
Pertama-tama saya mengucapkan selamat
mengemban amanah menjadi presiden dan wakil presiden kepada bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming
Raka. Semoga Indonesia semakin maju, sejahtera dan bermartabat.
Pemilihan presiden terjadi setiap lima
tahun sekali. Konstitusi telah mengaturnya. Terpilih Prabowo menjadi presiden
sama hebohnya saat terpilih Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden. Jika
Gus Dur terpilih karena oleh sebagian pengagumnya sebagai bagian dari
kedudukannya sebagai wali, sedangkan Prabowo terpilih melalui proses
konstestasi pilpres berkali-kali.
Jika Gus Dur berlatar belakang santri. Sifat
sangat dominan adalah Ikhlas, sumeleh dan hidup apa adanya (sederhana). Bayangkan
saja, saat dirinya menjabat menjadi presiden dan gerakan politik “utak-utik”
jabatannya, ia malah tidur. Jabatan presiden “rasa-rasanya” (saya menilai)
seperti ketua peringatan tujuh belas agustusan. Ini resiko wali. Semua dari Allah
dan akan kembali kepada-Nya. Ia enjoy saja saat MPR mengeluarkan senjata
pamungkas berupa “impeachment” kepadanya. Gus Dur menjawab simpel “gitu
aja kok repot”.
Prabowo bukan Gus Dur. Meskipun branding
nya ada kesamaan yaitu sama-sama mempunyai branding ikhlas. Saat wawancara Gus
Dur di TV One dan saat ditanya calon presiden saat itu, Gus Dur menjawab; “Prabowo
adalah orang yang paling ikhlas”. Ucapannya saat itu dianggap sebagai
bentuk dukungan. Jadi, antara Prabowo dan Gus Dur ada kesamaan dan
perbedaannya. Persamaannya yaitu sama-sama ikhlas, perbedaannya Gus Dur merupakan
sosok ulama lahir dari santri dan Prabowo prajurit yang cinta santri. Saking
cintanya kepada santri, ia pernah mijit-mijit Gus Dur. Dikalangan pesantren,
ketika sudah menjadi tukang pijat “kyai” atau “ulama”, itu seperti sudah
mendapatkan legitimasi keberkahan. Sama seperti santri disuruh menjadi “Tukang
Masak”. Ada keberkahan hidup. Dan keberkahan Prabowo bisa jadi saat sekarang
ini yaitu menjadi presiden RI ke-8.
Penulis mencoba meneropong ke-ikhlasan
kedua tokoh tersebut. pertama persoalan keikhlasan Gus Dur. Penulis bisa
menilai kualitas keikhlasannya melalui tulisan-tulisannya yang tersebar di Media
Massa. Kini tulisan tersebut sudah dikumpulkan menjadi buku pada penerbit
Kompas, Nuansa dan lain-lain. Beberapa tulisan yang telah dikaji ulang oleh
para ilmuwan dan penulis senior sudah sebagian saya baca. Saya menemukan ada
kekuatan ruhaniah saat ia menuangkan ide-ide sosial kemasyarakatan yang menjadi
ide-ide besarnya. Tulisan mengalir seperti mata air kehidupan. Semua orang
lintas agama, etnis, suku dan budaya merasa sejuk dan menikmatinya dengan penuh
keagungan. Kedua, kebiasaan tidur di pesantren dan di rumah sahabat-sahabatnya
saat ia sudah besar menjadi tokoh nasional. Saat ia sudah menjadi ketua PBNU. Makan
apa ada nya. Kadang hanya nasi putih dan tempe goreng. Kadang juga ngobrol
dengan tokoh-tokoh nasional dengan camilan “kacang tanah rebus”, menjadi
pemandangan langka bagi tokoh nasional sekelas beliau. Ia benar-benar menjadi
antitesa tokoh nasional yang terkesan elitis saat itu. Gus Dur sangat membumi
dan merakyat. Ia benar-benar menyatu dengan urat nadi penderitaan rakyat
Indonesia. Ketiga, berkaitan dengan politik antara Gus Dur dan Soeharto (mertuanya
Prabowo) mempunyai pandangan yang berbeda. Bahkan dalam beberapa tulisan Gus
Dur, ia mendapatkan intervensi politik dari Orde Baru yang mengancam
keselamatannya. Gus Dur menilainya merupakan suatu kewajaran. Ia menyakini
sikap Orde Baru karena politik, bukan karena pribadinya Soeharto. Sebab ia
menyakini bahwa Soeharto sebagaimana pemimpian lainnya adalah manusia yang
mempunyai rasa kemanusiaan dan tidak mungkin mempunyai dendam terhadap nya. Itu
sebabnya, ia senantiasa menjaga silaturahim dengannya. Hampir setiap Idul
Fitri, Gus Dur senantiasa datang ke rumah Soeharto. Bahkan ketika ia lengser
keprabon, Gus Dur terus menjalin silaturahim sangat baik dengan keluarganya,
dengan anak-anaknya, termasuk juga dengan menantunya. Salah satunya yaitu Prabowo
Subianto.
