Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tenang Ketika Terkena Masalah



Minggu , 27 Juli 2025



Telah dibaca :  385

Saya sebenarnya bukan pendukung Tom Lembong. Hampir tidak kenal sama sekali. Sejak dulu tidak pernah saya mengikuti proses persoalan pidana yang menimpanya. Tidak pernah sama sekali. Menjelang putusan hakim, di beranda FB atau di beranda X, saya sering melihat video-video Tom Lembong. Terakhir -lupa tanggal nya -saya melihatnya sangat menghormati putusan hakim. Wajah Tom Lembong tidak ada perubahan. Sangat tenang, tetap senyum dan selalu optimis serta tidak mau menebar kalimat-kalimat yang provokatif.

Sampai detik ini, tidak ada pernyataan provokatif dengan kalimat-kalimat bombastis yang sering didengar beberapa waktu yang lalu seperti “kriminalisasi”, “pengadilan setan”, “pejabat biadab”, “pemimping bangsat” dan sejenisnya.

Tom Lembong pun tidak mau membawa-bawa pada persoalan agama, etnis dan sejenisnya. Sampai detik ini -saat saya menulis artikel ini -saya belum mengerti apa agama Tom Lembong. Sebenarnya persoalan tersebut pun saya kurang peduli. Namun sikap bijak Tom Lembong menerima keputusan pengadilan dan keteguhan hati bahwa dirinya tidak bersalah benar-benar terpancar dalam ucapan, sikap dan pancaran tubuh nya.

Saya menilai semua itu wujud dari kedalaman ilmu, keyakinan akan kebenaran dan tentu nya sebagai orang beragama ia percaya akan keadilan Tuhan. Apapun agamanya.

Tom lembong sudah dinyatakan bersalah oleh hakim -meskipun ia tidak mempunyai niat jahat. Ia masih mempunyai kesempatan banding. Tetapi bukan pada persoalan tersebut tulisan ini hadir. Saya ingin mengkaji-meskipun tidak mendalam -tentang sikap ketenangan Tom Lembong menghadapi suatu persoalan. Ia tetap terlihat rapi, bersih, dan berpenampilan sangat mengesangkan. Mungkin karena kulitnya putih, rambutnya yang lurus tersisir dengan rapi serta lesung pipi yang menjadi semakin memberi kesan sangat mengagumkan. Saat sedang wawancara dengan wartawan, ia masih sempat mengambil microfon klip wartawan dan menaruh di baju nya. Ia sangat tenang. Wajah nya laksana lautan luas dan dalam sebagai perlambang ketenangan yang terpancar dalam wajahnya.

Berbeda beberapa kasus-kasus dari para terpidana sejenisnya, terdakwa hingga terpidana sering tampil terlihat sangat kusut, wajah murung, malu dan terlihat pancaran negatif dari tubuhnya sebuah pancaran redup akibat menanggung malu dan derita yang mendalam di dalam hati.

Pada tulisan ini saya tidak akan menggiring opini untuk condong kepada salah satu pihak -baik hakim maupun Tom Lembong. Setiap putusan hakim tentu saja sudah melalui prosedur ijtihad tertinggi. Apakah benar atau salah, semua orang bisa menilai nya. Setiap keputusan ada konsekuensi nya. Untuk hal ini saya tidak pada wilayah untuk mengomentarinya.

Kenapa Tom Lembong sangat tenang? Sebab tenang adalah kekuatan. Tenang merupakan senjata terkuat manusia. Ketenangan merupakan wujud proses alamiah manusia unggul yang sudah selesai dengan sendiri. Manusia yang sudah selesai dengan sendirinya ada dua indikator: Baik dan benar. Apa-apa yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai kebaikan. Namun kebaikan tidak cukup, menolong orang sakit itu baik, tapi harus dengan cara yang benar sesuai dengan prosedur.

Jangan seperti seorang pengendara motor ingin menolong orang sakit. Ia merasa iba, Lalu orang sakit tersebut disuruh naik mbonceng di belakangnya. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit pengendara motor tidak nolah-noleh kanan-kiri. Tancap gas. Ia ngebut. Tidak tahunya, kanan kiri sudah ada dua polisi yang mengejarnya. Akhirnya ia ditilang. Orang sakit pun akhirnya diantar oleh polisi ke Rumah Sakit.

Tom Lembong merasa bahwa dirinya sudah menggunakan dua standar tersebut. Ia telah melakukan kebaikan dan ia juga sudah menggunakan prosedur hukum, yaitu sudah memakai helm Standar SNI-Standar Nasional Indonesia. Mungkin karena gara-gara huruf “I” nya hilang dan terbaca oleh hakim hanya “SN”, maka mau tidak mau pak hakim pun mempersoalkan “SN” sebagai bagian dari produk yang tidak sesuai dengan standar. Sebab huruf “I” nya hilang.

Seperti tanda di larang parkir yang ditancapkan dipinggir jalan untuk kendaraan roda dua. Semua orang bisa membaca bahwa tanda tersebut mempunyai arti “seluruh kendaraan roda dua dilarang parkir”. Persoalannya, yang dilarang parkir di dibawah tanda tersebut atau di sepanjang jalan tersebut. Semua orang mempunyai tafsir sendiri-sendiri dan menganggap tafsir nya yang paling benar. Dan setiap penguasa mempunyai otoritas untuk menentukan seperti apa tafsir yang dikehendakinya.

