
Ia menatapku. Saya pun menatapnya. Lima hari saya menginap di
hotel. Tapi hanya sekali bertemu dengan nya. Tukang sapu. Laki-laki berumur
sekitar 55 tahun. Baju nya tidak rapi. Ma’lum ia tukang sapu. Berbeda dengan pejabat
kantor yang sering memakai dasi, atau para dewan hakim KTIQ. Ia mungkin merasa
“saya bukan siapa-siapa”, “ojo dibanding-bandingke”. Meskipun dua kalimat
tersebut bisa saja mempunyai makna majaz “apakah karena status” atau karena
“jabatannya”. Bisa jadi, tukang sapu adalah “manusia pilihan” dihadapan Allah.
Ia sangat Istimewa dihadapan-Nya. Lalu ia menutup dirinya dengan gaya hidup
yang biasa-biasa saja.
Bisa jadi tukang sapu tersebut seorang pejabat atau inteljen yang
menyamar seperti Umar bin Khatab. Sehingga tidak satupun masyarakat mengenal
nya.
Bisa jadi ia termasuk manusia “kurugan harta” yang ingin merasakan
hidup sebagai manusia biasa, makan dipinggir jalan, beli “Cilok” atau “Batagor”
dan merasakan sebagai manusia merdeka.
Bisa jadi ia adalah benar-benar orang yang biasa-biasa saja, bahkan
bisa jadi “dibawah standar” manusia biasa. Bisa jadi ia termasuk manusia
ekstrem. Ma’lum lah, Indonesia sekarang kadang banyak sekali istilah
untuk membuat kasta-kasta manusia beragam. Kemiskinan saja itu macam-macam
istilah ada istilah “miskin”, “dibawah
garis kemiskinan”. Lalu muncul lagi istilah “miskin”, dibawah nya
ada “miskin ekstrem”. Sampai-sampai saya bingung mana yang berada “digaris
kemiskinan”, mana yang masuk kategori “miskin ekstrem”. Apakah
mereka yang mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu miskin ekstrem?
Bingung. Kadang orang yang mendapat BLT memakai baju bagus, honda bagus, gincu
nya menor-menor dan HP cantik.
Bapak tua berpakaian lusuh tadi mengingat masa lalu tentang arti
sebuah kemiskinan. Jika anda pernah membaca buku “Ganti Hati” milik Dahlan Iskan
Kisah tersebut sudah mafhum pada masa itu. Anak-anak saat akan
berangkat sekolah pagi hari kadang tidak sarapan. Orang tua belum pasti punya
beras. Jika punya pun hanya sedikit. Biasa kalau masak beras di campur ubi.
Anak-anak nya banyak 5-8 orang. Mereka disuruh duduk melingkar. Ibu nya membagi
nasi nya sedikit-sedikit. Lauknya cukup “jlantah” (minyak goreng yang
sudah digunakan untuk menggoreng, biasanya goreng krupuk atau ikan asin). Jika
kurang asin maka ditaruh garam di tengah-tengah lingkaran. Setelah sarapan
mereka berangkat sekolah.
Jangan tanya tentang baju. Anak-anak dulu hanya dua jenis baju:
merah putih dan pramuka. Ini jatah untuk satu tahun. Harus benar-benar di jaga.
Jangan sampai rusak. Jika pada musim banjir, mereka melepaskan baju dan celana.
Dimasukan plastik supaya tidak basah. Jika sudah dekat sekolah, mereka pergi ke
mushola atau masjid. Mereka mandi lagi, dan memakai baju. Oh ya, cukup baju dan
celana. Tidak ada sepatu. Jika ada pun itu sepatu bekas dikasih orang. Jika
waktu itu ada murid sudah punya sepatu, biasanya anak nya kepala desa dan camat
atau orang kaya di desa tersebut. Ukuran kaya sederhana; sawah dan ladang nya
luas. Terluas di desa tersebut. Jika orang tua nya buruh tani, bisa dipastikan
berangkat sekolah “nyeker”, tanpa alas kaki. Kakinya “busik”, kotor.
Tapi sangat bermanfaat untuk belajar hitungan. Kaki-kaki atau tangan-tangan
anak zaman dulu bisa untuk menulis. Cukup bekal potongan lidi, dan menulis
angka atau huruf di lengan tangan atau kempol kaki, maka akan keluar angka atau
huruf berwarna putih.
Dulu sangat mudah sekali membedakan status orang. Siapa “si kaya”
dan siapa “si miskin” sangat mudah. Ukuran sederhana, dari rumah nya berbeda.
Dari kendaraan berbeda. Dari cara jalan berbeda, cara makan dan apa yang
dimakan pun berbeda. Bahkan penampilan wajah pun mudah dideteksi mana orang
“ningrat” dan “melarat”. Semua tahu diri. Orang kaya membantu orang miskin.
Orang miskin mendapat bantuan orang kaya. Orang kaya memperkerjakan orang
miskin untuk nggarap sawah-sawah dan ladang-ladangnya.
Sekarang susah dibedakan, mana orang kaya mana orang miskin, mana
orang pandai mana orang bodoh, mana ilmuwan mana kaum gadungan. Mana ulama
sejati, mana ulama imitasi, mana hak, mana batil, mana dakwah agama, mana
jualan agama. Sulit sesulit mencari jarum dalam jerami. Semua sama. Orang kaya
dan miskin sama-sama wajahnya glowing. Semua sudah bisa bergaya model
para artis, mulai artis jaman jadul sampai artis yang “wudelnya” tidak
pernah ditutupi. Susah mana artis, mana orang kampung.
Hidup sekarang benar-benar sangat demokratis. Semua sama. Bahkan
kadang antara kaya dan miskin pun mentalnya sama: sama-sama merasa miskin.
