Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ujian Keikhlasan Prabowo dan Gus Dur



Senin , 21 Oktober 2024



Telah dibaca :  410

Pertama-tama saya mengucapkan selamat mengemban amanah menjadi presiden dan wakil presiden  kepada bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Semoga Indonesia semakin maju, sejahtera dan bermartabat.

Pemilihan presiden terjadi setiap lima tahun sekali. Konstitusi telah mengaturnya. Terpilih Prabowo menjadi presiden sama hebohnya saat terpilih Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden. Jika Gus Dur terpilih karena oleh sebagian pengagumnya sebagai bagian dari kedudukannya sebagai wali, sedangkan Prabowo terpilih melalui proses konstestasi pilpres berkali-kali.

Jika Gus Dur berlatar belakang santri. Sifat sangat dominan adalah Ikhlas, sumeleh dan hidup apa adanya (sederhana). Bayangkan saja, saat dirinya menjabat menjadi presiden dan gerakan politik “utak-utik” jabatannya, ia malah tidur. Jabatan presiden “rasa-rasanya” (saya menilai) seperti ketua peringatan tujuh belas agustusan. Ini resiko wali. Semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ia enjoy saja saat MPR mengeluarkan senjata pamungkas berupa “impeachment” kepadanya. Gus Dur menjawab simpel “gitu aja kok repot”.

Prabowo bukan Gus Dur. Meskipun branding nya ada kesamaan yaitu sama-sama mempunyai branding ikhlas. Saat wawancara Gus Dur di TV One dan saat ditanya calon presiden saat itu, Gus Dur menjawab; “Prabowo adalah orang yang paling ikhlas”. Ucapannya saat itu dianggap sebagai bentuk dukungan. Jadi, antara Prabowo dan Gus Dur ada kesamaan dan perbedaannya. Persamaannya yaitu sama-sama ikhlas, perbedaannya Gus Dur merupakan sosok ulama lahir dari santri dan Prabowo prajurit yang cinta santri. Saking cintanya kepada santri, ia pernah mijit-mijit Gus Dur. Dikalangan pesantren, ketika sudah menjadi tukang pijat “kyai” atau “ulama”, itu seperti sudah mendapatkan legitimasi keberkahan. Sama seperti santri disuruh menjadi “Tukang Masak”. Ada keberkahan hidup. Dan keberkahan Prabowo bisa jadi saat sekarang ini yaitu  menjadi presiden RI ke-8.

Penulis mencoba meneropong ke-ikhlasan kedua tokoh tersebut. pertama persoalan keikhlasan Gus Dur. Penulis bisa menilai kualitas keikhlasannya melalui tulisan-tulisannya yang tersebar di Media Massa. Kini tulisan tersebut sudah dikumpulkan menjadi buku pada penerbit Kompas, Nuansa dan lain-lain. Beberapa tulisan yang telah dikaji ulang oleh para ilmuwan dan penulis senior sudah sebagian saya baca. Saya menemukan ada kekuatan ruhaniah saat ia menuangkan ide-ide sosial kemasyarakatan yang menjadi ide-ide besarnya. Tulisan mengalir seperti mata air kehidupan. Semua orang lintas agama, etnis, suku dan budaya merasa sejuk dan menikmatinya dengan penuh keagungan. Kedua, kebiasaan tidur di pesantren dan di rumah sahabat-sahabatnya saat ia sudah besar menjadi tokoh nasional. Saat ia sudah menjadi ketua PBNU. Makan apa ada nya. Kadang hanya nasi putih dan tempe goreng. Kadang juga ngobrol dengan tokoh-tokoh nasional dengan camilan “kacang tanah rebus”, menjadi pemandangan langka bagi tokoh nasional sekelas beliau. Ia benar-benar menjadi antitesa tokoh nasional yang terkesan elitis saat itu. Gus Dur sangat membumi dan merakyat. Ia benar-benar menyatu dengan urat nadi penderitaan rakyat Indonesia. Ketiga, berkaitan dengan politik antara Gus Dur dan Soeharto (mertuanya Prabowo) mempunyai pandangan yang berbeda. Bahkan dalam beberapa tulisan Gus Dur, ia mendapatkan intervensi politik dari Orde Baru yang mengancam keselamatannya. Gus Dur menilainya merupakan suatu kewajaran. Ia menyakini sikap Orde Baru karena politik, bukan karena pribadinya Soeharto. Sebab ia menyakini bahwa Soeharto sebagaimana pemimpian lainnya adalah manusia yang mempunyai rasa kemanusiaan dan tidak mungkin mempunyai dendam terhadap nya. Itu sebabnya, ia senantiasa menjaga silaturahim dengannya. Hampir setiap Idul Fitri, Gus Dur senantiasa datang ke rumah Soeharto. Bahkan ketika ia lengser keprabon, Gus Dur terus menjalin silaturahim sangat baik dengan keluarganya, dengan anak-anaknya, termasuk juga dengan menantunya. Salah satunya yaitu Prabowo Subianto.

