Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tradisi Ulama antara Karya dan Ma'rifat



Jumat , 19 Januari 2024



Telah dibaca :  548

Judul tersebut terlalu luas pembahasannya. Sebab selain menyangkut persoalan periodesasi waktu, juga berkaitan dengan akvititas mereka dalam kehidupan sehari-hari baik berkaitan dengan dirinya, keluarga dan masyarakat serta juga pada persoalan politik. Namun, penulis sengaja menjadi identitas judul tulisan ini yang punya niat menjadi tulisan bersambung. Insya Allah jika Allah memberi kekuatan dan kesempatan. Meskipun ( bisa jadi) isi dari tulisan ini tidak nyambung dan kurang memberi pemahaman, dan anda pun (mungkin) yang membaca semakin bingung. Tidak mengapa. Paling tidak judul tersebut menjadi pengingat kita (yang bukan ulama) untuk bisa “ngalap berkah”, semoga meskipun sedikit mendapatkan tempias-nya, pun syukur Alhamdulillah. Ibaratkan penjual minyak wangi, paling tidak saya pernah mendekat kepada nya dan tahu merk minyak wangi yang beragam. Untung-untung dia “mengoleskan” sedikit minyak wangi di tanganku atau baju ku. Bukankah saya mendapatkan harum minyak wangi?

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Fathir [35]: 28 berbunyi sebagai berikut:

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Ibnu Katsir mengartikan ulama yang takut kepada Allah disini adalah yang makrifat kepada-Nya. kanjeng nabi dawuh,” Permulaan beragama itu ialah ma’rifat (mengenal) Allah”. Dalam hadist lain nabi dawuh begini, “ Barangsiapa mengenal akan dirinya mengen Allah ia akan Tuhan-nya” hadist lain begini, “Bukanlah Abu Bakar itu melebihi kamu semua disebabkan banyak puasa dan sembahyang akan tetapi dengan sebab ia tetap duduk di maqam sirr dalam qalbunya sedang dalam sirr itu hanya aku yang ada kata Allah” (Yunus, t.t).

Ruwaym bin Ahmad memaknai ma’rifat dengan beribadah kepada-nya (an-Naisabury, 2000). Dia mendasarkan pada Q.S. Adz-Dzariyat 56 sebagai berikut,”Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaku”. Jika lebih jauh mengartikan makna tersebut dalam kajian tasawuf, terkadang kita harus benar-benar dituntut ekstra untuk memahaminya. Sebab bahasa orang-orang yang sudah tenggelam dalam keasyikan mahabah kepada-Nya telah melahirkan definisi-definisi tersendiri yang kadang orang awam seperti kita sulit untuk mencerna. Meskipun demikian, penulis terasa perlu untuk menulis definisi ma’rifat menurut orang-orang yang tenggelam dalam lautan cinta kepada Allah swt.

Asy-sibly berkata, “Bagi sang ‘arif tidak ada keterikatan, bagi sang pecinta tidak ada keluhan, bagi sang hamba tidak ada tuntutan, bagi orang yang takut kepada Allah tidak ada tempat yang aman, dan bagi setiap orang tidak ada jalan lari dari Allah”. Abu Ali Ad-Daqqad mendefinisikan sebagai berikut, “Ma’rifat membawa ketentraman dalam hati, sebagaimana pengetahuan membawa kedamaian. Jadi, orang yang ma’rifatnya bertambah, maka bertambah pula ketentramannya” (An-Naisabury, 1997).

Penulis mencoba memahami definisi ma’rifat dari syeikh Asy-Sibly mulai dari urutan terakhir pada kalimat, “Bagi setiap orang tidak ada jalan lari dari Allah”. Penulis bisa menganalogikan seorang hamba di dunia ini laksana berada di atas “nampan” atau “lengser” (Jawa-tempat makan bersama-sama). Itulah luas dunia. manusia di atasnya tidak bisa berbuat apapun. Selalu dalam pengawasannya. Berbuat baik Allah tahu. Begitu juga sebaliknya. Dalam diri kita ada dua pengawasan melekat yaitu Roqib dan Atib, yang setiap hari mencatat segala amal yang kita lakukan.

