Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Umat Nabi antara Optimisme dan Pesimisme



Rabu , 18 September 2024



Telah dibaca :  610

Entah siapa yang mengatakan. Namun sangat menyentuh hati. Kalimatnya kurang lebih begini:

“Saya berdoa kepada Allah agar diberi kekayaan, tapi ia justru memberikan kepada ku segala kesulitan, cobaan, penderitaan, dan ejekan. Sehingga aku sadar bahwa sebenarnya Tuhan sedang mendidik diriku untuk menjadi orang yang kuat, kokoh, tabah dan pantang menyerah agar aku menjadi orang yang kaya raya. Setelah melewati ejekan, penderitaan dan ujian bertahun-tahun, Saya telah merasakan bahwa doa ku dikabulkan oleh Allah swt”.

Umat Nabi memandang segala persoalan hidup terdiri dari dua kelompok; pesimisme dan optimisme.

Kelompok pesimisme selalu mencari kambing hitam. Mudah sekali menyalahkan. Setiap kejadian selalu dialamatkan kepada orang yang dibencinya. Apapun kejadiannya. Seolah-olah dirinya sendiri tidak pernah salah, orang lain salah. Kaum pesimisme sering terjebak sangat egoisme. Semua terjadi karena ada rasa benci yang bersarang di dalam hati.

Contoh kecil saat suami-istri bertengkar, orang tua dan anak berselisih paham, maka kedua belah pihak saling menyalahkan. Masing-masing merasa paling benar.

Suami selalu menyalahkan istrinya karena selalu berani dan melawan kehendaknya. Tidak taat terhadap suami. Istri tidak terima. Ia pun beragumen bahwa selama ini suaminya menyia-nyiakan hidupnya. Akhirnya, terjadilah perkelahian.

Orang tua pun demikian, ia menganggap anak-anaknya berani kepada orang tua, durhaka dan selalu melawan apa yang diperintah oleh nya. Anak-anak tidak terima. Mereka menganggap bahwa orang tua selalu otoriter, menang sendiri dan merasa paling hebat pendapatnya. Akhirnya, anak-anakpun tidak nyaman dan tidak bisa menyampaikan pendapat atau gagasan-gagasan kepada orang tuanya.

Kaum pesimisme selalu melihat bahwa persoalan penderitaan adalah kesalahan orang lain, bukan dari diri sendiri. Karir hancur karena orang lain. Bisnis hancur karena orang lain. Bahkan bencana datang juga karena orang lain. Semua persoalan dilimpahkan kepada orang lain. Dirinya merasa paling bersih, paling benar dan paling tidak berdosa dan paling bisa menyelesaikan masalah. Tapi kemampuannya hanya dalam alam imajinasi. Khayalan belaka.

Kaum pesimisme selalu melihat Tuhan kadang sebagai pembela penderitaan. Jika ada fenomena alam berupa banjir, angin puting beliung, kemelaratan, kekeringan, dan sejenisnya maka langsung ia mengatakan; “Adzab Allah telah turun kepada orang-orang dzalim”. Jadi menempatkan orang lain sebagai kelompok dzalim, sedangkan dirinya ditempatkan sebagai orang yang dekat dengan-nya.

Ketika kaum pesimisme sudah tertimpa persoalan kronis dan mulai ada keraguan terhadap keimanan, maka ia akan meratapi nya dengan sangat negatif;,”Tuhan ku, kenapa kami dibiarkan menderita. Kenapa kami yang selalu menyembah-Mu malah seperti ini nasibnya, miskin, terbelakang dan tertindas. Tidakkah kamu melihat kami?!!”.

Jadi terkadang Tuhan pun jadi sasaran kemarahan kaum pesimisme. Seolah-olah Tuhan bersikap tidak adil terhadap kenyataan hidup.

Bagaimana dengan kaum optimisme? Apakah Tuhan selalu menjadi sasaran segala kegagalan, apakah segala rintangan sebagai sasaran untuk menjatuhkan orang lain?. Tidak. Tidak sama sekali.

Kaum optimisme memandang Tuhan dan umatnya dengan  pandangan penuh cinta dan kasih sayang. Ketika tuhan menghadirkan bencana dan segala musibah, ia pun langsung interopeksi diri dan berkata:

“Tuhan telah mengajarkan kepadaku untuk senantiasa sabar dan selalu ikhtiar memperbaiki ibadah dan ikhtiar memperbaiki sistem kehidupan agar semakin baik”.

