
Jam 10.20 (Rabu,15 Mei 2024) saya tiba di
bandara Soekarno-Hatta. Sambil membawa tas, saya berjalan menuju pintu keluar
bandara. Seorang gadis cantik dengan ramah menawarkan paket harga taksi. Harganya
bervariasi; mahal, sedang dan seikit murah. Berbeda harga karena berbeda jenis
mobilnya. Harta standar mobil Avanza, lebih mahal mobil Inova dan lebih mahal
lagi mobil Alphard.
Saya jadi teringat saat acara MTQ Tingkat Provinsi
Riau di Dumai, ada pegawai Pemda yang selalu antar jemputku dari tempat acara
MTQ ke Hotel.
“Ini mobil merk apa mas?” tanyaku
kepadanya.
“Inova Zenix” jawabnya.
“Berapa harganya mas?” tanyaku lagi
“ 450 juta lebih pak” katanya
Saya tersenyum mendengar harganya. Teman disampingku
sepertinya kaget mendengarnya, kepalanya geleng-geleng sambil berkata,” Daripada
beli kendaraan, mendingan beli rumah dan “turahannya”
untuk beli beras”.
Saya mendengar kata “beras” dari komentarnya
ingin tertawa, terlihat lucu. Tapi itu realita kehidupan. Saudara-saudara kita
masih ada yang kesulitan membeli beras. Lebih jauh lagi masih banyak orang yang
sudah berumah tangga belum mempunyai rumah sendiri. Bukan hanya negara
berkembang menuju maju seperti Indonesia, tapi juga negara-negara yang sudah
mengklaim sebagai negara maju seperti Cina dan Korea. Saya melihat
negara-negara maju tersebut membuat semacam Rusunawa untuk menampung
keluarga yang belum mampu membeli rumah. Film-film seperti “big brother”,
“shaolin soccer”, dan “the finale” sedikit menampilkan gambaran Rusunawa di negara Tirai Bambu.
Ternyata negara maju tidak sama dengan apa kita
duga selama ini yang dianggap sebagai negara yang mampu memberantas
kemiskinan. Di negara-negara tersebut warga negaranya masih banyak yang belum punya rumah dan pekerjaan. Negara maju masih juga seperti itu, apalagi negara
yang statusnya di bawahnya.
Kehidupan budaya orang timur seperti Indonesia mempunyai tradisi "pisah rumah" ketika sudah berumah tangga. Pertama, terkadang mertua nya mempunyai anak cukup banyak, jadi terasa tidak enak ketika sudah menikah tetap tinggal bersama mertua. Sebab logika sederhana, jika sudah menikah berarti sudah mandiri. Kedua, mengurangi beragam konflik. Berbeda jika sudah mempunyai rumah sendiri atau ngontrak rumah, potensi konflik hanya dengan pasangannya. Ketiga ingin membangun kemandirian sebagai keluarga baru dan ada kebebasan untuk mengatur rumah tangganya sesuai dengan seleranya, bukan selera mertua atau orang tuanya.
Alasan tersebut tidak berlaku bagi pasangan pengantin baru yang diminta oleh mertua atau orang tuanya untuk tetap tinggal bersama mereka. Ada alasan dari orang tuanya antara lain; ada kedekatan hubungan emosional antara orang tua dengan anaknya. ada juga ingin mendapat perawatan di masa tuanya. kedua karena ia mendapat warisan atau bagian warisan kelak ketika orang tua nya meninggalkan dunia.
Realitanya, tidak semua pasangan rumah
tangga mampu membeli rumah. Ada berbagai persoalan yang menyebabkan mereka
tidak bisa membeli atau membuat rumah antara lain; ia lahir dari keluarga yang
secara ekonomi belum mapan dan belum punya pekerjaan yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan dasar; sandang, pangan dan papan. Salah satu bisa dilakukan yaitu
ngonrak rumah atau paling terpaksa atau pahitnya tinggal bersama orang tua atau
mertua.
Kembali penulis membahas supir taksi yang
di bandara Soekarno-hatta.
Ketika sudah sesuai harga, saya menuju
mobil Avanza warna hitam. Supirnya pun memakai baju dan celana serba hitam,
rambut nya pendek, kulit sawo matang. Jika ia berjalan di kampung ku, mungkin
dianggap kerja di Perusahaan atau Perkantoran dengan biaya yang menggiurkan.
Namun benarkah demikian? Penulis pun ngobrol dengannya sebagai jalan untuk
“ngaji kehidupan”, bahwa semua yang nampak di mata tidak selalu sesuai dengan
pikiran. Dunia sekarang memang penuh dengan keunikan, dan kelucuan yang
terkadang tidak membutuhkan senyuman atau gelak tawa.
