Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tukang Parkir yang Saya Kenal



Jumat , 14 Maret 2025



Telah dibaca :  670

Setelah selesai sholat jum’at, saya wiridan sebentar. Lalu keluar masjid menuju mobil. Saya belum berani membawa mobil. Sebenarnya sudah mulai sembuh dari penyakit kliyengan. Sudah lebih satu minggu mobil dinas diparkir di belakang gendung SBSN. Masih malas nyupir. Jadi siang ini saya dan Mas Jarir disupiri oleh Mas Chanifudin.

Selesai sholat langsung tancap ke warung. Beli sayur untuk persiapan sahur nanti malam. Sekaligus beli Susu Beruang. Merk susu yang paling aneh, merk Susu Beruang, iklan Naga Putih dari Cina, isinya Susu Sapi. Sama anehnya dengan penyakitku, sudah beberapa dokter belum juga cocok. Ternyata Susu Beruang cocok. Entah susu lain, saya belum mencoba dan tidak mau membelinya.

Di depan Warung Cina yang cukup besar itu, saya melihat ada dua tukang parkir; bapak-bapak dan ibu-ibu. Sang bapak bagian mobil, sang ibu bagian kendaraan roda dua. Pernah saya bawa mobil dan belanja di malam hari, saat sang bapak tidak ada saya membayar kepada sang ibu tadi. Apa yang terjadi. Ia tak mau dibayar. Sebab parkir mobil bukan bagiannya. Ketika saya paksa pun, ia tetap tidak mau. Ia tetap bersikukuh bahwa ia hanya menerima uang dari parkir roda dua.

Peristiwa tersebut memang tidak bisa digeneralisir kepada seluruh tukang parkir. Ada tukang parkir yang murah senyum. Ketika saya datang, ia senyum dan menghormati ku. Dikasih uang atau tidak dikasih uang, tetap juga tersenyum. mungkin perilaku sopan nya sudah “gawan bayi”. Ada tukang parkir selalu saja memberi hadiah doa. Setelah saya kasih duit, biasanya doa yang diberikan kepada ku kurang lebih begini: “ Terima kasih om, mudah-mudahan selalu diberi rizki yang lancar dan melimpah, sehat dan selamat di perjalanan”. Ada juga tukang parkir yang mematok harga. Model terakhir ini yang kadang emosi seperti mau “tantrum”. Sudah mematok harga, pelayanan nya sangat “mblegedes”.

Kisah tukang parkir sebenarnya sedikit dari gambaran watak manusia yang sangat beragam. Manusia bukan paduan suara. Tidak mungkin semua mengeluarkan nada “DO”, pasti ada yang berbunyi “RE”, “MI” dan seterusnya. Selalu saja manusia mempunyai “watak bawaan lahir” yang dominan pada dirinya yang mempunyai kekhasan berbeda dari yang lain. Itu sebabnya ketika berbicara tentang persoalan tersebut dan juga persoalan yang mengitarinya seperti persoalan harta, jabatan, pendidikan dan sejenisnya, maka “ojo dibanding-bandingke” dengan orang lain.

Islam mensifati keberagaman sebagai sunatullah, tetapi sebagai bentuk rekayasa kreasi manusia, Allah memberi jalan yang sangat baik yaitu “lita’arafu”,Ta’aruf. Anak-anak muda Islami sekarang sering menggunakan ta’aruf. Yang kurang Islami memakai kata “pacaran”. Outpunya beti [beda-beda tipis]. Ta’aruf tapi kadang berperilaku tidak Islam, yang pacaran ternyata bisa menjaga martabat dirinya.

Ada perbedaan antara ta’aruf dengan kalimat “dibanding-bandingke”. Ta’aruf bersifat obyektif.  Sedangkan yang satunya lagi[sifat suka membandingkan] bersifat subyektif dan pesimistis. Sering diskusi tanpa solusi.

