dan kekuasaan. Sedangkan Rasul adalah orang-orang miskin secara ekonomi. Sama seperti kita. Artinya saat profesi kita sebagai seorang pendidik atau apa saja yang secara ekonomi kadang kalah dengan penghasilan Tukang Bengkel atau Penjual Martabak di pinggir jalan. Bahkan bisa juga kalah dengan Tukang Parkir yang baju nya lusuh. Anda bayangkan saja, Tukang Parkir bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp. 200.000,00/hari. Kalikan saja satu bulan, bisa mencapai bersih sekitar 5-6 juta.

Kita sudah saatnya belajar merubah mindset bahwa ukuran kemulyaan tidak melulu pada rasa nyaman dengan keadaan ekonomi yang mapan. Dalam hidup para penjual bakso, marbatak dan para pebisnis yang sudah menggurita sama seperti kita. Mereka sama-sama melakukan persaingan bisnis. Hari ini mereka menang tender ratusan milyar, hari berikutnya bisa jadi bangkrut hingga gulung tikar. Pada persoalan kehidupan dunia isinya adalah persaingan, saling jegal dan saling berusaha untuk tetap eksis.

Kita hidup dalam kondisi seperti itu. Tugas kita adalah selalu berada di garis syariat Islam. Silahkan bekerja semaksimal mungkin untuk menjadi terbaik sebagai seorang pemimpin seperti Nabi Yusuf atau kaya raya seperti Nabi Sulaiman. Tuhan memberi kebebasan. Silahkan menjadi profesi apapun sebagai pendidik atau pendakwah seperti Nabi Ayub yang selalu sakit-sakitan atau seperti Nabi Muhammad yang hartanya habis karena untuk berdakwah dan mendidik. Semua nya tidak ada perbedaan. Semua tetap mulia. Sebab ukuran kemuliaan umat Rasulullah adalah kemampuan memberi manfaat kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Sekecil apapun usaha kita, jika itu benar dan memberi manfaat berarti kita telah mulia dalam pandangan Allah SWT.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872