“Siapa namanya mas?” tanyaku
“Hendar pak” jawabnya
“Sudah lama menjadi supir taksi bandara?”
tanyaku
“Sekitar 3 tahun pak” jawabnya
“Enak jadi supir taksi?” tanyaku
“Ya beginilah pak, kadang enak kadang juga
susah” jawabnya
“Kok bisa?” tanyaku
“Ya begitulah..namanya juga kerja pak”
jawabnya.
Benar juga jawaban pak supir. Pekerjaan
memang tidak selalu nikmat. Kadang ada kebosanan. Kedua rasa silih berganti.
Kadang ingin mencoba merasakan pekerjaan yang lebih nikmat dan menyenangkan,
tapi ketika bertemu dengan orang yang bekerja di tempat yang kita bayangkan
mempunyai rasa yang sama; ada saat semangat kerja ada waktu jenuh dan ingin
berhenti.
“Setiap membawa penumpang mendapatkan
komisi berapa mas?” tanyaku
“Sekali jalan saya mendapat komisi Rp.35.000
pak” jawabnya
“Satu hari biasanya berapa banyak
penumpang?” tanyaku
“Paling banter 5 pak” jawabnya
“Dibuat rata-rata satu hari?” tanyaku
“3-4 penumpang” jawabnya.
“Berarti rata-rata mendapatkan penghasilan
satu hari Rp. 140.000” tanyaku.
Ia mengangguk dan menjelaskan bahwa
penghasilan sebesar itu masih penghasilan kotor. Belum dipotong untuk
makan-minum sebanyak Rp.60.000. Jadi setiap hari Mas Hendra menyisihkan uang
sebanyak Rp.80.000. Ia juga mengatakan bahwa kadang satu hari hanya mendapat 2
penumpang. Berarti satu hari hanya menyimpan Rp.10.000/harinya.
“Rumah mana mas?” tanyaku
“Bogor, tapi masih ngontrak, satu bulan
Rp.800.000 plus Listrik ” jawabnya
“Saya juga ngontrak mas”, bahkan presiden
pun ngontrak” kataku pada
sambil tersenyum.
“Maksudnya?” tanya dia masih
bingung.
“Kamu, saya dan presiden serta seluruh
masyarakat Indonesia itu ngontrak sama Allah, sebab semua ini milik Allah” jawab ku. Ia pun tertawa mendengar
penjelasanku.
Ia pun semakin membuka diri dan
menceritakan tentang kehidupan di Jakarta. Susahnya mencari pekerjaan dan
keahliannya hanya sebagai supir dimanfaatkan sebaiknya untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangganya.
“Berapa bulan sekali ke Jakarta?” tanyaku.
“Setiap minggu pulang, dan balik lagi ke
Jakarta. Kadang saya pulang ke rumah hanya membawa Rp. 150.000/minggu” katanya menjelaskan.
“Berapa anaknya mas Hendra” tanya ku
“ 8 anak pak” jawabnya.
Saya seperti tidak percaya. Dari face
dan tubuhnya terlihat masih muda. Rambutnya pun belum memutih, masih hitam.
Tubuhnya kurus dan tingginya sekitar 155 cm. Jika berat badan ku sekitar 55 kg,
mungkin beratnya sekitar 50 kg. Mas Hendra luarbiasa, badannya kurus tapi
hebat.
Saya belum mengetahui apakah ada hubungan
antara badan kurus dengan jumlah keturunan. Sebab beberapa kali saya menemukan,
orang-orang yang kurus mempunyai keturunan cukup banyak. Sedangkan suaminya
berbadan besar biasanya sedikit anaknya. Apakah ada hubungan dengan berat
badan? Wallahu a’lam.
“Usia berapa mas?” tanyaku
“48 pak” jawabnya.
Umur memang sudah tidak bisa dibilang muda
lagi. Yang membuat saya kagum darinya adalah keyakinan bahwa rezeki sudah
diatur oleh Allah. Keyakinan ini nampak dari setiap ucapan yang menunjukan akan
kesadaran hidup sudah diatur oleh Allah swt, termasuk rezeki untuk istri dan
anak-anaknya.
Kelihatannya keyakinan bahwa “Allah
sudah mengatur rezeki” tidak sesederhana dalam wujud ucapan. Dari sisi
keyakinan, ia telah berhasil memberi pemahaman kepada istrinya tentang rahasia
rezeki. Meskipun anak nya lumayan banyak, istrinya tetap tenang menjadi ibu
rumah tangga dan merawat anak-anaknya.
Tapi memang mengikuti pola hidup seperti
keluarga Hendar sangat berat dan tidak mudah menyakinkan pasangan kita. Jika tidak
percaya, silahkan anda bilang sama istri anda untuk menambah anak lagi, minimal jumlahnya sama, delapan anak. Jika pasangan hidup anda tersenyum dan tersipu
malu-malu, lanjutkan saja. Tapi jika pasangan anda matanya melotot,
membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam, sebaiknya anda cepat-cepat mengambil
sajadah dan sholat taubat. Semoga saja, marahnya sedikit bisa reda.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2953
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876