Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tatapan Sejuta Makna Tukang Sapu Hotel



Kamis , 19 Desember 2024



Telah dibaca :  668

Ia menatapku. Saya pun menatapnya. Lima hari saya menginap di hotel. Tapi hanya sekali bertemu dengan nya. Tukang sapu. Laki-laki berumur sekitar 55 tahun. Baju nya tidak rapi. Ma’lum ia tukang sapu. Berbeda dengan pejabat kantor yang sering memakai dasi, atau para dewan hakim KTIQ. Ia mungkin merasa “saya bukan siapa-siapa”, “ojo dibanding-bandingke”. Meskipun dua kalimat tersebut bisa saja mempunyai makna majaz “apakah karena status” atau karena “jabatannya”. Bisa jadi, tukang sapu adalah “manusia pilihan” dihadapan Allah. Ia sangat Istimewa dihadapan-Nya. Lalu ia menutup dirinya dengan gaya hidup yang biasa-biasa saja.

Bisa jadi tukang sapu tersebut seorang pejabat atau inteljen yang menyamar seperti Umar bin Khatab. Sehingga tidak satupun masyarakat mengenal nya.

Bisa jadi ia termasuk manusia “kurugan harta” yang ingin merasakan hidup sebagai manusia biasa, makan dipinggir jalan, beli “Cilok” atau “Batagor” dan merasakan sebagai manusia merdeka.

Bisa jadi ia adalah benar-benar orang yang biasa-biasa saja, bahkan bisa jadi “dibawah standar” manusia biasa. Bisa jadi ia termasuk manusia ekstrem. Ma’lum lah, Indonesia sekarang kadang banyak sekali istilah untuk membuat kasta-kasta manusia beragam. Kemiskinan saja itu macam-macam istilah  ada istilah “miskin”, “dibawah garis kemiskinan”. Lalu muncul lagi istilah “miskin”, dibawah nya ada “miskin ekstrem”. Sampai-sampai saya bingung mana yang berada “digaris kemiskinan”, mana yang masuk kategori “miskin ekstrem”. Apakah mereka yang mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu miskin ekstrem? Bingung. Kadang orang yang mendapat BLT memakai baju bagus, honda bagus, gincu nya menor-menor dan HP cantik.

Bapak tua berpakaian lusuh tadi mengingat masa lalu tentang arti sebuah kemiskinan. Jika anda pernah membaca buku “Ganti Hati” milik Dahlan Iskan (Iskan, 2012), maka akan menemukan beberapa halaman mencaritakan gambaran kemiskinan. Seperti jarang sarapan dipagi hari, pulang sekolah membuka tudung nasi tidak ada lauk dan sayur. Sehingga ia pun pulang sekolah langsung mencari Ikan di Sawah atau Sungai. Setelah di dapat, tidak digoreng, tapi dibakar. Tidak ada minyak goreng.

Kisah tersebut sudah mafhum pada masa itu. Anak-anak saat akan berangkat sekolah pagi hari kadang tidak sarapan. Orang tua belum pasti punya beras. Jika punya pun hanya sedikit. Biasa kalau masak beras di campur ubi. Anak-anak nya banyak 5-8 orang. Mereka disuruh duduk melingkar. Ibu nya membagi nasi nya sedikit-sedikit. Lauknya cukup “jlantah” (minyak goreng yang sudah digunakan untuk menggoreng, biasanya goreng krupuk atau ikan asin). Jika kurang asin maka ditaruh garam di tengah-tengah lingkaran. Setelah sarapan mereka berangkat sekolah.