Bagaimana sikap manusia dalam menyikapi hidup di dunia ini yang setiap hari dalam pengawasan-nya? Sungguh sangat beragam. Pertama,ada orang yang menyikapi biasa saja karena dia tidak mengetahui hakikat makna keterbatasan hidup. Semakin bertambah umur dia tetap santai dengan melakukan aktivitas yang tidak berfaidah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, baik berkaitan dengan pekerjaan, profesi maupun berkaitan hubungannya dengan Allah swt. Tidak ada kesedihan umur bertambah yang hakikatnya berkurang. Nafsu pada dirinya masih seperti pada masa anak-anak, sulit diatur, sulit dinasehati, sombong, takabur dan merasa paling benar dan paling berpengetahuan. Saat ada nasehat untuk dirinya, langsung dimuntahkan dengan kalimat penolak begini,” kamu masih bau kencur, jangan sok nasehati”, atau “kamu siapa?” dan lain-lain. kedua, ada orang yang sudah mulai bisa mengenal jalan hidupnya, tapi belum beranjak dari sifat-sifat kemalasan. Mereka tahu bahwa mencari nafkah adalah kewajiban, tapi dia selalu mengeluh akan hasil yang tidak sesuai dengan pekerjaan. Mereka sudah tahu tentang segala kewajiban yang ada pada dirinya, tapi merasa bahwa itu adalah beban. Mereka tahu bahwa ibadah secara syariat bagian dari kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, tapi masih juga bahwa itu sesuatu yang memberatkan dirinya. Semua dilihat sebagai beban sebagaimana anak kecil masa lalu saat ngaji di mushola takut terhadap sakit nya rotan gurunya saat singgah di pantatnya akibat tidak mau belajar atau sering bolos sekolah. Ketiga, ada orang yang sudah mulai disiplin hidupnya. Dia sudah mengerti kewajiban-kewajibannya, baik karena sudah mendapatkan hak-hak nya dari Allah atau pun tidak. Dia sudah mulai mengatur hidup secara syariat dengan ritme-ritme “wal ‘asyri” yang kemudian melahirkan ilmu manajemen waktu, manajemen profesi dan manajemen qalbu serta manajemen-manajemen lain. kelompok ini sudah mulai merasakan akan kemanfaatan menggunakan manajemen hidup dalam kehidupan sehari-hari. Tapi pada sisi lain, sebagian dari kelompok ini belum mengenal lebih dalam esensi dari manajemen tersebut selain berkaitan dengan hubungan kerja untuk mendapatkan hak dan melaksanakan kewajiban. Keempat, ada orang yang sudah merasakan ada kebahagiaan batin saat bisa melakukan sesuatu yang dianggap sebagai hal-hal yang bermanfaat dan tidak melanggar syariat. Kelompok ini mengenal aturan hidup dan segala regulasi yang menyertainya. Namun kenikmatannya bukan karena kepatuhan atas regulasi yang ada dirinya, tapi adanya kenikmatan masih bisa memberi kemanfaatan kepada dirinya dan orang lain. Sehingga sekuat mungkin dia tetap hidup dan berkarya secara terus-menerus untuk kemafaatan kepada orang yang lebih banyak. Keenam, ada orang yang sudah menjadikan hidup bermesraan dengan Allah swt. Orang-orang seperti ini bisa jadi bukan orang-orang yang berada di gua-gua atau di masjid-masjid selalu i’tikaf atau ‘uzlah dari keramaian. Bisa jadi orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang berada di sekitar kita, tapi kita tidak mengetahuinya. Sebab orang-orang kelompok ini adalah orang yang pandai sekali menyimpan rasa cinta kepada Allah sehingga mereka benar-benar menutup diri dengan segala asesoris dunia dalam kehidupan sehari-hari. Hatinya benar-benar terbakar oleh api cinta sebagaimana rindunya seorang kekasih ingin berjumpa dengan orang yang dikasihi. Bayang-bayang orang yang dicintainya selalu hadir di setiap saat. Kadang ada tangisan rindu ingin berjumpa dengan nya dan ada bahagia karena damai berada di dekatnya.

Perkataan yang sangat sulit dicerna mungkin ucapan Abu Hafs tentang ma’rifat. Katanya, “Sejak diriku mencapai ma’rifat, tidak ada lagi kebenaran ataupun kebatilan yang memasuki hatiku”. Penulis memahaminya sebagai bentuk pemisah antara makna regulasi dan subtansi. Tapi pada sisi lain keduanya tetap menyatu. Ini seperti kisah nabi saat menghukum seseorang yang telah melakukan suatu kesalahan. Sebagian sahabat mengejek dan menghina orang tersebut. Nabi memberi nasehat kepada para sahabat,“Jangan kalian menghina nya, sebab dia sudah dihukum, dan sekarang dia telah bersih dari dosa dan diampuni oleh Allah swt”.

Jadi orang yang sudah mengenal allah justru dia taat terhadap aturan allah dan semakin mencintainya sehingga dia merasakan tidak ada lagi batas antara sakit dan sehat, bahagia dan susah. Sebab keduanya tetap terasa indah ketika berada di dekat orang yang dicintainya.

Sebagai penutup para ulama memperkenal makna ma’rifat tersebut di atas merupakan bagian dari rantai intelektual atas penjelasan dari Al-Qur’an dan al-Hadist. Melalui pembukuan al-qur’an dan hadist, para ulama menjelaskan dengan baik makna yang tersembunyi di dalam nya menyangkut berbagai hal termasuk teknik mendekatkan diri kepada Nya. Penjelasan para ulama tersebut sebenarnya tangga untuk mengenal lebih dekat kepada kebenaran makna syariat Islam.

Setiap zaman selalu saja melahirkan generasi yang membutuhkan pendekatan lebih konprehensif dan lebih menyesuaikan dengan hidup sesuai zamannya. Para ulama semakin besar tantangan untuk bisa menjelaskan dengan bahasa kaum nya dengan geografis, waktu dan budaya yang beragam. Penulis dan anda para pembaca mempunyai kewajiban untuk menyebarkan dan menjelaskan sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Meskipun “hanya satu ayat” dan keterbatasan pemahaman. Semoga dengan tradisi menyebarkan tulisan kebaikan kepada semua orang, Allah memberi keberkahan kepada kita. Semua ini karena kita mempunyai tugas sebagai khalifah (Syathi', 1982) yang berarti, salah satu tugas para ulama dan penerusnya yaitu melanggengkan ajaran Islam melalui karya-karya sebagai bagian wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

References

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Syathi', A. A. (1982). Manusia Siapa,Darimana dan Kemana?, terj; Achmad Masruch Nasucha. Semarang : Toha Putra.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876