
Selesai Sholat Jum’at, saya duduk-duduk di
kantor MUI. Tidak lama, sekitar 30 menit. Lalu saya pergi ke apotik membeli
obat tetes telinga. Sebenarnya sudah sembuh. Namun karena ada infeksi ditulang
bagian belakang telinga bagian kiri, keseimbangan tubuh kadang tidak normal.
Kadang pusing secara tiba-tiba dan berlangsung cukup lama. Ini sangat
mengganggu konsentrasi. Jika dulu, saya sering pusing biasanya karena darah
rendah. Tapi setelah saya cek, tensi darah normal;120. Kata dokter, ini
pengaruh dari infeksi tadi.
Karena tidak ada obat tetes sesuai dengan saran dokter spesialis, saya pun pulang dan istirahat siang. Tidur sekitar 30 menit. Bangun sudah jam 14.20. Ini jadwal ngantar Anis dan Faiz lest. Sambil menunggu mereka selesai mandi, saya melihat WA. Ada pesan masuk dari Kiai Dalhar, Pengasuh Pesantren Umul Quro Alahair; “Monggo teng griyo kulo sekitar jam 3-an, dahar sareng kiai”. Saya pun menjawab, “Insya Allah”.

Acara imtihan adalah acara penutupan
kegiatan tahunan. Biasanya menjelang bulan Romadhan. Tapi tergantung kebijakan
setiap pesantren. Mereka mempunyai kemandirian untuk membuat kurikulum dan
mengatur sistem pendidikan sesuai dengan kebijakan masing-masing pesantren.
Dalam kegiatan imtihan biasanya ada penampilan dari para santri dan
selanjutnya diisi dengan mau’idlatul hasanah atau nasehat-nasehat
kebaikan untuk masyarakat umum dan para santri secara khusus.
Imtihan selain ngalap berkah juga mengharapkan turun rahmat dari Allah s.w.t. rahmat yang sebenarnya bagian dari sifat-sifat Allah terpuji yang sering disebut dengan asmaul husna senantiasa bergandengan dengan nama Nya. Allah mempunyai sifat ar-rahman dan ar-rahim.

Allah s.w.t dalam firman Nya, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf/7:56). Nabi Muhammad berabda,”Tatkala Allah menciptakan para makhluk, dia menulis dalam kitab-nya, yang kitab tersebut terletak di sisi-nya di atas Arsy, “Sesunggunya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-ku”(HR. Bukhari).

Rahmat dan kebaikan menjadi kata kunci sangat
penting pada kedua ajaran Islam yang agung. Allah memberi rahmat kepada orang-orang
yang berbuat baik; baik atas dasar agama dan baik atas dasar kemanusiaan. Baik atas
dasar agama, orang tersebut akan mendapatkan rahmat baik di Dunia maupun di Akherat.
Sedangkan orang yang berbuat baik sebatas dasar dunia, maka Allah akan
memberikan rahmat berupa kasih sayang yang ditempatkan kepada orang-orang yang
menerima kebaikan. Sehingga orang-orang akan melihat kepada ahli kebaikan
dengan pandangan penuh kasih-sayang dan penuh keharmonisan. Kebaikan atas dasar
agama ataupun kebaikan atas dasar kemanusiaan akan meredam murka Allah dan akan
menurunkan kasih-sayang Allah kepada orang-orang yang menebarkan kebaikan.
Nabi Muhammad s.a.w bersabda, “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannnya ke dalam Surga, dan menyelematkannya dari Neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah”(HR.Muslim).

Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam salah satu
kitab syarah haditsnya mengatakan bahwa ada tiga arti hadist tersebut; pertama,
taufiq untuk bisa melakukan suatu amal ibadah merupakan bentuk rahmat dari Allah
yang sudah diberikan sejak sebelum seorang hamba melakukan ibadah. Kedua,
seorang hamba berhak mendapatkan rahmat, apabila ia sudah melakukan ketaatan. Ketiga,
inti masuk surga adalah murni rahmat dari Allah, akan tetapi nkmat di dalamnya
akan berbeda sesuai dengan kadar amal yang dimilikinya.
Rahmat merupakan hak preogratif Allah
s.w.t. Sang Pencipta mempunyai otoritas tunggal dalam merubah status seorang
hamba menjadi husnul khotimah atau syu ul khotimah. Namun regulasi
syariat tetap menjadi pijakan manusia untuk melaksanakan segala
perintah-perintah-Nya secara benar dalam status hukumnya dan benar dalam
meletakan nya sebagai hamba yang benar-benar memasrahkan diri kepada-Nya.Ssaat
manusia bisa meletakan nya secara benar, maka Tuhan pun memberi rahmat-Nya. Tapi
saat manusia tidak mampu menempatkan diri saat beribadah kepada Allah, sehingga
segala ibadah dan amal sholehnya hanya sebatas asesoris tanpa nilai, maka
rahmat Allah pun mengalami persoalan. Sebab hakikat rahmat sebenarnya cermin
dari perbuatan manusia itu sendiri. Kata nabi, barangsiapa berbuat baik,
hakikatnya untuk diri sendiri. Dari sini rahmat dan kebaikan tidak bisa
dipisahkan dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2982
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884