Jangan tanya tentang baju. Anak-anak dulu hanya dua jenis baju: merah putih dan pramuka. Ini jatah untuk satu tahun. Harus benar-benar di jaga. Jangan sampai rusak. Jika pada musim banjir, mereka melepaskan baju dan celana. Dimasukan plastik supaya tidak basah. Jika sudah dekat sekolah, mereka pergi ke mushola atau masjid. Mereka mandi lagi, dan memakai baju. Oh ya, cukup baju dan celana. Tidak ada sepatu. Jika ada pun itu sepatu bekas dikasih orang. Jika waktu itu ada murid sudah punya sepatu, biasanya anak nya kepala desa dan camat atau orang kaya di desa tersebut. Ukuran kaya sederhana; sawah dan ladang nya luas. Terluas di desa tersebut. Jika orang tua nya buruh tani, bisa dipastikan berangkat sekolah “nyeker”, tanpa alas kaki. Kakinya “busik”, kotor. Tapi sangat bermanfaat untuk belajar hitungan. Kaki-kaki atau tangan-tangan anak zaman dulu bisa untuk menulis. Cukup bekal potongan lidi, dan menulis angka atau huruf di lengan tangan atau kempol kaki, maka akan keluar angka atau huruf berwarna putih.

Dulu sangat mudah sekali membedakan status orang. Siapa “si kaya” dan siapa “si miskin” sangat mudah. Ukuran sederhana, dari rumah nya berbeda. Dari kendaraan berbeda. Dari cara jalan berbeda, cara makan dan apa yang dimakan pun berbeda. Bahkan penampilan wajah pun mudah dideteksi mana orang “ningrat” dan “melarat”. Semua tahu diri. Orang kaya membantu orang miskin. Orang miskin mendapat bantuan orang kaya. Orang kaya memperkerjakan orang miskin untuk nggarap sawah-sawah dan ladang-ladangnya.

Sekarang susah dibedakan, mana orang kaya mana orang miskin, mana orang pandai mana orang bodoh, mana ilmuwan mana kaum gadungan. Mana ulama sejati, mana ulama imitasi, mana hak, mana batil, mana dakwah agama, mana jualan agama. Sulit sesulit mencari jarum dalam jerami. Semua sama. Orang kaya dan miskin sama-sama wajahnya glowing. Semua sudah bisa bergaya model para artis, mulai artis jaman jadul sampai artis yang “wudelnya” tidak pernah ditutupi. Susah mana artis, mana orang kampung.

Hidup sekarang benar-benar sangat demokratis. Semua sama. Bahkan kadang antara kaya dan miskin pun mentalnya sama: sama-sama merasa miskin. Semua ingin dibantu. Semua mengaku miskin. Setelah mendapat bantuan bergaya kaya. Sudah semakin bias ukuran-ukuran “fuqara dan masakin” dan semakin kehilangan benang merah antara keduanya. Sekarang ini, mereka sudah bisa makan satu hari tiga kali. Bahkan mereka kadang malas masak. Bukan karena tidak punya beras. Tapi ingin merasakan selera yang berbeda. Rumah makan sasarannya.

Sekarang di lingkungan kita yang katanya rata-rata orang-orang miskin sudah tidak ada lagi tangisan anak-anak seperti pada masa Umar bin Khatab menunggu ibu nya masak dan tidak kunjung selesai masaknya. Ma’lum ibunya masak batu. Mereka tertidur karena letih dan terlalu lama menunggu tidak masak-masak.

Kita kadang mendengar ada tangisan. Bukan rebutan makanan, tapi rebutan android dan mainan yang harganya ratusan ribu atau malah jutaan. Makan sudah tidak pusing lagi. Kuliah sudah ada KIP. Satu semester mendapat sekitar 6 juta. Mereka kuliah bukan karena cucuran air mata, tapi kadang hasil perdebatan apakah dapat KIP atau tidak, jika dapat kuliah, jika tidak mendapatnya, tidak kuliah. Kuliah sudah tidak lagi sesakral era 80-an,90 dan 2000-an. Kuliah sudah seperti hiburan saja. Suntuk di rumah, diperintah orang tua, lalu kuliah (tentu tidak semua. Masih ada generasi yang baik-baik memikirkan masa dirinya dan bangsa nya).

Bapak tukang sapu di hotel yang sudah berumur paruh baya adalah jalan untuk refleksi diri. Dunia yang sekarang ini penuh hal-hal yang tidak diduga. Serba cepat berubah. Hari ini miskin, besok bisa menjadi jutawan. Hari ini jutawan, besok bisa jadi sudah menjadi orang jalanan. Bisa jadi. Nasib sangat sulit diprediksi seperti situasi alam semesta saat sekarang ini. Hujan dan kemarau sudah tidak begitu mengikuti kaidah-kaidah pada masa lalu. Tiba-tiba hujan, tiba-tiba kemarau.