Ketika kaum optimisme mendapatkan penderitaan seperti kemiskinan dan keterbelakangan, maka ia cepat-cepat mengatakan kepada diri sendiri:

“Tuhan telah memberiku akal pikiran dan kekuatan tubuh untuk senantiasa memperbaiki etos kerja, ilmu pengetahuan, dan segala ikhtiar untuk terus berusaha semaksimal mungkin agar kemiskinan dan keterbelakangan ilmu pengetahuan bisa diselesaikan dengan baik”.

Kaum optimisme saat melihat segala kekuarangan yang ada pada dirinya, yang keluar dari mulutnya ada rasa syukur kepada Allah swt. Berikut ini kisah dari seorang motivator mendapat julukan manusia tanpa tangan dan kaki Vck Vujicic, ia mengatakan begini:

“Saat masih remaja, saya ingin sekali bunuh diri. Semua orang mengejeku. Saya adalah manusia yang tidak punya tangan dan kaki. Tuhan tidak adil. Saat teman-teman ku punya tangan dan kaki, sedangkan saya harus di antar ke sekolah di gendong dan di taruh di kursi. Sudah beberapa kali saya mencoba bunuh diri, masuk ke dalam bak mandi supaya tenggelam atau mencari tali agar bisa bunuh diri, tapi selalu gagal.”

“Akhirnya saya menyadari, Tuhan bukan tidak adil. Tapi Tuhan memberi kelebihan kepada ku. Saya memang tidak punya tangan dan kaki, tapi saya mempunyai Tuhan yang memberiku akal. Melalui kesempurnaan tersebut saya terus belajar dan memberi manfaat kepada orang lain. Sekarang, saya menjadi pembicara di tengah-tengah ribuan bahkan jutaan manusia sempurna yang punya tangan dan kaki. Sekarang saya merasa lebih sempurna dari mereka meskipun tidak punya tangan dan kaki”.

Kita punya cerita yang berbeda tentang persoalan hidup, karir atau pasangan hidup. Saya tidak mempersoalkan semua itu. Tuhan telah memberi garis kehidupan yang beragam.

Yang perlu diingat dalam tulisan ini yaitu saat kita mengejek orang lain, mencaci maki orang lain atau bahkan menghina orang lain atas nama apapun, maka saat itu kita sedang melepaskan “energi kekuatan” yang sangat besar dan ditransfer kepada “orang-orang yang kita hina” saat sekarang ini. Saat kita sibuk menghina orang lain, saat bersamaan orang yang kita hina mempunyai limpahan energi dari kita dan orang-orang dianggap remeh akan bangkit menjadi kekuatan baru dan mencapai kesuksesan tanpa kita sangka-sangka. Kita akan terkaget-kaget dan kemudian kita pun bertambah menderita.

Sebagai penutup tulisan ini, hemat penulis lihatlah segala kejadian di dunia sebagai wujud kasih sayang Allah, bahwa Sang Maha Kuasa sedang mengajari kepada kita untuk selalu berbuat terbaik kepada siapapun melalui ucapan, pikiran dan perbuatan-perbuatan yang telah dititipkan oleh-Nya kepada kita. Tuhan mendatangkan segala kekurangan agar kita berusaha untuk memperbaiki kekurangan tersebut semakin menjadi baik. Kita tidak bisa sempurna. Sebab dunia tidak ada kesempurnaan. Kita hanya diberi kesempatan untuk berusaha merubah diri kita menjadi lebih baik.

Tuhan memang mendatangkan segala peringatan, tapi peringatan tersebut bukan untuk menjustifikasi bahwa Tuhan sedang membela kita dan orang lain sedang dihukum oleh-Nya. Belajar melihat bahwa yang bermasalah adalah diri sendiri bukan orang lain. Gunakan seluruh potensi untuk memperbaiki diri dan saat anda berhasil, maka saat itu janji Tuhan telah datang tanpa harus menghina orang lain. Orang yang selalu memperbaiki diri adalah orang yang punya potensi memberi manfaat kepada orang lain. Dan sebaik-baik orang dalam pandangan Islam yaitu yang selalu memberi manfaat kepada orang lain.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875