Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tarikat Gus Dur



Selasa , 24 Desember 2024



Telah dibaca :  771

Pilpres 2024 telah selesai dan sudah terpilih presiden baru wajah lama yaitu Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka. Disebut presiden baru, karena baru menjadi presiden. Disebut wajah lama, karena satu-satunya calon presiden “tahan banting” hanya Prabowo. Ia sering menjadi capres maupun cawapres. Selalu gagal.Tidak menyerah. Ia harus banyak belajar untuk memenangkan kontestasi. Ia percaya bahwa “kegagalan adalah kesukesan yang tertunda. Ia harus belajar dari orang sukses, yaitu Jokowi. Terbukti. Ia menjadi presiden 2024.

Baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto merupakan dua tokoh yang mendapatkan rekomendasi khusus di hati Gus Dur. Tentu saja sebagai seorang politisi yang sudah makan asam garam, Gus Dur selalu menggunakan bahasa majaz. Namun jangan anggap sama dengan bahasa majaz politisi pada umumnya yang terkadang terasa kering. Gus Dur telah meramu ilmu nya Abu Nawas dari Mesir dan Punokawan dalam pewayangan Jawa (Semar, Petruk, Bagong dan Gareng). Baik Abu Nawas dan Punokawan dalam pewayangan adalah kaum intelektual, budayawan dan agamawan yang sangat faseh menelusuri lorong-lorong pintu langit. Perpaduan tersebut senantias melahirkan pemikiran dan guyonan yang sangat khas, membumi seperti laksana guyonan rakyat jelata dan melangit laksana seorang ahli sufi sekelas Ibrahim bin Adham atau Ma’ruf Al-Karkhi. Berikut syi’ir Gus Dur (https://www.kompas.com, 2021) yang sangat berkelas:

Kelawan Allah kang maha suci,

Kuduh rangkulan rino lan wengi,

Ditirakati di riadhoi,

Dzikir lan suluk jo nganti lali,

Dzikir lan suluk jo nganti lali,

Uripe ayem rumongso aman,

Dununge roso tondo yen iman,

Sabar nerimo snajan paspasan,

Kabeh tinakdir saking pangeran,

Kabeh tinakdir saking pengeran,

Kelawan konco dulur lan tonggo,

Kang podo rukun ojo daksio

Iku sunnah e rasul kang mulyo,

Nabi Muhammad panutan kito,

Nabi Muhammad panutan kito.

Penulis memahami sebagian dari syi’ir tersebut menggambarkan tentang tarikat Gus Dur. Ia menyadari sebagai hamba Allah yang harus selalu mendekatkan diri “rino lan wengi” (siang dan malam) dengan metode dzikir dan suluk. Dzikir bukan sebatas menghitung jumlah, tapi merambah jalan-jalan kesucian agar semakin terang jalan-jalan spiritual. Sebab pola yang demikian membuat diri kita “ayem” dan “aman” meskipun secara ekonomi hidup apa adanya. Sebab orang yang sudah mampu menyatukan rasa antara jiwa dan raga, akan semakin menyadari semua yang ada pada diri kita tidak lepas dari takdir yang telah ditentukan oleh Allah swt. Itu sebabnya, dalam kontek sosial orang yang sudah “manunggaling rasa” hidup semakin tenang, mampu melihat orang lain dengan bahagia. Sebab semua keanekaragaman kekayaan dan jabatan sudah bagian dari desain Allah SWT. Tidak perlu ada iri dan dengki dari setiap apa yang telah diterima oleh makhluk-makhluk-Nya.

Pola hidup bersandar selalu kepada Allah dan menerima takdir kehidupan yang telah digariskan oleh-Nya merupakan jalan untuk merealisasikan ajaran agama dalam kontek sosial. Jadi, implikasi tarikat Gus Dur bukan merubah paradigma berfikir sebatas untuk internal Islam, tapi juga diharapkan mampu merembes ke seluruh pori-pori masyarakat Indonesia yang plural. Sebab keberagaman tersebut bagian dari takdir Tuhan. Dan menerima takdir-Nya bagian dari kesadaran beragama yang sangat mendalam. Itu sebabnya kita harus hidup saling menghargai. Sikap menghargai agama lain bukan berarti mengorbankan pandangan keagamaannya. Justru sikap tersebut perwujudan dari ajaran Islam yang sangat agung (Nuh, 2012).