Alam boleh berubah-rubah. Namun penulis harus belajar pada tukang sapu hotel tentang cara menatap orang dengan tatapan kasih sayang. Saya kira ini penting. Dunia semakin semrawut perlu diisi ruang-ruang kosong kehidupan dengan menebarkan senyum dan pandangan penuh dengan cinta. Q.S. At-Taubah ([9]:128)berbunyi: “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa oleh nya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Kita memang dilahirkan dalam kondisi berbeda dari orang tua yang berbeda. Kadang pada saat tertentu kita mempunyai kesamaan dalam pekerjaan  dan dalam visi-misi mewujudkan cita-cita pada suatu institusi atau pun organisasi. Namun ketika kita melihat ke luar, ada perbedaan-perbedaan yang sangat kita rasakan. Kadang kita muncul ada rasa “masa bodoh” terhadap orang lain. Buat apa memikirkan orang lain, memikirkan diri sendiri itu pun susah. Itu salah satu sikap kita pada moment-moment tertentu muncul. Namun kadang kita harus berfikir ulang kembali, bahwa hidup ternyata tidak bisa berdiri-sendiri. Kita mungkin tidak mengenal orang yang kita bantu, tapi amal kebaikan kita seperti sebuah rangkaian cahaya yang akan mempertemukan di suatu masa dan kebetulan pada masa-masa itu kita sedang membutuhkan bantuan. Saat itu pun bantuan datang menghampiri kita. Itulah makna dari suatu kebahagiaan yang dirangkai tetapi kita tidak menyadari kebaikan-kebaikan masa lalu kita.

Kebahagiaan sejati terletak kepada kemampuan menangkap rahasia kebahagiaan pada rencana Tuhan yang dibuat-Nya. Kebahagiaan sejati selalu melihat kasih sayang Allah terlalu besar yang diberikan kepada kita. Kadang Allah menghadirkan hal-hal yang tidak menyenangkan sehingga kita sedih. Kadang Allah menghadirkan sesuatu ujian yang membuat kita terkadang berada di titik terendah. Lalu kita bangkit, dan kemudian allah menjawab nya dengan cara yang sangat indah (Ghozali, 2016).

Kebahagiaan adalah jalan untuk selalu berfikir positif dan melihat segala sesuatu sebagai jalan untuk kebaikan kita sendiri. Mungkin yang tampak di depan kita adalah sesuatu yang menyebalkan hati karena perangai atau perilaku seseorang. Ingin rasanya membalas semua itu. Tapi apa gunannya? Apakah kita akan merasa puas setelah melampiaskan pembalasan? Mungkin puas. Tapi balas dendam sebenarnya adalah penderitaan berseri. Hari ini kita mampu membalas kejahatan orang tersebut, tapi suatu masa akan datang balasan saat kita terlena. Itulah watak dendam dalam realita kehidupan. ia tidak akan pernah berhenti untuk saling menghancurkan.

Penulis teringat suatu kelimat indah dari Mahatma Gandi (Easwaran, Gandhi the Man , 2013) sebagai berikut: “ Saya mengendalikan diri saya agar tidak mampu membenci makhluk apa pun yang ada di atas bumi. Dengan perjalanan panjang disiplin yang penuh doa, saya telah berhenti membenci siapa pun selama lebih dari empat puluh tahun. Saya tahu ini adalah pengakuan yang cukup besar. meskipun demikian, saya mengatakan dengan semua kerendahan hati”.

Walhasil apa yang telah dikatakan oleh Mahatma Gandi dan orang-orang mulia sebagian telah dipancarkan oleh tukang sapu di hotel,”tatapan penuh dengan kasih sayang”. Kadang hati berfikir, “Apa jadinya jika setiap orang mempunyai tatapan penuh kasih sayang sesama manusia?”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1076

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   642

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   824

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   801

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   931

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266