
Sholat merupakan ibadah yang sangat istimewa. Proses nya sering disebut
dengan “Isra Mi’raj”, adalah “mission
imposible” Tuhan, yang kalau diukur dengan akal manusia, semua kecerdasan ilmu
pengetahuan akan mandeg. Wajar jika kaum kafirin mentertawakan Nabi Muhammad dan
menganggapnya sebagai orang yang sudah kehilangan akal. Para kaum rasionalis Padang
Pasir memanggil teman-temanya dan menyuruh untuk mengelilingi Nabi. Bahkan sahabat-sahabat
Nabi yang baru masuk Islam pun diajak untuk ikut seminar akbar atau
lebih tepatnya diksusi sebagai bentuk “Pengadilan Massa” atas cerita Nabi. Ketika
semua peserta sudah hadir, ahli retorika dan logika kaum kafirin mulai bertanya
dengan pertanyaan sederhana dan sangat sistematis. Dia bertanya, anda tadi
malam dari mana? Nabi menjawab, saya dari Mekah. Dia pun bertanya lagi, terus
kemana? Nabi menjawab, ke Baitul Maqdis. Dia bertanya, terus kemana lagi? Nabi menjawab,
ke Sidratul Muntaha. Dia bertanya, naik apa?. Nabi menjawab, Buroq. Lalu ahli
retorika Kaum Qurays meminta untuk mengangkat kedua kaki Nabi. Tentu saja
permintaan ini ditolak oleh nya dan menjawab, seandainya saya mengangkat kedua
kaki ku, tentu jatuh ke tanah.
Ahli retorika tersenyum dan tertawa penuh
kemenangan. Lalu dengan penuh menyakinkan dia berkata, wahai peserta rapat. Kalian
telah mendengar sendiri dan silahkan berfikir sendiri, apakah kalian percaya Muhammad
tadi malam telah melakukan perjalanan dari Mekah sampai Baitul Maqdis dan
kembali lagi ke sini dalam waktu satu malam. Padahal perjalanan naik Unta dari
Makah ke Baitul Maqdis membutuhkan waktu selama 40 hari. Semua pun terdiam. Orang
kafirin semakin tidak percaya kepada Nabi. Para sahabat Nabi pun mulai
terjangkit keraguan, bahkan ada yang kembali menjadi kafir. Sungguh suatu
pelajaran yang agung, bahwa keimanan belum menancap dalam hati, akal lebih besar
memainkan jiwa manusia untuk menuntun kebenaran-kebenaran yang bersifat empiris
sebagai puncak kebenaran.
Namun hal ini tidak terjadi pada Abu Bakar.
Baginya, apapun yang dikatakan Nabi tidak ada keraguan sama sekali. Keteguhan
Abu Bakar kemudian hari menginspirasi sahabat-sahabat lain tentang makna “keimanan”
dan “logika” ketuhanan yang pada wilayah-wilayah tertentu “akal” dibatasi oleh
kesucian ayat-ayat-nya. Sebab kenyataannya, kebenaran yang selalu dicari oleh
manusia adalah kebenaran semu yang semua bisa berargumentasi, berspekulasi
dengan data-data yang dianggap benar. Disini, wahyu Tuhan menjebatani kebuntuan
dari kebenaran akal melalui wahyu Tuhan, bahwa ada suatu kebenaran di atas
kebenar akal manusia yaitu kebenaran karya Tuhan dimana manusia harus tunduk
dan mempercayai-Nya sebagai wujud dari sifat pasrah dan tunduk kepada-Nya.
Sifat pasrah dan tunduk kepada Allah dimulai saat seorang muslim
mengucapkan takbiratul ihram saat memulai sholat. Anda bisa membayangkan
betapa sakralnya takbiratul ihram. Semua pembahasan persoalan dunia
berhenti. Dunia benar-benar menjadi sangat rendah dihadapan-Nya. Istilah haram-halal
yang sering menjadi diskusi ilmiah para cerdik-pandai benar-benar statusnya
sama. Hanya satu yang halal setelah mengucapkan takbir, yaitu menyebut,
mengagungkan dan mencintai Allah Yang Maha Indah. Sholat benar-benar forum
resmi para Pencinta Tuhan dengan kualitas terbaiknya. Materi nya sudah sangat
jelas, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan mati ku hanya untuk Allah Swt.
Ungkapan para muhibin (orang-orang
yang hatinya sudah dipenuhi cahaya cinta) tersebut di atas adalah perilaku
sangat realistis ketika memahami hakikat dua dimensi yang ada dalam hidup nya
yaitu antara kekal dan hancur. Sang Maha Kekal yaitu Allah akan tetap ada saat
alam semesta dan para pecinta nya hancur lebur. Semua tidak hancur dan ingin
tetap kekal bersama sanga kekasih sejati. Maka, semua yang ada pada diri mereka
diserahkan secara “bongkokan”, bukan hanya perhiasan dunia, bahkan hidup dan
mati pun rela demi untuk mendapat pengakuan dari-Nya sebagai kekasih-Nya.
Meskipun demikian dialog orang-orang muslim
dengan Tuhan mereka saat mengikuti perjalanan spiritual di dalam sholat, tidak
serta merta keasikan yang dirasakan bisa membekas saat berakhirnya sholat
dengan ditutup ucapan salam. Mereka terjaga kembali melihat dunia dengan segala
gemerlapnya. Jiwa-jiwa yang mutmainah pun mulai dikotori oleh
nafsu-nafsu amarah atas kecintaan dunia yang kembali mengalahkan
kecintaan kepada Pencipta Dunia. Namun demikian, ada sebagian orang-orang
muslimin tetap terjaga dan terus meningkat statusnya menjadi mukhsinin.
Allah kemudian mengingatkan sekaligus
menguji kepada kita (muslimin) dengan sebuah ujian dunia yaitu mengorbankan
sebagian rizkinya berubah binatang kurban. Binatang adalah simbol dunia yang
selalu dikejar dan dicari yang terkadang melupakan Tuhan nya. Pisau adalah
simbol konsistensi sebagai batas pemisah kecintaan antara dua kutub kekasih di
dalam hati; Tuhan dan Dunia. Padahal, hati hanya bisa untuk satu sang kekasih,
tidak bisa dua. Ketika anda mencintai Allah otomatis, dunia akan diberikan
kepada-Nya. Sebaliknya ketika anda mencintai Dunia, Tuhan akan dijadikan untuk
kepentingan dunia. Ketika hati sudah mencintai Allah maka semua berubah menjadi
lillah. Hatinya menjadi jembar, pikirannya menjadi terang melihat
apa yang dipunyai pada dirinya. Lalu tumbuh keyakinan dalam hati, bahwa semua
yang ada pada diri kita sarana-sarana untuk mencinta-Nya secara totalitas. Ketika
sudah bisa seperti ini, maka lahir rasa damai pada diri kita yang digambarkan
dalam sholat,assalamu’alaikum warahmatullah..inni as aluka fauza bil jannah
wa najah min an-nar (salam sejahtera untuk mu dan mendapatkan rahmat dari
allah, sesungguhnya saya meminta kepada engkau kemenangan dengan surga dan
selamat dari api neraka). Ini adalah keseimbangan cinta yang benar, yaitu
kecintaan yang melahirkan kebahagiaan sejati yaitu sebagai ahli surga. Itulah hakikat
puncak kedamaian.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879