Tafsir hukum atau peraturan-peraturan sudah sejak dulu terjadi. Otoritas penguasa tidak semata-mata untuk menegakan hukum meskipun langit mau runtuh. Otoritas penguasa adalah otoritas tertulis dan tidak tertulis. Ada perangkat yang bisa diterjemahkan secara formal, ada yang harus menggunakan indera keenam. Justru yang terakhir ini yang sangat sulit ditebak oleh masyarakat awam.

Kecurigaan terhadap hal-hal yang memungkinkan mengganggu stabilitas nasional, mengganggu kekuasaan, dendam politik dan lain-lain memungkinkan muncul tafsir-tafsir hukum yang berbeda dari yang sebenarnya. Hal-hal yang seperti ini bagian dari persoalan-persoalan yang tidak tertulis yang tidak perlu dijelaskan di depan publik. Meskipun sering di antara masyarakat ada orang-orang yang dianugerahi mata batin yang sangat baik dan mampu meneropong esensi persoalan-persoalan secara waskita -jelas dan terang benderang.

Ada orang mengatakan: “Setinggi pohon, sebesar itu angin yang menerpanya. Semakin tinggi pohon, semakin kuat terpaannya”. Saya -mungkin juga anda -terkadang tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisis berbagai persoalan yang menimpa. Seolah-olah semua persoalan sama. Semua terlihat besar. Sehingga hidup terlihat sibuk sekali mengomentari semua persoalan tersebut. Lucunya lagi, kadang tidak ada satupun yang selesai. Hanya komentar-komentar melulu. Semakin banyak komentar, semakin menumpuk persoalan. Hidup hanya berisi masalah. Kebahagiaan terasa benar-benar hilang.

Masalah sebenarnya seperti pohon. Ada akar, pohon, cabang, ranting dan daun. Ada masalah jenis akar, ada jenis pohon dan jenis daun. Tidak mungkin cara menyelesaikan sama. Pasti berbeda-beda. Kita harus mampu membuat daftar masalah yang masuk pada kategori-ketegori tersebut. mana yang harus didahulukan untuk diselesaikan, mana yang daftar selanjutnya. Begitu seterusnya.

Orang tua kita, para petani dan para tukang-tukang kayu yang di kampung-kampung secara tidak sadar telah mengajarkan bagaimana cara menyelesaikan masalah.

Ketika akan menebang pohon yang besar, sang pemuda kampung memanjat pohon, Lalu memotong ranting, cabang dari kecil hingga yang cukup besar. Setelah selesai semua dipotong, Ia turun dari pohon. Lalu ia memotong batang pohon tersebut.

Kita bisa membayangkan hasilnya. Tumbuh-tumbuhan di sekitarnya atau kabel-kabel bahkan rumah-rumah di sekitarnya aman. Tidak ada yang terkena sabetan cabang dan ranting yang menjulang kemana-kemana. Sebab semua terlebih dahulu telah dipotong. Saat pohon jatuh, maka tumbangnya  tidak merusak tanaman, rumah atau bangunan di sekitarnya.

Anda dan saya sama-sama punya masalah. Pekerjaan belum membuahkan hasil padahal membutuhkan duit banyak,belum mendapatkan jodoh, kuliah belum selesai, persoalan konflik dengan keluarga, mertua, keluarga sakit dan tidak harmonis di tempat kerja. Semakin hari seolah-olah semakin menggungung masalah kita.

Para pendahulu kita dari orang-orang yang arif dan bijaksana mengajarkan untuk tetap “NANG”, yaitu teNANG. Ketenangan mampu menjaga stabilitas pikiran dan hati kita untuk bisa berjalan secara normal. Jika sudah normal maka lakukan Langkah selanjutnya yaitu “NING”-mengheNINGkan cipta, artinya berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab melalui pertolongannya, jalan-jalan yang tidak mungkin akan terlihat mudah dan bisa diselesaikan dengan baik. Setelah proses mengheningkan cipta berjalan dengan baik, maka Langkah selanjutnya yaitu melakukan lelakon “NENG” yaitu meNENG atau berdiam diri dengan terus mempelajari pada proses “angen-angen sa’ma’nane”. Berdiam diri yang produktif, yaitu berdiam dengan mengoptimalkan segala kemampuan baik unsur ruhaniahnya, intelektualnya dan tenaganya.

Ketika proses tersebut dilakukan secara simultan, maka akan melahirkan kekuatan yang sangat besar yang akan mengeluarkan suara “GONG” yang berasal dari kata GUNG yaitu keaGUNGan.

Walhasil, ujian hidup dan penderitaan sebenarnya cara Tuhan untuk menyiapkan saya dan anda untuk menuju pada keaGUNGan dalam hidup ini. Proses untuk mencapai keagungan membutuhkan ketenangan dan kesabaran serta tetap berpegang pada kebaikan dan kebenaran. sebab ada segudang ujian hidup yang harus diselesaikan satu persatu. Ketika kedua proses tersebut ada pada diri anda ketika sedang mendapatkan ujian, maka keagungan sebenarnya sedang menjemput anda sedangkan anda tidak menyadarinya, bahwa anda sudah sampai pada tingkat keagungan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876