
Sebagai pembuka tulisan ini, saya menyakini, 'Tidak ada peserta didik yang tidak bisa, tidak ada siswa atau mahasiswa yang bodoh, tapi yang ada adalah pendidik atau guru dan dosen yang belum tepat memberikan ilmu dengan strategi yang tepat dan benar.
Memasuki tahun ajaran baru, saya mulai
masuk kuliah. Ada beberapa yang sudah aktif masuk, ada yang baru mulai masuk.
Seperti biasa, saat pertama masuk, saya bertanya nama dan darimana asalnya. Ini
memang aturan administrasi, namun saya ingin lebih jauh mengetahui mereka.
Tentang keluarga, pacar, dan kebiasaan sehari-hari termasuk kesukaannya. Mereka
rata-rata mengatakan apa adanya. Sehingga saya mengetahui dengan baik sebagian
dari mereka tentang riwayat hidup dan kebiasaan sehari-harinya.
“Mas, kamu merokok ya”, Tanya ku kepada
salah satu mahasiswa.
“Iya pak’, jawab nya dengan tersenyum.
“Mulai dari pagi sampai jam 11. 00
menjelang siang ini, sudah berapa batang”, Tanya ku
“Empat batang pak”, jawabnya dengan jujur.
Saya tersenyum dan tidak marah. Saya hanya
bilang kalau merokok jangan di lokasi kuliah dan mulai dikurangi. Jika hari ini
4 batang, besok hari menjadi 3 batang. Dia menyanggupi. Namun saya belum
mengecek lagi, apa sudah mulai mengurangi apa belum. Insya Allah minggu depan
akan dicek lagi.
Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada
pada mahasiswa, tetap ada kelebihannya. Paling tidak ada keinginan untuk
kuliah. Tuhan telah memberkahi dengan kemampuan dan keahlian. Berkaitan hal
tersebut, mereka juga mempunyai keahlian beragam. Ada suara nya yang sangat
bagus, punya skill cabang olah raga, dan ada yang mempunyai bakat menulis.
Lebih menggembirakan ketika diantara mereka sudah bisa membaca kitab kuning.
Walaupun baru tahap cara membaca, belum mengartikan. Ini suatu luarbiasa dengan
latarbelakang mereka yang belum pernah mengenal kitab kuning. Apalagi banyak
dari latarbelakang mereka yang berasal dari sekolah umum seperti SMA dan SMK.
Jika sungguh-sungguh semua punya peluang untuk bisa. Paling tidak mereka sebagai
mahasiswa yang berada di naungan pendidikan Islam mengenal suatu literature
klasik yang menjadi cahaya peradaban secara kontinu hingga saat ini. Mereka
bisa mengerti bahwa apa yang dipelajari adalah milik umat Islam, milik kita dan
mereka. Harapan ada rasa bangga atas kehebatan para ulama dulu berkaitan dengan
keunggulan dalam khasanah intelektual muslim.
“Saya tidak bisa membaca pak”, keluh salah
satu Mahasiswi
“Iya, tak apa-apa, namanya juga belajar”,
jawabku tersenyum.
Ada juga seorang mahasiswa yang merasa
tidak atau bukan dari latarbelakang santri, tapi dari SMA merasa seperti baru
mengenal istilah kitab kuning. Saya pun mengambil al-Qur’an dan suruh
membacanya. Dia bisa tapi belum begitu lancar. Saya suruh setiap saat dia
datang jika ada kesempatan untuk bisa belajar dengan ku. Catatannya adalah,
saat saya tidak lagi ngajar, tidak rapat dan tidak lagi istirahat.
Saya menyakini di antara mereka ada yang
menjadi orang hebat di masa mendatang. Ada yang menjadi pejabat, ulama, dosen,
guru dan lain-lain. saya hanya sebatas membuka kran-kran cahaya keilmuan.
Karena sebatas membuka, biarkan saja mereka meneguk mata air ilmu pengetahuan.
Saya hanya sebatas memberi stimulus akan pentingnya menu ilmu pengetahuan untuk
kesehatan otak dan ketenangan hati serta nikmatnya dalam bermunajat kepada Allah
s.w.t.
Kenapa demikian? Karena mereka mempunyai
jalan sendiri untuk menjadi diri sendiri sebagai bekal masa depan. Para
pendidik seperti saya memang harus terus-menerus dengan segala kemampuan untuk
membentuk makna kesempurnaan mereka di masa mendatang. Laksana seorang dalam
perjalanan, mereka membutuhkan bekal yang cukup. Jadi mereka tidak tahu, apa
yang memberi manfaat di masa mendatang. Ketika mereka sudah mempunyai bekal,
dengan mudah bisa menggunakan dengan baik pada saat waktu dan tempat yang
tepat.
Saya menyadari, para mahasiswa pasti tidak
bisa belajar langsung bisa membaca kitab kuning hanya dalam kurun waktu satu
semester. Ini harus berlanjut. Itu sebabnya, jika bisa bertemu mata kuliah dengan
ku di semester selanjutnya, mereka pun belajar lagi. Dua semester sudah bisa
membaca dan mengartikan satu kitab kuning tipis. Bagi tahap pemula lumayan
bukan?
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2983
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884