Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Umul Quro; Menggapai Rahmat Allah



Sabtu , 11 Maret 2023



Telah dibaca :  258

Selesai Sholat Jum’at, saya duduk-duduk di kantor MUI. Tidak lama, sekitar 30 menit. Lalu saya pergi ke apotik membeli obat tetes telinga. Sebenarnya sudah sembuh. Namun karena ada infeksi ditulang bagian belakang telinga bagian kiri, keseimbangan tubuh kadang tidak normal. Kadang pusing secara tiba-tiba dan berlangsung cukup lama. Ini sangat mengganggu konsentrasi. Jika dulu, saya sering pusing biasanya karena darah rendah. Tapi setelah saya cek, tensi darah normal;120. Kata dokter, ini pengaruh dari infeksi tadi.

Karena tidak ada obat tetes sesuai dengan saran dokter spesialis, saya pun pulang dan istirahat siang. Tidur sekitar 30 menit. Bangun sudah jam 14.20. Ini jadwal ngantar Anis dan Faiz lest. Sambil menunggu mereka selesai mandi, saya melihat WA. Ada pesan masuk dari Kiai Dalhar, Pengasuh Pesantren Umul Quro Alahair; “Monggo teng griyo kulo sekitar jam 3-an, dahar sareng kiai”. Saya pun menjawab, “Insya Allah”.


Acara imtihan adalah acara penutupan kegiatan tahunan. Biasanya menjelang bulan Romadhan. Tapi tergantung kebijakan setiap pesantren. Mereka mempunyai kemandirian untuk membuat kurikulum dan mengatur sistem pendidikan sesuai dengan kebijakan masing-masing pesantren. Dalam kegiatan imtihan biasanya ada penampilan dari para santri dan selanjutnya diisi dengan mau’idlatul hasanah atau nasehat-nasehat kebaikan untuk masyarakat umum dan para santri secara khusus.

Imtihan selain ngalap berkah juga mengharapkan turun rahmat dari Allah s.w.t. rahmat yang sebenarnya bagian dari sifat-sifat Allah terpuji yang sering disebut dengan asmaul husna senantiasa bergandengan dengan nama Nya. Allah mempunyai sifat ar-rahman dan ar-rahim.


Allah s.w.t dalam firman Nya, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf/7:56).  Nabi Muhammad berabda,”Tatkala Allah menciptakan para makhluk, dia menulis dalam kitab-nya, yang kitab tersebut terletak di sisi-nya di atas Arsy, “Sesunggunya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-ku”(HR. Bukhari).


Rahmat dan kebaikan menjadi kata kunci sangat penting pada kedua ajaran Islam yang agung. Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang berbuat baik; baik atas dasar agama dan baik atas dasar kemanusiaan. Baik atas dasar agama, orang tersebut akan mendapatkan rahmat baik di Dunia maupun di Akherat. Sedangkan orang yang berbuat baik sebatas dasar dunia, maka Allah akan memberikan rahmat berupa kasih sayang yang ditempatkan kepada orang-orang yang menerima kebaikan. Sehingga orang-orang akan melihat kepada ahli kebaikan dengan pandangan penuh kasih-sayang dan penuh keharmonisan. Kebaikan atas dasar agama ataupun kebaikan atas dasar kemanusiaan akan meredam murka Allah dan akan menurunkan kasih-sayang Allah kepada orang-orang yang menebarkan kebaikan.

Nabi Muhammad s.a.w bersabda, “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannnya ke dalam Surga, dan menyelematkannya dari Neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah”(HR.Muslim).



Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam salah satu kitab syarah haditsnya mengatakan bahwa ada tiga arti hadist tersebut; pertama, taufiq untuk bisa melakukan suatu amal ibadah merupakan bentuk rahmat dari Allah yang sudah diberikan sejak sebelum seorang hamba melakukan ibadah. Kedua, seorang hamba berhak mendapatkan rahmat, apabila ia sudah melakukan ketaatan. Ketiga, inti masuk surga adalah murni rahmat dari Allah, akan tetapi nkmat di dalamnya akan berbeda sesuai dengan kadar amal yang dimilikinya.

Rahmat merupakan hak preogratif Allah s.w.t. Sang Pencipta mempunyai otoritas tunggal dalam merubah status seorang hamba menjadi husnul khotimah atau syu ul khotimah. Namun regulasi syariat tetap menjadi pijakan manusia untuk melaksanakan segala perintah-perintah-Nya secara benar dalam status hukumnya dan benar dalam meletakan nya sebagai hamba yang benar-benar memasrahkan diri kepada-Nya.Ssaat manusia bisa meletakan nya secara benar, maka Tuhan pun memberi rahmat-Nya. Tapi saat manusia tidak mampu menempatkan diri saat beribadah kepada Allah, sehingga segala ibadah dan amal sholehnya hanya sebatas asesoris tanpa nilai, maka rahmat Allah pun mengalami persoalan. Sebab hakikat rahmat sebenarnya cermin dari perbuatan manusia itu sendiri. Kata nabi, barangsiapa berbuat baik, hakikatnya untuk diri sendiri. Dari sini rahmat dan kebaikan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884