Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Titik Temu Sholat dan Kurban



Kamis , 29 Juni 2023



Telah dibaca :  381

Sholat merupakan ibadah yang sangat istimewa. Proses nya sering disebut dengan “Isra Mi’raj”, adalah  “mission imposible” Tuhan, yang kalau diukur dengan akal manusia, semua kecerdasan ilmu pengetahuan akan mandeg. Wajar jika kaum kafirin mentertawakan Nabi Muhammad dan menganggapnya sebagai orang yang sudah kehilangan akal. Para kaum rasionalis Padang Pasir memanggil teman-temanya dan menyuruh untuk mengelilingi Nabi. Bahkan sahabat-sahabat Nabi yang baru masuk Islam pun diajak untuk ikut seminar akbar atau lebih tepatnya diksusi sebagai bentuk “Pengadilan Massa” atas cerita Nabi. Ketika semua peserta sudah hadir, ahli retorika dan logika kaum kafirin mulai bertanya dengan pertanyaan sederhana dan sangat sistematis. Dia bertanya, anda tadi malam dari mana? Nabi menjawab, saya dari Mekah. Dia pun bertanya lagi, terus kemana? Nabi menjawab, ke Baitul Maqdis. Dia bertanya, terus kemana lagi? Nabi menjawab, ke Sidratul Muntaha. Dia bertanya, naik apa?. Nabi menjawab, Buroq. Lalu ahli retorika Kaum Qurays meminta untuk mengangkat kedua kaki Nabi. Tentu saja permintaan ini ditolak oleh nya dan menjawab, seandainya saya mengangkat kedua kaki ku, tentu jatuh ke tanah.

Ahli retorika tersenyum dan tertawa penuh kemenangan. Lalu dengan penuh menyakinkan dia berkata, wahai peserta rapat. Kalian telah mendengar sendiri dan silahkan berfikir sendiri, apakah kalian percaya Muhammad tadi malam telah melakukan perjalanan dari Mekah sampai Baitul Maqdis dan kembali lagi ke sini dalam waktu satu malam. Padahal perjalanan naik Unta dari Makah ke Baitul Maqdis membutuhkan waktu selama 40 hari. Semua pun terdiam. Orang kafirin semakin tidak percaya kepada Nabi. Para sahabat Nabi pun mulai terjangkit keraguan, bahkan ada yang kembali menjadi kafir. Sungguh suatu pelajaran yang agung, bahwa keimanan belum menancap dalam hati, akal lebih besar memainkan jiwa manusia untuk menuntun kebenaran-kebenaran yang bersifat empiris sebagai puncak kebenaran.

Namun hal ini tidak terjadi pada Abu Bakar. Baginya, apapun yang dikatakan Nabi tidak ada keraguan sama sekali. Keteguhan Abu Bakar kemudian hari menginspirasi sahabat-sahabat lain tentang makna “keimanan” dan “logika” ketuhanan yang pada wilayah-wilayah tertentu “akal” dibatasi oleh kesucian ayat-ayat-nya. Sebab kenyataannya, kebenaran yang selalu dicari oleh manusia adalah kebenaran semu yang semua bisa berargumentasi, berspekulasi dengan data-data yang dianggap benar. Disini, wahyu Tuhan menjebatani kebuntuan dari kebenaran akal melalui wahyu Tuhan, bahwa ada suatu kebenaran di atas kebenar akal manusia yaitu kebenaran karya Tuhan dimana manusia harus tunduk dan mempercayai-Nya sebagai wujud dari sifat pasrah dan tunduk kepada-Nya.

Sifat pasrah dan tunduk kepada Allah dimulai saat seorang muslim mengucapkan takbiratul ihram saat memulai sholat. Anda bisa membayangkan betapa sakralnya takbiratul ihram. Semua pembahasan persoalan dunia berhenti. Dunia benar-benar menjadi sangat rendah dihadapan-Nya. Istilah haram-halal yang sering menjadi diskusi ilmiah para cerdik-pandai benar-benar statusnya sama. Hanya satu yang halal setelah mengucapkan takbir, yaitu menyebut, mengagungkan dan mencintai Allah Yang Maha Indah. Sholat benar-benar forum resmi para Pencinta Tuhan dengan kualitas terbaiknya. Materi nya sudah sangat jelas, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan mati ku hanya untuk Allah Swt.

Ungkapan para muhibin (orang-orang yang hatinya sudah dipenuhi cahaya cinta) tersebut di atas adalah perilaku sangat realistis ketika memahami hakikat dua dimensi yang ada dalam hidup nya yaitu antara kekal dan hancur. Sang Maha Kekal yaitu Allah akan tetap ada saat alam semesta dan para pecinta nya hancur lebur. Semua tidak hancur dan ingin tetap kekal bersama sanga kekasih sejati. Maka, semua yang ada pada diri mereka diserahkan secara “bongkokan”, bukan hanya perhiasan dunia, bahkan hidup dan mati pun rela demi untuk mendapat pengakuan dari-Nya sebagai kekasih-Nya.

Meskipun demikian dialog orang-orang muslim dengan Tuhan mereka saat mengikuti perjalanan spiritual di dalam sholat, tidak serta merta keasikan yang dirasakan bisa membekas saat berakhirnya sholat dengan ditutup ucapan salam. Mereka terjaga kembali melihat dunia dengan segala gemerlapnya. Jiwa-jiwa yang mutmainah pun mulai dikotori oleh nafsu-nafsu amarah atas kecintaan dunia yang kembali mengalahkan kecintaan kepada Pencipta Dunia. Namun demikian, ada sebagian orang-orang muslimin tetap terjaga dan terus meningkat statusnya menjadi mukhsinin.

Allah kemudian mengingatkan sekaligus menguji kepada kita (muslimin) dengan sebuah ujian dunia yaitu mengorbankan sebagian rizkinya berubah binatang kurban. Binatang adalah simbol dunia yang selalu dikejar dan dicari yang terkadang melupakan Tuhan nya. Pisau adalah simbol konsistensi sebagai batas pemisah kecintaan antara dua kutub kekasih di dalam hati; Tuhan dan Dunia. Padahal, hati hanya bisa untuk satu sang kekasih, tidak bisa dua. Ketika anda mencintai Allah otomatis, dunia akan diberikan kepada-Nya. Sebaliknya ketika anda mencintai Dunia, Tuhan akan dijadikan untuk kepentingan dunia. Ketika hati sudah mencintai Allah maka semua berubah menjadi lillah. Hatinya menjadi jembar, pikirannya menjadi terang melihat apa yang dipunyai pada dirinya. Lalu tumbuh keyakinan dalam hati, bahwa semua yang ada pada diri kita sarana-sarana untuk mencinta-Nya secara totalitas. Ketika sudah bisa seperti ini, maka lahir rasa damai pada diri kita yang digambarkan dalam sholat,assalamu’alaikum warahmatullah..inni as aluka fauza bil jannah wa najah min an-nar (salam sejahtera untuk mu dan mendapatkan rahmat dari allah, sesungguhnya saya meminta kepada engkau kemenangan dengan surga dan selamat dari api neraka). Ini adalah keseimbangan cinta yang benar, yaitu kecintaan yang melahirkan kebahagiaan sejati yaitu sebagai ahli surga. Itulah hakikat puncak kedamaian.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879