Meskipun pada proses ta’aruf terhadap beragam budaya, suku, teknologi dan ilmu pengetahuan tetap melahirkan klasifikasi dari segi kemanfaatan dan urgensi nya sehingga mengambil sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya atau untuk bangsa dan negaranya. Jadi tidak semua yang datang dari barat dianggap jelek dan yang datang dari timur dianggap baik. Proses ta’arufisasi adalah proses kodronafsih atau proses tahu diri. Bahwa kita membutuhkan modernisasi memang betul. Saya setuju. Tapi kita juga membutuhkan nilai-nilai budaya bangsa ini yang positif, yang adiluhung tetap dijaga dan tetap terpatri di hati sanubari bangsa Indonesia. Negara maju seperti Jepang sangat luarbiasa. Tapi identitas diri sebagai pewaris budaya sangat kental. Ia mampu memadukan modernisasi dan budaya berjalan bersama.

Kelihatannya sebagaian generasi muda dan juga generasi tua bangsa Indonesia lebih suka membanding-bandingkan dengan bangsa lain atau negara lain. Orang tua yang mempunyai anak banyak lalu punya menantu banyak suka membanding-bandingkan satu dengan yang lain. Laksana Drama Indonesiar. Menantu sukses disanjung luarbiasa, menantu belum sukses dihina tanpa jeda. Apakah ini pengaruh budaya studi banding?.

Hari ini bangsa-bangsa yang sering dipuji-puji, dipuja-puja sebagai bangsa yang sudah mapan, modern dan makmur tentu saja berangkat dari seluruh komponen yang sama-sama berjibaku satu visi, satu misi mewujudkan model negara dan bangsa yang mereka inginkan. Kita sering melihat pada penampilan, tidak melihat seberapa sengsara bangsa dan negara tersebut untuk mewujudkan negara yang maju seperti saat sekarang ini.

Saya kira penulis harus belajar dari obyektifitas bangsa AS. Saat kota Los Angeles terbakar habis-habisan, bangsa AS serentak mengatakan “Save Los Angeles!”. Benar kerugian sangat besar. tapi kebersamaan mereka untuk menyelamatkan kota tersebut jauh lebih besar dari kerugiannya yang mereka tanggung. Saya kira belajar dari hal-hal positif dari negara manapun sangat baik, dan meninggalkan hal-hal yang negatif.

Satu lagi Jepang. Negara yang paling sering hancur akibat gempa. Sama hancurnya seperti saat terkena Bom Hirosima dan Nagasaki. Semua warga bersatu, berjibaku,memperbaiki kerusakan dan membangun kembali bangsa dan negara yang modern seperti yang kita lihat saat sekarang ini.

Hari ini sebagian saudara kita sedang mengalami kesusahan. Sulit mencari pekerjaan atau mempunyai pekerjaan dengan gaji tidak seberapa. Ada sebagian saudara kita yang panas melihat gaji negara lain jauh lebih besar dari bangsa ini. Lalu ia mencoba membanding-bandingkan besaran gaji tersebut. seolah-olah tenaga manusia Indonesia tidak ada harganya sama sekali. kita menghujat kepada siapapun yang dianggap bersalah.

Penulis tidak bisa menyalahkan perilaku orang-orang tersebut. kesedihan memang harus diluapan agar suatu saat hati menjadi plong, pikiran menjadi tenang sehingga bisa menerima kebaikan dan masukan-masukan  konstruktif.

Jika kita saat ini begitu iri dengan gaji negara lain yang besar, apakah kita tidak pernah menyadari tentang etos kerja mereka, kebersamaan mereka dan siap menderita bersama-sama untuk mencapai kesukesan bersama?. Saya kira, mereka mempunyai pondasi kebersamaan yang sangat kuat untuk naju bersama-sama. Dari sini, saya kira perlu melakukan ta’aruf terhadap bangsa-bangsa yang sudah maju, kira-kira vitamin apa yang menyebabkan mereka bisa maju dan bisa diadopsi di negeri ini dengan tetap tidak ketinggalan identitas sebagai bangsa Indonesia yang agung.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872