Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tirakat Supir Taksi Bandara



Jumat , 17 Mei 2024



Telah dibaca :  643

Jam 10.20 (Rabu,15 Mei 2024) saya tiba di bandara Soekarno-Hatta. Sambil membawa tas, saya berjalan menuju pintu keluar bandara. Seorang gadis cantik dengan ramah menawarkan paket harga taksi. Harganya bervariasi; mahal, sedang dan seikit murah. Berbeda harga karena berbeda jenis mobilnya. Harta standar mobil Avanza, lebih mahal mobil Inova dan lebih mahal lagi mobil Alphard.

Saya jadi teringat saat acara MTQ Tingkat Provinsi Riau di Dumai, ada pegawai Pemda yang selalu antar jemputku dari tempat acara MTQ ke Hotel.

“Ini mobil merk apa mas?” tanyaku kepadanya.

“Inova Zenix” jawabnya.

“Berapa harganya mas?” tanyaku lagi

“ 450 juta lebih pak” katanya

Saya tersenyum mendengar harganya. Teman disampingku sepertinya kaget mendengarnya, kepalanya geleng-geleng sambil berkata,” Daripada beli kendaraan, mendingan beli rumah danturahannya” untuk beli beras”.

Saya mendengar kata “beras” dari komentarnya ingin tertawa, terlihat lucu. Tapi itu realita kehidupan. Saudara-saudara kita masih ada yang kesulitan membeli beras. Lebih jauh lagi masih banyak orang yang sudah berumah tangga belum mempunyai rumah sendiri. Bukan hanya negara berkembang menuju maju seperti Indonesia, tapi juga negara-negara yang sudah mengklaim sebagai negara maju seperti Cina dan Korea. Saya melihat negara-negara maju tersebut membuat semacam Rusunawa untuk menampung keluarga yang belum mampu membeli rumah. Film-film seperti “big brother”, “shaolin soccer”, dan “the finale” sedikit menampilkan gambaran Rusunawa di negara Tirai Bambu.

Ternyata negara maju tidak sama dengan apa kita duga selama ini yang dianggap sebagai negara yang mampu memberantas kemiskinan. Di negara-negara tersebut warga negaranya masih banyak yang belum punya rumah dan pekerjaan. Negara maju masih juga seperti itu, apalagi negara yang statusnya di bawahnya.

Kehidupan budaya orang timur seperti Indonesia mempunyai tradisi "pisah rumah" ketika sudah berumah tangga. Pertama, terkadang mertua nya mempunyai anak cukup banyak, jadi terasa tidak enak ketika sudah menikah tetap tinggal bersama mertua. Sebab logika sederhana, jika sudah menikah berarti sudah mandiri. Kedua, mengurangi beragam konflik. Berbeda jika sudah mempunyai rumah sendiri atau ngontrak rumah, potensi konflik hanya dengan pasangannya. Ketiga ingin membangun kemandirian sebagai keluarga baru dan ada kebebasan untuk mengatur rumah tangganya sesuai dengan seleranya, bukan selera mertua atau orang tuanya.

Alasan tersebut tidak berlaku bagi pasangan pengantin baru yang diminta oleh mertua atau orang tuanya untuk tetap tinggal bersama mereka. Ada alasan dari orang tuanya antara lain; ada kedekatan hubungan emosional antara orang tua dengan anaknya. ada juga ingin mendapat perawatan di masa tuanya. kedua karena ia mendapat warisan atau bagian warisan kelak ketika orang tua nya meninggalkan dunia.

Realitanya, tidak semua pasangan rumah tangga mampu membeli rumah. Ada berbagai persoalan yang menyebabkan mereka tidak bisa membeli atau membuat rumah antara lain; ia lahir dari keluarga yang secara ekonomi belum mapan dan belum punya pekerjaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar; sandang, pangan dan papan. Salah satu bisa dilakukan yaitu ngonrak rumah atau paling terpaksa atau pahitnya tinggal bersama orang tua atau mertua.

Kembali penulis membahas supir taksi yang di bandara Soekarno-hatta.

Ketika sudah sesuai harga, saya menuju mobil Avanza warna hitam. Supirnya pun memakai baju dan celana serba hitam, rambut nya pendek, kulit sawo matang. Jika ia berjalan di kampung ku, mungkin dianggap kerja di Perusahaan atau Perkantoran dengan biaya yang menggiurkan. Namun benarkah demikian? Penulis pun ngobrol dengannya sebagai jalan untuk “ngaji kehidupan”, bahwa semua yang nampak di mata tidak selalu sesuai dengan pikiran. Dunia sekarang memang penuh dengan keunikan, dan kelucuan yang terkadang tidak membutuhkan senyuman atau gelak tawa.

