Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tangan-Tangan Manusia



Sabtu , 29 Juli 2023



Telah dibaca :  295

Hari ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkalis telah selesai melaksanakan acara penyuluhan tentang bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kecamatan Bantan. Kegiatan sama juga telah dilaksanakan di tiga kecamatan yaitu: Kecamatan Bukit Batu, Siak Kecil, dan Bengkalis. Semua adminitrasi dari BPBD. Kami membantu dalam teknis pelaksanaannya. Alhamdulillah, peran serta mahasiswa KKN, DPL dan Korcam dari empat kecamatan sangat maksimal. Pak Kusnen (untuk selanjutnya saya tulis “mas” dalam tulisan ini) sangat mengapresiasi kegiatan ini. Katanya, kegiatan ini secara teknis yang telah berjalan sangat baik di setiap kecamatan, wabil khusus  Kecamatan Bantan. Saya tersenyum dan melirik pak Imam Hakim (selanjutnya saya tulis “mas”)  yang berada di samping kanan saya, “kalau-kalau kepala nya tambah besar”. Ternyata tidak, Cuma Peci nya sedikit miring,hhh. Mas Kusnen juga mengucapkan terima kasih kepada P3M yang telah mengkordinir kegiatan ini. Saya tersenyum. Bukan karena pujianya, tapi karena saya membaca kiriman WA dari istri; Mas, kapan pulang?. Ma’lum, biasanya hari sabtu sudah pulang dan jalan-jalan dengan istri dan anak. Jadi, saya  agak ketularan petugas karhutla yang mempunyai semboyan, “Pantang pulang sebelum Api padam!!”.

Selesai acara, kami duduk-duduk dengan Mas Kusnen dan Mas Imam Hakim. Kami diskusi ringan diselingi guyonan, agar tidak tegang dan tidak terasa panas. Sebab suasana alam semesta yang sudah cukup panas. Sudah cukup lama belum hujan sehingga mempunyai potensi terjadi kebakaran. Kondisi demikian, perlu ada trik untuk mengurangi bencana tersebut, yaitu perlu melibatkan seluruh komponen masyarakat; termasuk di dalam nya adalah mahasiswa. sejauh mana manfaat dari penyuluhan dalam upaya pencegahan atau penanggulangan tidak secara langsung bisa dirasakan. Sebab penyuluhan adalah sebagai transfer off knowledge yang tidak cukup hanya satu kali pertemuan. Penyuluhan harus berkelanjutan secara terus-menerus. Namun demikian, perlu ada perpanjangan tangan dari pihak kecamatan, desa, mahasiswa dan pihak-pihak terkait untuk menjadi “duta penerang” tentang penting menjaga kelestarian hutan, lahan dan alam semesta ini dari bencana karhutla.

Kenapa ini terjadi? Salah siapa ini? dan bagaimana cara penyelesaiannya? Penulis mendengar sebuah ayat yang telah dibaca oleh salah satu mahasiswa di acara tersebut bahwa bencana alam seperti kebakaran karena “aidin an-nas” atau perbuatan manusia. Semua ini agar mereka menyadari atas perbuatan yang merusak tersebut. sebab sudah menjadi watak manusia ketika pada saat-saat tertentu keinginan melebihi kewajaran, sering “nafsu” lebih cepat bereaksi daripada akalnya. Ketika nafsu bergerak dengan cepat, maka akal dalam kendalinya. Semua produk yang dihasilkan adalah cermin dari nafsu amarah dan nafsu yang merusak alam semesta.

Nafsu amarah dan nafsu sayyiah melihat sesuatu yang tidak baik adalah terlihat indah dan menggairahkan. Sebaliknya melihat sesuatu yang indah dan benar terlihat menjemukan dan membosankan. Tuhan telah memberikan fasilitas berupa makan dan minum yang sehat, maka nafsu sayyiah memilih makanan yang tidak menyehatkan. Kita bisa melihat, betapa banyak para pejabat, tokoh masyarakat dan masyarakat biasa terjebak pada narkoba, mengkonsumsi sabu-sabu dan melakukan kejahatan-kejahatan lainnya.

Jadi, nafsu sayyiah telah mem-bonsai nalar sehat menjadi nalar rusak. Ada perasaan bangga dan bahagia atau puas ketika mampu melakukan kerusakan di bumi segala segala cara. Padahal kadang persoalan hanya sepele dan bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Tapi ini tidak berlaku bagi akal yang sudah terkena penyakit akut yang disebut dengki, sombong dan penyakit hati. Dengan berlindung atas nama “harga diri”, lalu melakukan segala sesuatu yang merusak dan berujung pada penyesalan ketika harga dirinya hancur oleh perbuatannya.

Secara kaidah manusia, tidak ada manusia yang salah. Ketika Tuhan mendapatkan kritikan dan masukan dari para malaikat tentang karakter manusia yang suka membuat kerusakan di muka bumi, Tuhan dengan simpel menjawab, “Saya lebih tahu daripada kamu”.

Tuhan tidak memilih iblis atau malaikat untuk menjadi khalifah di dunia ini. sebab kedua makhluk tersebut terlalu ke kiri dan ke kanan dalam mengambil suatu keputusan. Sedangkan manusia mampu bersikap moderat, yaitu bisa ke kiri dan kanan. Dua sisi yang berlawanan namun bisa ditemukan dalam satu jalan tengah untuk mencapai tujuan. Kemampuan yang bisa menyatukan ini hanya ada pada manusia. Bisa jadi, hari ini melakukan kesalahan bisa jadi hari berikutnya ada kesadaran untuk melakukan kebaikan, begitu juga sebaliknya. Pola perilaku seperti ini yang menjadikan manusia sebagai kekasihnya Allah dan memberikan mandate kepadanya untuk menjadi khalifah fi al-ardhi.

Karena watak manusia sering lupa, maka perlu ada nasehat-nasehat untuk mengingatnya agar segera menyadari kesalahannya dan memperbaiki kualitas hidupnya. Berikut pesan-pesan yang bisa ditulis dalam penyuluhan hari ini:

Sang Qori’       : “Bencana kebakaran disebabkan manusia”

Peserta             : Semua diam merenung, dan main HP.

Danramil         : “Gercep, sat set, bersama-sama memadamkan api”

Peserta             : “Siaaappp!!”

Kapolsek         : “Jangan bakar lahan. Rewel, pidana”.

Peserta             : Semua diam dan senyum penuh arti

Mas Kurnen    : “Jangan pulang sebelum api padam”

Peserta             : “Siappppp”

Walaupun terlihat tegang ketika membahas bencana karhutla dan segala tugas-tugas berat dan ancaman hukuman yang telah melakukan kerusakan, mereka adalah makhluk yang sempurna dan realitis serta bijak dalam melihat situasi. Ini buktinya ketika diberi informasi sebagai berikut:

Moderator       : “Jangan pulang sebelum bertanya”

Peserta             : Semua tertawa

Panitia              : “Sebelum pulang, silahkan ambil Amplopnya”

Peserta             : Semua tertawa dan tepuk tangan

Saya tersenyum dan mbatin dalam hati,” Pantas Tuhan memilih manusia menjadi khalifah di dunia. Selain secara prosedural manusia memenuhi persyaratan, juga mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Buktinya “naruh amplop di Tong sampah, naruh isi nya di saku celana”, hehehe.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Saya kulitnya, mas isinya..

Enak dibaca tdk butuh energi mencerna kalimat demi kalimat..ringan tapi mendalam maknanya..

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879