
Setelah selesai sholat jum’at, saya wiridan
sebentar. Lalu keluar masjid menuju mobil. Saya belum berani membawa mobil. Sebenarnya
sudah mulai sembuh dari penyakit kliyengan. Sudah lebih satu minggu mobil
dinas diparkir di belakang gendung SBSN. Masih malas nyupir. Jadi siang ini saya
dan Mas Jarir disupiri oleh Mas Chanifudin.
Selesai sholat langsung tancap ke warung. Beli
sayur untuk persiapan sahur nanti malam. Sekaligus beli Susu Beruang. Merk susu
yang paling aneh, merk Susu Beruang, iklan Naga Putih dari Cina, isinya Susu
Sapi. Sama anehnya dengan penyakitku, sudah beberapa dokter belum juga cocok. Ternyata
Susu Beruang cocok. Entah susu lain, saya belum mencoba dan tidak mau
membelinya.
Di depan Warung Cina yang cukup besar itu,
saya melihat ada dua tukang parkir; bapak-bapak dan ibu-ibu. Sang bapak bagian mobil,
sang ibu bagian kendaraan roda dua. Pernah saya bawa mobil dan belanja di malam
hari, saat sang bapak tidak ada saya membayar kepada sang ibu tadi. Apa yang
terjadi. Ia tak mau dibayar. Sebab parkir mobil bukan bagiannya. Ketika saya
paksa pun, ia tetap tidak mau. Ia tetap bersikukuh bahwa ia hanya menerima uang
dari parkir roda dua.
Peristiwa tersebut memang tidak bisa
digeneralisir kepada seluruh tukang parkir. Ada tukang parkir yang murah
senyum. Ketika saya datang, ia senyum dan menghormati ku. Dikasih uang atau
tidak dikasih uang, tetap juga tersenyum. mungkin perilaku sopan nya sudah “gawan
bayi”. Ada tukang parkir selalu saja memberi hadiah doa. Setelah saya kasih
duit, biasanya doa yang diberikan kepada ku kurang lebih begini: “ Terima kasih
om, mudah-mudahan selalu diberi rizki yang lancar dan melimpah, sehat dan
selamat di perjalanan”. Ada juga tukang parkir yang mematok harga. Model terakhir
ini yang kadang emosi seperti mau “tantrum”. Sudah mematok harga,
pelayanan nya sangat “mblegedes”.
Kisah tukang parkir sebenarnya sedikit dari
gambaran watak manusia yang sangat beragam. Manusia bukan paduan suara. Tidak mungkin
semua mengeluarkan nada “DO”, pasti ada yang berbunyi “RE”, “MI” dan
seterusnya. Selalu saja manusia mempunyai “watak bawaan lahir” yang dominan
pada dirinya yang mempunyai kekhasan berbeda dari yang lain. Itu sebabnya
ketika berbicara tentang persoalan tersebut dan juga persoalan yang
mengitarinya seperti persoalan harta, jabatan, pendidikan dan sejenisnya, maka “ojo
dibanding-bandingke” dengan orang lain.
Islam mensifati keberagaman sebagai
sunatullah, tetapi sebagai bentuk rekayasa kreasi manusia, Allah memberi jalan
yang sangat baik yaitu “lita’arafu”,Ta’aruf. Anak-anak muda Islami sekarang
sering menggunakan ta’aruf. Yang kurang Islami memakai kata “pacaran”.
Outpunya beti [beda-beda tipis]. Ta’aruf tapi kadang berperilaku
tidak Islam, yang pacaran ternyata bisa menjaga martabat dirinya.
Ada perbedaan antara ta’aruf dengan kalimat
“dibanding-bandingke”. Ta’aruf bersifat obyektif. Sedangkan yang satunya lagi[sifat suka membandingkan]
bersifat subyektif dan pesimistis. Sering diskusi tanpa solusi.