Fakta-fakta tersebut merupakan pelajaran yang
agung bahwa Gus Dur senantiasa mengutamakan nilai kemanusiaan dalam membangun
politik dengan siapapun termasuk dengan tokoh-tokoh yang dianggap rivalnya. Sebab
baginya politik tertinggi bukan kekuasaan semata tetapi menjaga nilai-nilai
kemanusiaan.
Berkaitan dengan keikhlasan Prabowo subianto.
Pasca reformasi saya masih sering mencari buku-buku biografi. Dua buku yang
saya beli selain biografi Gus Dur yaitu buku Prabowo Subianto dan Habibie. Kedua
buku tersebut masih tersimpan dengan baik di rumah ku. Saya telah membaca riwayat
Habibie yang cerdas sejak kecil, hingga ada ungkapan dibuku tersebut yang masih
saya ingat” jika toh ada buku di belakang pintu, Habibie bisa membacanya”. Saya
juga membaca biografi Prabowo dari kecil sebagai anak seorang begawan ekonomi
dan saat ia mempertahankan jiwanya untuk tegaknya NKRI.
Sebagai seorang penggemar buku politik saat
itu, Prabowo pada tahun 2000-an sangat menginspirasi sekali anak-anak muda di
kalangan nahdiyin. Ia menjadi pilihan politik hingga kini. Bahkan salah satu
mantu dari Gus Dur, Dhofir Farizi menjadi anggota Dewan Gerindra dan termasuk
tim TKN pemenangan Prabowo-Gibran.
Tentu saja mendeskripsikan suatu keikhlasan
sangat sulit. Sebab ia bagian dari perilaku hati. Kegigihan memperjuangkan
partai politik melalui Gerindra merupakan suatu bukti kekuatan jiwa perjuangan
politik nya. Banyak tokoh yang mendirikan partai politik. Ada yang layu sebelum
berkembang. Ada yang hidup dan kemudian mati suri. Prabowo telah mengantarkan Partai
Gerinda menjadi partai politik papan atas mengalahkan partai-partai politik
yang usianya jauh lebih tua.
Isu-isu yang sering menerpa dirinya sangat
menyakitkan hati. Ia harus tegar melawan tuduhan pelanggaran HAM dan tuduhan-tuduhan
keluarga Soeharto dalam suasana yang sangat panas ketika itu. Penulis sebagai
orang luar dan masyarakat biasa harus menerima dua sumber berbeda. Pusaran politik
kelompok orde baru pasca reformasi lepas bagai air bah. Sangat sulit dibendung
dan sangat sulit untuk memutuskan kebenaran dari sumber beragam.
Tentu yang tidak kalah spektakuler, ia
tetap tenang saat ada cibiran-cibiran dari rival politiknya ketika setiap musim
kertas suara dalam konterstasi pilpres selalu ada gambarnya. Tetap tabah
setabah saat proses demokrasi selalu mendapat serangan dari lawan dan kawan-kawannya
dulu saat masih sama-sama bagian orde baru. Wajahnya tidak berubah. Tenang,
sabar dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah swt. Meskipun jiwa tentara
muncul dan menimbulkan emosi meluap-luap. Tapi ajaran orang tua dan filsafat Jawa
serta kedekatan dengan para ulama (kebetulan sering silaturahim ke
pesantren-pesantren) telah mendidik dirinya untuk siap menerima resiko dalam
setiap perjuangan, termasuk dalam perjuangan politiknya.
Kini perjuangan panjang yang sangat
melelahkan telah berada digenggamannya. Keikhlasan Prabowo akan diuji
sebagaimana keikhlasan Gus Dur saat menjadi presiden. Ia harus menghadapi
realita politik yang kadang setipis kertas tisu. Saya percaya, jalur perjuangan
di masa tua nya akan tetap terpatri dalam hati. Saya menyakini ketulusan nya
menjadikan bangsa dan negara Indonesia makmur dan sejahtera. Ada modal yang
besar dimiliki olehnya, politik dan ketajaman analisisnya sebagai seorang
tentara yang hidupnya selalu berada di medan pertempuran. Sekali lagi selamat
dan sukses.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875