
Ketika masih sekolah di Tingkat Madrasah
Tsanawiyah dan menjadi Kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten
Banyumas, saya biasanya ngaji di Pesantren Raudlatut Thalibin Sirau. Pengasuhnya
KH Muhosis Nur, Ayahanda Gus Lutfi dan Gus Rifqi (informasinya, Gus Rifqi menjadi
staff nya menteri agama H
Yaqut Cholil Qoumas). Nama pesantrennya sama dengan pesantren ayahanda Gus Men
yaitu Pesantren Raudlatut Thalibin. Dulu waktu masih Mts, KH. Kholil Bisri
(Ayahanda Gus Men) sering mengisi pengajian di pesantren tersebut. Suaranya
menggelegar, intonasinya bagus. Para jamaah siap mendengarakan mau’idlatul
hasanah berjam-jam. Tetap betah. Selain itu, Mbah Kholil Bisri juga seorang
penulis. Saya sangat menyukai tulisannya. Bahkan sampai hari ini, saya masih
mempunyai kumpulan tulisan opini yang telah diterbitkan di berbagai media
massa, terutama Koran kompas.
Di pesantren ini saya mendapatkan
pelajaran ilmu agama. ngaji dengan Kyai Dalhar. Setelah sholat Isa, biasanya
saya melihat santri yang sudah senior mengkaji kitab. Mereka berdebat ilmiah.
Para santri laksana harimau saat membahas ilmu-ilmu agama. Adu argument sangat
mengasikan. Berbobot. Daging semua. Semua meja isinya adalah tumpukan kitab,
mulai dari yang tipis sampai yang tebal-tebal.
Meskipun demikian, mereka menerapkan
metode “ wajadilhum” dengan “ahsan” perdeban yang baik dan
berkualitas. Yang menang tidak merasa superior, yang kalah tidak merasa inferior.
Semuanya merasa kepuasan dalam perdebatan ilmiah. Sebab kedua belah pihak tahu
diri dan mau intropeksi diri segala kelebihan dan kelemahannya, tahu diri
statusnya sebagai seorang santri yang diajarkan oleh para kiai nya untuk
senantiasa menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih
muda. Maka di pesantren, semua santri tua muda, besar-kecil dipanggil “Kang”
yang artinya abang. Itulah ajaran pesantren dalam menghormati sesame santri
sebagai keluarga besarnya.
Tapi saat para kiai dan santri
bertemu orang-orang awam yang ilmu agamanya dangkal dan pandai bersilat lidah,
biasanya tidak melayaninya. Pernah suatu hari ada seorang kampung marah-marah
kepada seorang ulama dengan cacian yang luarbiasa. Ulama tersebut tetap diam.
Orang melihatnya, seolah-olah ulama itu seperti orang bodoh dan tidak mempunyai
hujah untuk menjawab. Ketika selesai mencaci maki dan orang kampung itu pergi,
sang ulama tersebut tersebut berkata kepadaku,” Jawaban terbaik ketika berdebat
dengan orang yang berilmu adalah diam”.
Itulah jawaban yang paling tepat ketika berdebat dengan orang tidak berilmu”.
Saya jadi teringat perkataan Imam
Syafi’i
قال الإمام
الشافعي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا
إِلَّا غَلَبَنِي
Artinya,
“Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual,
aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah
tanpa daya.”
Dia juga mengatakan begini:
ما ناظرت احدا قط علي الغلبة
Artinya:
Aku tidak pernah berdebat untuk mencari
kemenangan.
Perkataan Imam Syafi’i sebenarnya memberi
pemahaman bahwa debat dalam Islam sebenarnya dalam rangka untuk memberi
pemahaman tentang ajaran Islam
Begitu juga ketika nabi musa bertemu dengan
nabi khaidir. Meskipun dia terlihat tidak sabar ketika bertemu dengannya, nabi
musa tetap menggunakan bahasa yang santun, lembut dan penuh etika ketika
bertanya kepada nabi khaidir
Dari sini penulis bisa mengambil pelajaran
bahwa tradisi para nabi yang dilanjutkan oleh para ulama masa dulu adalah
keteguhan menjaga etika dalam berdialog baik sesama para ulama dan santri. Bahkan
keagungan etika tersebut telah menjadi mereka memposisikan diri sebagai satu
keluarga besar yang terkadang melebihi saudaranya sendiri. Ini yang disebut
persaudaraan yang dibangun atas kedalam cinta kepada Allah swt.
Namun saat sekarang ini, tradisi debat di
forum-forum yang bermartabat di grup-grup WA yang memposisikan sebagai warosatul
ambiya telah berubah laksana pasar sandang pangan, liar, bebas dan jauh
dari ruh mutmainah dan kebersihan mata batin. Aura perdebatan dan ucapan
mulai mengedepankan syahwat semata dan saling membuka aib. Semua ini bisa jadi karena
persaudaraan dibangun karena adanya kesamaan orientasi dunia, bukan orientasi
kemanusiaan dan agama. ketika ada kesamaan saling membela, ketika tidak sama
saling mencela.
Astagfirullahal ‘adziim.
Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim
Yajibu an Tushahhah . Surabaya .
al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut:
Al-Resalah .
An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf .
Surabaya : Risalah Gusti .
an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu
Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam .
Jakarta Selatan : Paramadina .
Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.
Sholeh, M. J. (2016). Etika Berdialog dan Metodologi debat dalam
Al-Quran. El-Furqania, Volume 03/ No. 02.
Yunus, O. M.-J. (t.t). Tauhid dan Tasawuf . t.p.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876