
Pilpres 2024 telah selesai dan sudah terpilih presiden baru wajah
lama yaitu Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka. Disebut
presiden baru, karena baru menjadi presiden. Disebut wajah lama, karena
satu-satunya calon presiden “tahan banting” hanya Prabowo. Ia sering menjadi
capres maupun cawapres. Selalu gagal.Tidak menyerah. Ia harus banyak belajar
untuk memenangkan kontestasi. Ia percaya bahwa “kegagalan adalah kesukesan yang
tertunda. Ia harus belajar dari orang sukses, yaitu Jokowi. Terbukti. Ia
menjadi presiden 2024.
Baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto merupakan dua tokoh yang
mendapatkan rekomendasi khusus di hati Gus Dur. Tentu saja sebagai seorang
politisi yang sudah makan asam garam, Gus Dur selalu menggunakan bahasa majaz.
Namun jangan anggap sama dengan bahasa majaz politisi pada umumnya yang
terkadang terasa kering. Gus Dur telah meramu ilmu nya Abu Nawas dari Mesir dan
Punokawan dalam pewayangan Jawa (Semar, Petruk, Bagong dan Gareng). Baik Abu
Nawas dan Punokawan dalam pewayangan adalah kaum intelektual, budayawan dan
agamawan yang sangat faseh menelusuri lorong-lorong pintu langit. Perpaduan
tersebut senantias melahirkan pemikiran dan guyonan yang sangat khas, membumi
seperti laksana guyonan rakyat jelata dan melangit laksana seorang ahli sufi
sekelas Ibrahim bin Adham atau Ma’ruf Al-Karkhi. Berikut syi’ir Gus Dur
Kelawan Allah kang maha suci,
Kuduh rangkulan rino lan wengi,
Ditirakati di riadhoi,
Dzikir lan suluk jo nganti lali,
Dzikir lan suluk jo nganti lali,
Uripe ayem rumongso aman,
Dununge roso tondo yen iman,
Sabar nerimo snajan paspasan,
Kabeh tinakdir saking pangeran,
Kabeh tinakdir saking pengeran,
Kelawan konco dulur lan tonggo,
Kang podo rukun ojo daksio
Iku sunnah e rasul kang mulyo,
Nabi Muhammad panutan kito,
Nabi Muhammad panutan kito.
Penulis memahami sebagian dari syi’ir tersebut menggambarkan
tentang tarikat Gus Dur. Ia menyadari sebagai hamba Allah yang harus selalu
mendekatkan diri “rino lan wengi” (siang dan malam) dengan metode dzikir dan
suluk. Dzikir bukan sebatas menghitung jumlah, tapi merambah jalan-jalan
kesucian agar semakin terang jalan-jalan spiritual. Sebab pola yang demikian
membuat diri kita “ayem” dan “aman” meskipun secara ekonomi hidup apa adanya.
Sebab orang yang sudah mampu menyatukan rasa antara jiwa dan raga, akan semakin
menyadari semua yang ada pada diri kita tidak lepas dari takdir yang telah
ditentukan oleh Allah swt. Itu sebabnya, dalam kontek sosial orang yang sudah “manunggaling
rasa” hidup semakin tenang, mampu melihat orang lain dengan bahagia. Sebab
semua keanekaragaman kekayaan dan jabatan sudah bagian dari desain Allah SWT.
Tidak perlu ada iri dan dengki dari setiap apa yang telah diterima oleh
makhluk-makhluk-Nya.
Pola hidup bersandar selalu kepada Allah dan menerima takdir
kehidupan yang telah digariskan oleh-Nya merupakan jalan untuk merealisasikan
ajaran agama dalam kontek sosial. Jadi, implikasi tarikat Gus Dur bukan merubah
paradigma berfikir sebatas untuk internal Islam, tapi juga diharapkan mampu merembes
ke seluruh pori-pori masyarakat Indonesia yang plural. Sebab keberagaman
tersebut bagian dari takdir Tuhan. Dan menerima takdir-Nya bagian dari
kesadaran beragama yang sangat mendalam. Itu sebabnya kita harus hidup saling
menghargai. Sikap menghargai agama lain bukan berarti mengorbankan pandangan
keagamaannya. Justru sikap tersebut perwujudan dari ajaran Islam yang sangat
agung
Ajaran Islam yang damai dan menghargai pluralitas model Gus Dur tidak
serta merta mendapat sambutan dari seluruh umat Islam. Sebagian dari mereka
menilai Islam model Gus Dur terlalu universal dan tidak jelas label nya sebagai
“dien al-Islam”. Menurut mereka Islam
merupakan agama yang mulia dan salah satu kemulyaan Islam yaitu menjadikan ia
sebagai agama dan wujud penyatuan agama dan politik. Melalui cara demikian, Islam
bisa menjadi rahmat semesta alam. Maka perlu merubah cara berfikir perjuangan
agama. Umat Islam harus kembali kepada pangkal pokok Al-Qur’an dan As-Sunnah
dan menjadi pelaku politik dalam segala aspek kehidupan
Menurut Gus Dur, Indonesia sebagai negara yang beragam suku, agama,
keyakinan, etnis dan budaya memerlukan suatu sistem politik kebangsaan yang
pluralis. Indonesia bukan hanya milik sebagian kecil umat Islam yang mempunyai
cita-cita penegakan syariat seperti di atas, Indonesia juga milik umat Islam
lainnya dan umat-umat agama non-Islam dalam satu Negara Kesaturan Republik Indonesia
Manusia memang telah didesain oleh Allah dalam keberagaman,
termasuk keberagaman dalam beragama. Tuhan telah menjelaskan “lakum dienukum
wali yadien”, bagimu agama mu, dan bagi ku agama ku. Seharusnya setiap penganut
agama berlomba-lomba mempromosikan ajaran yang tulus, cinta damai dan senantiasa
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketika mereka sama-sama kembali kepada
ajaran agama masing-masing dengan tulus ikhlas, maka akan tercipta suatu
tatanan kehidupan yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai “baldatun tayyibatun
warrabul ghafur”.
Walhasil Gus Dur melalui tarikat yang ia yakini sebagai jalan untuk
memanusiakan manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia benar-benar
menginginkan Tarikat warisan orang tua dan para sesepuhnya merupakan ajaran
yang lahir dari dasar-dasar Islam (maqasih syari’ah), yaitu kemanusiaan
yang tidak boleh meninggalkan keadilan dalam mewujudkan suatu kemajuan bersama untuk
seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Tentu yang saya maksud bukan tarikat yang sedang viral saat
sekarang ini. Saya tidak mau ikut “cawe-cawe” ada istilah Jatman atau
Patman. Saya juga tidak akan ikut ngotot-melotot, dan mengumbar komentar
persoalan kaum Tarikat. Bagiku, saya lebih bahagia belajar ber-tarikat model Gus
Dur meskipun tidak masuk menjadi Pengurus Tarikat. Semoga semua benar-benar “sumeleh”
hanya untuk mencari ridha Allah SWT.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872