
Entah siapa yang mengatakan. Namun sangat
menyentuh hati. Kalimatnya kurang lebih begini:
“Saya berdoa kepada Allah agar diberi
kekayaan, tapi ia justru memberikan kepada ku segala kesulitan, cobaan, penderitaan,
dan ejekan. Sehingga aku sadar bahwa sebenarnya Tuhan sedang mendidik diriku
untuk menjadi orang yang kuat, kokoh, tabah dan pantang menyerah agar aku
menjadi orang yang kaya raya. Setelah melewati ejekan, penderitaan dan ujian
bertahun-tahun, Saya telah merasakan bahwa doa ku dikabulkan oleh Allah swt”.
Umat Nabi memandang segala persoalan hidup
terdiri dari dua kelompok; pesimisme dan optimisme.
Kelompok pesimisme selalu mencari kambing
hitam. Mudah sekali menyalahkan. Setiap kejadian selalu dialamatkan kepada
orang yang dibencinya. Apapun kejadiannya. Seolah-olah dirinya sendiri tidak
pernah salah, orang lain salah. Kaum pesimisme sering terjebak sangat egoisme. Semua
terjadi karena ada rasa benci yang bersarang di dalam hati.
Contoh kecil saat suami-istri bertengkar,
orang tua dan anak berselisih paham, maka kedua belah pihak saling menyalahkan.
Masing-masing merasa paling benar.
Suami selalu menyalahkan istrinya karena
selalu berani dan melawan kehendaknya. Tidak taat terhadap suami. Istri tidak
terima. Ia pun beragumen bahwa selama ini suaminya menyia-nyiakan hidupnya. Akhirnya,
terjadilah perkelahian.
Orang tua pun demikian, ia menganggap
anak-anaknya berani kepada orang tua, durhaka dan selalu melawan apa yang
diperintah oleh nya. Anak-anak tidak terima. Mereka menganggap bahwa orang tua
selalu otoriter, menang sendiri dan merasa paling hebat pendapatnya. Akhirnya,
anak-anakpun tidak nyaman dan tidak bisa menyampaikan pendapat atau
gagasan-gagasan kepada orang tuanya.
Kaum pesimisme selalu melihat bahwa
persoalan penderitaan adalah kesalahan orang lain, bukan dari diri sendiri. Karir
hancur karena orang lain. Bisnis hancur karena orang lain. Bahkan bencana
datang juga karena orang lain. Semua persoalan dilimpahkan kepada orang lain. Dirinya
merasa paling bersih, paling benar dan paling tidak berdosa dan paling bisa
menyelesaikan masalah. Tapi kemampuannya hanya dalam alam imajinasi. Khayalan belaka.
Kaum pesimisme selalu melihat Tuhan kadang
sebagai pembela penderitaan. Jika ada fenomena alam berupa banjir, angin puting
beliung, kemelaratan, kekeringan, dan sejenisnya maka langsung ia mengatakan; “Adzab
Allah telah turun kepada orang-orang dzalim”. Jadi menempatkan orang lain
sebagai kelompok dzalim, sedangkan dirinya ditempatkan sebagai orang yang dekat
dengan-nya.
Ketika kaum pesimisme sudah tertimpa persoalan
kronis dan mulai ada keraguan terhadap keimanan, maka ia akan meratapi nya
dengan sangat negatif;,”Tuhan ku, kenapa kami dibiarkan menderita. Kenapa kami
yang selalu menyembah-Mu malah seperti ini nasibnya, miskin, terbelakang dan tertindas.
Tidakkah kamu melihat kami?!!”.
Jadi terkadang Tuhan pun jadi sasaran
kemarahan kaum pesimisme. Seolah-olah Tuhan bersikap tidak adil terhadap
kenyataan hidup.
Bagaimana dengan kaum optimisme? Apakah Tuhan
selalu menjadi sasaran segala kegagalan, apakah segala rintangan sebagai sasaran
untuk menjatuhkan orang lain?. Tidak. Tidak sama sekali.
Kaum optimisme memandang Tuhan dan umatnya dengan
pandangan penuh cinta dan kasih sayang. Ketika
tuhan menghadirkan bencana dan segala musibah, ia pun langsung interopeksi diri
dan berkata:
“Tuhan telah mengajarkan kepadaku untuk
senantiasa sabar dan selalu ikhtiar memperbaiki ibadah dan ikhtiar memperbaiki
sistem kehidupan agar semakin baik”.
