Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tidak ada Peserta didik yang tidak Bisa



Jumat , 24 Februari 2023



Telah dibaca :  318

Sebagai pembuka tulisan ini, saya menyakini, 'Tidak ada peserta didik yang tidak bisa, tidak ada siswa atau mahasiswa yang bodoh, tapi yang ada adalah pendidik atau guru dan dosen yang belum tepat memberikan ilmu dengan strategi yang tepat dan benar.

Memasuki tahun ajaran baru, saya mulai masuk kuliah. Ada beberapa yang sudah aktif masuk, ada yang baru mulai masuk. Seperti biasa, saat pertama masuk, saya bertanya nama dan darimana asalnya. Ini memang aturan administrasi, namun saya ingin lebih jauh mengetahui mereka. Tentang keluarga, pacar, dan kebiasaan sehari-hari termasuk kesukaannya. Mereka rata-rata mengatakan apa adanya. Sehingga saya mengetahui dengan baik sebagian dari mereka tentang riwayat hidup dan kebiasaan sehari-harinya.

“Mas, kamu merokok ya”, Tanya ku kepada salah satu mahasiswa.

“Iya pak’, jawab nya dengan tersenyum.

“Mulai dari pagi sampai jam 11. 00 menjelang siang ini, sudah berapa batang”, Tanya ku

“Empat batang pak”, jawabnya dengan jujur.

Saya tersenyum dan tidak marah. Saya hanya bilang kalau merokok jangan di lokasi kuliah dan mulai dikurangi. Jika hari ini 4 batang, besok hari menjadi 3 batang. Dia menyanggupi. Namun saya belum mengecek lagi, apa sudah mulai mengurangi apa belum. Insya Allah minggu depan akan dicek lagi.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada pada mahasiswa, tetap ada kelebihannya. Paling tidak ada keinginan untuk kuliah. Tuhan telah memberkahi dengan kemampuan dan keahlian. Berkaitan hal tersebut, mereka juga mempunyai keahlian beragam. Ada suara nya yang sangat bagus, punya skill cabang olah raga, dan ada yang mempunyai bakat menulis. Lebih menggembirakan ketika diantara mereka sudah bisa membaca kitab kuning. Walaupun baru tahap cara membaca, belum mengartikan. Ini suatu luarbiasa dengan latarbelakang mereka yang belum pernah mengenal kitab kuning. Apalagi banyak dari latarbelakang mereka yang berasal dari sekolah umum seperti SMA dan SMK. Jika sungguh-sungguh semua punya peluang untuk bisa. Paling tidak mereka sebagai mahasiswa yang berada di naungan pendidikan Islam mengenal suatu literature klasik yang menjadi cahaya peradaban secara kontinu hingga saat ini. Mereka bisa mengerti bahwa apa yang dipelajari adalah milik umat Islam, milik kita dan mereka. Harapan ada rasa bangga atas kehebatan para ulama dulu berkaitan dengan keunggulan dalam khasanah intelektual muslim.

“Saya tidak bisa membaca pak”, keluh salah satu Mahasiswi

“Iya, tak apa-apa, namanya juga belajar”, jawabku tersenyum.

Ada juga seorang mahasiswa yang merasa tidak atau bukan dari latarbelakang santri, tapi dari SMA merasa seperti baru mengenal istilah kitab kuning. Saya pun mengambil al-Qur’an dan suruh membacanya. Dia bisa tapi belum begitu lancar. Saya suruh setiap saat dia datang jika ada kesempatan untuk bisa belajar dengan ku. Catatannya adalah, saat saya tidak lagi ngajar, tidak rapat dan tidak lagi istirahat.

Saya menyakini di antara mereka ada yang menjadi orang hebat di masa mendatang. Ada yang menjadi pejabat, ulama, dosen, guru dan lain-lain. saya hanya sebatas membuka kran-kran cahaya keilmuan. Karena sebatas membuka, biarkan saja mereka meneguk mata air ilmu pengetahuan. Saya hanya sebatas memberi stimulus akan pentingnya menu ilmu pengetahuan untuk kesehatan otak dan ketenangan hati serta nikmatnya dalam bermunajat kepada Allah s.w.t.

Kenapa demikian? Karena mereka mempunyai jalan sendiri untuk menjadi diri sendiri sebagai bekal masa depan. Para pendidik seperti saya memang harus terus-menerus dengan segala kemampuan untuk membentuk makna kesempurnaan mereka di masa mendatang. Laksana seorang dalam perjalanan, mereka membutuhkan bekal yang cukup. Jadi mereka tidak tahu, apa yang memberi manfaat di masa mendatang. Ketika mereka sudah mempunyai bekal, dengan mudah bisa menggunakan dengan baik pada saat waktu dan tempat yang tepat.

Saya menyadari, para mahasiswa pasti tidak bisa belajar langsung bisa membaca kitab kuning hanya dalam kurun waktu satu semester. Ini harus berlanjut. Itu sebabnya, jika bisa bertemu mata kuliah dengan ku di semester selanjutnya, mereka pun belajar lagi. Dua semester sudah bisa membaca dan mengartikan satu kitab kuning tipis. Bagi tahap pemula lumayan bukan?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884