
Judul tersebut terlalu luas pembahasannya.
Sebab selain menyangkut persoalan periodesasi waktu, juga berkaitan dengan akvititas
mereka dalam kehidupan sehari-hari baik berkaitan dengan dirinya, keluarga dan
masyarakat serta juga pada persoalan politik. Namun, penulis sengaja menjadi
identitas judul tulisan ini yang punya niat menjadi tulisan bersambung. Insya Allah
jika Allah memberi kekuatan dan kesempatan. Meskipun ( bisa jadi) isi dari
tulisan ini tidak nyambung dan kurang memberi pemahaman, dan anda pun (mungkin)
yang membaca semakin bingung. Tidak mengapa. Paling tidak judul tersebut
menjadi pengingat kita (yang bukan ulama) untuk bisa “ngalap berkah”,
semoga meskipun sedikit mendapatkan tempias-nya, pun syukur
Alhamdulillah. Ibaratkan penjual minyak wangi, paling tidak saya pernah
mendekat kepada nya dan tahu merk minyak wangi yang beragam. Untung-untung dia
“mengoleskan” sedikit minyak wangi di tanganku atau baju ku. Bukankah saya mendapatkan
harum minyak wangi?
Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Fathir [35]:
28 berbunyi sebagai berikut:
“Dan demikian
(pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak
ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun”.
Ibnu Katsir mengartikan ulama yang
takut kepada Allah disini adalah yang makrifat kepada-Nya. kanjeng nabi dawuh,”
Permulaan beragama itu ialah ma’rifat (mengenal) Allah”. Dalam hadist lain
nabi dawuh begini, “ Barangsiapa mengenal akan dirinya mengen Allah ia akan
Tuhan-nya” hadist lain begini, “Bukanlah Abu Bakar itu melebihi kamu semua
disebabkan banyak puasa dan sembahyang akan tetapi dengan sebab ia tetap duduk
di maqam sirr dalam qalbunya sedang dalam sirr itu hanya aku yang
ada kata Allah”
Ruwaym bin Ahmad memaknai ma’rifat
dengan beribadah kepada-nya
Asy-sibly berkata, “Bagi sang ‘arif
tidak ada keterikatan, bagi sang pecinta tidak ada keluhan, bagi sang hamba
tidak ada tuntutan, bagi orang yang takut kepada Allah tidak ada tempat yang
aman, dan bagi setiap orang tidak ada jalan lari dari Allah”. Abu Ali Ad-Daqqad
mendefinisikan sebagai berikut, “Ma’rifat membawa ketentraman dalam hati,
sebagaimana pengetahuan membawa kedamaian. Jadi, orang yang ma’rifatnya
bertambah, maka bertambah pula ketentramannya”
Penulis mencoba memahami definisi ma’rifat
dari syeikh Asy-Sibly mulai dari urutan terakhir pada kalimat, “Bagi setiap orang
tidak ada jalan lari dari Allah”. Penulis bisa menganalogikan seorang hamba di
dunia ini laksana berada di atas “nampan” atau “lengser” (Jawa-tempat
makan bersama-sama). Itulah luas dunia. manusia di atasnya tidak bisa berbuat
apapun. Selalu dalam pengawasannya. Berbuat baik Allah tahu. Begitu juga
sebaliknya. Dalam diri kita ada dua pengawasan melekat yaitu Roqib dan Atib,
yang setiap hari mencatat segala amal yang kita lakukan.
Bagaimana sikap manusia dalam
menyikapi hidup di dunia ini yang setiap hari dalam pengawasan-nya? Sungguh
sangat beragam. Pertama,ada orang yang menyikapi biasa saja karena dia tidak
mengetahui hakikat makna keterbatasan hidup. Semakin bertambah umur dia tetap
santai dengan melakukan aktivitas yang tidak berfaidah, baik dari segi
kuantitas maupun kualitas, baik berkaitan dengan pekerjaan, profesi maupun
berkaitan hubungannya dengan Allah swt. Tidak ada kesedihan umur bertambah yang
hakikatnya berkurang. Nafsu pada dirinya masih seperti pada masa anak-anak,
sulit diatur, sulit dinasehati, sombong, takabur dan merasa paling benar dan
paling berpengetahuan. Saat ada nasehat untuk dirinya, langsung dimuntahkan
dengan kalimat penolak begini,” kamu masih bau kencur, jangan sok nasehati”,
atau “kamu siapa?” dan lain-lain. kedua, ada orang yang sudah mulai bisa
mengenal jalan hidupnya, tapi belum beranjak dari sifat-sifat kemalasan. Mereka
tahu bahwa mencari nafkah adalah kewajiban, tapi dia selalu mengeluh akan hasil
yang tidak sesuai dengan pekerjaan. Mereka sudah tahu tentang segala kewajiban
yang ada pada dirinya, tapi merasa bahwa itu adalah beban. Mereka tahu bahwa
ibadah secara syariat bagian dari kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, tapi
masih juga bahwa itu sesuatu yang memberatkan dirinya. Semua dilihat sebagai
beban sebagaimana anak kecil masa lalu saat ngaji di mushola takut terhadap
sakit nya rotan gurunya saat singgah di pantatnya akibat tidak mau belajar atau
sering bolos sekolah. Ketiga, ada orang yang sudah mulai disiplin hidupnya. Dia
sudah mengerti kewajiban-kewajibannya, baik karena sudah mendapatkan hak-hak
nya dari Allah atau pun tidak. Dia sudah mulai mengatur hidup secara syariat
dengan ritme-ritme “wal ‘asyri” yang kemudian melahirkan ilmu manajemen
waktu, manajemen profesi dan manajemen qalbu serta manajemen-manajemen lain.