Ketika kaum optimisme mendapatkan penderitaan
seperti kemiskinan dan keterbelakangan, maka ia cepat-cepat mengatakan kepada
diri sendiri:
“Tuhan telah memberiku akal pikiran dan
kekuatan tubuh untuk senantiasa memperbaiki etos kerja, ilmu pengetahuan, dan
segala ikhtiar untuk terus berusaha semaksimal mungkin agar kemiskinan dan
keterbelakangan ilmu pengetahuan bisa diselesaikan dengan baik”.
Kaum optimisme saat melihat segala
kekuarangan yang ada pada dirinya, yang keluar dari mulutnya ada rasa syukur kepada
Allah swt. Berikut ini kisah dari seorang motivator mendapat julukan manusia
tanpa tangan dan kaki Vck Vujicic, ia mengatakan begini:
“Saat masih remaja, saya ingin sekali bunuh
diri. Semua orang mengejeku. Saya adalah manusia yang tidak punya tangan dan
kaki. Tuhan tidak adil. Saat teman-teman ku punya tangan dan kaki, sedangkan
saya harus di antar ke sekolah di gendong dan di taruh di kursi. Sudah beberapa
kali saya mencoba bunuh diri, masuk ke dalam bak mandi supaya tenggelam atau
mencari tali agar bisa bunuh diri, tapi selalu gagal.”
“Akhirnya saya menyadari, Tuhan bukan tidak
adil. Tapi Tuhan memberi kelebihan kepada ku. Saya memang tidak punya tangan
dan kaki, tapi saya mempunyai Tuhan yang memberiku akal. Melalui kesempurnaan
tersebut saya terus belajar dan memberi manfaat kepada orang lain. Sekarang, saya
menjadi pembicara di tengah-tengah ribuan bahkan jutaan manusia sempurna yang
punya tangan dan kaki. Sekarang saya merasa lebih sempurna dari mereka meskipun
tidak punya tangan dan kaki”.
Kita punya cerita yang berbeda tentang
persoalan hidup, karir atau pasangan hidup. Saya tidak mempersoalkan semua itu.
Tuhan telah memberi garis kehidupan yang beragam.
Yang perlu diingat dalam tulisan ini yaitu
saat kita mengejek orang lain, mencaci maki orang lain atau bahkan menghina
orang lain atas nama apapun, maka saat itu kita sedang melepaskan “energi
kekuatan” yang sangat besar dan ditransfer kepada “orang-orang yang kita
hina” saat sekarang ini. Saat kita sibuk menghina orang lain, saat bersamaan
orang yang kita hina mempunyai limpahan energi dari kita dan orang-orang dianggap
remeh akan bangkit menjadi kekuatan baru dan mencapai kesuksesan tanpa kita
sangka-sangka. Kita akan terkaget-kaget dan kemudian kita pun bertambah
menderita.
Sebagai penutup tulisan ini, hemat penulis lihatlah
segala kejadian di dunia sebagai wujud kasih sayang Allah, bahwa Sang Maha
Kuasa sedang mengajari kepada kita untuk selalu berbuat terbaik kepada siapapun
melalui ucapan, pikiran dan perbuatan-perbuatan yang telah dititipkan oleh-Nya
kepada kita. Tuhan mendatangkan segala kekurangan agar kita berusaha untuk
memperbaiki kekurangan tersebut semakin menjadi baik. Kita tidak bisa sempurna.
Sebab dunia tidak ada kesempurnaan. Kita hanya diberi kesempatan untuk berusaha
merubah diri kita menjadi lebih baik.
Tuhan memang mendatangkan segala
peringatan, tapi peringatan tersebut bukan untuk menjustifikasi bahwa Tuhan
sedang membela kita dan orang lain sedang dihukum oleh-Nya. Belajar melihat
bahwa yang bermasalah adalah diri sendiri bukan orang lain. Gunakan seluruh
potensi untuk memperbaiki diri dan saat anda berhasil, maka saat itu janji Tuhan
telah datang tanpa harus menghina orang lain. Orang yang selalu memperbaiki
diri adalah orang yang punya potensi memberi manfaat kepada orang lain. Dan sebaik-baik
orang dalam pandangan Islam yaitu yang selalu memberi manfaat kepada orang
lain.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875