Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tradisi Ulama; Menjauhi Perdebatan yang Tidak Berfaedah



Sabtu , 20 Januari 2024



Telah dibaca :  801

Ketika masih sekolah di Tingkat Madrasah Tsanawiyah dan menjadi Kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Banyumas, saya biasanya ngaji di Pesantren Raudlatut Thalibin Sirau. Pengasuhnya KH Muhosis Nur, Ayahanda Gus Lutfi dan Gus Rifqi (informasinya, Gus Rifqi menjadi staff nya menteri agama H Yaqut Cholil Qoumas). Nama pesantrennya sama dengan pesantren ayahanda Gus Men yaitu Pesantren Raudlatut Thalibin. Dulu waktu masih Mts, KH. Kholil Bisri (Ayahanda Gus Men) sering mengisi pengajian di pesantren tersebut. Suaranya menggelegar, intonasinya bagus. Para jamaah siap mendengarakan mau’idlatul hasanah berjam-jam. Tetap betah. Selain itu, Mbah Kholil Bisri juga seorang penulis. Saya sangat menyukai tulisannya. Bahkan sampai hari ini, saya masih mempunyai kumpulan tulisan opini yang telah diterbitkan di berbagai media massa, terutama Koran kompas.

Di pesantren ini saya mendapatkan pelajaran ilmu agama. ngaji dengan Kyai Dalhar. Setelah sholat Isa, biasanya saya melihat santri yang sudah senior mengkaji kitab. Mereka berdebat ilmiah. Para santri laksana harimau saat membahas ilmu-ilmu agama. Adu argument sangat mengasikan. Berbobot. Daging semua. Semua meja isinya adalah tumpukan kitab, mulai dari yang tipis sampai yang tebal-tebal.

Meskipun demikian, mereka menerapkan metode “ wajadilhum” dengan “ahsan” perdeban yang baik dan berkualitas. Yang menang tidak merasa superior, yang kalah tidak merasa inferior. Semuanya merasa kepuasan dalam perdebatan ilmiah. Sebab kedua belah pihak tahu diri dan mau intropeksi diri segala kelebihan dan kelemahannya, tahu diri statusnya sebagai seorang santri yang diajarkan oleh para kiai nya untuk senantiasa menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda. Maka di pesantren, semua santri tua muda, besar-kecil dipanggil “Kang” yang artinya abang. Itulah ajaran pesantren dalam menghormati sesame santri sebagai keluarga besarnya.

Tapi saat para kiai dan santri bertemu orang-orang awam yang ilmu agamanya dangkal dan pandai bersilat lidah, biasanya tidak melayaninya. Pernah suatu hari ada seorang kampung marah-marah kepada seorang ulama dengan cacian yang luarbiasa. Ulama tersebut tetap diam. Orang melihatnya, seolah-olah ulama itu seperti orang bodoh dan tidak mempunyai hujah untuk menjawab. Ketika selesai mencaci maki dan orang kampung itu pergi, sang ulama tersebut tersebut berkata kepadaku,” Jawaban terbaik ketika berdebat dengan orang yang berilmu adalah  diam”. Itulah jawaban yang paling tepat ketika berdebat dengan orang tidak berilmu”.

Saya jadi teringat perkataan Imam Syafi’i (Al-Maliki, t.t)sebagai berikut:


قال الإمام الشافعي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي

Artinya,

“Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tanpa daya.”

Dia juga mengatakan begini:

ما ناظرت احدا قط علي الغلبة

Artinya:

Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan.

Perkataan Imam Syafi’i sebenarnya memberi pemahaman bahwa debat dalam Islam sebenarnya dalam rangka untuk memberi pemahaman tentang ajaran Islam (Sholeh, 2016). Maka ketika Nabi Musa menemui Raja Firaun dengan segala kekuasaan politiknya, dia tetap memberi argumentasi ilmiah tentang firman-firman Allah dengan lemah lembut. Padahal kita mengetahui tentang Fir’aun dalam Q.S. Al-Qashas ayat 4 sebagai berikut: Sesungguhnya firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Fir’aun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Begitu juga ketika nabi musa bertemu dengan nabi khaidir. Meskipun dia terlihat tidak sabar ketika bertemu dengannya, nabi musa tetap menggunakan bahasa yang santun, lembut dan penuh etika ketika bertanya kepada nabi khaidir (Shihab Q. , 2011). Q.S. Al-Kaffi [18]: 66 berbunyi sebagai berikut: “Setelah memberi salam, nabi musa bertanya pada khidir, “bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk”.

Dari sini penulis bisa mengambil pelajaran bahwa tradisi para nabi yang dilanjutkan oleh para ulama masa dulu adalah keteguhan menjaga etika dalam berdialog baik sesama para ulama dan santri. Bahkan keagungan etika tersebut telah menjadi mereka memposisikan diri sebagai satu keluarga besar yang terkadang melebihi saudaranya sendiri. Ini yang disebut persaudaraan yang dibangun atas kedalam cinta kepada Allah swt.

Namun saat sekarang ini, tradisi debat di forum-forum yang bermartabat di grup-grup WA yang memposisikan sebagai warosatul ambiya telah berubah laksana pasar sandang pangan, liar, bebas dan jauh dari ruh mutmainah dan kebersihan mata batin. Aura perdebatan dan ucapan mulai mengedepankan syahwat semata dan saling membuka aib. Semua ini bisa jadi karena persaudaraan dibangun karena adanya kesamaan orientasi dunia, bukan orientasi kemanusiaan dan agama. ketika ada kesamaan saling membela, ketika tidak sama saling mencela.

Astagfirullahal ‘adziim.

 

References

Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu an Tushahhah . Surabaya .

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.

Sholeh, M. J. (2016). Etika Berdialog dan Metodologi debat dalam Al-Quran. El-Furqania, Volume 03/ No. 02.

Yunus, O. M.-J. (t.t). Tauhid dan Tasawuf . t.p.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876