Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tradisi Menulis dan Arah Peradaban Firman Tuhan



Selasa , 08 April 2025



Telah dibaca :  634

Al-Qur’an mempunyai bukti-bukti kuat sebagai firman Allah SWT. Dari segi susunan kalimat, tidak ada satupun Sastra Arab yang seindah Al-Qur’an. Sejak dari zaman Nabi Muhammad hingga saat sekarang ini. Bahkan ucapan Nabi Muhammad pun tidak seindah Al-Qur’an. Padahal ia adalah Nabi dan Rasul-Nya. Melalui Nabi, wahyu Allah disampaikan kepada umat nya. Sehingga para sahabat sendiri sangat paham mana ayat-ayat Al-Qur’an dan mana hadist-hadist Nabi Muhammad SAW.

Jika Nabi Muhammad saja tidak mampu menandingi keindahan ayat Al-Qur’an, apalagi orang-orang kafir yang hatinya tidak disinari oleh iman. Hatinya kotor dan penuh dengan kebencian kepada Islam.

Maka tuduhan Kaum Kafirin bahwa Al-Qur’an Karya Nabi merupakan tuduhan murahan yang tidak berdasarkan secara ilmiah. Tuduhan membabi-buta telah menghilangkan tradisi intelektualitas mereka yang selalu mengagungkan kebenaran rasional dan kebenaran ilmiah. Saat mereka dihadapkan dua fakta perbedaan sastra Al-Qur’an dan Hadist pun tidak bisa membedakannya. Kecerdasan tumpul, tapi terlalu cepat menyimpulkan nya. ini suatu tanda kebencian yang telah mengakar di hati kaum kafirin.

Q.S. Al-Baqarah ayat 23 sebagai berikut:

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٢٣

Artinya:

Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Ayat tersebut di atas merupakan wujud tantangan terbuka kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang meragukan Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya. kata [ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ ] merupakan kalimat bahwa Allah menantang kepada siapapun yang meragukan keberadaan Al-Qur’an sebagai firman-Nya. Jika ragu, Tuhan mempersilahkan setiap orang baik secara individu maupun berkelompok yang terdiri dari para pakar dan ilmuwan untuk membatahnya. Para ahli bahasa, sastra, hukum dan ahli sejarah melakukan diskusi dan merumuskan satu ayat yang lebih indah atau sepadan keindahannya, bisa dipastikan tidak akan mampu menandingi Al-Qur’an. Sebab dilihat dari semua aspek tersebut Al-Qur’an sudah sangat sempurna (Katsir, 2004).

Kaum yang tidak mempercayai Al-Qur’an juga harus memahami bahwa kata [ عَبْدِنَا] adalah Nabi Muhammad SAW. Melalui nya, Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi kabar kebahagiaan dan penderitaan. Melalui nya, dia juga telah mengatur tentang cara ibadah yang benar dan diberi penjelasan oleh nya melalui ucapan, perbuatan dan ketetapannya (Shihab, 2002). Darinya juga diceritakan sistem kehidupan sosial yang mengandung nilai-nilai moralitas yang agung dan berbeda dari nilai-nilai sosial sebelum datangnya ajaran Islam.

Kenapa Allah menantang secara terbuka kepada setiap manusia yang meragukan kebenaran firman-firman-Nya. Bukankah Allah juga mempunyai kemampuan untuk menghancurkan mereka dengan kekuasaan-Nya?.

Pertanyaan ini sangat menarik sekali. Tuhan telah menempatkan pola keagungan dalam sistem kehidupan sosial yang sangat tepat. Ada suatu fase kehidupan berbeda-beda. Pada fase masa lalu, manusia menyukai sesuatu yang bersifat praktis dan tidak perlu berfikir terlalu mendalam serta mendewa-dewakan hal-hal yang bersifat mistik atau magis.

Saat ada Nabi Nuh mengajak untuk beriman kepada Allah dan memberi khabar tentang bencana banjir yang sangat besar bagi orang-orang yang mendurhakai-Nya, maka mereka ramai-ramai mengolok-ngolok Nabi Nuh sebagai orang-orang yang berfikir tidak sehat. Sebab mereka melihat realita saat itu. Daerah yang mereka tempati adalah daerah yang susah turun hujan, apalagi sampai terjadi banjir. Jika toh terjadi, itu sangat jarang sekali. Hingga akhirnya, mereka berfikir sederhana: “Jika banjir datang, bukankah masih ada tempat-tempat yang tinggi atau bukit-bukit yang tinggi untuk menghindari bahaya banjir?”. Jadi pesan dakwah Nabi Nuh dan ancaman nya bisa dibuat akal-akalan oleh kaum nya untuk alasan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya. Akhirnya, Allah mendatangkan keberanan ucapan Nabi Nuh. Banjir besar menghancurkan egoisme dan kekafiran mereka. Itu janji Allah.