kelompok ini sudah mulai merasakan akan kemanfaatan menggunakan manajemen hidup
dalam kehidupan sehari-hari. Tapi pada sisi lain, sebagian dari kelompok ini
belum mengenal lebih dalam esensi dari manajemen tersebut selain berkaitan
dengan hubungan kerja untuk mendapatkan hak dan melaksanakan kewajiban.
Keempat, ada orang yang sudah merasakan ada kebahagiaan batin saat bisa
melakukan sesuatu yang dianggap sebagai hal-hal yang bermanfaat dan tidak
melanggar syariat. Kelompok ini mengenal aturan hidup dan segala regulasi yang
menyertainya. Namun kenikmatannya bukan karena kepatuhan atas regulasi yang ada
dirinya, tapi adanya kenikmatan masih bisa memberi kemanfaatan kepada dirinya
dan orang lain. Sehingga sekuat mungkin dia tetap hidup dan berkarya secara
terus-menerus untuk kemafaatan kepada orang yang lebih banyak. Keenam, ada
orang yang sudah menjadikan hidup bermesraan dengan Allah swt. Orang-orang
seperti ini bisa jadi bukan orang-orang yang berada di gua-gua atau di
masjid-masjid selalu i’tikaf atau ‘uzlah dari keramaian. Bisa jadi orang-orang
seperti ini adalah orang-orang yang berada di sekitar kita, tapi kita tidak
mengetahuinya. Sebab orang-orang kelompok ini adalah orang yang pandai sekali
menyimpan rasa cinta kepada Allah sehingga mereka benar-benar menutup diri
dengan segala asesoris dunia dalam kehidupan sehari-hari. Hatinya benar-benar
terbakar oleh api cinta sebagaimana rindunya seorang kekasih ingin berjumpa
dengan orang yang dikasihi. Bayang-bayang orang yang dicintainya selalu hadir
di setiap saat. Kadang ada tangisan rindu ingin berjumpa dengan nya dan ada
bahagia karena damai berada di dekatnya.
Perkataan yang sangat sulit dicerna
mungkin ucapan Abu Hafs tentang ma’rifat. Katanya, “Sejak diriku mencapai
ma’rifat, tidak ada lagi kebenaran ataupun kebatilan yang memasuki hatiku”.
Penulis memahaminya sebagai bentuk pemisah antara makna regulasi dan subtansi.
Tapi pada sisi lain keduanya tetap menyatu. Ini seperti kisah nabi saat
menghukum seseorang yang telah melakukan suatu kesalahan. Sebagian sahabat
mengejek dan menghina orang tersebut. Nabi memberi nasehat kepada para
sahabat,“Jangan kalian menghina nya, sebab dia sudah dihukum, dan sekarang dia
telah bersih dari dosa dan diampuni oleh Allah swt”.
Jadi orang yang sudah mengenal allah
justru dia taat terhadap aturan allah dan semakin mencintainya sehingga dia
merasakan tidak ada lagi batas antara sakit dan sehat, bahagia dan susah. Sebab
keduanya tetap terasa indah ketika berada di dekat orang yang dicintainya.
Sebagai penutup para ulama
memperkenal makna ma’rifat tersebut di atas merupakan bagian dari rantai
intelektual atas penjelasan dari Al-Qur’an dan al-Hadist. Melalui pembukuan
al-qur’an dan hadist, para ulama menjelaskan dengan baik makna yang tersembunyi
di dalam nya menyangkut berbagai hal termasuk teknik mendekatkan diri kepada Nya.
Penjelasan para ulama tersebut sebenarnya tangga untuk mengenal lebih dekat kepada
kebenaran makna syariat Islam.
Setiap zaman selalu saja melahirkan
generasi yang membutuhkan pendekatan lebih konprehensif dan lebih menyesuaikan
dengan hidup sesuai zamannya. Para ulama semakin besar tantangan untuk bisa
menjelaskan dengan bahasa kaum nya dengan geografis, waktu dan budaya yang
beragam. Penulis dan anda para pembaca mempunyai kewajiban untuk menyebarkan
dan menjelaskan sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Meskipun “hanya satu
ayat” dan keterbatasan pemahaman. Semoga dengan tradisi menyebarkan tulisan
kebaikan kepada semua orang, Allah memberi keberkahan kepada kita. Semua ini
karena kita mempunyai tugas sebagai khalifah
al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami'
Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .
an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya :
Risalah Gusti.
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di
Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .
Syathi', A. A. (1982). Manusia
Siapa,Darimana dan Kemana?, terj; Achmad Masruch Nasucha. Semarang : Toha
Putra.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876