Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tangisan Keluarga Kecil dari Kota Kecil



Rabu , 11 Desember 2024



Telah dibaca :  480

Beberapa waktu lalu, sahabat baik ku saudara Agus Suliadi, SH telah menulis kegundahan berkaitan dengan berbagai peristiwa yang memilukan hati, menyayat perasaan dan menumbuhkan kekhawatiran masyarakat. Di kota kecil ada tangisan yang mengharu biru tentang beragam kriminal  beberapa hari lalu. Tentu itu bukan barang baru, beberapa tahun kasus sebelumnya juga sudah ada. Kiranya tidak perlu dijelaskan lagi disini. Saudara Agus Suliadi sangat prihatin sekali. Kota kecil yang masih menjaga nilai-nilai adat istiadat dan agama ternyata tidak berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya. Sungguh sangat menyedihkan.

Saya sepakat pendapat saudara Agus Suliadi. Kita sepakat bahwa semua menolak perilaku kriminal. Kita sepakat bahwa banyak persoalan yang melahirkan perilaku tersebut. Para pakar bidang kriminologi sudah membuat buku secara terperinci berkaitan dengan segala aspek criminal. Para pakar hukum, psikolog, ekonom, agamawan juga telah membahas. Kriminal seperti manusia terkena penyakit komplikasi. Kata dokter kepada pasien agar jangan buah-buahan yang kecut-kecut atau masam sebab maag dan asam lambung naik. Namun hasil pemeriksaan dokter satu lagi lain, pasien tersebut kekurangan vitamin C. kata dokter dilarang makan “ini-itu”, tapi dokter lain memutuskan harus makan “ini-itu”. Ilmu eksasta yang menggunakan data-data ilmiah terkadang terjebak oleh data. Dokter kadang menyimpulkan jenis penyakit dengan gejala-gejala tertentu. tapi  kenyataannya, gejala-gejala sama juga dimiliki oleh penyakit lain. Saat memberi obat, pasien pertama sembuh. sedangkan pasien kedua tidak sembuh.

Ilmu saint saja telah menjawab dan mempunyai perspektif berbeda-beda. Seperti Iklan Rokok titipan Menteri Kesehatan. Katanya “ Merokok membunuh mu”, entah siapa yang membunuh entah siapa yang terbunuh. Jika yang dimaksud sang perokok yang  merokok, tidak juga mati-mati. Malahan jika mati rokoknya langsung hidup lagi. Begitu seterusnya. Jika yang dimaksud orang yang tidak merokok, ia pun mati bukan karena rokok, tapi karena serangan jantung, darah tinggi, gula darah yang selama riwayat hidupnya sangat menjaga kesehatan. Jadi, satu peristiwa terkadang sangat sulit untuk menentukan satu jawaban. Apalagi persoalan sosial,pendekatan-pendekatan jawaban tentu saja melalui beragam aspek yang bisa melebar kemana-mana.

Apa masalah terjadi kriminal? Ekonomi?, bisa jadi. Ilmu ekonomi dasar memang mengajarkan hal tersebut. teori materialisme dan kapitalisme yang lahir dari paham rasionalisme mutlak memang mengajarkan hal tersebut. kata Carles Darwin, hanya Jerapah dan binatang-binatang lain yang tetap hidup ketika ia mampu mempertahankan diri dari persaingan hidup. Anda berhak untuk menafsirkan kata “mempertahankan diri” dan “persaingan hidup”. Anda juga boleh menafsirkan kalimat gaul yang sering kita dengar begini” hidup di kota keras dan kejam”.

Ilmu hukum juga demikian. Kekacauan dimana-mana karena hukum belum bisa ditegakan secara maksimal. Untuk bisa tegak, semua pemimpin harus patuh terhadap hukum. Jika tidak, jangan terlalu berharap kekacauan bisa berhenti (lagi-lagi pimpinan jadi sasaran kesalahan. Ma’lum ilmu hukum dengan pendekatan ilmu pendidikan. Kata orang tua dulu guru artinya “digugu” dan “ditiru”, sekarang diplesetkan “wagu” dan “saru”). Apakah para orang-orang suci yang telah mengatur dunia telah melahirkan masyarakat yang suci?  Selalu saja ada dua kutub berbeda dalam perjalanan sejarah tentang kepemimpinan. 

