
Saya lupa namanya. Tapi saya masih ingat
ibu dosen tersebut berasal dari UIN Malang. Suaranya halus, jelas, runtut,
sistematis dan isinya daging semuanya. Tapi saya hanya mengambil sedikit saja.
Takut kolestrol ku naik. Menurut dokter posisi kolestrol ku dalam kondisi aman.
Jadi menjaga stabilitas kolesterol lebih baik daripada mengobati. Anda bisa
membayangkan jika koletrol anda tiba-tiba “inflasi”, susah untuk diajak
turun. Ia terlalu manja, lebih manja dari kekasih anda.
Ibu dosen tadi memang membawa berkah. Sejak
tadi saya tidak konsentrasi mendengar penjelasan para narasumber sebelumnya. Saat
ia berbicara yang statusnya sebagai peserta, tapi sangat terasa ia seperti
narasumber. Ia benar-benar menginspirasi. Saya sendiri lupa orangnya. Ma’lum,
saat ia berbicara posisi berada di belakang ku. lebih lucu lagi, saya lupa menengoknya. Saya sibuk mencatat untaian kalimat yang sangat menginspirasi
bagiku. Saat membuka pembicaraan saja, ia sudah menyuguhkan kalimat sangat provokati “tiga kunci sukses”. Tiga kunci pengembangan mutu perguruan
tinggi (dalam tulisan ini saya perluas untuk siapa saja). Isinya yaitu: pertama, senantiasa
berdoa atau mendekatkan diri kepada Allah, kedua senantiasa bekerja (juga termasuk
bekerja sama); ketiga senantiasa menolong orang lain atau berbuat baik kepada
orang lain.
Pertama syarat sukses senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Ini merupakan prinsip dasar. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius. Tidak ada alasan atas nama "kemanusiaan" apapun bahwa masyarakat Indonesia diperbolehkan tidak mempercayai Tuhan. Percaya kepada Tuhan merupakan naluri beragama (gharizah tadayyun) yang sudah ada sejak lahir. Orang Ateis sekalipus pada saat tertentu ia akan mencari sandaran-sandaran hidup yang diyakini sebagai jalan penyelesai masalah. Saat ia mengalami kegelisahan, kebingungan atau menginginkan kebahagiaan atau mendapatkannya dalam wujud apapun merupakan naluri beragama dalam kontek yang lebih luas. Wujud-wujudnya bisa dalam bentuk: penyakit, penderitaan, kekayaan, mobil, perusahaan, saham, sepasang kekasih terartikuliskan menjadi berhala. berhala (bisa dalam wujud material dan immaterial) adalah sandaran hidup totalitas. Itu sebab nya Al-Qur’an sering mengistilahkan semua itu dengan sebutan "hawa nafsu" yang berubah menjadi Tuhan pada diri manusia. Ia bersandar dengan segala asesoris dunia mampu membeli kebahagiaan kekal. Itulah berhala yang menjadi Tuhan.
Dari paparan tersebut penulis bisa
mengambil pelajaran bahwa kesuksesan sejati tumbuh dari hati nurani yang telah
terkoneksi dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Konektifitas sebenarnya
merupakan wujud kesukesan yang mengantarkan kebahagiaan hakiki, bukan
kebahagiaan fatamorgana yang sering menimbulkan was-was saat ia mendapatkannya.
Kedua, syarat sukses dalam wujud bekerja
yang hakikatnya bekerja sama atau bekerja dalam tim atau team work. Ia seperti
siklus kehidupan. Suksesku, suksesmu dan sukses kita, adalah perpaduan
harmonisasi antara kami dan kita. Presiden Perusahaan sehebat apapun, ia laksana
pemimpin orkestra. Ia dirigen. Bagus tidaknya paduan suara, sebenarnya wujud
dari kehebatannya. Saat ia tidak benar mengatur- malah peserta paduan suara tidak mau
kerjasama, maka pertunjukan nya akan gagal total. Namun saat solid dan saling
memahami posisinya, maka pertunjukan sukses dan mendapatkan penghargaan. Disini
tidak ada individualisme. Yang ada sosialisme (lalu ada embel-embel “sosialisme
religious”). Bukan individualitas, tapi kolektivitas. Konsep “keakuan”, benar-benar
melemahkan “ke-kita-an”, dan berujung sama-sama sistem menjadi lemah, loyo dan berdampak pada pola kerja berjalan sendiri-sendiri.
Jelas pola “keakuan” tidak sesuai dengan kodrat
manusia yang “zoon politicon” atau “alinsan madaniyatu bitab’i”, manusia
secara naluri hidup bersama dan darinya lahir “almadaniyun” atau “tamadun” atau
peradaban.
Ketiga kunci kesukesan selalu membantu
orang lain. Konsep “ta’awun” adalah konsep dasar manusia dan seluruh alam
semesta. Tuhan menciptakan konsep ta’awun dari setiap sisi jagat raya. Tumbuh-tumbuhan
membutuhkan matahari untuk fotosintesis. Proses tersebut melahirkan oksigen. Agar
tidak terjadi pembekakan oksigen maka diciptakan manusia, hewan dan sejenisnya.
Hasil hirupan oksigen berubah menjadi karbondioksida yang bermanfaat bagi
tumbuh-tumbuhan untuk proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman, cepat besar
dan menghasilkan buah-buahan dan lain-lain. Jadi sebenarnya konsep membantu
orang lain sebenarnya hubungan yang saling menguntungkan (symbiosis mutualisme).
Saat kita bekerja, lalu sebagian rezeki nya
diberikan kepada istri dan anak-anak nya, maka rezeki itu mengalir seperti sungai
di pinggir pegunungan. Tidak ada penyumbatan, air jernih, bersih mengalir lancar dan menyehatkan sekitarnya. Saat
anda makan di rumah makan, maka ada proses membahagiakan orang banyak, pemilik
rumah makan, petani, tukang parkir, dan pengamen. Proses perjalanan kehidupan
yang terus mengalir adalah dasar kehidupan yang didesain oleh Allah agar kita
mendapatkan dasar-dasar kebahagiaan menurut aturan-aturan Tuhan. Bahkan seandainya
tidak bertuhan pun, dan anda melakukan pola kehidupan saling menolong kepada sesama,
anda akan tetap mendapatkan efek positif dari berbuat baik kepada sesama manusia.
Dari sini penulis bisa mengambil pelajaran bahwa kebahagiaan sejati bukan sebatas saat kita membuat rumah dan mobil mewah. Kebahagiaan sejati saat orang-orang disekitar kita telah mendapat “rembesan” kebaikan kita yang telah disalurkan kepada orang lain. Saat anda melakukan demikian, saat itu pintu-pintu doa dan pintu-pintu rahmat menghampiri anda dan menganugerahkan kepada anda berupa rezeki yang tidak disangka-sangka dalam pengertian yang lebih luas.
Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada dosen misterius. Semoga ilmunya menjadi bagian dari pembuka pintu-pintu rahmat dari allah kepada kita semua, amin.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875