Ajaran Islam yang damai dan menghargai pluralitas model Gus Dur tidak serta merta mendapat sambutan dari seluruh umat Islam. Sebagian dari mereka menilai Islam model Gus Dur terlalu universal dan tidak jelas label nya sebagai “dien al-Islam”. Menurut mereka  Islam merupakan agama yang mulia dan salah satu kemulyaan Islam yaitu menjadikan ia sebagai agama dan wujud penyatuan agama dan politik. Melalui cara demikian, Islam bisa menjadi rahmat semesta alam. Maka perlu merubah cara berfikir perjuangan agama. Umat Islam harus kembali kepada pangkal pokok Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menjadi pelaku politik dalam segala aspek kehidupan (Rahmat, 2005).

Menurut Gus Dur, Indonesia sebagai negara yang beragam suku, agama, keyakinan, etnis dan budaya memerlukan suatu sistem politik kebangsaan yang pluralis. Indonesia bukan hanya milik sebagian kecil umat Islam yang mempunyai cita-cita penegakan syariat seperti di atas, Indonesia juga milik umat Islam lainnya dan umat-umat agama non-Islam dalam satu Negara Kesaturan Republik Indonesia (Ikeda, 2000). Mereka adalah warga negara Indonesia yang telah mengukir budaya dan adat istiadat serta tatanan nilai-nilai yang menyatu dengan suku, etnis, budaya dan agama-agama yang hidup di Indonesia. Ketika ada sebagian umat Islam ingin mencoba melakukan pembersihan nilai-nilai dengan dalih pemurnian ajaran Islam, tentu saja sangat subyektif dan provokatif. Satu sisi ia telah mengklaim diri nya sebagai orang yang paling agamis dan kelompok lain tidak agamis, satu sisi juga telah menutup hak-hak politik kelompok lain yang dulu sama-sama berjuang mendirikan negara kita tercinta. Jika nilai-nilai agama yang ditawarkan model tersebut, jelas tidak sesuai dengan ajaran agama Islam itu sendiri, bahkan juga agama-agama lainnya. Semua agama mengajarkan kasih sayang dan ingin hidup damai satu dengan lainnya dalam satu negara dan bangsa (Af-Farabi, t.t).

Manusia memang telah didesain oleh Allah dalam keberagaman, termasuk keberagaman dalam beragama. Tuhan telah menjelaskan “lakum dienukum wali yadien”, bagimu agama mu, dan bagi ku agama ku. Seharusnya setiap penganut agama berlomba-lomba mempromosikan ajaran yang tulus, cinta damai dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketika mereka sama-sama kembali kepada ajaran agama masing-masing dengan tulus ikhlas, maka akan tercipta suatu tatanan kehidupan yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai “baldatun tayyibatun warrabul ghafur”.

Walhasil Gus Dur melalui tarikat yang ia yakini sebagai jalan untuk memanusiakan manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia benar-benar menginginkan Tarikat warisan orang tua dan para sesepuhnya merupakan ajaran yang lahir dari dasar-dasar Islam (maqasih syari’ah), yaitu kemanusiaan yang tidak boleh meninggalkan keadilan dalam mewujudkan suatu kemajuan bersama untuk seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Tentu yang saya maksud bukan tarikat yang sedang viral saat sekarang ini. Saya tidak mau ikut “cawe-cawe” ada istilah Jatman atau Patman. Saya juga tidak akan ikut ngotot-melotot, dan mengumbar komentar persoalan kaum Tarikat. Bagiku, saya lebih bahagia belajar ber-tarikat model Gus Dur meskipun tidak masuk menjadi Pengurus Tarikat. Semoga semua benar-benar “sumeleh” hanya untuk mencari ridha Allah SWT.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872