Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Terminologi “Kafir” pada Masing-Masing Agama Besar



Minggu , 23 Maret 2025



Telah dibaca :  794

Alhamdulillah dalam segala keterbatas, penulis masih diberi kenikmatan oleh Allah tanpa batas. Salah satu kenikmatan yaitu bisa menuangkan ide-ide tulisan. Harapanku, semoga memberi kemanfaatan bagi setiap orang yang membacanya. Amin.

Pada pertemuan yang lalu, penulis telah membahas watak orang kafir yang suka memusuhi Islam. jika dalam konsep siyasah Islam, mereka sering disebut kafir harb, yaitu kelompok yang selalalu menebarkan kebencian dan permusuhan. Hal ini telah terjadi pada masa permulaan Islam dan masa-masa selanjutnya, Dimana semua agama saat itu selalu menempatkan diri sebagai “dien wa daulah”. Sehingga baik Islam maupun agama selain Islam selalu saja mengaitkan kekuasaan dengan tugas suci dari Tuhan masing-masing.

Kedua, pada pembahasan tulisan ini akan membahas tentang kafir dzimi yaitu orang-orang kafir yang senantiasa hidup damai dan berdampingan dengan umat Islam. Sekali lagi, ini konsep siyasah Islam saat ada istilah negara Islam dan negara Kafir. Sehingga wajar sekali, saat itu antara Islam dan kafir sangat jelas jurang pemisah; baik pada persoalan akidah, ibadah dan muamalah.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 9-10 sebagai berikut:

يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ ۝٩

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ۝١٠

Artinya:

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.

Ayat-ayat tersebut masih membahas tentang orang kafir. Hal ini karena memang orang kafir tidak mempercayai Tuhan, tidak mempercayai hari kehidupan setelah kematian, yaitu di alam barzah dan alam akherat. Mereka mengira kehidupan hanya sebatas di dunia. Itu sebabnya, ketika mereka menolak agama, maka tidak secara terang-terangan menolak. Mereka akan melakukan berbagai trik untuk mengelabui penguasa Islam saat itu agar mereka bisa diterima sebagai bagian dari kekuasaannya dan selalu mendapatkan keuntungan dunia.


Istilah kafir bukan hanya ada pada agama Islam. Istilah ini juga digunakan oleh agama-agama lain untuk mempertegas seseorang atau suatu kaum yang belum masuk dalam agama nya. Kafir artinya belum beriman (unbelivier). Agama Kristen melihat orang yang belum masuk Kristen disebut sebagai “domba yang tersesat”. Orang Yahudi menyebut “qoyim” untuk orang-orang diluar agama Yahudi. Agama Hindu menggunakan istilah “nastika” bagi orang di luar agama Hindu. Agama Budha menggunakan istilah “abrahmacariyasa”untuk orang-orang diluar penganut Budha (Muhammad Hudaya, 2020).

Istilah-istilah tersebut sering digunakan di internal penganut agama masing-masing. Mereka tidak menggunakan istilah tersebut untuk penganut agama lain pada forum-forum sosial yang beragam. Hal ini disebabkan karena persoalan masa lalu yang penggunaan kata kafir sebagai bentuk intoleran dan kekerasan. Ia digunakan untuk menjustifikasi kelompok lain yang tidak sepaham dengan kelompok nya dianggap kafir. Presepsi terminologi kata tersebut telah mengakar hidup dalam hubungan antar penganut agama. Dan setiap agama sangat kesulitan untuk menjelaskan secara rinci. Alam bawah sadar telah menolaknya secara spontanitas.

Ketika sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib tidak sepakat dengan kebijakan nya untuk melakukan “genjatan senjata” dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, mereka keluar dan membentuk barisan sendiri yang disebut dengan kaum Khawarij. Salah satu pandangan tauhid kaum Khawarij yaitu Ali dan pengikutnya telah melakukan dosa besar dan masuk golongan kafir. Hal yang sama juga kelompok kaum syiah, menganggap Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan telah melakukan kesalahan sangat besar karena mengambil jatah khalifah yang seharunya diberikan kepada Ali pasca Nabi meninggal dunia. Beragam faksi di tubuh Khawarij dan Syiah tentang makna kafir sebagai sikap permusuhan dan kebencian kepada kelompok yang tidak sepaham dengan mereka.

Hal yang sama juga terjadi di internal masing-masing agama besar yang ada di bumi ini. Mereka mempunyai faksi dan setiap faksi saling mengkafirkan satu dengan lainnya. seorang teman non-muslim menceritakan pada ku bahwa agama nya juga mengalami persoalan serupa dan bahkan jauh lebih rumit lagi.

Ketika umat beragama berkembang, potensi konlik semakin besar. Konflik Muslim dan Hindu di India, Muslim dan Budha di Thailand dan di negara-negara lain telah menimbulkan korban jiwa sangat besar. Hal ini berangkat dari pemahaman agama yang sangat sempit di antara umat beragama tersebut.

Dalam Islam, ayat yang berjumlah 6666 (ada juga yang mengatakan 6.236 ) ayat membahas beragam solusi hidup seperti pendidikan, ekonomi, kemanusiaan dan lain-lain. Tapi, terkadang dikalahkan oleh satu pembahasan hanya pada term kafir yang justru menimbulkan konflik horizontal terus berlanjut. Jika terus konflik, tentu tidak ada lagi pembangunan dan realisasi ajaran agama sebagai rahmat semesta alam.


Kehidupan masyarakat berkembang dengan sangat dinamis. Berbagai masalah pun semakin besar. Kemiskinan akibat PHK, semakin sempit lapangan pekerjaan, persaingan ekonomi global dan seambrek problematika hidup sangat mempengaruhi psikologi masyarakat dunia saat sekarang ini. Agama harus tampil bersama-sama agar melahirkan konstribusi solutif dalam mengurangi tekanan psikologi tersebut dalam realita kehidupan. Sudah saatnya, konflik agama baik di internal maupun eksternal diganti kerukunan bersama untuk mencapai kebahagian di masing-masing umat beragama.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872