“Siapa namanya mas?” tanyaku

“Hendar pak” jawabnya

“Sudah lama menjadi supir taksi bandara?” tanyaku

“Sekitar 3 tahun pak” jawabnya

“Enak jadi supir taksi?” tanyaku

“Ya beginilah pak, kadang enak kadang juga susah” jawabnya

“Kok bisa?” tanyaku

“Ya begitulah..namanya juga kerja pak” jawabnya.

Benar juga jawaban pak supir. Pekerjaan memang tidak selalu nikmat. Kadang ada kebosanan. Kedua rasa silih berganti. Kadang ingin mencoba merasakan pekerjaan yang lebih nikmat dan menyenangkan, tapi ketika bertemu dengan orang yang bekerja di tempat yang kita bayangkan mempunyai rasa yang sama; ada saat semangat kerja ada waktu jenuh dan ingin berhenti.

“Setiap membawa penumpang mendapatkan komisi berapa mas?” tanyaku

“Sekali jalan saya mendapat komisi Rp.35.000 pak” jawabnya

“Satu hari biasanya berapa banyak penumpang?” tanyaku

“Paling banter 5 pak” jawabnya

“Dibuat rata-rata satu hari?” tanyaku

“3-4 penumpang” jawabnya.

“Berarti rata-rata mendapatkan penghasilan satu hari Rp. 140.000” tanyaku.

Ia mengangguk dan menjelaskan bahwa penghasilan sebesar itu masih penghasilan kotor. Belum dipotong untuk makan-minum sebanyak Rp.60.000. Jadi setiap hari Mas Hendra menyisihkan uang sebanyak Rp.80.000. Ia juga mengatakan bahwa kadang satu hari hanya mendapat 2 penumpang. Berarti satu hari hanya menyimpan Rp.10.000/harinya.

“Rumah mana mas?” tanyaku

“Bogor, tapi masih ngontrak, satu bulan Rp.800.000 plus Listrik ” jawabnya

“Saya juga ngontrak mas”, bahkan presiden pun ngontrak” kataku pada sambil tersenyum.

Maksudnya?” tanya dia masih bingung.

“Kamu, saya dan presiden serta seluruh masyarakat Indonesia itu ngontrak sama Allah, sebab semua ini milik Allah” jawab ku. Ia pun tertawa mendengar penjelasanku.

Ia pun semakin membuka diri dan menceritakan tentang kehidupan di Jakarta. Susahnya mencari pekerjaan dan keahliannya hanya sebagai supir dimanfaatkan sebaiknya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Berapa bulan sekali ke Jakarta?” tanyaku.

“Setiap minggu pulang, dan balik lagi ke Jakarta. Kadang saya pulang ke rumah hanya membawa Rp. 150.000/minggu” katanya menjelaskan.

Berapa anaknya mas Hendra” tanya ku

8 anak pak” jawabnya.

Saya seperti tidak percaya. Dari face dan tubuhnya terlihat masih muda. Rambutnya pun belum memutih, masih hitam. Tubuhnya kurus dan tingginya sekitar 155 cm. Jika berat badan ku sekitar 55 kg, mungkin beratnya sekitar 50 kg. Mas Hendra luarbiasa, badannya kurus tapi hebat.

Saya belum mengetahui apakah ada hubungan antara badan kurus dengan jumlah keturunan. Sebab beberapa kali saya menemukan, orang-orang yang kurus mempunyai keturunan cukup banyak. Sedangkan suaminya berbadan besar biasanya sedikit anaknya. Apakah ada hubungan dengan berat badan? Wallahu a’lam.

Usia berapa mas?” tanyaku

48 pak” jawabnya.

Umur memang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Yang membuat saya kagum darinya adalah keyakinan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Keyakinan ini nampak dari setiap ucapan yang menunjukan akan kesadaran hidup sudah diatur oleh Allah swt, termasuk rezeki untuk istri dan anak-anaknya.

Kelihatannya keyakinan bahwa “Allah sudah mengatur rezeki” tidak sesederhana dalam wujud ucapan. Dari sisi keyakinan, ia telah berhasil memberi pemahaman kepada istrinya tentang rahasia rezeki. Meskipun anak nya lumayan banyak, istrinya tetap tenang menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak-anaknya.

Tapi memang mengikuti pola hidup seperti keluarga Hendar sangat berat dan tidak mudah menyakinkan pasangan kita. Jika tidak percaya, silahkan anda bilang sama istri anda untuk menambah anak lagi, minimal jumlahnya sama, delapan anak. Jika pasangan hidup anda tersenyum dan tersipu malu-malu, lanjutkan saja. Tapi jika pasangan anda matanya melotot, membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam, sebaiknya anda cepat-cepat mengambil sajadah dan sholat taubat. Semoga saja, marahnya sedikit bisa reda.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876