Ketika datang Nabi Luth mengajak menyembah kepada Allah dan mengikuti syariat-syariat-Nya dengan menikah antara laki-laki dan perempuan agar selamat dunia dan akherat dan terbebas dari adzab-Nya, mereka lagi-lagi melihat larangan tersebut sebagai sesuatu yang sangat remeh-temeh. Mereka berfikir sederhana yaitu suatu kenikmatan. Jika berhubungan antara laki-laki dan perempuan bisa mendatangkan kenikmatan, mengapa hubungan sesama jenis yang mendatangkan kenikmatan kok dilarang. Bukankah semua dilakukan juga sama-sama melakukan hubungan intim atau hubungan suami istri. Logika-logika berfikir yang dikembangkan oleh sebagian kaum Nabi Luth benar-benar sangat berpengaruh saat itu. Bahkan istrinya pun mendukung sistem hukum perkawinan yang dikembangkan oleh sebagian kaumnya. Ketika mereka sudah tidak menerima kebenaran syariat Islam, maka Tuhan pun menurunkan adzab kepada kaum Nabi Luth yang tidak beriman kepada-Nya.

Jadi, Allah mengutus para Nabi dan Rasul saat itu disesuaikan dengan pola berfikir yang masih kedaerahan, berfikir praktis dan bangga terhadap hal-hal yang bersifat magis. Maka Tuhan menurunkan para nabi yang mempunyai mukjizat seperti itu untuk menandingi kedigdayaan para penguasa yang kafir saat itu seperti diturunkan Nabi Musa untuk menandingi Raja Fir’aun.

Sedangkan Al-Qur’an hadir sebagai Obor Peradaban Semesta Alam. Allah mengutus Nabi Muhammad pada era modern. Letak kemodernan Al-Qur’an sangat menonjol yaitu menyuguhkan kualitas sastra yang sangat tinggi. Allah tidak melulu meletakan kehebatan Al-Qur’an pada cerita Isra Mi’raj atau Lail Al-Qadr dan mukjizat-mukjizat nabi dengan membelah Bulan. Sebab semua itu manusia sekarang ini sudah bisa menandingi rekasaya teknologi dengan ditemukan Pesawat Terbang, Pesawat Peluncuran Satelit dan sejenisnya. Jika kehebatan Al-Qur’an diletakan pada kisah magis, maka orang-orang di luar Islam lebih dulu bisa menguasainya. Meskipun umat Islam tetap membela kehebatan mukjizat tersebut di atas, orang-orang yang hanya melihat dunia ini secara akal lebih mudah menerima fakta-fakta baru tersebut ketimbang mukjizat yang sebagian orang menganggapnya sebagai tahayul.

Dari sini penulis bisa melihat bahwa Allah memberikan garansi bahwa Al-Qur’an merupakan firman-firman-Nya. Hingga kini belum ada suatu kaum di dunia modern yang bisa mengalahkan kehebatan Al-Qur’an dari segala aspek.

Meskipun demikian, umat Islam tidak boleh berbangga diri atas kebenaran tersebut. Sebab saat ini, dunia tulis-menulis dan bobot kualitas nya dalam beragam aspek kehidupan justru lahir bukan dari rahim pembawa Al-Qur’an, tapi justru dari para pembenci Al-Qur’an. Umat Islam yang membawa keagungan Al-Qur’an belum bisa menandingi kehebatan mereka. Salah satu penyebabnya yaitu pesan kemodernan Al-Qur’an tidak cepat-cepat ditangkap oleh umat Islam. Sebagian mereka masih kurang selera menghidupkan tulis-menulis dan melakukan penelitian.

Dari sini semakin terbuka, bukan karena kesalahan Al-Qur’an membuat umat Nabi Muhammad terbelakang saat sekarang ini, tapi kesalahan sebagian umat nya yang masih malas menghidupkan tradisi tersebut. Sampai kapan pun Al-Qur’an tidak bisa dikalahkan oleh kaum manapun, tapi Al-Qur’an tidak menjamin umat Islam bisa mengalahkan peradaban umat lain. Kecuali umat Islam itu sendiri yang berusaha nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   90

Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131

Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   221

Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258