Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tiga Kunci Sukses Menurut Dosen Misterius



Jumat , 25 Oktober 2024



Telah dibaca :  509

Saya lupa namanya. Tapi saya masih ingat ibu dosen tersebut berasal dari UIN Malang. Suaranya halus, jelas, runtut, sistematis dan isinya daging semuanya. Tapi saya hanya mengambil sedikit saja. Takut kolestrol ku naik. Menurut dokter posisi kolestrol ku dalam kondisi aman. Jadi menjaga stabilitas kolesterol lebih baik daripada mengobati. Anda bisa membayangkan jika koletrol anda tiba-tiba “inflasi”, susah untuk diajak turun. Ia terlalu manja, lebih manja dari kekasih anda.

Ibu dosen tadi memang membawa berkah. Sejak tadi saya tidak konsentrasi mendengar penjelasan para narasumber sebelumnya. Saat ia berbicara yang statusnya sebagai peserta, tapi sangat terasa ia seperti narasumber. Ia benar-benar menginspirasi. Saya sendiri lupa orangnya. Ma’lum, saat ia berbicara posisi berada di belakang ku. lebih lucu lagi, saya lupa menengoknya. Saya sibuk mencatat untaian kalimat yang sangat menginspirasi bagiku. Saat membuka pembicaraan saja, ia sudah menyuguhkan kalimat  sangat provokati “tiga kunci sukses”. Tiga kunci pengembangan mutu perguruan tinggi (dalam tulisan ini saya perluas untuk siapa saja).  Isinya yaitu: pertama, senantiasa berdoa atau mendekatkan diri kepada Allah, kedua senantiasa bekerja (juga termasuk bekerja sama); ketiga senantiasa menolong orang lain atau berbuat baik kepada orang lain.

Pertama syarat sukses senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Ini merupakan prinsip dasar. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius. Tidak ada alasan atas nama "kemanusiaan" apapun bahwa masyarakat Indonesia diperbolehkan tidak mempercayai Tuhan. Percaya kepada Tuhan merupakan naluri beragama (gharizah tadayyun) yang sudah ada sejak lahir. Orang Ateis sekalipus pada saat tertentu ia akan mencari sandaran-sandaran hidup yang diyakini sebagai jalan penyelesai masalah. Saat ia mengalami  kegelisahan, kebingungan atau menginginkan kebahagiaan atau mendapatkannya dalam wujud apapun merupakan naluri beragama dalam kontek yang lebih luas.  Wujud-wujudnya bisa dalam bentuk: penyakit, penderitaan, kekayaan, mobil, perusahaan, saham, sepasang kekasih terartikuliskan menjadi berhala. berhala (bisa dalam wujud material dan immaterial) adalah sandaran hidup totalitas. Itu sebab nya Al-Qur’an sering mengistilahkan semua itu dengan sebutan  "hawa nafsu" yang berubah  menjadi Tuhan pada diri manusia. Ia bersandar dengan segala asesoris dunia mampu membeli kebahagiaan kekal. Itulah berhala yang menjadi Tuhan.

Dari paparan tersebut penulis bisa mengambil pelajaran bahwa kesuksesan sejati tumbuh dari hati nurani yang telah terkoneksi dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Konektifitas sebenarnya merupakan wujud kesukesan yang mengantarkan kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan fatamorgana yang sering menimbulkan was-was saat ia mendapatkannya.

Kedua, syarat sukses dalam wujud bekerja yang hakikatnya bekerja sama atau bekerja dalam tim atau team work. Ia seperti siklus kehidupan. Suksesku, suksesmu dan sukses kita, adalah perpaduan harmonisasi antara kami dan kita. Presiden Perusahaan sehebat apapun, ia laksana pemimpin orkestra. Ia dirigen. Bagus tidaknya paduan suara, sebenarnya wujud dari kehebatannya. Saat  ia tidak benar mengatur- malah peserta paduan suara tidak mau kerjasama, maka pertunjukan nya akan gagal total. Namun saat solid dan saling memahami posisinya, maka pertunjukan sukses dan mendapatkan penghargaan. Disini tidak ada individualisme. Yang ada sosialisme (lalu ada embel-embel “sosialisme religious”). Bukan individualitas, tapi kolektivitas. Konsep “keakuan”, benar-benar melemahkan “ke-kita-an”, dan berujung sama-sama sistem menjadi lemah, loyo dan berdampak pada pola kerja berjalan sendiri-sendiri.

Jelas pola “keakuan” tidak sesuai dengan kodrat manusia yang “zoon politicon” atau “alinsan madaniyatu bitab’i”, manusia secara naluri hidup bersama dan darinya lahir “almadaniyun” atau “tamadun” atau peradaban.

Ketiga kunci kesukesan selalu membantu orang lain. Konsep “ta’awun” adalah konsep dasar manusia dan seluruh alam semesta. Tuhan menciptakan konsep ta’awun dari setiap sisi jagat raya. Tumbuh-tumbuhan membutuhkan matahari untuk fotosintesis. Proses tersebut melahirkan oksigen. Agar tidak terjadi pembekakan oksigen maka diciptakan manusia, hewan dan sejenisnya. Hasil hirupan oksigen berubah menjadi karbondioksida yang bermanfaat bagi tumbuh-tumbuhan untuk proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman, cepat besar dan menghasilkan buah-buahan dan lain-lain. Jadi sebenarnya konsep membantu orang lain sebenarnya hubungan yang saling menguntungkan (symbiosis mutualisme).

Saat kita bekerja, lalu sebagian rezeki nya diberikan kepada istri dan anak-anak nya, maka rezeki itu mengalir seperti sungai di pinggir pegunungan. Tidak ada penyumbatan, air jernih, bersih mengalir lancar dan menyehatkan sekitarnya. Saat anda makan di rumah makan, maka ada proses membahagiakan orang banyak, pemilik rumah makan, petani, tukang parkir, dan pengamen. Proses perjalanan kehidupan yang terus mengalir adalah dasar kehidupan yang didesain oleh Allah agar kita mendapatkan dasar-dasar kebahagiaan menurut aturan-aturan Tuhan. Bahkan seandainya tidak bertuhan pun, dan anda melakukan pola kehidupan saling menolong kepada sesama, anda akan tetap mendapatkan efek positif dari berbuat baik kepada sesama manusia.

Dari sini penulis bisa mengambil pelajaran bahwa kebahagiaan sejati bukan sebatas saat kita membuat rumah dan mobil mewah. Kebahagiaan sejati saat orang-orang disekitar kita telah mendapat “rembesan” kebaikan kita yang telah disalurkan kepada orang lain. Saat anda melakukan demikian, saat itu pintu-pintu doa dan pintu-pintu rahmat menghampiri anda dan menganugerahkan kepada anda berupa rezeki yang tidak disangka-sangka dalam pengertian yang lebih luas.

Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada dosen misterius. Semoga ilmunya menjadi bagian dari pembuka pintu-pintu rahmat dari allah kepada kita semua, amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875