Meskipun pada proses ta’aruf terhadap
beragam budaya, suku, teknologi dan ilmu pengetahuan tetap melahirkan
klasifikasi dari segi kemanfaatan dan urgensi nya sehingga mengambil sesuatu
yang bermanfaat untuk dirinya atau untuk bangsa dan negaranya. Jadi tidak semua
yang datang dari barat dianggap jelek dan yang datang dari timur dianggap baik.
Proses ta’arufisasi adalah proses kodronafsih atau proses tahu diri. Bahwa kita
membutuhkan modernisasi memang betul. Saya setuju. Tapi kita juga membutuhkan
nilai-nilai budaya bangsa ini yang positif, yang adiluhung tetap dijaga
dan tetap terpatri di hati sanubari bangsa Indonesia. Negara maju seperti Jepang
sangat luarbiasa. Tapi identitas diri sebagai pewaris budaya sangat kental. Ia mampu
memadukan modernisasi dan budaya berjalan bersama.
Kelihatannya sebagaian generasi muda dan
juga generasi tua bangsa Indonesia lebih suka membanding-bandingkan dengan
bangsa lain atau negara lain. Orang tua yang mempunyai anak banyak lalu punya menantu
banyak suka membanding-bandingkan satu dengan yang lain. Laksana Drama
Indonesiar. Menantu sukses disanjung luarbiasa, menantu belum sukses dihina
tanpa jeda. Apakah ini pengaruh budaya studi banding?.
Hari ini bangsa-bangsa yang sering
dipuji-puji, dipuja-puja sebagai bangsa yang sudah mapan, modern dan makmur tentu
saja berangkat dari seluruh komponen yang sama-sama berjibaku satu visi, satu
misi mewujudkan model negara dan bangsa yang mereka inginkan. Kita sering
melihat pada penampilan, tidak melihat seberapa sengsara bangsa dan negara
tersebut untuk mewujudkan negara yang maju seperti saat sekarang ini.
Saya kira penulis harus belajar dari
obyektifitas bangsa AS. Saat kota Los Angeles terbakar habis-habisan, bangsa AS
serentak mengatakan “Save Los Angeles!”. Benar kerugian sangat besar. tapi
kebersamaan mereka untuk menyelamatkan kota tersebut jauh lebih besar dari
kerugiannya yang mereka tanggung. Saya kira belajar dari hal-hal positif dari
negara manapun sangat baik, dan meninggalkan hal-hal yang negatif.
Satu lagi Jepang. Negara yang paling sering
hancur akibat gempa. Sama hancurnya seperti saat terkena Bom Hirosima dan Nagasaki.
Semua warga bersatu, berjibaku,memperbaiki kerusakan dan membangun kembali bangsa
dan negara yang modern seperti yang kita lihat saat sekarang ini.
Hari ini sebagian saudara kita sedang
mengalami kesusahan. Sulit mencari pekerjaan atau mempunyai pekerjaan dengan
gaji tidak seberapa. Ada sebagian saudara kita yang panas melihat gaji negara
lain jauh lebih besar dari bangsa ini. Lalu ia mencoba membanding-bandingkan
besaran gaji tersebut. seolah-olah tenaga manusia Indonesia tidak ada harganya
sama sekali. kita menghujat kepada siapapun yang dianggap bersalah.
Penulis tidak bisa menyalahkan perilaku
orang-orang tersebut. kesedihan memang harus diluapan agar suatu saat hati
menjadi plong, pikiran menjadi tenang sehingga bisa menerima kebaikan dan
masukan-masukan konstruktif.
Jika kita saat ini begitu iri dengan gaji
negara lain yang besar, apakah kita tidak pernah menyadari tentang etos kerja
mereka, kebersamaan mereka dan siap menderita bersama-sama untuk mencapai
kesukesan bersama?. Saya kira, mereka mempunyai pondasi kebersamaan yang sangat
kuat untuk naju bersama-sama. Dari sini, saya kira perlu melakukan ta’aruf terhadap
bangsa-bangsa yang sudah maju, kira-kira vitamin apa yang menyebabkan mereka
bisa maju dan bisa diadopsi di negeri ini dengan tetap tidak ketinggalan
identitas sebagai bangsa Indonesia yang agung.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872