
Hari ini Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) Bengkalis telah selesai melaksanakan acara penyuluhan tentang
bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kecamatan Bantan. Kegiatan sama
juga telah dilaksanakan di tiga kecamatan yaitu: Kecamatan Bukit Batu, Siak
Kecil, dan Bengkalis. Semua adminitrasi dari BPBD. Kami membantu dalam teknis pelaksanaannya. Alhamdulillah, peran serta mahasiswa KKN,
DPL dan Korcam dari empat kecamatan sangat maksimal. Pak Kusnen (untuk
selanjutnya saya tulis “mas” dalam tulisan ini) sangat mengapresiasi kegiatan
ini. Katanya, kegiatan ini secara teknis yang telah berjalan sangat baik di
setiap kecamatan, wabil khusus Kecamatan
Bantan. Saya tersenyum dan melirik pak Imam Hakim (selanjutnya saya tulis
“mas”) yang berada di samping kanan
saya, “kalau-kalau kepala nya tambah besar”. Ternyata tidak, Cuma Peci
nya sedikit miring,hhh. Mas Kusnen juga mengucapkan terima kasih kepada P3M yang
telah mengkordinir kegiatan ini. Saya tersenyum. Bukan karena pujianya, tapi karena
saya membaca kiriman WA dari istri; Mas, kapan pulang?. Ma’lum, biasanya hari
sabtu sudah pulang dan jalan-jalan dengan istri dan anak. Jadi, saya agak
ketularan petugas karhutla yang mempunyai semboyan, “Pantang pulang sebelum Api
padam!!”.
Selesai acara, kami duduk-duduk dengan Mas Kusnen
dan Mas Imam Hakim. Kami diskusi ringan diselingi guyonan, agar tidak tegang
dan tidak terasa panas. Sebab suasana alam semesta yang sudah cukup panas. Sudah
cukup lama belum hujan sehingga mempunyai potensi terjadi kebakaran. Kondisi
demikian, perlu ada trik untuk mengurangi bencana tersebut, yaitu perlu
melibatkan seluruh komponen masyarakat; termasuk di dalam nya adalah mahasiswa.
sejauh mana manfaat dari penyuluhan dalam upaya pencegahan atau penanggulangan
tidak secara langsung bisa dirasakan. Sebab penyuluhan adalah sebagai transfer
off knowledge yang tidak cukup hanya satu kali pertemuan. Penyuluhan harus
berkelanjutan secara terus-menerus. Namun demikian, perlu ada perpanjangan
tangan dari pihak kecamatan, desa, mahasiswa dan pihak-pihak terkait untuk
menjadi “duta penerang” tentang penting menjaga kelestarian hutan, lahan dan
alam semesta ini dari bencana karhutla.
Kenapa ini terjadi? Salah siapa ini? dan
bagaimana cara penyelesaiannya? Penulis mendengar sebuah ayat yang telah dibaca
oleh salah satu mahasiswa di acara tersebut bahwa bencana alam seperti
kebakaran karena “aidin an-nas” atau perbuatan manusia. Semua ini agar mereka
menyadari atas perbuatan yang merusak tersebut. sebab sudah menjadi watak
manusia ketika pada saat-saat tertentu keinginan melebihi kewajaran, sering “nafsu”
lebih cepat bereaksi daripada akalnya. Ketika nafsu bergerak dengan cepat, maka
akal dalam kendalinya. Semua produk yang dihasilkan adalah cermin dari nafsu
amarah dan nafsu yang merusak alam semesta.
Nafsu amarah dan nafsu sayyiah melihat
sesuatu yang tidak baik adalah terlihat indah dan menggairahkan. Sebaliknya
melihat sesuatu yang indah dan benar terlihat menjemukan dan membosankan. Tuhan
telah memberikan fasilitas berupa makan dan minum yang sehat, maka nafsu
sayyiah memilih makanan yang tidak menyehatkan. Kita bisa melihat, betapa
banyak para pejabat, tokoh masyarakat dan masyarakat biasa terjebak pada
narkoba, mengkonsumsi sabu-sabu dan melakukan kejahatan-kejahatan lainnya.
Jadi, nafsu sayyiah telah mem-bonsai nalar
sehat menjadi nalar rusak. Ada perasaan bangga dan bahagia atau puas ketika
mampu melakukan kerusakan di bumi segala segala cara. Padahal kadang persoalan
hanya sepele dan bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Tapi ini tidak berlaku
bagi akal yang sudah terkena penyakit akut yang disebut dengki, sombong dan
penyakit hati. Dengan berlindung atas nama “harga diri”, lalu melakukan segala
sesuatu yang merusak dan berujung pada penyesalan ketika harga dirinya hancur
oleh perbuatannya.
Secara kaidah manusia, tidak ada manusia
yang salah. Ketika Tuhan mendapatkan kritikan dan masukan dari para malaikat
tentang karakter manusia yang suka membuat kerusakan di muka bumi, Tuhan dengan
simpel menjawab, “Saya lebih tahu daripada kamu”.
Tuhan tidak memilih iblis atau malaikat
untuk menjadi khalifah di dunia ini. sebab kedua makhluk tersebut terlalu ke
kiri dan ke kanan dalam mengambil suatu keputusan. Sedangkan manusia mampu
bersikap moderat, yaitu bisa ke kiri dan kanan. Dua sisi yang berlawanan namun
bisa ditemukan dalam satu jalan tengah untuk mencapai tujuan. Kemampuan yang
bisa menyatukan ini hanya ada pada manusia. Bisa jadi, hari ini melakukan
kesalahan bisa jadi hari berikutnya ada kesadaran untuk melakukan kebaikan,
begitu juga sebaliknya. Pola perilaku seperti ini yang menjadikan manusia
sebagai kekasihnya Allah dan memberikan mandate kepadanya untuk menjadi khalifah
fi al-ardhi.
Karena watak manusia sering lupa, maka
perlu ada nasehat-nasehat untuk mengingatnya agar segera menyadari kesalahannya
dan memperbaiki kualitas hidupnya. Berikut pesan-pesan yang bisa ditulis dalam
penyuluhan hari ini:
Sang Qori’ :
“Bencana kebakaran disebabkan manusia”
Peserta :
Semua diam merenung, dan main HP.
Danramil
: “Gercep, sat set, bersama-sama memadamkan api”
Peserta :
“Siaaappp!!”
Kapolsek
: “Jangan bakar lahan. Rewel, pidana”.
Peserta :
Semua diam dan senyum penuh arti
Mas Kurnen :
“Jangan pulang sebelum api padam”
Peserta :
“Siappppp”
Walaupun terlihat tegang ketika membahas
bencana karhutla dan segala tugas-tugas berat dan ancaman hukuman yang telah
melakukan kerusakan, mereka adalah makhluk yang sempurna dan realitis serta
bijak dalam melihat situasi. Ini buktinya ketika diberi informasi sebagai
berikut:
Moderator
: “Jangan pulang sebelum bertanya”
Peserta :
Semua tertawa
Panitia : “Sebelum pulang, silahkan ambil Amplopnya”
Peserta :
Semua tertawa dan tepuk tangan
Saya tersenyum dan mbatin dalam hati,”
Pantas Tuhan memilih manusia menjadi khalifah di dunia. Selain secara prosedural
manusia memenuhi persyaratan, juga mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Buktinya
“naruh amplop di Tong sampah, naruh isi nya di saku celana”, hehehe.
Penulis : Imam Ghozali
Saya kulitnya, mas isinya..
Enak dibaca tdk butuh energi mencerna kalimat demi kalimat..ringan tapi mendalam maknanya..
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879