Yang lebih mengerikan justru analisis para ustadz. Analisisnya”Borongan”, bukan persoalan ekonomi, hukum, dan perilaku sosial, tetapi juga persoalan akherat. Anda pasti pernah mendengar para ustadz mengeluarkan dalil-dalil “akan diturunkan adzab dari langit dan bumi” bagi orang-orang yang bermaksiat (susahnya ustadz nya lupa jika dirinya juga maksiat). Maka harus ada taubatan nasuha secara totalitas. Harus ada taubat akbar dari seluruh lapisan masyarakat (tapi ustadznya kadang jarang taubat).

Walhasil, di dunia penuh dengan jaringan internet semua manusia menjadi pandai dan menjadi pakar dadakan. Siapa ahli agama asli, mana yang ahli agama imitasi. Kadang kebalik-balik. Yang asli dicaci maki, yang imitasi di puji-puji. Saat ahli agama imitasi naik daun dicaci maki dan diserang netizen langsung “nggeblag” dan masuk kotak sejarah. Sekarang dunia maya telah melahirkan madzab baru dalam pemahaman agama yaitu madzab dunia maya. Terserah apa kata netizen, itulah kebenaran. Bukan lagi kata pakar, bukan lagi kata agamawan, bukan lagi kata alim ulama, bukan lagi kata guru besar dan lain-lain.

Jaringan internet bukan lagi untuk kota, tapi untuk desa. Di dunia internet sudah tidak ada lagi perbedaan antara kota Jakarta, blok M, cililitan dengan desa seperti Bandul, Tasik Putri Puyuh. Orang di Jakarta dan orang yang dari Desa Rangsang statusnya sudah sama, sama-sama bisa mengakses berita Baim Wong dengan Paula, bisa mengakses tiktok guru gembul dan orang gemblung. Orang terkena dampak internet juga mulai dari Jakarta sampai di Papua Pedalaman. Semua sama, sama-sama kena dampak psikologis-sosial nya. Jadi, jika ada kejadian kriminal di Jakarta, maka sangat memungkinkan kejadian kriminal juga terjadi di desa-desa. Bahkan bisa jadi lebih rawan di desa-desa. Jika di kota, ingin berbuat maksiat harus mengeluarkan banyak modal, di desa-desa masih bisa dengan gratisan. Internet dan suasana desa sangat membantu dan mendukung untuk melakukan apa saja dan oleh siapa saja.

Anda jangan mengatakan bahwa ilmu agama masyarakat sekarang rendah. Lihat youtube, lihat IG,FB dan kanal-kanal internet lain telah penuh dengan petuah-petuah agama dan adat istiadat. Majelis Ta’lim semakin marak. Kajian agama semakin tumbuh bak jamur di musim penghujan. Anda suka ngaji apa, silahkan “klik” apa yang anda suka, maka keluarlah pesanan anda. Sekarang sudah ada AI, yang bisa memesan apa saja yang anda mau. Semua tersedia dengan sangat cepat.

Saya hanya melihat gejala di atas terjadi karena ada kemerosotan intelektual ruhaniah. Kepala cerdas, akal hebat, tapi ruhaniah merana, batin gersang dan jiwa terasa terombang-ambing oleh gempuran-gempuran bersifat duniawiyah. Gemerlap dunia, jabatan, harta benda dan kedudukan benar-benar telah mengikis ketajaman mata hati. hampir menimpa semua orang. Entah tokoh, pejabat atau rakyat biasa. Ketika jiwa sudah kena, maka pikiran menjadi pendek, akal tidak mampu berfikir secara cerdas. Ini yang kemudian mencari jalan pintas yang terkadang tanpa pertimbangan akal sehat, tapi hanya sebatas bisikan nafsu sesaat. Hasilnya, terjadi penyesalan sepanjang masa.

Semoga Allah senantiasa memberi cahaya hati, jiwa, pikiran untuk selalu kuat berjalan di garis-garis kehidupan yang sederhana, berkah dan diberi kekuatan menerima segala kejadian dunia yang penuh dengan rekayasa dengan senang dan lapang dada. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872