
Apakah Tuhan menghadirkan Al-Qur’an hanya sebatas untuk menunjukan kebenaran firman-firman-Nya. Apakah Tuhan juga mengajarkan kepada orang beriman agar menunjukan keagungan-Nya direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kebenaran Al-Qur’an yang agung juga mampu menghadirkan keagungan nya dalam kehidupan sosial yang lebih luas seperti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertanyaan-pertanyaan yang menarik menjadi bahan renungan bersama.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut umat Islam terbagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, sebagian umat Islam hanya sebatas melihat kebenaran
ajaran Tuhan tanpa mempertimbangkan baik dan buruk ajaran itu sendiri. Kedua, ada
sebagian penganut Islam yang melihat kebenaran ajaran Tuhan sebagai solving problem dalam
menyelesaikan masalah kehidupan yang sangat komplek. Jadi, agama bukan sebatas
keyakinan saja. Ia harus menjadi cahaya yang menerangi kegelapan peradaban
manusia.
Jika melihat dari redaksi ayat di bawah
ini, penulis bisa memahami betapa keras hati kaum kafirin menolak suatu
kebenaran. mereka sudah tidak mampu melakukan tandingan-tandingan karya mereka
yang serupa dengan Al-Qur’an. Tapi mereka tetap ngeyel bahwa apa yang ia
lakukan sebagai suatu kebenaran dan terus-menerus mempropaganda kepada manusia
bahwa Islam sebagai agama yang kolot dan tidak selaras dengan perkembangan
zaman. Renungkan ayat berikut ini:
فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ
وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ ٢٤
Artinya:
Jika kamu tidak (mampu) membuat(-nya) dan (pasti) kamu tidak akan
(mampu) membuat(-nya), takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.
Para mufasirin memaknai ayat tersebut sebagai ajakan atau tantangan
kepada siapapun untuk menandingi Al-Qur’an. Sekaligus juga memberikan suatu
penekanan apa yang mereka lakukan pasti gagal. Al-Qur’an benar-benar firman Allah,
sehingga tidak ada kekuatan apapun yang bisa menandingi kehebatan Al-Qur’an
Kenapa Allah memberi ancaman kepada orang-orang yang tidak beriman
kepada firman-firman-Nya. Sebab ini menjadi suatu bukti apakah mereka mempunyai
kejernihan hati untuk menerima kebenaran atau tidak. Jika mereka masih bisa
menerima kebenaran, maka mereka akan takut terhadap ancaman tersebut. Tapi jika
hati tertutup, maka mereka akan mengabaikan ancaman-ancaman tersebut. Api
neraka benar-benar ada bukan sebatas dongeng belaka
Jika kebenaran dan kehebatan Al-Qur’an tidak tertandingi, maka ada
pekerjaan rumah bagi para pengikutnya yaitu menjelaskannya dalam kehidupan
sosial yang penuh dinamika. Saat sekarang ini, kehidupan manusia berangkat dari
suatu keyakinan-keyakinan yang menjadi keputusan hidup untuk memilih ini atau
itu.
Sebagian kelompok manusia memilih menjadi ateisme karena ia
mempunyai argumentasi yang menyakinkan bahwa paham tersebut merupakan suatu kebenaran.
melalui keyakinan tersebut, mereka mewujudkan impian-impian hidup untuk menjadi
manusia sukses dan unggul dari manusia lain. Keyakinan terhadap paham tersebut dan
dibarengi kerja keras yang luarbiasa, mereka bisa mewujudkan impian-impian nya.
Kini kita bisa melihat betapa maju sistem kehidupan mereka baik dari segi kualitasnya,
teknologi, ekonomi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Melalui kekuatan-kekuatan
hebat tersebut, mereka menyebarkan virus-virus paham nya melalui berbagai aspek
kehidupan, bantuan-bantuan ekonomi, pendidikan dan proyek-proyek penelitian
lainnya. Dari sini, mereka bisa tertawa lebar dan mengatakan dengan bangga: “Kami
telah membuka mata kepada dunia, bahwa golongan kami yang benar-benar eksis,
sedangkan kelompok pengikut Tuhan telah mati!!”.
Kanjeng Nabi Muhammad telah menempatkan ajaran Islam sebagai “ya’ulu wala yu’la ‘alaihi”
tentu juga berangkat dari suatu keyakinan dari kebenaran yang tidak diragukan
lagi. Jika kaum eteisme mampu menciptakan suatu kebenaran atas dasar
praduga-praduga semata telah mampu mewujudkan suatu kejayaan hidup di dunia. Seharusnya
umat Islam harus melebihi kehebatan mereka dalam aspek kehidupan.
Al-Qur’an sebagai firman Tuhan, tidak hanya dibela dengan sikap apatis
dengan mengatakan bahwa “Tuhan tidak membutuhkan bantuan”. Itu benar pada
tataran kebenaran ajaran dari Tuhan yang absolut. Namun disisi lain, Islam merupakan
agama dakwah. Ada tugas yang sangat besar mendakwahkan ajaran Islam bukan
sebatas keyakinan dan ibadah. Jauh dari itu keyakinan dan ibadah tersebut mampu
menjadi spirit dakwah sosial dan menjadi penggerak dalam menempatkan visi “ya’ulu
wala yu’la ‘alaihi”, Islam paling tinggi dan tidak ada yang bisa
menandingi.
Tentu sangat ironis, ajaran Islam dalam realisasi kehidupan bisa
dikalahkan oleh paham-paham buatan manusia yang tidak sempurna, tetapi dalam
sistem kehidupan mereka mampu mewujudkan sistem kehidupan yang sempurna. Dari sini
sebenarnya, tantangan sangat besar para pembela peradaban Islam untuk
mewujudkan pesan-pesan Al-Qur’an yang sangat kumplit dan sempurna. Semua sudah
ada. Tapi semua serba tidak ada dalam realita kehidupan. Al-Qur’an yang agung
seolah-olah hanya ditempatkan pada kotak kaca hampa udara yang akan selalu
kekal selama dan bisa dibaca oleh siapa saja. Ia dilihat, ditonton, dikagumi,
tapi tidak direalisasikan secara kaffah.
Jika Tuhan telah melakukan pembelaan terhadap firman-firman-Nya, sudah
saatnya umat Islam juga melakukan pembelaan dengan memperbaiki berbagai sistem
kehidupan sosial agar ada keseimbangan antara ajaran Islam dan realita
kehidupan masyarakat muslim.
Pekerjaan rumah umat Rasulullah memang cukup komplek yang terjadi saat
ini seperti kemiskinan, keterbelakangan budaya, ekonomi, dan pendidikan. Melakukan
perubahan secara terus-menerus merupakan solusi terbaik untuk menjaga keluhuran
konstitusi Islam dalam kehidupan sosial.
Saya menilai, kesadaran sebagian masyarakat muslim sudah mulai mengarah ke
arah yang lebih baik. Salah satu gejala yang bisa dilihat yaitu gejala keterbukaan
masyarakat muslim belajar pada bagian-bagian yang tertinggal ke negara-negara
yang sudah lebih dulu maju. Itu yang sering disebut hikmah. Ilmu Islam yang
dipinjam oleh bangsa lain.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   90
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   140
Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131
Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   221
Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3862
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258