Fakta-fakta tersebut merupakan pelajaran yang agung bahwa Gus Dur senantiasa mengutamakan nilai kemanusiaan dalam membangun politik dengan siapapun termasuk dengan tokoh-tokoh yang dianggap rivalnya. Sebab baginya politik tertinggi bukan kekuasaan semata tetapi menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Berkaitan dengan keikhlasan Prabowo subianto. Pasca reformasi saya masih sering mencari buku-buku biografi. Dua buku yang saya beli selain biografi Gus Dur yaitu buku Prabowo Subianto dan Habibie. Kedua buku tersebut masih tersimpan dengan baik di rumah ku. Saya telah membaca riwayat Habibie yang cerdas sejak kecil, hingga ada ungkapan dibuku tersebut yang masih saya ingat” jika toh ada buku di belakang pintu, Habibie bisa membacanya”. Saya juga membaca biografi Prabowo dari kecil sebagai anak seorang begawan ekonomi dan saat ia mempertahankan jiwanya untuk tegaknya NKRI.

Sebagai seorang penggemar buku politik saat itu, Prabowo pada tahun 2000-an sangat menginspirasi sekali anak-anak muda di kalangan nahdiyin. Ia menjadi pilihan politik hingga kini. Bahkan salah satu mantu dari Gus Dur, Dhofir Farizi menjadi anggota Dewan Gerindra dan termasuk tim TKN pemenangan Prabowo-Gibran.

Tentu saja mendeskripsikan suatu keikhlasan sangat sulit. Sebab ia bagian dari perilaku hati. Kegigihan memperjuangkan partai politik melalui Gerindra merupakan suatu bukti kekuatan jiwa perjuangan politik nya. Banyak tokoh yang mendirikan partai politik. Ada yang layu sebelum berkembang. Ada yang hidup dan kemudian mati suri. Prabowo telah mengantarkan Partai Gerinda menjadi partai politik papan atas mengalahkan partai-partai politik yang usianya jauh lebih tua.

Isu-isu yang sering menerpa dirinya sangat menyakitkan hati. Ia harus tegar melawan tuduhan pelanggaran HAM dan tuduhan-tuduhan keluarga Soeharto dalam suasana yang sangat panas ketika itu. Penulis sebagai orang luar dan masyarakat biasa harus menerima dua sumber berbeda. Pusaran politik kelompok orde baru pasca reformasi lepas bagai air bah. Sangat sulit dibendung dan sangat sulit untuk memutuskan kebenaran dari sumber beragam.

Tentu yang tidak kalah spektakuler, ia tetap tenang saat ada cibiran-cibiran dari rival politiknya ketika setiap musim kertas suara dalam konterstasi pilpres selalu ada gambarnya. Tetap tabah setabah saat proses demokrasi selalu mendapat serangan dari lawan dan kawan-kawannya dulu saat masih sama-sama bagian orde baru. Wajahnya tidak berubah. Tenang, sabar dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah swt. Meskipun jiwa tentara muncul dan menimbulkan emosi meluap-luap. Tapi ajaran orang tua dan filsafat Jawa serta kedekatan dengan para ulama (kebetulan sering silaturahim ke pesantren-pesantren) telah mendidik dirinya untuk siap menerima resiko dalam setiap perjuangan, termasuk dalam perjuangan politiknya.

Kini perjuangan panjang yang sangat melelahkan telah berada digenggamannya. Keikhlasan Prabowo akan diuji sebagaimana keikhlasan Gus Dur saat menjadi presiden. Ia harus menghadapi realita politik yang kadang setipis kertas tisu. Saya percaya, jalur perjuangan di masa tua nya akan tetap terpatri dalam hati. Saya menyakini ketulusan nya menjadikan bangsa dan negara Indonesia makmur dan sejahtera. Ada modal yang besar dimiliki olehnya, politik dan ketajaman analisisnya sebagai seorang tentara yang hidupnya selalu berada di medan pertempuran. Sekali lagi selamat dan sukses. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875