
Saya sebenarnya bukan pendukung Tom Lembong.
Hampir tidak kenal sama sekali. Sejak dulu tidak pernah saya mengikuti proses persoalan
pidana yang menimpanya. Tidak pernah sama sekali. Menjelang putusan hakim, di
beranda FB atau di beranda X, saya sering melihat video-video Tom Lembong.
Terakhir -lupa tanggal nya -saya melihatnya sangat menghormati putusan hakim. Wajah Tom Lembong
tidak ada perubahan. Sangat tenang, tetap senyum dan selalu optimis serta tidak
mau menebar kalimat-kalimat yang provokatif.
Sampai detik ini, tidak ada pernyataan provokatif
dengan kalimat-kalimat bombastis yang sering didengar beberapa waktu yang lalu
seperti “kriminalisasi”, “pengadilan setan”, “pejabat biadab”, “pemimping
bangsat” dan sejenisnya.
Tom Lembong pun tidak mau membawa-bawa pada
persoalan agama, etnis dan sejenisnya. Sampai detik ini -saat saya menulis
artikel ini -saya belum mengerti apa agama Tom Lembong. Sebenarnya persoalan
tersebut pun saya kurang peduli. Namun sikap bijak Tom Lembong menerima
keputusan pengadilan dan keteguhan hati bahwa dirinya tidak bersalah
benar-benar terpancar dalam ucapan, sikap dan pancaran tubuh nya.
Saya menilai semua itu wujud dari kedalaman
ilmu, keyakinan akan kebenaran dan tentu nya sebagai orang beragama ia percaya
akan keadilan Tuhan. Apapun agamanya.
Tom lembong sudah dinyatakan bersalah oleh hakim -meskipun ia tidak mempunyai niat jahat. Ia masih mempunyai kesempatan banding. Tetapi bukan pada persoalan
tersebut tulisan ini hadir. Saya ingin mengkaji-meskipun tidak mendalam
-tentang sikap ketenangan Tom Lembong menghadapi suatu persoalan. Ia tetap
terlihat rapi, bersih, dan berpenampilan sangat mengesangkan. Mungkin karena kulitnya
putih, rambutnya yang lurus tersisir dengan rapi serta lesung pipi yang menjadi
semakin memberi kesan sangat mengagumkan. Saat sedang wawancara dengan
wartawan, ia masih sempat mengambil microfon klip wartawan dan menaruh
di baju nya. Ia sangat tenang. Wajah nya laksana lautan luas dan dalam sebagai
perlambang ketenangan yang terpancar dalam wajahnya.
Berbeda beberapa kasus-kasus dari para terpidana sejenisnya,
terdakwa hingga terpidana sering tampil terlihat sangat kusut, wajah murung,
malu dan terlihat pancaran negatif dari tubuhnya sebuah pancaran redup akibat
menanggung malu dan derita yang mendalam di dalam hati.
Pada tulisan ini saya tidak akan menggiring
opini untuk condong kepada salah satu pihak -baik hakim maupun Tom Lembong.
Setiap putusan hakim tentu saja sudah melalui prosedur ijtihad tertinggi.
Apakah benar atau salah, semua orang bisa menilai nya. Setiap keputusan ada
konsekuensi nya. Untuk hal ini saya tidak pada wilayah untuk mengomentarinya.
Kenapa Tom Lembong sangat tenang? Sebab
tenang adalah kekuatan. Tenang merupakan senjata terkuat manusia. Ketenangan
merupakan wujud proses alamiah manusia unggul yang sudah selesai dengan
sendiri. Manusia yang sudah selesai dengan sendirinya ada dua indikator: Baik
dan benar. Apa-apa yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai kebaikan. Namun
kebaikan tidak cukup, menolong orang sakit itu baik, tapi harus dengan cara
yang benar sesuai dengan prosedur.
Jangan seperti seorang pengendara motor
ingin menolong orang sakit. Ia merasa iba, Lalu orang sakit tersebut disuruh
naik mbonceng di belakangnya. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit pengendara
motor tidak nolah-noleh kanan-kiri. Tancap gas. Ia ngebut. Tidak
tahunya, kanan kiri sudah ada dua polisi yang mengejarnya. Akhirnya ia
ditilang. Orang sakit pun akhirnya diantar oleh polisi ke Rumah Sakit.
Tom Lembong merasa bahwa dirinya sudah
menggunakan dua standar tersebut. Ia telah melakukan kebaikan dan ia juga sudah
menggunakan prosedur hukum, yaitu sudah memakai helm Standar SNI-Standar
Nasional Indonesia. Mungkin karena gara-gara huruf “I” nya hilang dan terbaca
oleh hakim hanya “SN”, maka mau tidak mau pak hakim pun mempersoalkan “SN”
sebagai bagian dari produk yang tidak sesuai dengan standar. Sebab huruf “I”
nya hilang.
Seperti tanda di larang parkir yang
ditancapkan dipinggir jalan untuk kendaraan roda dua. Semua orang bisa membaca
bahwa tanda tersebut mempunyai arti “seluruh kendaraan roda dua dilarang
parkir”. Persoalannya, yang dilarang parkir di dibawah tanda tersebut atau di
sepanjang jalan tersebut. Semua orang mempunyai tafsir sendiri-sendiri dan
menganggap tafsir nya yang paling benar. Dan setiap penguasa mempunyai otoritas
untuk menentukan seperti apa tafsir yang dikehendakinya.