Semua ingin dibantu. Semua mengaku miskin. Setelah mendapat bantuan bergaya
kaya. Sudah semakin bias ukuran-ukuran “fuqara dan masakin” dan semakin
kehilangan benang merah antara keduanya. Sekarang ini, mereka sudah bisa makan
satu hari tiga kali. Bahkan mereka kadang malas masak. Bukan karena tidak punya
beras. Tapi ingin merasakan selera yang berbeda. Rumah makan sasarannya.
Sekarang di lingkungan kita yang katanya rata-rata orang-orang
miskin sudah tidak ada lagi tangisan anak-anak seperti pada masa Umar bin
Khatab menunggu ibu nya masak dan tidak kunjung selesai masaknya. Ma’lum ibunya
masak batu. Mereka tertidur karena letih dan terlalu lama menunggu tidak
masak-masak.
Kita kadang mendengar ada tangisan. Bukan rebutan makanan, tapi
rebutan android dan mainan yang harganya ratusan ribu atau malah jutaan. Makan
sudah tidak pusing lagi. Kuliah sudah ada KIP. Satu semester mendapat sekitar 6
juta. Mereka kuliah bukan karena cucuran air mata, tapi kadang hasil perdebatan
apakah dapat KIP atau tidak, jika dapat kuliah, jika tidak mendapatnya, tidak kuliah. Kuliah
sudah tidak lagi sesakral era 80-an,90 dan 2000-an. Kuliah sudah seperti
hiburan saja. Suntuk di rumah, diperintah orang tua, lalu kuliah (tentu tidak
semua. Masih ada generasi yang baik-baik memikirkan masa dirinya dan bangsa
nya).
Bapak tukang sapu di hotel yang sudah berumur paruh baya adalah
jalan untuk refleksi diri. Dunia yang sekarang ini penuh hal-hal yang tidak
diduga. Serba cepat berubah. Hari ini miskin, besok bisa menjadi jutawan. Hari ini
jutawan, besok bisa jadi sudah menjadi orang jalanan. Bisa jadi. Nasib sangat
sulit diprediksi seperti situasi alam semesta saat sekarang ini. Hujan dan
kemarau sudah tidak begitu mengikuti kaidah-kaidah pada masa lalu. Tiba-tiba
hujan, tiba-tiba kemarau.
Alam boleh berubah-rubah. Namun penulis harus belajar pada tukang sapu
hotel tentang cara menatap orang dengan tatapan kasih sayang. Saya kira ini
penting. Dunia semakin semrawut perlu diisi ruang-ruang kosong kehidupan dengan
menebarkan senyum dan pandangan penuh dengan cinta. Q.S. At-Taubah ([9]:128)berbunyi:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa
oleh nya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,
amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.
Kita memang dilahirkan dalam kondisi
berbeda dari orang tua yang berbeda. Kadang pada saat tertentu kita mempunyai
kesamaan dalam pekerjaan dan dalam
visi-misi mewujudkan cita-cita pada suatu institusi atau pun organisasi. Namun
ketika kita melihat ke luar, ada perbedaan-perbedaan yang sangat kita rasakan. Kadang
kita muncul ada rasa “masa bodoh” terhadap orang lain. Buat apa
memikirkan orang lain, memikirkan diri sendiri itu pun susah. Itu salah satu
sikap kita pada moment-moment tertentu muncul. Namun kadang kita harus berfikir
ulang kembali, bahwa hidup ternyata tidak bisa berdiri-sendiri. Kita mungkin
tidak mengenal orang yang kita bantu, tapi amal kebaikan kita seperti sebuah
rangkaian cahaya yang akan mempertemukan di suatu masa dan kebetulan pada
masa-masa itu kita sedang membutuhkan bantuan. Saat itu pun bantuan datang
menghampiri kita. Itulah makna dari suatu kebahagiaan yang dirangkai tetapi
kita tidak menyadari kebaikan-kebaikan masa lalu kita.
Kebahagiaan sejati terletak kepada
kemampuan menangkap rahasia kebahagiaan pada rencana Tuhan yang dibuat-Nya. Kebahagiaan
sejati selalu melihat kasih sayang Allah terlalu besar yang diberikan kepada
kita. Kadang Allah menghadirkan hal-hal yang tidak menyenangkan sehingga kita
sedih. Kadang Allah menghadirkan sesuatu ujian yang membuat kita terkadang
berada di titik terendah. Lalu kita bangkit, dan kemudian allah menjawab nya
dengan cara yang sangat indah
Kebahagiaan adalah jalan untuk selalu
berfikir positif dan melihat segala sesuatu sebagai jalan untuk kebaikan kita
sendiri. Mungkin yang tampak di depan kita adalah sesuatu yang menyebalkan hati
karena perangai atau perilaku seseorang. Ingin rasanya membalas semua itu. Tapi
apa gunannya? Apakah kita akan merasa puas setelah melampiaskan pembalasan? Mungkin
puas. Tapi balas dendam sebenarnya adalah penderitaan berseri. Hari ini kita
mampu membalas kejahatan orang tersebut, tapi suatu masa akan datang balasan
saat kita terlena. Itulah watak dendam dalam realita kehidupan. ia tidak akan
pernah berhenti untuk saling menghancurkan.
Penulis teringat suatu kelimat indah dari Mahatma
Gandi
Walhasil apa yang telah dikatakan oleh Mahatma Gandi dan orang-orang mulia sebagian telah dipancarkan oleh tukang sapu di
hotel,”tatapan penuh dengan kasih sayang”. Kadang hati berfikir, “Apa jadinya
jika setiap orang mempunyai tatapan penuh kasih sayang sesama manusia?”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1076
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   642
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   824
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   801
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   931
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266