Tafsir hukum atau peraturan-peraturan sudah
sejak dulu terjadi. Otoritas penguasa tidak semata-mata untuk menegakan hukum
meskipun langit mau runtuh. Otoritas penguasa adalah otoritas tertulis dan
tidak tertulis. Ada perangkat yang bisa diterjemahkan secara formal, ada yang
harus menggunakan indera keenam. Justru yang terakhir ini yang sangat sulit
ditebak oleh masyarakat awam.
Kecurigaan terhadap hal-hal yang
memungkinkan mengganggu stabilitas nasional, mengganggu kekuasaan, dendam
politik dan lain-lain memungkinkan muncul tafsir-tafsir hukum yang berbeda dari
yang sebenarnya. Hal-hal yang seperti ini bagian dari persoalan-persoalan yang
tidak tertulis yang tidak perlu dijelaskan di depan publik. Meskipun sering di
antara masyarakat ada orang-orang yang dianugerahi mata batin yang sangat baik
dan mampu meneropong esensi persoalan-persoalan secara waskita -jelas
dan terang benderang.
Ada orang mengatakan: “Setinggi pohon, sebesar
itu angin yang menerpanya. Semakin tinggi pohon, semakin kuat terpaannya”. Saya
-mungkin juga anda -terkadang tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisis
berbagai persoalan yang menimpa. Seolah-olah semua persoalan sama. Semua terlihat
besar. Sehingga hidup terlihat sibuk sekali mengomentari semua persoalan
tersebut. Lucunya lagi, kadang tidak ada satupun yang selesai. Hanya
komentar-komentar melulu. Semakin banyak komentar, semakin menumpuk persoalan. Hidup
hanya berisi masalah. Kebahagiaan terasa benar-benar hilang.
Masalah sebenarnya seperti pohon. Ada akar,
pohon, cabang, ranting dan daun. Ada masalah jenis akar, ada jenis pohon dan jenis
daun. Tidak mungkin cara menyelesaikan sama. Pasti berbeda-beda. Kita harus
mampu membuat daftar masalah yang masuk pada kategori-ketegori tersebut. mana
yang harus didahulukan untuk diselesaikan, mana yang daftar selanjutnya. Begitu
seterusnya.
Orang tua kita, para petani dan para
tukang-tukang kayu yang di kampung-kampung secara tidak sadar telah mengajarkan
bagaimana cara menyelesaikan masalah.
Ketika akan menebang pohon yang besar, sang
pemuda kampung memanjat pohon, Lalu memotong ranting, cabang dari kecil hingga
yang cukup besar. Setelah selesai semua dipotong, Ia turun dari pohon. Lalu ia
memotong batang pohon tersebut.
Kita bisa membayangkan hasilnya. Tumbuh-tumbuhan
di sekitarnya atau kabel-kabel bahkan rumah-rumah di sekitarnya aman. Tidak ada
yang terkena sabetan cabang dan ranting yang menjulang kemana-kemana. Sebab semua
terlebih dahulu telah dipotong. Saat pohon jatuh, maka tumbangnya tidak merusak tanaman, rumah atau bangunan di
sekitarnya.
Anda dan saya sama-sama punya masalah. Pekerjaan
belum membuahkan hasil padahal membutuhkan duit banyak,belum mendapatkan jodoh,
kuliah belum selesai, persoalan konflik dengan keluarga, mertua, keluarga sakit
dan tidak harmonis di tempat kerja. Semakin hari seolah-olah semakin
menggungung masalah kita.
Para pendahulu kita dari orang-orang yang
arif dan bijaksana mengajarkan untuk tetap “NANG”, yaitu teNANG. Ketenangan
mampu menjaga stabilitas pikiran dan hati kita untuk bisa berjalan secara
normal. Jika sudah normal maka lakukan Langkah selanjutnya yaitu “NING”-mengheNINGkan
cipta, artinya berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab melalui
pertolongannya, jalan-jalan yang tidak mungkin akan terlihat mudah dan bisa
diselesaikan dengan baik. Setelah proses mengheningkan cipta berjalan dengan
baik, maka Langkah selanjutnya yaitu melakukan lelakon “NENG” yaitu meNENG
atau berdiam diri dengan terus mempelajari pada proses “angen-angen sa’ma’nane”.
Berdiam diri yang produktif, yaitu berdiam dengan mengoptimalkan segala
kemampuan baik unsur ruhaniahnya, intelektualnya dan tenaganya.
Ketika proses tersebut dilakukan secara simultan,
maka akan melahirkan kekuatan yang sangat besar yang akan mengeluarkan suara “GONG”
yang berasal dari kata GUNG yaitu keaGUNGan.
Walhasil, ujian hidup dan penderitaan
sebenarnya cara Tuhan untuk menyiapkan saya dan anda untuk menuju pada keaGUNGan
dalam hidup ini. Proses untuk mencapai keagungan membutuhkan ketenangan dan
kesabaran serta tetap berpegang pada kebaikan dan kebenaran. sebab ada segudang
ujian hidup yang harus diselesaikan satu persatu. Ketika kedua proses tersebut
ada pada diri anda ketika sedang mendapatkan ujian, maka keagungan sebenarnya
sedang menjemput anda sedangkan anda tidak menyadarinya, bahwa anda sudah sampai
pada tingkat keagungan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876